Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
44 Kecewa


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu sejak pertemuannya dengan Tuan Bastian. Kewaspadaannya masih tetap sama, Danu tidak ingin kecolongan lagi. Keluarganya adalah hidupnya, terlebih Raja putra semata wayangnya. Tak tanggung-tanggung, Danu menyiapkan enam orang bodyguard untuk menjaga anaknya itu. Ditambah lagi beberapa pengawal yang tersebar dalam radius teraman untuk menjaga putra dan Istrinya itu.


Tidak hanya itu, rumah utama kini sudah berjejer para pengawal pada setiap sudut rumah. Banyak cctv yang sudah ditambah oleh Danu. Kali ini memamg Danu sangat memprioritaskan keluarganya, Tisa dan Tama juga mendukungnya.


Seperti sekarang, pagi ini adalah jadwal imunisasi Raja. Jadi sejak pagi semua kebutuhan Raja sudah disiapkan oleh Mayang tentunya dibantu oleh beberapa orang pelayan.


'' Mas, apa ini tidak berlebihan? Aku merasa ga nyaman Mas harus di ikuti robot-robot mu kemana-mana. Udah kayak Presiden aja.'' Gerutu Mayang saat akan memasuki mobil untuk pergi ke rumah sakit. Dan ini adalah untuk pertama kalinya Raja akan bertemu dengan Kakek buyutnya.


'' Ini adalah bentuk kasih sayang Mas buat kalian. Mas ga mau hal buruk terjadi lagi. Cukup untuk yang dulu.''


'' Tapi Mas---.''


'' Sudahlah May, untuk yang ini Mas tidak mau di bantah.''


Mayang hanya bisa diam saat suaminya sudah bicara tegas. Entah mengapa Mayang merasa suaminya sangat berubah. Dulu selalu menanyakan tentang apapun jika menyangkut dirinya. Tapi tidak sejak banyak kejadian yang menimpa dia dan suaminya.


Kadang Mayang merasa sedih dan kecewa dengan Danu yang terlalu over protektif menurutnya. Bahkan tidak ada lagi Danu yang romantis dan penuh perhatian untuknya. Danu sudah disibukan dengan memperbaiki perusahaan Kakeknya. Meski ada Tama, Beni dan Imah yang membantu, namun itu belum cukup. Mungkin kalau mendiang Sekretaris Rudi masih ada, situasi seperti ini tidak perlu terjadi.


Mayang hanya berusaha sabar, berharap semuanya akan kembali seperti semula. Kakek sembuh dan suaminya kembali menjadi Rangga yang sangat mengerti dan sangat perhatian padanya lagi.


'' Raja, Bunda harap kehidupanmu dikemudian hari tidak seperti yang Papa Bunda hadapi sekarang. Kamu harus bijak dalam berfikir.'' Mayang mengecup sayang kening Raja yang tertidur lelap dalam pangkuannya.


'' Nyonya, sudah sampai.'' Seru pak sopir.


'' Ah iya Pak.''


Mayang turun dari mobil, diluar sudah tersedia kereta dorong Raja dengan babysitter yang siap untuk mendorongnya.


Setelah Raja melakukan imunisasi, Mayang membawa Raja menuju ruang rawat Tuan Agung. Di koridor Mayang berpas-pasan dengan Tisa yang sepertinya baru siap memeriksa pasiennya.


'' Halo ganteng Onty, habis imunisasi ya.''

__ADS_1


'' Iya Onty.'' Mayang menirukan suara anak kecil.


'' Apa Kakak mau ke ruang Kakek?'' Tanya Tisa yang masih saja mengganggu Raja yang tengah tertidur pulas dalam kereta dorongnya.


'' Iya, apa kamu mau ikut?'' Tisa lalu berdiri dan mengangguk.


Dengan satu kode mata oleh Tisa, dua orang pemgawal di depan ruang rawat Tuan Agung langsung membukakan pintu. Ketika Mayang dan Tisa memasuki ruang rawat Tuan Agung, terlihat Tuan Agung sedang memejamkan matanya. Berlahan Mayang mendorong kereka Raja dan mendekatkannya ke samping tempat tidur Tuan Agung. Hanya mereka yang masuk, para pengawal dan babysitter menunggu di luar.


'' Selamat siang Kakek, apa kabar?'' Mayang mengusap pelan tangan Tuang Agung. Berlahan Tuan Agung membuka matanya.


'' Maaf Mayang mengganggu tidur Kakek.'' Mayang tersenyum lembut kepada Tuan Agung yang mentapnya dengan mata bahagia.


'' Lihatlah Kek, siapa yang aku bawa.'' Mayang mengankat Raja dari kereta dorongnya pelan-pelan agar dia tidak terbangun.


Di sandarkannya kepala Raja kedadanya, agar Tuan Agung dapat menatap putranya dengan jelas. Sungguh pemandangan yang sangat mengaharukan, terlihat bulir bening menetes di ujung mata Tuan Agung. Matanya seakan berkata Eyang sangat merindukanmu.


