Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Perkara1


__ADS_3

Seminggu setelah acara lamaran telah terlewati dan gue masih sulit mengajak priaku untuk bertemu. Saat sudah ditetapkan bahwa kita akan menikah sebulan lagi, gue kelimpungan sendiri.


Sangat sulit membuat janji dengannya, padahal gue ini sekarang tunangannya. Apakah ini karma karna gue dulu selalu mengelak kalau diajak jalan oleh Raka?


Ya Tuhan, gue ini hanya memiliki niatan baik, tapi mengapa Engkau mempersulitnya?


Akhirnya gue paksakan untuk datang ke kantornya Wijaya Corp. Sebuah gedung tinggi yang memiliki 28 lantai.


Gue keluarkan ponsel gue didalam tas dan mengetikan sesuatu untuk seseorang yang menjadi alasan gue tidak datang ke studio hari ini.


"Bangke sekarang aku lagi dilobi perusahaanmu, cepatlah turun dan temui aku" sand.


Gue terus menunggu balasannya, kenapa gue ga naik aja sesuai saran resepsionis yang diperkejakan oleh Raka?


Entahlah gue merasa kalau ga seharusnya semua orang kantor tau kalau gue tunangannya bos mereka, karna belum tentu gue akan menikah dengan bos mereka.


Ting!!!


"Kenapa ga langsung datang ke ruanganku saja sayang?"


Melihat balasan pesan dari priaku ini yang memanggil gue sayang membuat gue senyum senyum sendiri.


Gue lihat sekeliling, syukurlah tidak ada yang melihat tingkah konyol gue yang senyum senyum sendiri kaya bocah ABG labil yang baru jatuh cinta.


"Aku mau ngomong sama kamu, tapi di luar sekalian makan siang. Bisa kan?" sand.


Gue ketuk ketuk layar ponsel gue dengan kuku jari telunjuk kanan gue menunggu balasannya.


Gue berharap priaku ini mau gue ajak keluar, gue berharap dia ga sibuk sama kerjaannya.


Ting!!!


"Apa kurcaci tersayangku ini sedang mengajakku berkencan?"


Entah mengapa akhir akhir ini sejak kita bertunangan gue selalu merasa senang bahkan bahagia mendapat balasan chat dari Bangke. Priaku ini lama kelamaan menjadi cowo yang lebih romantis tidak kaku lagi seperti dulu pertama kita berpacaran.

__ADS_1


Gue menghentak hentakkan kedua kaki gue ke lantai merasakan senang yang berlebihan karna mendapat balasan chat dari Raka yang super cute.


Jangtung gue dag dig dug bagai gendang perang ditabuh.


Gue bales apa yah? Gue ketuk ketukan ponsel gue kejidat gue mencari jawaban yang normal jangan sampai Raka tau gue ini udah melambung diatas awan.


"Apa ekspresimu selalu seperti ini jika mendapat chat dari aku kurcaci?"


Tubuh gue membatu, menjadi patung bagaikan patung pancoran dengan mata terbelalak dan mulut sedikit terbuka. Gue yakin seyakin yakinnya ini adalah ekspresi terkonyol gue sepanjang masa.


Raka: "Ko diem? malu yah sama tunangannya sendiri karna ketahuan?" katanya yang tiba tiba muncul dari belakang gue dan duduk di sofa sebelah gue dengan senyum jahilnya.


Amira: "Ga ko siapa yang kegirangan dapat chat dari kamu. Udah yuk ntar keburu jam makan siangmu terlewat" kataku dan pergi meninggalkannya yang masih duduk.


Aduh malu banget deh gue, kenapa tadi pake ada acara Raka dibelakang gue sih kan jadi terciduk gue nya yang lagi kegirangan batin gue disela jalan gue menuju mobil milik Raka.


Kita putuskan untuk makan disalah satu restoran cepat saji yang letaknya tidak jauh dari kantornya Raka.


Setelah selesai memesan pada salah satu mbak mbak yang dari tadi main lirak lirik pada priaku, akhirnya tiba saatnya kondisi dimana aku hanya berdua dengan Raka.


Gue pejamkan mata, menarik nafas dalam dalam. Bisa gue rasakan jantung gue yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


Raka: "Kamu kenapa kurcaci?" tanyanya memegangi pipi gue, aduh jadi panas dingin gini gue.


Raka: "Katanya ada yang mau dibicarakan. Apa soal pernikahan kita yang tinggal 20 hari lagi?"


20 hari? Gue harus seneng apa sedih ini?


Gue menatapnya dan menganggukan kepala gue sebagai jawaban.


Raka: "Tenang ya, kan udah aku bilang waktu itu dirumahmu kalau semua aku dan keluargaku yang urus. Aku sudah memiliki daftar catering dan gedung kamu tinggal pilih mau yang seperti apa. Mamih juga udah menghubungi butik langganan keluarga untuk fitting baju pengantin kita, dan aku juga te...


Amira: "Raka?" panggil gue memotong bicara priaku yang sangat bersemangat menjelaskan semua persiapan pernikahan kami.


Raka: "Ya sayang kenapa?" jawabnya lembut membuat gue ga tega untuk mengungkap apa yang sudah berputar putar sejak dulu dikepala gue.

__ADS_1


Amira: "Aku ingin membicaran hal lain, tapi apa kamu..


CUP


Gue terkejut, sebuah kecupan di pipi kanan gue dan itu..


Bukan kecupan dari Raka, gue langsung tengok kearah kanan gue dan gue dapati seseorang yang gue ga pernah berharap bisa bertemu dia lagi.


"Hai honey, sedang apa kamu disini"


Amira: "Kak Ilham" kataku lirih.


BHUG


Tiba tiba saja Raka memukul pipi kirinya hingga kak Ilham tersungkur jatuh ke lantai.


Raka: "Brengsek! berani beraninya lo cium tunangan gue hah?!"


Raka terus memukulinya membabi buta didalam restoran itu.


Amira: "Raka stop Raka" gue terus berusaha menahan Raka, tapi nyatanya sangat susah. Tenaga gue ga sebanding dengan tenaga Raka yang tengah berada dimode marah, kekuatannya lebih besar dari biasanya.


Akhirnya gue dibantu oleh pengunjung lain dengan membantu menahan kak Ilham. Gue terus memegangi lengan priaku agar dia tidak bertindak lebih lagi.


Amira: "Apa yang kamu lakukan? kenapa memukulnya?" tanyaku melihat wajahnya yang tadi terkena pukulan dari kak Ilham.


Raka: "Dia menciummu sayang, dengan seenak jidatnya main cium cium. Jelas aku ga akan terima itu" katanya berusaha ingin menghajarnya lagi.


Amira: "Iya! tapi ini restoran Raka, banyak mata yang melihat" gue berusaha menjelaskan karna bagaimanapun ini dekat kantornya gue ga mau priaku dicap sebagai bos yang temperamental.


Raka: "Mana mungkin aku masih bisa diam tenang sedangkan tunanganku dicium oleh pria lain. Aku ga terima kurcaci!" gue terus menahan lengannya dan menenangkannya.


Ilham: "Tunangan?" Hahahhaha...


Tawanya membuat semua pasang mata melihat padanya termasuk gue.

__ADS_1


Ilham: "Lo memang tunangannya, tapi dia ini cewe yang lo sebut tunangan lo itu milik gue"


__ADS_2