Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
41 Penangkapan Yukito


__ADS_3

'' May, anakmu lucu banget sih May. Uuggh gemes deh.'' Imah mencium lembut pipi Raja.


'' Sini Aunty mau gendong Raja.'' Tisa mengambil Raja dari gendongan Imah.


'' Kalo kalian mau yang kayak gitu, buruan kawin. Ntar juga dapat.'' Danu mengoceh sambil menyuapkan Mayang makan siang. Sebenarnya Mayang bisa sendiri, tapi Danu kekeh tetap ingin dia yang menyuapkan Mayang.


'' Bagaimana kondisi Kakek Tisa? Setelah ini temani Kakak menjenguk Kakek.'' Danu telah selesai menyuapkan Mayang.


Oweek...oweek..


'' Raja haus ya, sini sama Bunda sayang.'' Tisa memberikan Raja pada Mayang.


'' Gimana kalo kita sekarang ke ruang Kakek. Jam segini Dokter lagi kontrol.'' Danu mengangguk.'' Kalian berdua aja ga apa-apa kan?'' Danu bergantian mencium kening Mayang dan kening Raja.


'' Ga apa-apa Mas, kan ada Imah.'' Imah mengacungkan satu jempol ke arah Danu tanda siap menjaga anak dan Istrinya.


Sejak Mayang masuk rumah sakit memang Danu belum juga sempat menjenguk Kakeknya, padahal niat awalnya adalah untuk melihat Kakeknya yang sudah sadar dari koma.


Berlahan Danu membuka pintu dan benar saja, seorang Dokter dan dua suster terlihat sedang memeriksa Tuan Agung. Memang Tuan Agung telah membuka matanya, namun unutk bergerak dan bicara masih belum bisa.


'' Bagaimana kondisi Kakek kami Dok?'' Danu sedikit berbincang agak menjauh tapi masih dalam ruangan itu.


'' Seperti yang anda lihat Tuan muda, Tuan Agung memang sudah sadar tetapi otot motoriknya belum bisa bersfungsi sehingga ikut berdampak pada pita suaranya juga.'' Panjang lebar Danu mendengarkan penjelasan Dokter. Setelah ouas bertanya, akhirnya Dokter pamit keluar.


'' Kakek, tetaplah semangat untuk kembali seperti sediakala. Apa Kakek tidak ingin melihat dan menggendong cicit Kakek?'' Air mata mengalir diujunng mata Yuan Agung saat mendengar kata-kata Danu. Seakan Tuan Agung begitu rindu dengan para cucunya dan begitu bahagia karena cicitnya telah lahir.


'' Namanya Raja Kek, Raja Putera Baragajasa.'' Danu membelai lembut kepala Kakeknya.


'' Nama yang indah kan Kek? Raja sangat ganteng dan lucu Kek, Tisa yakin posisi kami akan langsung tergantikan saat Kakek melihatnya. Semua perhatian Kakek pasti akan teralihkan ke Raja.'' Tisa memasang wajah cemberutnya.


Memang benar, Tuan Agung sangat ingin sembuh. Dia sudah tidak sabar ingin melihat dan menggendong cicitnya itu. Tentang kematian Sekretaris Rudi, semuanya sepakat akan merahasiakan dul we au sampai Tuan Agung benar-benar pulih.

__ADS_1


Ketika Danu dan Tisa masih berbincang dengan Kakeknya, tiba-tiba Tama datang dan berbisik kepada Danu. Seketika itu juga Danu pamit pada Kakeknya karena ada hal mendadak yang harus mereka selesaikan dulu.


-


-


-


Baru saja Yuki menyalakan mesin mobilnya, dari arah depan muncul segerombolan pria berkemeja serba hitam mengahadang. Setelah pintu mobil Yuki dilepas paksa, dengan kasar yuki ditarik keluar dan di masukan ke dalam sebuah mobil. Yuki dibawa menuju sebuah tempat dimana nasib hidup dan matinya akan dipertaruhkan.


''Mana wanita itu?'' Suara Danu sontak membuat Yku mendongakan kepalanya. Saat pintu terbuka munculah dua pria tampan yang sangat dikenalnya. Yuki berusaha bicara, namun mulutnya ditutup lakban dan tangan dan kakinya diikat kekursi tempat dia diduduk.


'' Buka penutup mulutnya.'' Danu dan Tama sudah berada tepat di depan Yuki.'' Ma maafkan aku Danu, aku mohon lepaskan aku. Aku berjanji akan menyerahkan surat-surat itu.''


Plaakk...


