
"Jadi selama ini kamu bersembunyi disini Kurcaci?" katanya memecahkan kesunyian di meja makan yang super besar tapi hanya tiga kursi yang dihuni seseorang.
Amira: "Gue bukan kurcacimu lagi" jelas gue tanpa memalingkan wajah gue dari makanan gue.
Raka: "Oh iya maaf, aku lupa kamu tunanganku sekaligus calon istriku"
Amira: "Lo kenapa bisa tau gue ada disini?" tanya gue sinis padahal sebenarnya gue juga udah kangen berat sama pria yang selalu hadir di mimpi gue akhir akhir ini.
Raka diam dan hanya melihat kearah Angga yang sedikit mendongak dan melirik kearah gue. Karna gue yang melihat kearahnya dia kembali menunduk dan berpura pura makan.
Amira: "Oh lo jadi ngasih tau dia tentang keberadaan gue Curut?"
Angga: "Sorry Nyet! Abis dompet gue teriak teriak mulu kalo lo nodong tangan" jawabnya dengan wajah memeles yang lebih terlihat minta dibogem.
Gue meninggalkan meja makan dan menuju kamar yang sudah gue huni selama ini. Gue bukannya marah sama Raka, hanya saja gue belum siap ketemu dia.
Amira: "Kamu ngapain disini?" kata gue menyadari ada seseorang yang dibelakang gue yang tidak lain adalah Raka. Kenapa gue bisa yakin itu Raka, ya kalian tahulah gue udah pernah bilang diawal kan tentang parfum maskulinnya Raka.
Raka: "Aku mau menjelaskan sesuatu dan ingin mendapat penjelasan darimu Kurcaci" katanya dan duduk di kasur tapi membelakangiku.
Amira: "Menjelaskan soal apa? dan aku harus memberi penjelasan apa?"
Raka: "Aku ingin menjelaskan soal kesalah pahaman yang kamu lihat antara aku dan Viviana. Aku juga ingin mendapat penjelasan darimu kenapa kamu memutuskan pertunangan kita"
Amira: "Kayanya ga ada yang perlu dijelaskan Raka, soal kamu dan Viviana aku ga perduli lagi. Dan untuk alasan aku memutuskan pertunangan kita kamu ga perlu tau, tugasmu cukup bahagia bersama Viviana dan lupakan aku"
Raka: "Aku hanya bisa bahagia denganmu Amira bukan dengan wanita lain, aku bersumpah aku tidak ada hubungan apa apa dengan Viviana itu hanya ingin membuatnya sedikit tenang dari masalahnya"
Amira: "Aku sudah bilang aku tidak perduli" jawab gue datar sebenarnya mengingat kejadian waktu itu membuat gue sedikit menyentuh luka lama yang sudah sedikit memudar dalam ingatan gue.
Raka: "Tapi aku perduli sangat perduli" katanya dan gue hanya diam tidak menjawab lagi.
Dia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah gue, sedikit berjongkok dihadapan gue dengan menggenggam kedua tangan gue.
Raka: "Kurcaci tatap mata aku, aku yakin kamu bisa menemukan kenyataan didalam mataku bahwa aku masih sangat mencintaimu" gue menatap matanya lekat, benar apa katanya gue seperti melihat Raka yang sekarang terpuruk tanpa adanya gue disampingnya. Terlihat seperti pandangan yang tidak memiliki tujuan.
Raka: "Maukah kamu menikah denganku, menjadi makmumku, istriku, teman tuaku dan menjadi ibu dari anak anakku?" kata itu keluar dengan mulusnya dari mulut Raka yang membuat gue speacles.
Amira: "Maaf Raka aku ga bisa walaupun aku ingin" jawabku dan melepas genggaman tangannya.
Raka: "Kenapa Kurcaci? apa alasannya?"
__ADS_1
Amira: "Karna aku sudah tidak mencintaimu lagi" jawab gue berusaha bohong agar Raka berhenti berharap pada gue.
Gue berdiri dan hendak meninggalkannya yang masih terduduk dilantai mungkin karna masih syok dengan jawaban yang baru saja gue berikan.
Raka: "Kamu tidak mencintaiku atau kamu merasa tidak sempurna untukku?" pertanyaannya membuat langkah gue berhenti seketika.
Apa Raka sudah mengetahuinya?
Siapa?
Apa kak Ilham? Sepertinya bukan, tapi siapa?
