
"Mas Raka"
Suara mbok Irah membuyarkan lamunan gue tentang lucunya tingkah Amira waktu itu.
Raka: "Kenapa mbok?" tanya gue sambil berjalan menuju kamar mandi didalam kamar gue.
Mbok Irah: "Diruang tamu ada temennya mas Raka" jawabnya.
Mendengar itu gue langsung berhenti dan seketika itu pula senyum itu hadir tiba tiba diwajah gue. Amira? Gue bergegas hendak berjalan keluar tapi tunggu dulu..
Raka: "Bukannya dia biasanya langsung nyelonong masuk, kenapa malah nunggu diruang tamu?" tanya gue pada mbok Irah.
Mbok Irah: "Oh itu bukan mbak Amira mas, tapi mas Angga" jelasnya.
Angga? Curut itu? Ngapain dia kesini?
Raka: "Apa ada angin topan tadi hingga lo sampai rumah gue?" tanya gue langsung tanpa menyapanya terlebih dulu.
Angga: "Eh bro! Ayo lah gue juga kan temen lo" dia bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri gue.
Gue diam, bahkan ta ingin menatapnya langsung aja gue duduk di sofa seolah ta menganggap kehadirannya.
__ADS_1
Angga: "Masa iya lo welcome ke IBLIS itu tapi ke gue ga. Atau jangan jangan lo mulai suka sama IBLIS licik itu yah?" pertanyaannya membuat gue langsung menatapnya tapi masih dalam mode diam.
Angga: "Weleh weleh belum sebulan lo bergaul sama salah satu iblis penjaga pintu neraka tapi tatapan lo udah sama persis kaya dia. Seakan akan kaya mau gantung kepala gue, Iiih ngeri deh gue" katanya sembari menjauhkan diri beberapa meter dari gue. Benarkah gue mulai kaya bunglon?
Raka: "Lo punya mulut dijaga, dia bukan tipe gue" jawab gue angkuh.
Angga: "Bukan tipe lo?! terus tipe lo itu cewe lemah lembut, ramah tapi jago main dibelakang?" Gue bungkam.
Angga: "Gue tau lo pasti masih menyimpan rasa kecewa karna dia sering gonta ganti cowo ga ada aturan" katanya dengan memandangi gue.
Angga: "Tapi bro! Asal lo tau, seburuk buruknya Amira dia ga pernah yang namanya selingkuh. Dia lebih memilih memutuskan cowo nya dengan berbagai perkataan pedas dari pada cowo itu masih terus terusan mengejar cintanya. Dia ga ingin menyakitinya lebih dalam jikalau dia hanya memberi harapan palsu" Gue makin bungkam dengan pernyataan yang dilontarkan curut satu ini.
Pikiran gue berkelana memikirkannya,
Benarkah Amira seperti itu?
Apa gue udah nyakitin perasaannya dulu?
Gue masih diam dengan perasaan serba salah gue yang mulai menghantui gue, mulut gue jahat, gue bajingan gue ga pantes dapet semua perhatian bunglon akhir akhir ini.
Angga: "Tapi ya bro, gue salut sama lo. Karna gertakan lo waktu itu lah yang bikin IBLIS itu berubah" perkataannya membuat banyak tanda tanya dikepala gue muter muter.
Raka: "Maksud lo apaan! kalo ngomong yang jelas curut!"
Angga: "Lo tau ga? sejak lo memakinya sampai sekarang dia ga pernah pacaran lagi. Bahkan cowo cowo yang berusaha deketin pun dijauhinya seribu langkah" katanya terus menjelaskan segala hal yang dia ketahui.
Gue makin tercengang, benarkah? Semua itu karna gue?
__ADS_1
Angga: "Bro! dia memang cewe aneh suka petakilan, pecicilan sama kaya gue tapi tanpa kita sadari dia memiliki sisi dewasanya tersendiri. Sisi dimana dia akan benar benar sangat bijak" lanjutnya.
'Iya Angga dia sama kaya lo, meski kalian aneh tapi kalian memiliki sisi kedewasaan yang bahkan lebih bijak dari orang dewasa sekalipun' batin gue.
Angga: "Oiya gue hampir lupa. Gue juga mau kasih tau lo kalo mantan lo nikah sama ayah dari anak yang dia kandung"
Raka: "Siapa?" tanya gue bingung.
Angga: "Oh astaga!!! Apa iblis itu berhasil membuat lo move on dari mantan istri lo?!"
Siapa? Apa yang dia maksud Viviana?
Viviana? tanpa gue sadari gue melupakan seseorang yang telah membuat gue terpuruk bahkan berniat bunuh diri.
Sejak kapan? Sejak kapan gue melupakannya?
Ternyata bener kata Amira, dikala dia kemarin yang sedang memotret sepasang burung Nuri yang sedang damainya hinggap di pohon kecil di Ragunan, dia berkata..
"Carilah kesibukan sebanyak banyaknya hingga tak ada ruang bagimu untuk memikirkan hal yang mengganjal dihatimu dan membuatmu sakit"
*Amira Dwi Saraswati*
__ADS_1