Satu tamparan mendarat indah dipipi mulus Yuki, terlihat darah segar mengalir di bibirnya. Yuki menangis kesakitan.'' Aku tidak butuh bantuanmu, surat itu sudah kembali ketanganku. Sekarang katakan, apa tujuanmu melakukan semua ini? Jawablah, kalau tidak kamu akan merasakan yang lebih sakit lagi.'' Wajah bengis Danu sungguh membuat suasana semakin mencekam. Ruang kedap suara yang hanya di terangi satu lampu di atas kepala Yuki, membuat aura kematian bagi Yuki semakin dekat.


'' Bawakan cambuk itu kemari.'' Seorang pengawal menawakan cambuk panjang dengan diameter talinya cukup besar. Mata Yuki langsung melebar, tubuhnya gemetaran. Wajahnya semakin pucat, seakan darahnya berhenti mengalir. Tidak ada ampun, satu cambukan mendarat tepat di tibuh Yuki. Meski dia masih mengenakan baju, namun terlihat jelas cambuk itu menyobekan bajunya. Teriakan kesakitan Yuki tidak membuat rasa iba sedikitpun bagi semua yang melihatnya. Terlihat Tama tersenyum puas, masih teringat jelas baginya saat dia dan Imah dipikuli oleh orang-orang suruhan Yuki.


'' Ampuun...ampuuun, aku mohon kasihanilah aku Danu, hiks...hiks..aku mohon.'' Danu mendekat, ''Saat istriku kau tabrak, apa kau merasa iba dengan terikan kesakitan Istriku hah!'' Danu menarik keras rambut panjang Yuki hingga wajahnya pilunya terpampang jelas.


'' Katakan cepat, siapa orang dibalik semua ini?'' Rambut Yuki masih dalam genggaman Danu.'' Cepat katakan, atau kau mau hanya kau sendiri yang menanggungnya hah.'' Yuki semakin ketakukan. Dia benar-benar belum mau mati cepat, apalagi hasil kerja kerasnya belum sempat dia nikmati. Itulah saat ini yang ada dalam pikiran Yuki.


*****


'' Mah, aku boleh tanya ga?'' Mayang menatap Imah yang tengah bergolek santai di sofa. Ruang Mayang ini adalah ruang khusus untuk keluarga Baragajasa, tidak heran jika ruangan ini mengalahkan hotel bintang tujuh. Benar-benar tidak terasa kalo sedang berada di rumah sakit.


'' Tanya aja, memangnya kamu mau ngomong apa sih?''


'' Mm itu, aku mau tanya apa kamu dan Tama sudah jadian?'' Pertanyaan Mayang sontak membuat Imah tersedak air ludahnya, karena dia sedang mengulum permen tangkai.

__ADS_1


'' Kamu kenapa Mah?''


'' Kamu yang apa-apa, masak kamu nanya itu sih May? Ada-ada aja, mana mungkin Tuan Tama suka sama aku, aku itu cuma kacungnya. Ada-ada kamu.'' Wajah Imah terlihat menyembunyikan sesuatu, itulah yang nampak bagi Mayang.


'' Aku yakin banget loh Mah, kalo Tama suka sama kamu. Bahkan tepatnya sangat cinta dan sayang sama kamu.''


'' Ga mungkin May, setiap aku sama dia malah aku dimarahin terus. Dirusuh ini itu, di tarik-tarik karena lamban. Pokoknya sama sekali ga mencerminkan kayak orang lagi jatuh cinta.'' Membayangkannya saja Imah sudah kesal, Imah tidak percaya dengan perkataan Mayang.


'' Kalo aku benar, apa taruhannya?'' Mayang menatap Imah dengan senyum yang sulit diartikan.


'' Taruhan apa? Jelas-jelas itu ga betul. Kalo betul aku bakalan langsung cium dia di depan semua orang. Puas! Haha..tapi itu tidak akan mungkin terjadi hahahh...'' Mayang hanya menatap senyum pada Imah yang tertawa terpingkal-pingkal.


-


-


-


'' Ba---baiklah, akan aku beri tahu.'' Danu melapaskan tarikan rambut Yuki dan menghempaskannya kasar. Tangisan kesakitan Yuki belum juga reda. Disela tangisnya Yuki mulai bicara, saat Yuki menyebut semuah nama Danu dan Tama saling menatap. Masih teringat jelas bagi mereka sebuah nama yang ada dalam map hitam di ruang kerja Tuan Agung. Dan nama itu sama dengan nama yang disebut oleh Yuki.


'' Sebastian Federik.''


-


-


-


-


Terimaksih sudah membaca novel aku 🙏🙏🤗, jangan lupa like koment hadian like dan favoritnya yah..love U 🙏🥰😘🙏🙏

__ADS_1


Mohon dukungannya, novel othor lagi ikut lomba. Terimakasih 🙏🙏🙏😉


__ADS_2