Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
76 Mension


__ADS_3

Sesuai jadwal, siang ini jet pribadi Tama dan Imah kembali dari bulan madu keliling dunia mereka. Bulan madu yang benar-benar rasa madu untuk pasangan baru itu.


Bagaimana tidak, hampir setiap malam mereka mandi keringat dan mendesah nikmat penuh gairah. Tama yang sudah sangat candu dengan segala yang ada ditubuh istrinya itu, selalu membuat Imah mengerang keras karena kuatnya kekuatan Tama.


Tidak hanya sekali, paling tidak tiga kali dalam sehari mereka berolah raga ranjang. Dan berkali-kali mereka mencapai puncak kenikmatan, baru permainan dapat dihentikan.


Senyum merekah terlihat jelas diwajah keduanya, tangan mereka yang saling bertaut menandakan besarnya ikatan cinta diantara mereka.


'' Selamat siang Tuan Muda Nona Muda.'' Toni memberi hormat dengan membungkukan badannya.


'' Siang Toni. Kita langsung ke mension.'' Toni mengangguk paham.


Meskipun saat ini Imah belum ada tanda-tanda kehamilan, namun sama sekali tidak mengurangi rasa bahagia mereka.


Imah telah bertekat akan selalu menjadi pendamping hidup Tama dalam suka maupun duka. Selalu mensuport Tama, dan akan selalu menjadi istri yang patuh pada suaminya.


Mobil sedan mewah berhenti tepat disebuah bangunan megah berlantai tiga dengan luas keseluruhannya hampir mengimbangi gedung kantor bupati di kampung Imah.


'' Wah besar sekali Mas, apa namanya? menson ya?'' Imah ternganga melihat kemegahan istana Tama.


'' Mension sayang, rumah cinta masa depan kita.'' Tama mencubit gemes hidung Imah. Keduanya kemudian masuk dengan disambut oleh para pelayan yang berjejer rapi. 15 orang pelayan, 3 orang koki dan satu orang kepala pelayan yaitu Bu Manik.


'' Selamat datang Tuan muda dan Nyonya Muda. Saya Bu Manik, yang akan melayani semua kebutuhan Tuan Muda dan Nyonya muda.'' Bu Manik membungkuk hormat.


'' Selamat siang.'' Jawab Tama dan Imah dengan ramah.


'' Mari Tuan Muda Nyonya muda, makan siang sudah siap.'' Bu Manik mengiringi Tama dan Imah menuju ruang makan yang sangat besar. Meja oval yang panjang dengan kursi-kursi yang berjejer mengitarinya.


Imah tidak habis pikir, bisa-bisa Ayah Tama membuat rumah yang lebih tepat disebut gedung museum dengan tiga lantai. Bak di hotel, menuju kelantai berikutnya menggunakan lift meski ada tangga oada setiap lantainya.


Pertanyaan yang belum biasa Imah temukan jawabannya, Apa tujuan Tuan Bastian membangun tempat tinggal seluas dan sebesar ini padahal dia hanya seorang diri? Entalah, yang jelas Imah bertekat akan merawat dan menjaga apa yang telah ditinggalkan oleh mendiang mertuanya itu.


Tama dan Imah menyelesaikan makan siang mereka dangan kitmat. Kebiasaan di rumah utama yang masih terbawa oleh Tama sampai ke mensionnya. Setelah makan mereka langsung menuju kamar utama, tetapi bukan kamar utama Tuan Bastian.


Sebelumnya Tama telah meminta Toni untuk menyiapkan kamar lain untuknya dan Imah. Sedangkan kamar bekas Tuan Bastian tetap dibiarkan sama tanpa ada yang dirubah.

__ADS_1


Masih banyak yang ingin dia ketahui melalui kenangan yang ditinggalkan Tuan Bastian mendiang Ayahnya itu. Banyak kisah yang ingin dia ketahui, setidaknya melalui foto-foto yang ditinggalkan oleh Ayahnya.


''Sayang, besok kita ke makam ya.'' Imah mengangguk. Dia tau betul pasti suaminya itu sudah rindu ingin bertemu dengan orang-orang yang dia kasihi.


'' Mas, mmm.... aku boleh minta sesuatu ga?'' Imah tampak kebingungan.


'' Boleh sayang. Apa hhmm?'' Jawab Tama dengan senyum indahnya dan meraih istrinya duduk dipangkuannya.


'' Mmm itu Mas----.'' Tama menatap istrinya mencari tau apa yang dimaksud istrinya.


'' Boleh ga Bapak ikut tinggal dengan kita di sini?'' Sontak Tama mencubit sayang hidung Imah.


'' Tidurlah sayang, setelah itu kamu akan tau jawabannya.


Imah menatap Tama dengan wajah tak mengerti. Namun yang dilihat malah berbaring di atas tempat. Jika Imah tau, Tama tersenyum karena lucu melihat wajah bingung istri kesayangannya itu.


Imah hanya diam, tidak mau bertanya lagi. Takut nanti Tama kesal padanya.


