Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Kencan


__ADS_3



Gue berdiri dikerumunan manusia yang menampakkan wajah bahagia mereka, berbagai orang dengan usia yang berada beda. Gue melihat sepasang kekasih yang masih ABG bergandengan tangan dengan senyum merekah mereka. Gue juga melihat anak perempuan yang tertawa lepas pada seorang laki laki menggendongnya di leher belakang yang gue yakini itu ayahnya.


Ada pula anak laki laki yang merengek pada ibunya karna tidak mau turun dari wahana yang dia naiki.



Apakah kalian tau dimana gue sekarang?


PASAR MALAM!!! Ya Raka ngajak gue ke pasar malam, mungkin bagi kalian Raka kurang up to date tapi inilah letak kenyamanan gue.


Gue bisa melihat ekspresi tanpa jaim jaiman atau ekspresi menjaga image.



Gue ga nyangka sekian lama gue ga jalan sama Raka baru kali ini gue terkesan sama ajakannya. Terakhir gue diajak Raka 2 bulan lalu di sebuah restaurant yang menurut gue cukup elegan. Karena apa? Gue melihat banyak orang yang sedang menyantap makanannya dengan sendok dan garpu sangat perlahan dan penuh hati hati.


Padahal mah gue yakin kalo dirumah makannya juga kaya bangor.




Raka: "Gimana?" Perkataannya membuat gue menoleh ke arahnya.



Amira: "Gimana apanya?"



Raka: "Kamu mau naik wahana, mau belanja atau cuma mau liat liat?"



"Atau kamu mau aku nikahin kamu sekarang?"



Gue terhenyak menatap ekspresi datarnya.



Amira: "Apaan sih bangke, kalo ngomong tuh liat situasi dan kondisi dong" Gue berjalan, sebenarnya gue menghindarinya menghindari pertanyaan pertanyaan selanjutnya.


__ADS_1





#Prov Raka Wijaya




Aku tengok kanan kiri melihat keramaian malam hari, yang cukup membuat wanita digandenganku ini nyaman. Terutama untuk melupakan kejadian tadi siang, ya walau aku masih belum tau alasan kenapa dia bisa sehisteris tadi.



Tiba tiba tangan yang cukup kuat menarik tangan kiriku, dan menyeret Amira pula yang menggandeng tangan kananku.



"Mas ayo mas dibeli CD nya mas buat istrinya 20k 3 atau BH nya, biasanya istrinya pake ukuran berapa?"


Seorang pria berusia sekitar 50 an menawarkan dagangannya.



Sontak aku melihat wanita disampingku ini dan turun melihat tonjolan dadanya yang bisa dibilang lumayan lah untuk seusianya.



Amira: "Apa yang kamu lihat dan apa yang kamu pikirkan bangke?" Tanyanya penuh dengan kecurigaan.



Raka: "Aku cuma lagi berfikir, ukuran bra istriku ini berapa yaah?" Jawabku polos.



Lengan tangan gue dicubit cukup keras, menampakkan bekas merah hasil karya kekejaman wanita ku ini.



Amira: "Ga pak makasih, saya masih punya banyak dirumah" katanya kepada penjual itu dan menarik lengan ku dengan paksa.



Raka: "Loh sayang kenapa? suami mu ini mau borong beliin CD sama Bra buat istrinya" ledek ku sambil tertawa.


__ADS_1


Amira: "Ko kamu jadi mesum gini sih? Aaaah pasti ketularan si curut Angga yah"



Raut wajah manisnya berubah jadi asam, penuh kekesalan. Ok aku harus membujuknya.


Aku berhenti di penjual permen kapas, membeli satu dengan warna rainbow, aku yakini ini akan mempan untuk wanita ku yang sedang merajuk.



Amira: "Aku ga mau permen kapas!" bak bocah yang sedang ngambek tapi itu terlihat imut dimataku. Jarang jarang Amira menunjukkan sisi anak anaknya yang menggemaskan.



Raka: "Ooh gak mauuu? Ya udah deh aku buang" aku berjalan ketempat sampah.



Amira: "Eh eh mau dikemanain? ko dibuang sayang lah orang udah dibeli, ga boleh buang buang makanan dosa"



Raka: " Ya udah aku balikin kepenjualnya lagi" aku berjalan kearah penjual yang tadi dan menyerahkan permen kapas itu.



Raka: "Ini mas saya balikin"



Penjual: "Loh mas kenapa dibalikin?" dengan cepat Amira merebut permen kapas dari penjual.



Raka: "Loh kurcaci? bukannya tadi katanya ga mau" kataku sedikit menggodanya.



Amira: "Ya terpaksa orang udah dibeli"



Raka: "Pffffttth,, kalo mau mah ngomong aja jangan gengsi gitu sayang"



"Everything for you because you are my reason for continuing to be happy"


__ADS_1


Gue tersenyum sembari mengacak acak rambut yang halus dan lurus itu.


__ADS_2