Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
61 Hanya Milikku


__ADS_3

Setelah Mayang keluar bersama Danu, tinggallah Imah termenung sendiri. Matanya menatap langit-langit kamar seakan sedang menghitung sudah berapa cicak yang lewat. Entah mengapa sejak pergi melihat Tama tadi hatinya menjadi resah. Terlebih lagi Tama kembali ketus padanya. Berlahan dimiringkannya badannya kesamping, berharap sesak di dadanya bisa berkurang.


'' Apa yang Gue sedihkan sih? Dia kan Bos, ya suka-suka dia lah mau ngomong apa. Gue kan cuma bawahannya. Lagian ngapain juga sih Gue pake jengukin tu Singa Hutan. Untung ga kena cakar. Dasar Beruang Kutub, Kucing Garong, Badot Sawah, ular-----.'' Ucapan Imah terpotong saat suara tiba-tiba terdengar.


'' Ular apa hah?''


Entah sejak kapan Tama sudah berada tepat di belakangnya. Mata Imah melotot hampir keluar saat tahu siapa pemilik suara itu. Berlahan Imah membalikan badannya dengan jantung yang sudah berdetak kencang. Takut kalau Si Ular benar-benar mematoknya. Berusaha untuk tetap tersenyum.


'' Se--sejak kapan Tuan di---di sini?'' Imah beringsut untuk duduk. Wajahnya terlihat begitu takut saat menatap wajah Tama yang mulai sangar menurutnya. Apalagi matanya yang bengkak sebelah serta luka lebam pada kedua pipinya membuat tatapannya semakin menakutkan.


Tama tidak menjawab, malah dia menggeser duduk Imah dan membaringkan badannya disana. Bukannya tidak ingin duduk, namun kepalanya masih terasa berat untuk dibawa duduk lama. Ini saja dia paksakan karena sangat merasa bersalah pada Imah.


'' Sampai kapan kamu harus duduk? Apa kepalamu tidak pusing?'' Tidak menunggu jawaban Imah, Tama langsung menarik pinggang Imah dan merebahkannya. Entah mengapa Imah terlihat pasrah dengan tidakan tiba-tiba Tama.


Sekarang posisi Tama tepat mengahadap punggung Imah. Tanpa ragu Tama melingkarkan tangannya kepinggang Imah. Dihirupnya aroma khas rambut Imah bagai aroma terapi yang menenangkan jiwanya. Padahal Imah sudah tiga hari tidak keramas, dasar Tama yang sudah dimabuk cinta.


Bagai tersengat listrik Imah terjingkrak kaget. Jantungnya seakan bergoyang hebat dengan tidakan tiba-tiba Tama Itu. Takut suara kencang jantungnya didengar oleh Tama, berlahan Imah melepaskan tangan Tama dari pinggangnya.


Bukannya terlepas, malah Tama mempererat pelukannya. '' Apa kamu marah?'' Lirih Tama. Imah makin dibuat merinding saat nafas hangat Tama menyeruak dari balik rambutnya.


Imah hanya diam, bingung mau jawab apa. Dijawab tidak, memang tersinggung. Dijawab iya, takut dikira ingin dibujuk.


''Apa suaramu sangat mahal untuk ku dengar?'' Imah memutar bola matanya jengah saat mendengar pertanyaan Tama.


Masih tidak ada jawaban. Dalam hitungan detik Tama sudah berhasil membalikan posisi Imah menjadi berhadapan dengannya. Lama mata mereka saling bersitatap. Imah yang tak kuat akhirnya menundukan pandangannya. Dia tidak mau Tama membaca wajah malu maunya itu.


Tangan Tama mulai mulai menyentuh pipi Imah yang biru lebam. Diusapnya berlahan, dengan tatapan sendu. Terlihat jelas tersirat rasa bersalah diwajahnya. Namun Tama juga merasa terharu karena Imah mengorbankan nyawa untuk menyelamatkannya.


Tangan Imah sampai tak sanggup bergerak untuk menepis tangan Tama yang sedari tadi mengelus-elus wajahnya. Untung saja wajahnya masih terluka, kalau tidak mungkin rona merah wajahnya akan terlihat jelas oleh Tama.


'' Apa masih sakit?'' Imah hanya mengangguk. Tidak berani menatap wajah Tama. Berlahan Tama mendekatkan wajahnya ke wajah Imah. Imah makin menggigil dibuatnya.


'' Aduh Tuan, jangan bikin dada saya cenat-cenut dong. Masa Gue lagi sakit masih disosor juga? Tapi pengen juga sih hihihi.'' Bisik Imah dalam hati.


Saat bibir lembut Tama menyentuh pipi lebam Imah, mata Imah reflek terpejam. Ada rasa aneh yang mengalir di dalam tubuhnya. Digenggam eratnya kedua tangan kedada, menguatkan jantungnya yang hampir saja copot.

__ADS_1


Tidak hanya satu pipi, dua-duanya tak luput dari kecupan sayang Tama. Setelah ritual kecup mengecup, Tama kemudian meraih tangan Imah yang dikepalnya di dada. Diangkatnya dagu Imah hingga mereka saling menatap.


'' Mulai malam ini dan selamanya, kamu adalah miliku. Hanya milikku.'' Ucap Tama penuh percaya diri.


