Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Belum Terungkap


__ADS_3

Amira Dwi Saraswati


Gue berjalan dengan dihiasi wajah penuh senyum gembira yang gue pancarkan. Karna apa? Karna sebentar lagi tubuh mungil yang lunglai ini akan mendarat di kasur empuk yang membuat gue betah lama lama dikamar.


Dengan cepat gue buka pintu rumah gue, seketika itu pula gue mematung berdiri didepan pintu setelah gue tutup pintunya. Mata gue tidak berkedip, pandangan gue tentang kasur, tidur dan nyenyak harus gue singkirkan dan menundanya untuk beberapa waktu kedepan.


Papah: "Amira, ko malah matung disitu? sinih"


Gue masih diam tak bergerak, emak gue dengan cepat menghampiri gue dan menarik tangan kiri gue.


Mamah: "Anak satu ini emang yah, maaf ya Raka"


Ya dia Raka, Raka yang datang kerumah gue sedang duduk diruang tamu bersama papah gue. Gue pun akhirnya duduk disebelah papah gue menghadap priaku satu ini.


Gue berfikir..


'Perasaan tadi jelas jelas gue lihat kalender hari ini itu hari Rabu' batin gue.


Untuk lebih memastikannya gue lihat ponsel, gue pun makin yakin kalo ini hari Rabu otomatis ini malam kamis dong masa iya langsung loncat ke malam minggu.


'Apa mungkin Bangke ku ini lupa hari?' batin gue lagi.


Amira: "Hai Ka, lo ngapain kesini ini kan bukan malam minggu?" dari perkataan gue, gue mendapatkan hadiah cubitan di perut dari emak gue yang sadisnya melebihi iblis penjaga neraka.


Mamah: "Maaf ya Raka, anak tante yang satu ini memang suka becanda. Kadang otaknya juga bisa geser mohon dimaklumi" eh buset daaah emak gue ini, sebenernya gue ini anaknya bukan sih?


Papah: "Udah lah mah, ayo kedalam biarkan mereka urusin masalah mereka sendiri kita sebagai orang tua jangan terlalu ikut campur"

__ADS_1


Amira: "Tuuuh dengerin mah" jawab gue dengan menjulurkan lidah ke arah emak gue.


Selekasnya papah dan mamah pergi, mata gue ga henti hentinya pecicilan lirik kanan kiri. Kadang gue liat ponsel gue yang ga ada apa apanya, kadang liat dinding sapa tau gitu nemu cicak yang lagi ngeliatin gue kikuk dihadapan cowo gue ini.


Raka: "Kurcaci?" panggil nya lembut.


Amira: "Hmm.." jawab gue tanpa melihat kearahnya.


Raka: "Mata kamu ga cape lirik sana sini? aku ini tepat didepan mu loh" katanya dengan pandangan masih fokus kearah gue.


'Ya karna kamu didepanku persis Bangke makanya gue kikuk ga berani natap tajamnya mata lo' batin gue.


Raka: "Amira?"


'Aduuh kalo udah panggil nama udah pasti mau ngomong serius ini mah' gue masih setia bermain dengan batin gue.


Raka: "Besok aku ada rencana mau ngajak papih mamih main kesini, menurutmu gimana?" aduh makin mati kecoa deh gue bukan mati kutu lagi. Apalagi kalo ke inget kejadian terakhir tentang ayam itu, ga ga ga gue belum siap nampakin diri didepan Mamih papih nya Raka.


Amira: "Hah? buat acara apa ya Bangke ko sama om dan tante segala? kamu kalo besok masih mau main lagi ga apa ko, ga mesti malam minggu" gue mulai merasa canggung dan ga tau lagi harus nyari celah buat ngelak terlebih dengan pandangan Raka yang mulai serius gini.


Raka: "Besok aku pengin ngelamar kamu Ra, tepat didepan kedua orang tua kita"


Amira: "..."


Gue ga tau lagi harus jawab apa, apa sebegitu seriuskah lo Raka sama gue sampe ga henti hentinya ngelamar gue?


Raka: "Apa masih ada alasan lagi Ra?" gue masih diam dan menundukkan kepala.

__ADS_1


Dia diam begitu lama, entah diamnya itu akan sampai kapan. Mungkin dia masih menunggu jawaban dari gue atau diamnya karna kecewa pada gue, gue ga tau bahkan ga tau sama sekali.


Raka: "Baiklah mungkin belum waktunya lagi, kalau gitu aku pamit ya kurcaci salam buat om sama tante" dia berdiri dari duduknya. Gue pun mengikutinya dibelakang Raka mengantarkannya sampai depan pintu.


Gue mulai memberanikan diri menatapnya, ta ada lagi tatapan tajam yang ada tatapan rasa kecewa. Dia mendekat kearah gue, kedua tangannya yang kekar memegang kedua sisi samping kepala gue dan diciumnya kening gue cukup lama hingga gue bisa merasakan adanya rasa kecewa pada penantian yang begitu lama.


Raka: "Selamat malam kurcaci, jangan terlalu begadang tidur yang cukup. Aku masih berharap hari esok aku bisa mendapatkan jawaban yang berbeda dari biasanya" dia tersenyum getir hingga dia pun pergi meninggalkan gue dengan menaiki mobilnya yang tidak gue sadari tadi waktu masuk rumah.


Gue merutuki kebodohan gue dalam tangis yang menjadi jadi didalam kamar gue.


Kenapa?


Kenapa ini harus terjadi pada gue?


Apa gue begitu egois sampai ga rela untuk melepaskan Raka?


Raka yang begitu sempurna apa akan mau bersanding sama wanita yang hina seperti gue?


Kenapa gue begitu bodohnya dulu hingga percaya pada pria brengsek itu?


Bisakah waktu diulang Tuhan?


Bisakah gue mengenal Raka terlebih dulu?


Gue menyesal Tuhan! Gue bener bener menyesal!


Raka maafin gue!

__ADS_1


Cinta gue ke lo harus terhalang dengan masa lalu kelam gue, jika bukan karna itu gue udah mengiyakan ajakan lo dari pertama gue merasa nyaman berada disisi lo.


Tuhan jika memang waktu tidak bisa diulang, bolehkah aku sedikit egois dengan meminta Raka sebagai suamiku?


__ADS_2