Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Emak 2


__ADS_3

~Flashback on~


Setelah selesai mengirim pesan whatsapp pada Raka, gue pun wajib laporan pada emak gue tercinta.


Gue cari nama kontak yang berinisial K.


K?


KOBRA!!! Karna emak gue yang satu satunya ini hobinya matuk gue kalo gue ga nurut apa maunya.


Amira: "Hallo mah" sapa gue pada wanita yang menjadi emak gue.


Mamah: "Apaan?!!" eh buset daaah galak beneer.


Amira: "Ya udahlah ga jadi, padahal niatnya mau ngasih tau kalo Raka sama papih mamihnya ntar malam mau datang kerumah"


Mamah: "Apa?!!!" teriaknya dari seberang sana membuat telinga kanan gue bergeming.


Waaaah siap siap makin BOLOT ini gue mah batin gue.


Amira: "Ga ada, ga ada. Gak jadi!"


Mamah: "Papih mamihnya Raka datang mau ngapain?" tanya mamah mulai penasaran.


Amira: "Lamaran" jawab gue singkat untuk menyingkat waktu.


Mamah: "Haaaah?!"


Masya Allah KOBRA satu ini, gendang telinga gue sampai nyut nyutan. Ga kebayang deh kalo ngomong secara langsung, udah pasti wajah gue dihujani air liur emak gue.


Untung keputusan gue datang ke studio udah tepat.


Amira: "Udah puas belum terkejutnya? kalo udah masak sama mbok Darmi mah yang enak yah, inget ya jangan masak ayam. AYAM APA PUN JANGAN!"


Kata gue dengan penekanan agar emak gue ini ga coba coba masak ayam. Gue ga akan bisa terima kalau acara nanti malam bakal kacau gara gara ayam lagi.


Oh ga.. ga.. ga.. ga bisa dibiarkan.


Mamah: "Kenapa emangnya?" tanya emak gue yang penyakit keponya muncul lagi.


Amira: "POKOKNYA JANGAN! kalo tetap masak aku batalin acara lamarannya yah" kata gue dengan sedikit mengancam emak gue agar dia bisa mengerti gue.


Mamah: "Enak aja dibatalkan, udah deh mamah mau masak dulu"


Amira: "Tapi mah inget omo..


Tut.. tut.. Tut...

__ADS_1


Bener bener yah emak gue ini.


Ga akan ada lagi kesempatan buat lo ayam untuk berada disistuasi gue dan papih mamihnya Raka, bisa mati kebo gue kalo ketemu lo dihadapan mereka batin gue.


Setelah selesai dengan urusan studio, gue pun berniat untuk pulang karna jam di dinding studioku telah menunjukan pukul 17:25 WIB.


Setelah sesampainya dirumah, mata gue terbelalak dengan pemandangan yang tidak pernah gue harapkan.


"Mamaaaaaaah!"


Teriak gue menggema didalam rumah itu, rumah yang telah menjadi naungan bagi keluarga gue selama kurang lebih 6th.


Karna suara gue itu membuat mbok Darmi yang berada di dapur tersentak, mungkin dia terkejut dengan teriakan nyaring gue.


Mamah: "Naah akhirnya crindilnya pulang juga" kata mamah menuruni tangga


Crindil?


What?!!


Gue crindil? oh my God


Mamah: "Jam berapa ini Amira? Kamu sendiri yang bilang Raka dan keluarganya datang jam 19:00 WIB dan sekarang kamu masih santai berdiri disini belum siap siap juga" kata mamah dan mulai mendekati gue yang sedang berdiri di dekat meja makan.


Amira: "Oh tunggu tunggu.. yang harusnya marah itu aku mah, bukan mamah" kataku dengan menunjuk diriku sendiri.


Gimana gue ga emosi, gue suruh jangan masak ayam tapi yang terjadi didepan mata gue ini ada 3 jenis macam masakan dari ayam.


Ayam goreng, ayam kecap dan ayam sambal goreng.


