Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Aldo?


__ADS_3

#Prov Raka Wijaya..




Aku duduk di kursi tertinggi di gedung ini, ya perusahaan ayahku yang diturunkan kepadaku saat usiaku 17th. Bukan perusahaan terbesar seAsia atau terbesar didunia seperti novel novel tetangga. Aku bukan pula orang terkaya atau orang paling terpandang, hanya saja Wijaya Corp memiliki tempat tersendiri bagi para karyawan maupun klein kliennya dan para investor.



Balik ke cerita, aku masih diam membayangkan bagaimana cara halus kekasih ku mengusir ku dari rumahnya. Sungguh apakah dia memilki kelainan? Jika iya sebelum terlambat aku ingin mengobatinya, karna aku ingin menjadikannya istriku dan menjadikannya nyonya besar Wijaya Corp nantinya. Bagaimana aku tidak memikirkannya kelainan karna pada dasarnya seorang wanita biasanya merengek minta diajak dinner, ditemenin belanja atau hal hal yang berbau romantis tapi beda halnya dengan kurcaciku ini.




~Flashback on~



Raka: "Kenapa ga sekarang?"



Amira: "Aku mules, ga tau kenapa hari ini bolak balik kamar mandi mulu" Sangkalnya sembari memegangi perutnya.



Raka: "Kenapa ga makan aja cabe sekalian? biar sekalian dilancarin" kataku. "Kamu fotografer tapi kaya tukang bajai jago banget ngelesnya.





~Flashback off~




__ADS_1



Amira Dwi Saraswati




Gue masih bergelut dengan imajinasi gue diruang kerja gue yang dipenuhi foto foto yang bahkan gue ga kenal itu siapa. Gue memikirkan konsep serta lokasi seperti apa yang pantas untuk anak muda jaman sekarang. Dan kalian tau hal apa yang pertama terlintas diotak cantik gue?


KUBURAN!!! Sedikit konyol memang tapi coba kalian pikirkan belum pernah ada sejarah pembuatan foto album kenang kenangan di kuburan bukan? Sepertinya tidak normal bagi mereka kaum awam yang tidak mengerti seni, gue pun mulai berfikir kembali.




"Mbak !"



Satu kata mulai mengganggu konsentrasi gue.





Pecah sudah konsentrasi gue karna suara seseorang yang sangat gue kenal. Dimas, ya dia Dimas pemimpin partai dedemit ketuanya para setan. Dengan emosi meluap luap, gue berdiri dan menggebrak meja yang ada didepan gue.



Amira: "Beri gue satu alasan yang padat singkat dan jelas kenapa lo ganggu konsentrasi gue?!!"



Satu kalimat dengan satu tarikan nafas terlontar mulus dari mulut tajam gue.




Dimas: "A.. anu i..i.itu mba" katanya dengan gagap dan ragu ragu.

__ADS_1



Amira: "Ngomong yang jelas!!! apa perlu gue bacain pasal 1 ke lo?" Ancam gue tepat dihadapan Dimas.



Dimas: "Eh mbak Mira jangan." Jawabnya dengan muka memelasnya yang pengin gue tampol pake figura yang ada diatas meja gue.




*Pasal 1 'siapin surat resign diatas meja kerja gue'




Dimas: "Itu ada cowo didepan nyariin mbak Mira katanya pengin ketemu" Sambung Dimas.




Amira: "Bilang gue sibuk! ga ada waktu buat ngeladenin cowo" Jawab gue ketus sembari mendaratkan pantat yang akan bertemu dengan bantalan empuk kursi kebesaran studio gue.



Dimas: "Tapi mbak, katanya dia harus ketemu mbak Mira, kalo ga..." Dimas menggantungkan kalimatnya membuat gue rasanya pengin gantung itu bocah.



Amira: "kalo gaaaa...?"



Dimas: "Mas Aldo nya ga mau pergi mba" lanjut Dimas.



DEG!!!


Aldo? Dia mau ketemu gue?

__ADS_1




__ADS_2