Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Flashback Raka 1


__ADS_3




Aku senyum senyum sendiri membayangkan tingkah polos wanita ku tadi, sembari membaringkan badan diatas ranjang yang sudah menjadi tumpuan mimpi mimpi ku sejak dibangku SMP. Aku mulai berfikir sepertinya aku harus mengganti ranjangku ke ukuran yang super super besar. Karna Amira ku itu pasti kalau tidur pecicilan ga bisa diam sama seperti sehari harinya. Boleh ga sih aku memvonisnya langsung menjadi bini aku?




Terima kasih Tuhan, karna kau telah menghadirkan Amira Dwi Saraswati dalam hidupku, terlebih lagi saat aku benar benar butuh sandaran dalam hidupku yang kala itu membuatku jatuh. Aku jatuh bahkan tenggelam dalam keterpurukan, tapi sebuah tangan kecil itu menarikku membuatku berdiri kembali. Menopangnya agar tidak jatuh lagi, berdiri dibelakangku meyakinkanku ketika aku ragu untuk melangkah. Hingga aku pun menyatakan bahwa dialah alasan kebahagiaanku, dia alasan Raka Wijaya untuk terus maju tanpa menoleh kebelakang atau mengingat masa lalunya.



"Viviana"



Mengingat masa lalu... aku mulai bernostalgia, kenapa tiba tiba aku bisa menjadikan wanita yang bahkan pernah ku katai IBLIS itu menjadi pacarku. Sungguh aku sangat menyesal kala itu, mengapa aku membentaknya, memaki maki, mengeluarkan segala bentuk kekesalanku.




~Flashback on~



Setelah kejadian dimana gue menceraikan Viviana, gue merasa hidup gue seperti berbalik 180 derajat. Alasan gue untuk bekerja, menaikkan tingkat perusahaan Wijaya Corp tidak ada gunanya lagi. Wanita mana yang mau bersanding dengan pemuda perjaka yang sudah menyandang gelar duda di hari pertamanya menikah. Rasa sakit dibohongi Viviana tidak begitu menyakitkan dibanding ucapan dari kerabat keluarga Wijaya yang membuat telinga gue begitu perih.

__ADS_1




Bukan hanya gue yang merasakannya, tapi kedua orang tua gue pun ikut menanggung malunya. Sungguh Tuhan tidak adil pada gue, mengapa Dia memberitahu gue setelah adanya sebuah hubungan serius? Mengapa tidak dari jauh jauh hari? Mengapa Tuhan? Mengapa?!



Sejak saat itu gue menjauhi segala urusan keagamaan termasuk sholat 5 waktu gue, meninggalkan kursi kepemimpinan. Gue hanya berdiam termenung didalam kamar yang sangat berantakan dengan pecahan pecahan kaca yang berceceran di lantai.


Memenjarakan diri tanpa mau makan dan minum, hingga gue berubah menjadi sosok laki laki yang kumal dan kotor karna tidak pernah mandi dan ganti baju.




Meski Mamih selalu memohon dengan tangis agar gue tidak seperti ini, tapi hati dan pikiran gue membatu. Bahkan gue dihajar oleh papih gue agar gue sadar bahwa dunia ini masih berjalan, tapi gue tetap pada pendirian gue.






Sebangun nya gue dari tidur yang terasa panjang, gue merasa pusing yang luar biasa sedang melanda kepala gue. Seperti terbentur benda keras, mata gue pun tidak bisa terbuka sepenuhnya.



"Raka! Raka alhamdulilah,, Pih! papih Raka siuman pih" kalimat pertama yang gue dengar di sebuah ruangan yang berbau tidak sedap dan dipenuhi warna putih itu.

__ADS_1




Mamih: "Raka! Apa yang kamu rasain sekarang sayang? Kamu butuh sesuatu?"



Raka: "Air mih" tenggorokan gue terasa kering dan perih mungkin karna beberapa hari ini gue jarang minum juga.



Mamih: "Ini sayang" sembari memberikan segelas air putih, bisa kulihat raut wajah yang penuh kekhawatiran dimuka Mamih gue ini.



Gue lihat selang menancap pada pergelangan tangan gue, dan beberapa cairan aneh yang tergantung disebuah tiang yang menyambung menjadi satu dengan selang itu.


Gue juga bisa melihat tatapan papih yang tidak bisa gue baca. Apa yang ia pikirkan, apa yang ia rencanakan gue ga pernah tahu.





Papih: "Didepan ada Aldo sama temen temen mu yang lain, temui mereka papih sudah mengizinkan mereka untuk menjengukmu" kata papih dengan mulai melangkah keluar pintu ruangan.



Raka: "Aku ga..

__ADS_1



Papih: "Ga ada bantahan Raka! hanya ada iya, ok, siap!!


__ADS_2