Amira: "Ya aku tidak sempurna untukmu jadi menjauhlah dariku" jawab gue berusaha tenang dan melanjutkan langkah kaki gue menuju pintu.
Raka: "STOP AMIRA!" dia mencengkaram tangan gue keras membuat gue sedikit merasakan sakit di pergelangan tangan gue.
Raka: "Sampai kapan Ra? SAMPAI KAPAN LO MAU MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN ITU!!!" Raka berteriak tepat didepan mula gue.
Gue bingung, benarkah Raka benar benar tau masalalu gue?
Raka: "Ya Mira aku sudah tau alasan kamu selalu menolak lamaranku dulu. Kamu tau dulu sampai kemarin aku belum tau kebenarannya aku selalu berasumsi kamu hanya mempermainkan perasaanku saja"
Raka: "Tidak Mira, aku yakin kamu mencintaiku sama seperti aku yang sangat mencintaimu" aku diam tidak berkata lagi.
Raka: "Kenapa Ra? Kenapa kamu menutupinya dariku dan membuat aku berpikiran buruk tentangmu?"
Amira: "Siapa? Siapa yang telah memberi tahumu? tanya gue menatap matanya tajam.
Raka: "Temanmu, teman baikmu di Jogja. Waktu itu aku datang ke Jogja untuk mencari info tentangmu, dan sangat sebuah kebetulan aku bisa bertemu dengan temanmu dan dia memberi tahuku semuanya tentangmu" jelasnya
Amira: "Nafi?" tanya gue mencoba meyakinkan dengan apa yang baru saja aku dengar dari penuturan Raka. Karna teman terdekatku di Jogja hanya Nafi tidak ada lagi, dulu aku termasuk anak yang tidak suka bergaul dengan teman sembarangan. Aku sangat pemilih dulu.
Raka: "Iya... Dia temanmu bukan?" gue tidak menjawabnya.
Bagaimana Nafi bisa tahu?
Setahu gue, gue ga pernah cerita soal hubungan intim gue dengan kak Ilham dulu.
Lalu dia tahu dari siapa?
Apa dari kak Ilham?
__ADS_1
Sepertinya tidak mungkin.
Raka: "Kita pulang ya Kurcaci" katanya membuat pudar lamunan gue.
Amira: "Ga, aku betah disini. Lepasin tangan aku" jawab gue trus berusaha melepas genggaman tangannya.
Raka: "Ga perduli kamu setuju atau tidak besok kita pulang"
Amira: "Aku ga mau, jangan paksa aku" jawab gue
Raka: "Maaf tapi aku harus memaksamu kali ini. Lima hari lagi kita menikah"
Amira: "WHAT?!!! Raka kamu jangan sembarangan ambil keputusan sendiri yah"
Raka: "Tidak tidak.. om Agus dan tante Ani juga ikut mengambil bagian ko"
Gue semakin mematung ditempat, ini pasti ulah emak gue yang ga sabar pengin ngeepak gue dari rumah. Jelas jelas gue lagi kabur tapi dia masih sempat sempatnya merancang pernikahan padahal pengantinnya tidak ada yang tau keberadaannya.
Amira: "Raka?"
Raka: "Iyaa" sahutnya.
Amira: "Kamu sudah tau aku tidak sempurna tapi kenapa kamu masih mau menikahiku?"
Raka: "Karna aku mencintaimu" jawabnya membuat gue sedikit terhura eh maksudnya terharu.
Amira: "Raka banyak wanita yang jauh lebih sempurna dariku dan lebih pantas untukmu kenapa kamu ti...
Raka: "Mungkin ada banyak yang lebih sempurna darimu untukku tapi tidak ada yang bisa memberikanku kebahagiaan sepertimu Kurcaci tidak ada"
Raka: "Pulanglah besok bersamaku, dan menikahlah denganku. Oh aku melupakan sesuatu" dia merogoh rogoh saku bajunya dan...
Raka: "Ini" katanya menunjukan sebuah benda yang sangat gue kenali.
Gue masih diam tidak mengambilnya karna merasa tidak enak.
Raka: "Kamu tidak sengaja menjatuhkannya saat aku mengantarkanmu pulang" katanya padahal jelas jelas gue meninggalkannya di jok mobil Raka. Ya sebuah cincin bermata satu berlian yang menjadi bukti pertunangan kita.
Dia memasangkan kembali cincin itu dijari manis kiri gue.
Raka: "Jangan pernah melepaskannya lagi, aku tidak mengizinkannya. Kamu mengerti Kurcaci?"
__ADS_1