
" Lo emang tunangannya, tapi dia ini cewe yang lo sebut sebagai tunangan lo itu milik gue"
Bagai mendapat bencana, kenapa kak Ilham harus datang disaat seperti ini. Saat dimana gue belum mengungkapkan kebenarannya pada Raka.
Ga! gue ga pengin Raka tau semua itu dari mulut kak Ilham, kak Ilham pasti akan menambah nambahkan skenarionya dan akhirnya pasti gue yang dirugikan.
Gue tengok ke arah Raka, gue lihat terdapat wajah tanda tanya disana seolah bertanya
Apa maksud semua ini kurcaci?
Ilham: "Dari raut wajah lo sepertinya tunangannya lo ini belum memberitahukan sebuah rahasia yang telah dia simpan rapat rapat selama ini sampai belum ada satu orang pun yang tau. Apa betul Ira?" katanya dengan membuat Raka semakin menunjukan wajah kebingungannya.
Amira: " Diam KAU!!!" bentak gue berusaha membungkam mulut lemes kak Ilham yang akan semakin menjadi jika tidak dihentikan.
Ilham: "Heh! Apa kamu membutuhkan bantuanku sayang untuk memberitahukan yang sebenarnya pada tunanganmu ini" katanya dengan tatapan merendahkan Raka.
Amira: "CUKUP!" bentak gue.
Gue tarik tangannya Raka yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perdepabatan kami. Gue bawa dia keluar restoran itu, padahal baru saja makanan yang kita pesan datang tapi berhubung mood makan gue sudah menghilang dan gue yakin sebentar lagi gue akan dihujani dengan pertanyaan yang bertubi tubi dari priaku.
Dan benar saja, saat kami baru saja memasuki mobilnya. Raka langsung memandangi gue.
Raka: "Siapa dia? Apa hubunganmu dengannya? Kenapa kali...
Amira: "Tinggalkan dulu tempat ini" jawab gue memotong bicara Raka dengan pandangan yang terus menghadap kedepan tanpa melihat Raka yang duduk disamping gue yang hendak mengemudi.
Raka mulai memarkirkan mobilnya hendak pergi keluar dari pelataran restoran cepat saji itu.
__ADS_1
Raka: "Katakan" katanya dengan nada datar masih dengan melajukan mobil yang kita kendarai.
Apa yang harus gue katakan? Gue harus mulai dari mana?
Amira: "Raka?" panggil gue masih fokus menatap kedepan.
Raka: "Hmm"
Amira: "Aku ingin pertunangan kita dibatalkan"
CKIIIT (Author kaga tau bunyi rem mobil macemanaš¬)
Seketika itu pula Raka mengerem mendadak mobilnya untunglah dibelakang mobil Raka tidak ada kendaraan lain. Sebuah rem mendadak yang membuat badan gue sedikit terhentak kedepan untunglah gue menggunakan sabuk pengaman jika tidak mungkin jidat gue udah kepentok kali.
Raka langsung menatap gue, dengan kedua tangannya yang meremas setir mobilnya. Tatapan matanya sungguh menakutkan.
Raka: "Apa maksudnya dari perkataanmu? Apa kamu sedang mempermainkan perasaanku kurcaci?!" bentaknya tapi gue alihkan pandangan gue dari tatapan matanya kearah lain.
Amira: "Nih Bangke aku balikin" kataku sembari mengulurkan tangan yang berisi cincin pemberian Raka yang memepertandakan pertunangan kita.
Raka: "Jangan panggil aku dengan sebutan itu disaat seperti ini. Panggilan itu hanya khusus untuk kurcaci yang mencintaiku, bukan untuk Amira wanita yang ta memiliki perasaan bila memutuskan pacar pacarnya" gue merasa tersindir oleh perkataannya, meskipun itu benar adanya karna dulu gue memang cewe kejam yang tidak memiliki perasaan bila memutuskan hubungan.
Raka: "Apa ini karna cowo tadi Amira?" tanyanya melihat kearah gue.
Amira: "Bukan, aku memiliki alasan lain. Alasan yang sampai kapanpun sepertinya tidak akan pernah kamu ketahui" jawab gue masih melihat kearah lain.
Raka: "Maksud kamu apa? Alasan lain?"
__ADS_1
Raka: "Lalu kau anggap hubungan kita selama ini apa Amira?! Kau bilang sendiri bahwa kamu tidak ingin berpacaran, kamu menginginkan pria yang berkomitmen"
Raka: "Tapi saat aku bersungguh sungguh tentang hubungan kita, kau malah selalu mengelak dengan berbagai alasan. Aku sudah melamarmu sebanyak 6 kali dengan cara yang berbeda beda dan alasanmu pun ikut berbeda beda, lalu apalagi ini hah?! Alasan apa lagi Amira Dwi Saraswati?!!!" bentaknya tepat ditenglinga kanan gue.
Amira: "Maaf Raka, aku akui aku yang salah. Sepertinya aku memang belum siap untuk menjalani hubungan yang lebih serius, aku belum bisa berkomitmen" jelas gue, padahal bukan itu alasan sebenarnya.
Raka: "Jadi selama ini kamu mempermainkanku dan perasaanku Amira?" tanyanya dengan menghadapkan gue kearahnya dengan memegangi kedua bahu gue.
Amira: "...." Gue menunduk.
Raka: "JAWAB AMIRAA!!!" bentaknya mendorong bahu gue.
Raka menjambak rambutnya frustasi, memukul mukul setir mobilnya dengan cukup keras.
Ingin rasanya gue menangis melihat Raka yang seperti ini, tapi gue harus tahan jangan sampai Raka ragu kalau gue sebenarnya ga ingin membatalkan pertunangan kami.
Raka: "Apa kamu tidak takut Aku pergi dan menghilang?"
Amira: "Maka pergi dan menghilanglah"
Inilah hal yang paling gue takutkan, ketakutan tentang Raka yang akan meninggalkan gue sendiri. Apa daya gue, gue lebih takut Raka ninggalin gue karna kesalahan gue dimasa lalu. Tapi pada akhirnya jujur ga jujur gue tetap akan ditinggalkan olehnya.
Raka: "Brengsek! KELUAR DARI MOBIL GUE SEKARANG!!!"
Gue pun turun dari mobilnya, tidak lupa gue tinggalkan cincin pertunangan kami di kursi yang tadi habis gue duduki.
Dengan cepat Raka melajukan mobilnya meninggalkan gue sendiri dipinggir jalan.
__ADS_1
Gue menangis seketika itu pula, meratapi nasib yang telah gue rusak sendiri. Rasa sakit ini rasa yang mengganjal di hati gue dan keadaan gue saat ini memang pantas untuk gue, cewe yang ta memiliki perasaan.
Rasa kecewa yang gue berikan pada Raka lebih menyakitkan dari pada yang gue rasakan saat ini.