Sebuah keajaiban pun terjadi, terlihat Tuan Agung sedikit membuka mulutnya meski tidak terdengar suara. Tangannya bergerak seakan berusaha menggapai Raja dalam dekapan Mayang. Tisa dan Mayang saling bertatapan seakan memastikan apa mereka melihat hal yang sama.


'' A a..a...'' Terdengar suara lirih dari mulut Tuan Agung. Hal itu sontak membuat Mayang dan Tisa meneteskan air mata. Dengan cepat Tisa menekan tombol darurat agar Dokter segera datang untuk melihat dan memastikan perkembangan Kakeknya.


-


-


-


-.


Ditempat lain tepatnya di kantor Baragajasa Group, aktifitas kantor masih sama. Semua kariyawan bekerja dengan baik sesuai dengan posisi mereka. Karena memang masalah intern perusahaan hanya keluarga Baragajasa yang tahu, termasuk Beni dan Imah.


Terlihat jelas suasana canggung diantara Imah dan Tama. Saat ini Imah tengah mengerjakan sesuatu bersama Tama di ruangan Tama. Imah hanya akan menjawab jika Tama bertanya. Begitu juga sebaliknya. Imah bahkan lebih sering menunduk ketimbang menatap wajah Tama saat biacara seperti yang biasa dia lakukan.

__ADS_1


Sejak tragedi mie rebus, Imah semakin menjaga jarak dengan Tama. Harusnya dia akan tetap tinggal di rumah utama sesuai perintah Tama. Namun Imah meminta bantuan Mayang untuk meyakinkan Tama kalau dia tidak ingin Bapaknya ditinggal sendiri apalagi jangka waktu yang cukup lama.


'' Baiklah, untuk sekarang hanya itu saja. Dan jangan lupa setelah berkasnya selesai kamu letakan di meja saya.''


'' Baik Tuan, kalau tidak ada lagi saya permisi dulu.'' Tama hanya mengangguk, namun matanya tak putus menatap wajah Imah yang terus menunduk seakan menghidari kontak mata dengannya.


Tama benar-benat galau, hatinya semakin tidak nyaman melihat sikap Imah yang lebih banyak diam kepadanya. Dari balik tirai kaca Tama mengintip Imah yang tengah mengerjakan berkas yang mereka diskusikan tadi.


'' Sudah waktu jam makan siang, kenapa dia belum istirahay juga?'' Gumam Tama yang masih mengintip Imah.


Tidak ingin Imah sakit karena telat makan siang, akhirnya Tama memberanikan diri menemui Imah. '' Mah, ini sudah jam makan siang. Apa kamu masih ingin terus bekerja?''


'' Apa? Oh sudah jam makan siang'' Imah melihat jam yang melingkar ditangannya.'' Baiklah Tuan, saya makan siang dulu.'' Imah membungkukan badannya dan melangkah pergi tanpa menghiraukan Tama yang masih mematung memandangnya.


'' Apa dia lupa juga kalo gue juga butuh makan? Bukankah tujuan kita sama, kenapa dia tidak mengajak gue juga?'' Berlahan Tama berjalan lesu seakan kakinya tidak bertenaga lagi.


(Yaw helo Babang Tamtam, minta di ajak? Babang lupa ya kalo Imah lagi menata hatinya yang hancur. Ish lah Babang nih, bikin kezeel ajah.)


Lanjut...


Di kantor ini memang tidak ada tempat khusus untuk para petinggi perusahaan, semuanya makan pada kantin yang sama dan menu yang sama juga.


Tama terlihat mengantri untuk memesan makan siangnya. Ketika dia menoleh ke kanan, matanya menangkap sosok wanitanya tengah menyantap makan siangnya dengan lahap. Sangat menggaskan, senyum indah terbit dari wajah Tama melihat Imah yang fokus dengan makanannya.


Ketika pesanannya susah dapat, Tama berjalan santai memegang nampan menuju meja Imah. Sekilas Imah melihat Tama yang berjalan ke arahnya. Tepat saat Tama meletakan nampannya di atas meja, tiba-tiba Imah berdiri dan berjalan meninggalkan Tama tanpa sepatah katapun. Parahnya lagi, Imah malah duduk satu meja dengan Yanto. Si pria yang paling dibenci Tama.


Wajah Tama seketika memerah, matanya memanas melihat Imah dan Yanto saling melempar senyum. Bahkan Imah meletakan lauknya ke nampan Yanto agar Yanto memakannya. Tak tahan lagi melihat pemandangan didepannya, dengan langkah lebar Tama mendekat dan menarik tangan Imah menjauh dari kantin.


'' Lepaskan. Apa yang Tuan lakukan? Saya kan belum makan.''


Bukan menjawab Tama malah mencium bibir Imah yang masih belepotan sambal.

__ADS_1


__ADS_2