
Hari hari mulai aku lewati tanpa kak Ilham, dia berkata bahwa aku harus lebih serius belajar terlebih lagi aku akan mendekati try out. Maka dari itu dia jarang mengabariku, aku pun selalu fokus pada pelajaranku agar tidak mengecewakannya.
Drrttt.. drrttt..
Drrttt..drrttt..
Ponsel diatas meja belajar ku bergetar, aku sengaja beralih ke mode getar agar ponselku ini tidak mengganggu konsentrasi ku dalam belajar.
Nomor tidak diketahui?
Siapa?
Sebenarnya aku sedikit enggan mengangkatnya tapi ya sudahlah.
"Hallo" aku berusaha menyapa seseorang yang tidak aku ketahui dari seberang sana.
"Kamu butuh bukti tentang perselingkuhan pacar kamu bukan? Kemari datanglah cepat!" suara yang tak lain adalah Nafi teman sebangku ku.
Amira: "Tidak perlu, aku percaya pada kak Ilham" kataku dan hendak menutup sebuah panggilan yang tidak aku harapkan.
Nafi: "Jika kau masih mempercayainya itu adalah kebodohanmu, aku temanmu maka dari itu aku berusaha menyadarkanmu"
Nafi: "Cepatlah datang kesekolah kak Ilham, aku tunggu kamu didepan gerbang. Aku mohon kali ini percayalah padaku, persahabatan kita menjadi taruhannya" apa dia yakin dengan ucapannya?
Entah mengapa aku pun berusaha untuk mempercayainya. Ku lajukan motor maticku dengan kecepatan 80Km/jam dengan kondisi jalan yang normal. 15 menit waktu yang ku tempuh untuk mencapai tempat yang menjadi tujuanku, aku pun mendapati sosok yang sangat aku kenal.
Amira: "Mana buktinya?!" aku langsung menodongkan tanganku padanya.
Nafi: "Ruang kelas IPS 2 dekat lapangan basket ujung lorong sebelah kiri kamu bisa melihat bukti itu sendiri. Bergeaklah cepat sebelum kau melewatkannya" instruksikunya.
Aku pun melesat mencari sebuah ruangan yang telah diinstruksikan Nafi. Dari kejauhan aku bisa melihat " IPS 2" diatas sebuah pintu.
__ADS_1
Sebelum aku benar benar sampai didepan ruang kelas itu aku mendengar rintihan lirih yang lama lama berubah menjadi desahan.
Aku tidak yakin dengan apa yang aku pikirkan tapi aku harus tau sendiri bukti yang dimaksud Nafi.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat dari jendela kaca samping kelas terdapat 2 anak remaja tengah bercumbu dipojok kelas dan lebih terkejutnya lagi dia adalah kak Ilham pacar aku dan wanita itu? wanita yang dibonceng kak Ilham kala itu.
Langsung saja aku gedor pintu itu hingga terbuka.
"I.. Ira?" katanya dan mulai melepaskan wanita yang sedari tadi dia cumbu.
"Dasar BRENGSEK!!! BAJINGAN!!!"
Aku pun menarik salah satu meja terdepan hingga jatuh dan menimbulkan bunyi yang cukup membuat telinga sakit didalam ruang kelas itu.
Kak Ilham yang terkejut dengan kehadiranku pun mulai memakai kembali pakaiannya. Aku bergegas berlari keluar melewati kelas kelas yang tadi telah aku lewati dan keluar menuju gerbang sekolah. Aku masih melihat Nafi yang setia menunggu didepan gerbang sekolah si pria BRENGSEK itu.
Amira: "Maukah kamu mengantarkan ku pulang? Aku tidak ingin melewati ini sendirian"
Meski aku tahu Nafi pun membawa motor, tapi tetap aku ingin dia berada disampingku untuk saat ini.
Aku mulai malas belajar, padahal 2 minggu lagi try out pertama akan segera dilaksanakan. Aku mulai jenuh dengan kelas yang hanya berisi anak anak kutu buku. Hingga aku melihat kelas yang paling ujung kelas 9H begitu ceria, mereka tertawa pada hal yang menurutku itu sangat garing dan tak berguna.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk berpindah kelas dari kelas yang dikenal eksekutif menjadi ekonomi kelas bawah.
Awalnya aku mendapat larangan keras dari mamah, tapi karna kemurahan hati papah lah aku akhirnya pindah kelas.
Dan jangan lupakan Nafi yang menangis menjadi jadi.
Nafi: "Amira... ko kamu tega sih ninggalin aku" rengeknya.
Amira: "Aku cuma pindah kelas Nafi bukan pindah kenegara lain" bujukku.
__ADS_1
Nafi: "Tapikan sama aja nanti aku temen belajarnya siapa coba?" dia mulai ngusel ngusel dibahuku.
Amira: "Aku masih sama sama seangkatanmu Nafi, kapan pun kamu mau belajar bareng aku siap ko"
Nafi: "Bagaimana jika kamu melupakanku?"
Amira: "Itu tidak akan karna kamu saudara sekaligus teman yang telah menyadarkanku dari jalan yang salah"
Nafi: "Baiklah.. aku akan sering sering main kekelasmu jadi jangan sampai kamu bosan yah"
Amira: "Ok mak lampir" kita pun tertawa terbahak bahak.
Setelah aku resmi pindah kelas dan menjadi murid kelas 9H, aku mulai kesusahan bersosialisai dengan anak yang bahkan tidak satu pemikiran denganku.
"woi nama kamu siapa?" tanya seorang siswi yang menjadi teman sebangku ku.
"Apa?!" tanyaku karna aku benar benar tidak mendengarnya.
"Dasar BOLOT!!! gue Bintang nama lo siapa" apa dia bener bener ga kenal aku?
"Aku Amira" jawabku.
Bintang: "Ok mulai sekarang gue panggil lo BOLOT" katanya dan menepuk bahu aku.
Laras: "Ooh lo Amira anak yang selalu dapet ranking 1 paralel itu, wah enak banget lo bandot dapet teman satu bangku secerdas dia" ternyata Bintang di kelas dipanggil BANDOT dan aku baru sadar jika di kelas ini tidak memakai nama asli tetapi mereka memakai nama panggilan lain, seperti aku yang dikenal dengan sebutan BOLOT.
Bintang: "Emang ya nasib anak sholehah tu gini dikasih rejeki anak pintar buat ngebimbing mbak Bintang yang cetar membahana bohay" celetuk bandot yang membuat aku tertawa kecil.
Sigit: "Woi bandot... anak sholehah dari Arab lo aja wudhu urutan masih acak adul ga jelas urutannya, suruh praktek sholat subuh malah 4 rakaat, kerajinan loh!!!" kata temen cowo yang duduk disebelah kursi bandot.
Bintang: "Gue kan pengin dapet nilai tambahan dari pak Ahmad jadi ya gue tambahan aja biar puas, niatnya malah mau gue tambahin jadi 5 rakaat soalnya gue ga suka angka genap, eh tapi malah gue udah keburu kebelet pipis jadi ya udah lah 4 dulu satunya kapan kapan bisa nyusul ntar gue kirim lewat BBM" perkataan bandot berhasil memecahkan keramaian ditengah ramainya kelas ini aku pun ikut tertawa lepas bersama mereka.
__ADS_1
Adit: "Gebleg lo! otak lo ketinggalan yah dirumah?" tiba tiba aja kepala bandot dapet toyolan dari belakang.
Bintang: "Otak gue bukannya ketinggalan, tapi masih dijemur belum kering tadi pagi abis dicuci sama nyak gue katanya udah terlalu kotor" karna perkataannya suasananya pun makin ramai.