
Kita kedua keluarga mulai menyantap hidangan yang sudah tersaji diatas meja. Gue merasa ada kehangatan tersendiri melihat keharmonisan yang terlihat jelas dimata gue. Kita makan sambil sesekali bercengkrama untuk menghilangkan kecanggungan dan terutama untuk lebih dekat menjalin hubungan baik.
Mamah: "Jadi bagaimana? Amira dan Raka sudah bertunangan, lalu akan diberi jarak berapa bulan untuk menikah?" tanya emak gue tiba tiba disalah kegiatan makan kami.
Emak gue ini yah, dia udah ga sabar apa gimana pengin ngedepak gue dari rumah ini, gue ini anaknya loh anak perempuan satu satunya dia batin gue.
Amira: "Mah kita baru aja tunangan, baru beberapa jam yang lalu masa iya langsung bahas kesitu. Itu bisa diobrolin lain waktu kan" gue main serobot sebelum emak gue makin menjadi jadi.
Tante Hana: "Mamah kamu bener Amira, kita juga harus bahas tentang ini karna ga mudah juga kan kita bisa berkumpul 2 keluarga gini, belum tentu ada kesempatan lagi Amira apalagi jadwal papah kamu sama papihnya Raka mereka kan selalu sibuk" kata tante Hana yang langsung membungkam mulut gue, tak akan bisa ngelak kalo sama calon mamah mertua mah.
Gue hembuskan nafas perlahan ga bisa berkutik kalau tante Hana yang ngomong. Dan gue juga mulai jengkel kaki gue dari tadi disenggal senggol sama Petruk dikira dia lagi nonton dangdutan kali.
Papah: "Bagaimana jika kita beri jarak setahun untuk menjelang menikah?" papah gue mulai angkat bicara untuk memberi usul.
Ko papah tega sih, gue kan masih mau lama lama jadi gadis kecilnya papah batin gue memelas.
Mamah: "Apa ga terlalu kelamaan pah?" jawab emak gue bikin gue makin emosi.
Waaah bener bener yah si KOBRA dia beneran ada niatan ngedepak gue kayanya batin gue dengan lirikan mematikan gue tertuju pada emak gue tercinta.
Om Adi: "Iya pak Agus, kalau menurut saya lebih cepat lebih baik" sahut om Adi ikut memberi saran.
Tante: "Iya saya setuju papanya Amira, saya takut Amira nya nanti keburu bosan dan tidak mau menikah dengan Raka. Apalagi Amira ini cantik takutnya nanti kecantol sama yang lain" dari perkataan tante Hana gue bisa merasakan bahwa beliau takut kejadian yang dulu akan terulang kembali.
Gue hanya diam dan lebih memilih fokus mengunyah makanan gue sambil mendengarkan pembicaraan orang tua dihadapan gue.
Papah: "Bagaimana ya baiknya?" papah gue mulai berfikir, kalo udah gini jiwa kebokapan gue bakal muncul.
Bagi gue papah itu orang paling bijak diantara orang bijak. Dia tidak akan mengambil keputusan yang akan merugikan salah satu pihak, dia juga akan mengutamakan keadilan. Pokoknya dimata gue dia adalah sosok Ayah yang paling terbaik tidak ada duanya didunia ini, gue bersyukur memiliki sosok ayah seperti beliau ya meski itu gue juga harus menelan kenyataan bahwa gue memiliki emak yang galaknya kaya singa afrika.
__ADS_1
Papah: "Saya takut kalau terlalu terburu buru nanti anak anaknya belum siap" kata papah yang kayanya mulai tahu isi hati gue.
Papah: "Menurut Raka gimana?" tanya papah pada Raka, sedangkan gue masih asik asiknya menuhin mulut gue dengan tumis kangkung masakan emak gue.
Gue makin terganggu dengan adik gue yang teyal teyol lutut gue. Rasanya pengin gantung itu bocah di pohon rambutan belakang rumah.
Raka: "Bagaimana kalau sebulan lagi?"
Bhuuk.. uhuk.. uhuk..
Gue terbatuk dan menyemburkan semua isi mulut gue kearah kiri gue. Gue tersedak bukan main mendengar jawaban dari Bangke ku ini.
Sebulan?
Gue ga salah denger?
Apa ini ga terlalu cepat?
Raka menyodorkan segelas air putih pada gue dengan wajah senyumnya.
Gue pun meminumnya perlahan mengisi penuh mulut gue yang terasa janggal. Tapi tangan kiri gue digoyang goyang menjadi gue sulit untuk meminum air yang berada ditangan kanan gue.
Gue tengok kearah kiri dengan bibir gelas yang masih stay di mulut gue dan...
BYUUUUUR....
Air didalam mulut gue keluar semua. Mata gue melotot selebar lebarnya.
Amira: "Eh sorry sorry, lagian gue kaget liat muka lo ko bisa ada kangkungnya gitu" kata gue dengan mengelap mulut gue yang sedikit basah karna semburan air tadi.
__ADS_1
Arjuna: "Lo lupa hah?!!" Ini kelakuan lo Ami Randaaa!"
Amira: "Kelakuan gue?"
Gue mulai teringat tadi gue batuk dan menyemburkan semua isi mulut gue kearah kiri dan eng ing eeeeeng.. adik terlaknat gue itu duduk disebelah kiri gue yang lebih tepatnya sebelah kanan emak gue karna meja makan gue ini bentuknya lingkaran bukan persegi.
Gue sembarang ambil lap yang berada diatas meja untuk mengelap wajahnya yang sudah dipenuhi kangkung plus air minum yang tadi ga sengaja gue semprot kearahnya.
Raka: "Eh Kurcaci jangan! itu kan...
Amira: "Loh! perasaan tadi gue makan tumis kangkung ga ada cabe nya, ko muka lo jadi banyak biji cabe gini" gue terheran heran dan ternyata..
Arjuna: "AMI RANDA JELMAAN PITON BETINAAAA! Lo apakan muka gue hah?! itu lap bekas ngelap sambal yang tadi lo tumpahin KAMPRET!!!" pekik Juna tepat didepan gue.
Dan menurut kalian apa yang gue lakukan selanjutnya?
Mengemis minta maaf?
Menerima perilaku yang sama dari Petruk?
atau...
"Ppffffftt,,, Bhuahahahahaaa"
tawa gue benar benar menggelegar dirumah itu, gue ga perduli lagi mau ada atau tidak adanya papih mamihnya Raka,
Gue pukul pukul meja dihadapan gue sambil tertawa dan menunjuk muka adik gue yang bentukannya udah ga jelas alias abstrak.
Sungguh demi apapun malam ini memang sangat berkesan didalam hidup gue. Bukan karna lamaran saja tapi karna untuk pertama kalinya gue bisa jahilin Petruk sampai puas didepan orang luar selain papah dan mamah gue.
__ADS_1