Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Ketakutan


__ADS_3



"PERGI!"



Dia berjalan mendekat kearah gue, dengan cepat gue ambil gunting di laci meja gue dan menodongnya.



"Ira gue kangen lo ra" katanya.



"PERGIIII !!!" Teriak gue histeris.



"Mbak ?! mbak Mira kenapa?" tiba tiba Dimas datang dengan raut muka yang panik, mungkin dia tadi mendengar teriakan gue.



Amira: "Usir dia Dimas, bawa dia pergi dari sini!! kalo ga gue pecat lo sekarang juga"



Dimas: " Maaf mas, mas denger sendiri mbak Mira nya ngomong apa kan? Jangan buat saya marah dan nyeret mas keluar" kata Dimas mulai mengancam laki laki itu.



"Ira.. Gue pasti kembali lagi Ra" katanya dengan menatap gue lalu hilang dibalik pintu.




Badan gue lemes, gue terduduk di lantai badan gue gemetar hebat. Gue peluk lutut gue meringkuk seperti orang kedinginan. Tangis gue menjadi jadi.



'Kenapa dia datang lagi? Kenapa gue harus ketemu dia lagi?'



__ADS_1



"Sayang kamu kenapa?!!" sebuah kalimat yang terdengar khawatir terucap dari seorang pria yang gue rindukan saat ini.



Amira: "Raka!" Gue peluk dia seerat mungkin berharap apa yang tadi gue lihat hanya ilusi.



Raka: " Kamu kenapa?" Tanyanya dan mulai memeluk balik gue.



Amira: " Jangan pernah hiks.. hiks.. tinggalin gue hiks.." Tangis gue makin pecah apalagi dengan mimpi yang semalam.



Raka: " Ga akan kurcaci.. aku akan slalu bersamamu, udah ya jangan nangis lagi" dia mencium puncak kepala gue dan mengelus elus pelan punggung gue, memberi sedikit ketenangan.





#Prov Raka Wijaya





~Flashback on~




" Mas Raka?!! Alhamdulillah.. mas tolong mas, mbak Mira didalam lagi nangis"



Tanpa bertanya dan mendengarkan penjelasan Dimas yang selanjutnya gue langsung lari menuju ruang kerja Mira.


__ADS_1


Aku melihat dia duduk di lantai dengan memeluk lututnya seperti orang ketakutan. Aku tidak menyalahkan Dimas yang hanya diam didepan dengan rasa was was tanpa menenangkan wanita ku. Karna aku tau Amira, tidak semua orang bisa menenangkan dirinya.




~ Flashback off~




Sebenernya dia kenapa? Apa yang membuatnya menjadi begini? Dimana Amira yang gue kenal dengan keberaniannya? Bahkan dia pernah berani berdebat dengan polisi gara gara kena tilang. Dia yang salah tapi malah dia yang maki maki polisinya.


Belum lagi jamannya masih putih abu abu, aku sering denger dia telat tapi dia selalu ngancem pak satpam jaga gerbang buat bukain gerbang. Kalo ga dia bakal panjat pagar dan itu disuruh sama satpam nya.



Gila! Konyol! Aneh!..... ya itu Amira.



Tapi yang gue rasa dia yang sekarang bukan Amira yang gue kenal, bukan kurcaciku yang periang dan penuh trik buat ngehindarin malam minggunya.


Gue pegang tangan kanannya yang dingin, dia menatapku dan mulai tersenyum.




Amira: " Bangke? Boleh ga kamu jangan tanya apapun tentang hal yang terjadi padaku hari ini?"



Gue menarik nafas dan menyembuhkannya perlahan.



Raka: "Baiklah, tapi kamu harus janji Amira.. balikin kurcaciku yang periang seperti biasanya"



Senyumannya melebar menampakkan barisan gigi yang rapih, putih dan bersih.



Amira: "Ayay kapten!" Jawabnya dengan tangan kiri yang menghormat.

__ADS_1



Maaf sayang, mana mungkin aku diam ketika alasan kebahagiaanku sedang terusik.


__ADS_2