Seeerr


Darah Imah mengalir kencang dipembuluhnya. Matanya menatap manik mata pria dihadapannya. Mencari celah kebohongan di sana. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Imah memasang wajah bingung.


'' Apa kurang jelas?'' Tambah Tama.


'' Maksudnya Tuan menembak saya?'' Polos Imah.


Melihat Tama hanya tersenyum, membuat Imah sedikit kesal. '' Kenapa kalimatnya seperti itu? Seharusnya maukah kamu menjadi kekasihku?''


'' Baiklah, karena kamu menembakku maka aku tidak mau membuatmu kecewa. Aku terima ungkapan cintamu.'' Imah yang merasa terjebak dengan kalimatnya sendiri menjadi makin kesal dan memukul lengan Tama dengan bibir yang kerucut.


''Tanpa kamu minta, saya sudah sejak dulu menganggapmu sebagai kekasihku.'' Tambah Tama lagi. Dengan penuh cinta Tama mengecup hangat kening Imah. Menyalurkan rasa kasih sayang yang selama ini tidak sanggup dia ungkapkan.


Kemudian Tama membawa Imah kedalam pelukannya. Entah mengapa Imah merasa nyaman dengan perlakuan Tama. Ada kehangatan dan ketulusan yang dia rasakan dalam dekapan Tama. Dapat Imah dengar dengan jelas degup jantung Tama yang tak kalah kencang dengan jantungnya saat ini. Imah tersenyum bahagia, dan tanpa Imah ketahui Tama juga tersenyum lega karena telah berhasil mengatakan isi hatinya.


Pagi ini sedikit berbeda di rumah utama. Terdengar suara gelak tawa dari kamar Raja. Ternyata di sana sudah ada Tuang Agung sedang bercanda bersama Raja. Raja terlihat begitu senang bermain bersama Eyang buyutnya itu. Ya, Tuan Agung yang meminta agar Raja memanggilnya dengan sebutan Eyang buyut.


'' Lihatlah anak bunda, asyik banget main sama Eyangnya.'' Mayang mendekat dan mencubit sayang pipi gembul Raja yang menggemeskan. Sejak makan bubur, berat badan Raja makin bertambah cepat. Kadang Mayang terpaksa mengurangi porsi makan buhurnya dengan jus buah-buahan. Takut tumbuhnya lebih cepat kesamping dari pada ke atas.


'' Cucu Eyang, kamu memang Raja bagi Baragajasa. Jadilah pemimpin yang kuat, tangguh dan bijaksana. Lebih kuat dari Papamu ya.'' Dikecup sayangnya puncak kepala Raja. Entah mengerti atau tidak, Raja terlihat tertawa kepada Eyangnya.


'' Ayo Kek, kita sarapan bersama. Mas Danu sudah menunggu kita.''


Saat di meja makan, seperti biasa tidak ada pembicaraan. Hanya denting sendok yang menari dipiring yang berbunyi. Setelah ritual sarapan selesai, Mayang bersama beberapa pelayan terlihat membereskan meja. Danu diajak Tuan Agung ke ruang kerja.


'' Bagaiman Danu, apa Tama mau?''


'' Alhamdulillah Tama mau Kek, tapi kita tidak bisa memaksanya untuk menerima kenyataan ini dulu. Biarkan dia menata hatinya. Begitu banyak kisah kelam antara mereka berdua.'' Tutur Tama.


'' Kakek tidak akan memaksanya. Dia mau memaafkan dan mau melihat Bastian saja sudah lebih menenangkan bagi Kakek.''

__ADS_1


''Pagi ini sebelum ke kantor aku sama Mayang mau ke rumah sakit dulu. Apa Kakek mau ikut?''


'' Kalian duluan saja. Kakek nanti siang akan ke sana sambil mengurus pemindahan pengobatan Bastian jika dia belum juga siuman.''




Mayang tersenyum geli dari balik pintu yang dia buka sedikit saat melihat sepasang manusia tengah tidur saling berpelukan dalam gulungan selimut di atas tempat tidur. Yah, mereka adalah Imah dan Tama. Sejak datang ke kamar rawat Imah, Tama malah ikut menginap di sana.



'' Oh manisnya.'' Guman Mayang gemes.



'' Sayang kok Tama ga ad----.'' Ucapan Tama terpotong saat Mayang memberi kode diam pada Danu. Mata Danu terbuka lebar saat Mayang menunjuk ke arah tempat tidur Imah. Danu kemudian tersenyum penuh makna. Dia punya ide jahil untuk pasangan yang masih terlelap itu.



\-



\-



\-



Mohon maaf 🙏🙏 baru bisa update, semoga makin suka ya sama ceritanya. Pada bab berikutnya akan othor hadirkan kisah-kisah romantis Tama dan Imah. Tapi Mayang sama Danu tetap eksis. Setuju ga kalo kita hadirkan sedikit penganggu diantara Tama dan Imah? Biar gimana-gimanaaaa gitu hihihi...


__ADS_1


Jangan lupa like koment vonte favorit dan hadiah ya. Biar othor makin semangat lagi.. Terimakasih readers ku. Lopyu 😘


__ADS_2