Amira: "Mira makan apaan nanti mah? Mira ga mau makan kalau ayam"


Gue melipat kedua tangan gue didepan dada dengan mulut yang mengerucut menandakan bahwa gue sedang merajuk.


Mamah: "Tuuuuh ada tumis kangkung" kata mamah gue dengan memonyongkan mulutnya menunjuk sepiring tumis kangkung diatas meja makan.


Amira: "Masa cuma makan tumis kangkung sih mah" gue mulai merengek berharap emak gue mah memasakkan yang lain buat gue.


Mamah: " Ya terserah kamu"


Yaelaaah ini emak gue bukan sih batin gue.


Amira: "KEJAM!!! Dasar emak tiri"


Mamah: "BODO! Udah ayo cepet" kata emak gue memegang tangan kanan gue dan hendak menariknya.


Amira: "Mau kemana?" tanya gue dengan sedikit menahan tarikan tangan emak gue pada tangan kanan gue.

__ADS_1


Mamah: "Ya pilih baju buat kamu pakai nanti" kata emak gue dengan menarik tangan gue lagi.


Gue pun berjalan mengikuti setiap langkah kakinya.


Waaah, acara waktu dinner kemarin aja ribetnya ga karuan apa lagi ini mau lamaran. Udah pasti tersiksa ajur remuk ini badan batin gue ketika melihat emak mengobrak abrik lemari gue lagi.


Amira: "Ga mah! ga yang itu" kataku ketika emak gue menempelkan dress panjang tanpa lengan ditubuh gue.


Mamah: "Kenapa? manis tau, coba kamu pakai dulu"


Amira: "OGAH!!!" penolakan sangat teramat jelas keluar dari mulut gue.


Mamah: "Pakai sendiri atau mamah pakaikan?" kata Mamah mulai mengancam gue.


Amira: "Mamah tau kan aku sama warna pink itu bagai malam dengan matahari, ga akan pernah jadi satu mah" kataku mencoba mengingatkan emak gue lagi kalo gue teramat benci dengan warna pink.


Mamah: "Ya udah kalau ga mau, kamu pake yang ini" kata mamah dengan mengangkat dress peach.


Ga bakal kelar ini mah kalo gue nolak mulu batin gue.


Tiba tiba saja lambu taman muncul lagi diatas kepala gue.


Aha! gue tau. ide itu muncul di otak jahil gue.


Amira: "Ya udah deh mah, terasah mamah aja" kataku pasrah karna mulai lelah dengan perilaku emak rempong gue ini.


Mamah: "Nah gitu dong nurut, kan jadi enak" kata mamah masih dengan memilah milih lagi.


Hahaha,, pilihlah sesuka hatiku mamah Ani, batin gue mulai tertawa jahat ala mak lampir.


Mamah: "Nih yah, nanti kamu pakai baju ini terus pakai helsnya yang ini juga. Jangan lupa make up yah" kata emak gue mengingatkan semua yang ada dalam otaknya.


Amira: "Iya mah iya" kataku yang terlihat pasrah, padahal mah ya gitu.


~Flashback of~


Dan sekarang gue yang sedang dipeluk tante Hana tidak sama sekali memakai apa yang telah emak gue sarankan.


Gue memakai dress pendek selutut dengan bagian bahu yang jatuh kelengan membuat bahu gue terekspos untuk dilihat berwarna navy.


Dan jangan bayangan gue memakai hels karna pada kenyataannya kaki kecil mungil gue hanya beralaskan sandal jepit bermerek selow berwarna putih biru.


Ya gimana mata emak gue ga melotot kaya mau keluar, gue aja berpenampilan berbeda dari yang dia harapan.


Salah sendiri ga mendengarkan apa mau gue, main masak ayam ayam ya begini lah.


Enak aja aku wajib mendengarkan permintaannya tapi permintaan gue harus gue telan sendiri batin gue.

__ADS_1


Sorry bung gue bukan peran protagonis yang hanya ditindas dan tugasnya cuma nangis.


__ADS_2