Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Hubungan Baru


__ADS_3

Gue tersadar dari lamunan gue tentang masa lalu yang suram juga masa lalu yang cukup membuat gue rindu.


"Gimana kabar pak Tukiman sekarang yah?" gumam gue merindukan sosok yang sering gue kerjain dulu sewaktu masa SMA.


Senyuman gue memudar mengingat perkataan pria tadi yang akan melamar gue. Ga! gue ga mau, dia hanya terobsesi sama gue. Obsesinya telah menggila bahkan dia mulai berani datang kerumah gue.


Raka!


Hanya dia yang ingin aku nikahi bukan yang lain.


Prov Raka Wijaya


Aku duduk di kursi penumpang dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahku. Ku pegang erat kotak kecil berwarna merah ditangan kananku.


Dan untuk kesekian kalinya lagi lagi dan lagi, ku baca sebuah pesan yang masuk ke ponselku pagi tadi saat aku sedang fokus dengan tumpukan tumpukan berkas yang harus aku baca dan teliti ulang.


Sebuah pesan yang mampu memberhentikan kerja otakku sesaat dan membuatku terpaku, benarkah ini?


*Aku tunggu kedatanganmu bersama kedua orang tua mu malam ini dirumah.


Aku menerima lamaranmu Raka Wijaya


*kurcacimu**


Mamih: "Du..Du.. Du.. duuu.. Mamih tau kamu lagi bahagia sayang, tapi jangan senyum senyum sendiri gitu dong. Ngeri Mamih lihatnya" kata Mamih yang duduk di kursi depan sebelah pengemudi.


Papih: "Namanya juga lagi kasmaran ya gitu mih" sahut papih yang sedang mengemudi.


Mamih: "Keputusan papih buat mengemudi emang udah bener. Coba kalo Raka yang mengemudi udah pasti dibawa ngebut kita pih saking ga sabarnya pengin ketemu calon tunangannya" ledek Mamih.


Aku hanya membalas perkataan kedua orang tuaku dengan senyumanku, aku ga tau lagi harus mengekspresikan seperti apa.


Sesampainya didepan rumah kurcaci, jantungku berdetak lebih cepat tidak seperti biasanya. Antara ga sabar dan gerogi, tapi aku tetap memberanikan diri melangkah dibelakang kedua orang tuaku menuju pintu utama rumah itu.


Tok. Tok. Tok.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" salam Mamih setelah mengetuk pintu rumah kurcaci.


"Wa'alaikumsalam" sahut yang berada didalam, dan akhirnya pintu dibuka dan terlihatlah tante Ani mamah nya Amira tersenyum menyambut kedatangan kami.


Tante Ani: "Oh mari masuk, silahkan" katanya dengan mempersilahkan kami bertiga masuk.


Mamih: "Iya makasih ya mamihnya Amira"


Kami pun digiring masuk, aku melihat om Agus papanya Amira yang sedang duduk diruang tamu lalu berdiri karna menyadari kehadiran kami.


Apa Amira belum bilang bahwa keluarganya memiliki inisial A semua?


Agus Wibisana


Ani Puji Wibisana


Ahkam Surya Wibisana


Amira Dwi Saraswati


Kenapa Amira tidak menggunakan nama belakang dari papanya?


Itu karna dalam keluarganya dinyatakan bahwa anak perempuan hanya akan mendapatkan nama belakang dari suaminya sama seperti tante Ani.


Ku lihat papih mamih yang sedang bercengkrama dengan om Agus dan tante Ani seolah telah mengenal lama.


Raka: "Maaf tante, Juna nya mana?" tanyaku karna tidak menjumpai sosok Juna adik Amira yang lebih tepatnya disebut rival.


Tante Ani: "Oh Arjuna ada kegiatan di sekolah, dia disuruh bantu bantu mengurus acara penerimaan murid baru jadi sampai malam begini belum pulang" jawab tante Ani yang mulai memperhatikan jam yang terpasang di dinding.


Mamih: "Kamu nyari Arjuna atau kakak perempuannya?" tanya mamah sedikit menyindirku dengan tatapan menggodanya.


Tante Ani: "Maaf ya Raka, soalnya tadi Amira pulang dari studio sorean. Katanya ada yang harus diurus jadi sekarang masih siap siap diatas" jelas tante Ani.


Raka: "Oh iya tante ga apa ko" jawabku yang tidak enak pada tante Ani.

__ADS_1


Mamih: "Amira giat banget yah ngurus studionya, jadi seneng deh kalo beneran punya mantu yang kaya Amira gini" sindir Mamih lagi dengan lirikan mematikannya.


Tante Ani: "Iya dia kalau soal studio mah bisa lupa waktu padahal dulu di tawarin suruh kuliah kedokteran kaya papah, mamah sama kakaknya, tapi dia nya malah nolak dan memilih untuk tidak lanjut sekolah lagi dan lebih fokus pada keputusannya untuk membangun studionya sendiri" jelas tante Ani dan hanya dapat anggukan dari Mamihku.


Aku mulai suntuk dengan pembicaraan keempat orang yang usianya jauh lebih tua dariku.


Papih dan om Agus yang serius membicarakan perusahaan yang kini tengah dikontrol sepenuhnya olehku.


Mamih dan tante Ani yang fokus membahas ke 3 anak tante Ani.


Sedangkan aku?


Aku masih setia memperhatikan tangga yang ta kunjung dilewati oleh seseorang yang aku nantikan sedari tadi.


Hingga penantianku pun berakhir, ku dapati seorang wanita dengan anggunnya menuruni tangga itu.


Ku arahkan senyumanku padanya, dan aku pun dengan jelas dapat melihat lesung pipi disebelah pipi kirinya karna senyuman yang menghiasi wajah cantiknya yang alami tanpa make up berlebihan.


Amira Dwi Saraswati


Gue hampiri papah mamah beserta papih mamih Raka yang sudah berada diruang tamu, tak lupa gue lontarkan senyuman termanis gue untuk seorang pria yang sebentar lagi akan menyandang gelar sebagai tunangan gue.


'Semoga keputusan gue untuk menerima lamarannya tidak salah' batin gue.


Mamih: "Waaah Masya Allah calon mantu Mamih, sinih sayang" kata tante Hana yang berdiri dari duduknya. Gue pun mendekati tante Hana dan langsung saja gue mendapat pelukan hangat layaknya menantu dan mamah mertuanya.


Dari dalam pelukan tante Hana gue bisa melihat senyuman bahagia Raka, om Adi dan papah.


Tapi ada pula sepasang mata yang menatap gue dengan tatapan membunuhnya, siapa lagi kalau bukan emak gue tercinta.


Gue tersenyum padanya dengan mengedipkan mata sebelah kiri gue kepadanya mencoba untuk sedikit menggodanya.


Bukannya makin jinak, emak gue malah makin melotot membuat gue sedikit menahan tawa gue dalam pelukan calon mamah mertua. eh maksud gue tante Hana sedikit halu ga apa kan?


Salah sendiri mengangkat bendera perang, ya harus siap tumbang.

__ADS_1


__ADS_2