Entah mengapa rasa kantuk mulai menyerang tatkala Imah ikut berbaring di atas tempat tidur menyusul Tama yang sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi.


Saat Imah dan Tama sampai di mension, kebetulan Mang Dudung sedang pergi diantar sopir. Entah apa yang ingin dibelinya, Mang Dudung bersikeras untuk pergi sebentar. Semuanya hanya bisa menurut, karena itu adalah mertua dari tuan mereka.


Seperti renacana Tama kemaren, hari ini dia akan pergi ke pemakaman. Tempat dimana hampir semua orang yang dikasihinya sekarang berada. Dia ingin berbagi kebahagian dengan mereka, meski hanya lewat do'a.


''Mas, kita langsung ke makam atau ke rumah utama dulu biar samaan sama Mayang?'' Tanya Imah. Soalnya Mayang dan Danu juga ingin ke makam. Makam kedua orang tuanya juga berada dekat dengan makam orang tua Tama.


'' Ga sayang, kita nanti ketemu disana aja.'' Tama memeluk hangat Imah dari belakang. Rasanya kegiatan panasnya semalam belum cukup. Rasa nikmat itu membuatnya makin ketagihan.


Apalagi saat Imah yang masih polos akan dunia ranjang dia ajarkan untuk duduk bergoyang diatas benda pusakanya yang tertancap kuat diinti Imah. Oh, Tama dibuat terbuai nikmat yang luar biasa. Suara-suara indah keduanya memecah keheningan malam. Ini adalah malam pertama mereka di mension, dan bisa dipastikan hawa dingin AC tidak akan mampu mengalahkan panasnya olah raga malam mereka berdua.


Setelah selesai bersiap, Imah dan Tama langsung menuju makam. Waktu masih menunjukan pukul 10 pagi. Dia harus segera berangkat, karena Toni sudah memberikan jadwal bahwa siang ini akan ada meeting bersama klien dari luar negeri.


'' Tuan, Nona Muda jatuh pingsan!'' Bisik Toni tepat saat meeting akan dimulai oleh Tama. Tidak peduli dengan akibat dari batalnya meeting besar ini, Tama langsung berdiri dan berjalan cepat menuju mobilnya.


_______________

__ADS_1


Ditempat lain terlihat Tisa tengah berbelanja bersama Luna. Mereka sedang jalan-jalan di mall tepatnya mall milik keluarga Baragajasa. Tisa tampak memilih-milih pakaian dan Luna dirak lain memilih sepatu.


''Hai sayang.'' Tisa menoleh. Benar dugaannya, itu suara Beni.


'' Sayang, kok diam aja?'' Beni meraih kedua pipi Tisa, dengan kesal Tisa menghempaskan tangan Beni. Rasa kesal dan marahnya pada Beni belum juga hilang.


Bagimana tidak, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Beni bersama seorang wanita disebuah hotel. Wanita itu berada tepat diatas Beni. Namun sayang Tisa belum sempat melihat wajah ****** itu. Hingga sekarang Tisa belum bisa memaafkan Beni.


'' Tisa tunggu, jangan begini Tisa. Aku bisa jelaskan.'' Beni mencekal tangan Tisa ketika Tisa akan pergi.


'' Lepas. Aku ga mau dengar. Pokoknya kita sudah putus. Aku dan kamu tidak pernah ada.'' Beni membeku mendengar ucapan Tisa. Hatinya perih, rasa sayang dan cintanya hingga sekarang masih tetap sama bahkan makin besar.


Melihat pegangan Beni melemah, segera Tisa berbalik dan pergi meninggalkan Beni yang masih diam ditempat menatapnya dengan sendu.


'' Mas? Kamu Mas yang dikamar itu kan?''


'' Siapa kamu?'' Beni lebih fokus pada Tisa. Baru beberapa langkah Tisa berbalik dan kembali menuju Beni.


''Sayang.'' Beni menatap penuh damba mengira Tisa berubah pikiran.


''Ayo Lun, kita balik. Gue jadi ga selera buat shopping.'' Tisa menarik tangan Luna.


'' Sayang kita harus bicara!'' Seru Beni.


'' Ka-kalian saling kenal?'' Luna menahan tarikan Luna, menatap Tisa dan Beni bergantian.


'' Tentu saja, dia kekasihku.'' Ucap Beni penuh penekanan.


'' Kamu kenal dia Luna?'' Tisa seperti menangkap sesuatu.


'' A a..itu Tisa, maaf.'' Luna menjelaskan ada apa antara dia dan Beni. Apapun itu, Tisa sudah benar-benar marah. Dia tidak menyangka jika ternyata wanita yang berada di atas Beni di kamar hotel kemaren itu adalah sahabatnya sendiri, Luna.


Meskipun Luna sudah minta maaf, tapi tetap saja mereka salah. Mengapa dia tidak langsung pergi jika dia sudah jelas salah kamar. Baginya itu tidak dapat diterima akal sehatnya.


Tisa pergi begitu saja, tanpa menghiraukan panggilan Beni. Sedangkan Luna mengikutinya sambil terus mengucapkan kata maaf.

__ADS_1


______________


__ADS_2