Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Perfect Raka


__ADS_3

Setelah acara adat istiadat selesai, gue dan Raka harus langsung siap dengan acara resepsi yang akan diselenggarakan disalah satu ballroom hotel termegah daerah Jakarta pusat malam ini.


Karna tamu Raka yang pastinya akan membanjiri ballroom belum lagi papah yang sudah bergelut dibeberapa Rumah Sakit dan mamah yang menjadi dosen Universitas Indonesia berhasil memenuhi ruangan besar ini menjadi lautan manusia. Tapi bukan berarti papih Adi dan Mamih Hana tidak memiliki tamu hanya saja gue tidak tau mana tamunya Raka mana tamunya Mamih dan papih.


Keputusan Raka untuk para tamu undangan menggunakan dress code putih berhasil membuat gue menjadi yang paling mencolok diantara kerumunan tamu yang entah berapa banyak. Gue yang menggunakan gaun berwarna rose berhasil menjadi pusat perhatian belum lagi kali ini rambutku diubah menjadi layaknya seorang peri.


Gue heran apa maksud Raka menggunakan mutiara dan kupu kupu secara bersamaan, itu nampak tidak masuk akal karna yang kita tau mutiara biasa ditemukan diperairan sedangkan kupu kupu hidup bebas didaratan.


Rambut gue yang dikepang membentuk sebuah sanggul kecil dibagian bawah. Dihiasi jepit buatan mutiara yang diatas mutiara tersebut terdapat replika kupu kupu dari kain berwarna peach dibagian tertentu.


Raka: "Kamu kenapa Ra?" tanya Raka tiba tiba disaat kegiatan belum dimulai.


Amira: "Ah! tidak.. aku hanya berpikir kenapa kamu menggunakan mutiara dan kupu kupu secara bersamaan itu jelas tidak nyambung kan?" tanya gue padanya agar gue juga tahu alasannya.


Amira: "Ga mungkin kan kamu hanya iseng?" tanya gue lagi karna Raka masih tak kunjung menjelaskan maksudnya.


Raka: "Karna itu sama seperti kamu, meski mustahil dan aneh tapi aku bisa memilikimu dengan penuh keindahan"


Perkataan Raka berhasil membuat gue terpana seketika, betapa bersyukurnya gue memiliki suami sepertinya. Mampu menerima kekurangan terbesar gue dan tetap mencintai gue dengan sepenuh hatinya.


"Woi... akhirnya kalian nikah juga yah, gue kira si IBLIS mau jadi perawan tua seumur hidup" kata seseorang yang menghampiri kami.


Raka: "Perut istri lo udah buncit aja Do, udah hamil berapa bulan?" tanya Raka pada sohibnya yang tak lain adalah Aldo.


Aldo: "Oooh udah 5 bulan Ka, gimana? tokcer kan gue langsung gas pol" dari perkataan Aldo langsung dihadiahi cubitan keras di perutnya dari Intan.


Intan: "Selamat ya mbak Amira.. semoga SAMAWA sama mas Raka" katanya menyalami gue yang masih diam sedari tadi.


Amira: "Iya makasih" jawab gue dengan membalas uluran tangannya.


Amira: "Oh iya Do, lo ga bareng sama Curut? Gue ga lihat dia dari tadi" gue sedari tadi itu diam tengok sana sini mencari sosok yang gue yakini akan merusak kecantikan dan keanggunan gue hari ini.


Aldo: "Ini anak satu yah, lo udah punya suami ngapain nyari cowo lain?" katanya dengan menoyol jidat gue.


Amira: "Yaelaaah... cowo apanya orang itu Curut ko, buat apa dicemburuin? Kamu ga cemburu kan Raka?" tanya gue menengok kearah Raka.


Tapi yang gue lihat dari raut wajahnya adalah aura dingin yang menyeramkan, tatapan mata tajam wajah tanpa ekspresi beda dengan Raka sebelumnya.


Amira: "Ka? Raka" panggil gue tapi Raka malah cuek dan berpaling melihat kearah lain.


Aldo: "Mampus kan lo! suami mana yang bisa anteng kalo istrinya nyari cowo lain meski itu temannya sendiri"

__ADS_1


Aldo: "Udah yuk sayang kita tinggal pasang suami istri ini yang sebentar lagi akan perang dingin sebelum malam pertamanya" lanjut Aldo hendak meninggalkan gue dengan Raka yang masih bersikap acuh pada gue.


Amira: "Raka? kamu cemburu? Kamu tahu kan hubungan aku sama Angga seperti apa, kita cuma berteman ga ada hubungan lebih" terang gue mencoba peruntungan membujuknya.


Raka: "Iya iya... aku tahu ko"


Baru saja gue menenangkan Raka, eh malah si empunya datang membuat api yang sudah padam kembali berkobar.


"Hai baby honey... happy wedding yah" tiba tiba sebuah tangan dengan sembrononya melingkar indah dipinggang gue membuat mata Raka melotot melihatnya.


Amira: "Eh Curut lepasin Ga! lepasin" gue memukul mukul tangannya yang masih keenakan peluk pinggang gue.


Angga: "Kenapa sih sayang? kita bahkan melakukan lebih waktu di mansion gue" katanya dengan nada suara manja yang bikin gue munek.


Karna mendengar perkataan Si Curut, raut wajah masam Raka kembali lagi.


Wah bisa gagal malam pengantenan ini gue batin gue.


Amira: "Ngomong apaan sih lo?! Gaje banget lihat tuh laki gue bentar lagi murka" terang gue nampol kepalanya.


Angga: "Kalo laki lo murka ya lo tinggal sama gue aja gampang kan?"


Amira: "Iya gampang, gampang buat gue mutilasi batang lo!" kata gue kemudian berjalan cepat menyusul Raka yang sudah berjalan menjauh.


Amira: "Raka! Raka tunggu.. Raka! Ahh...


"Are you ok? Can I help you miss?" kata seorang pria salah satu tamu undangan yang membantu gue keseleo akibat mengejar Raka dengan hels yang cukup tinggi.


Raka: "Jangan sentuh istri saya!"


Raka menepis tangan pria itu lalu dengan possessivenya memeluk pinggang gue dari samping kanan gue.


"Calm down man, I just want to help this lady" terangnya lalu undur diri dari hadapan kita.


Raka: "Kamu ga apa apa?" suaranya melembut dengan pandangan mata penuh perhatian.


Amira: "Kakiku sakit Ka"


Raka: "Sakit? ayo duduk disana aku akan memeriksanya" Raka menuntun gue perlahan dan mendudukan gue disalah satu kursi tamu.


Raka: "Kaki mana yang sakit?" dia mendongak saat sedang duduk berlutut dibawahku.

__ADS_1


Amira: "Yang kiri" terang gue memberi tahu padanya.


Amira: "Eh Raka! Mau apa kamu,jangan banyak orang" kata gue karna gugup melihat Raka yang perlahan menaikkan gaun gue.


Raka: "Aku hanya ingin melihat kakimu sayang, tidak mungkin melakukan hal yang aneh aku masih tau aturan"


Ya ampun malunya gue, udah berharap terlalu banyak batin gue pastinya dengan pipi merah bagai tomat mentah ya kali tomat mentah warnanya merah.


Raka: "Kamu tunggu disini, jangan kemana mana. Kalo kamu pecicilan lagi atau keluyuran jalan kemana aku bakal benar benar marah sama kamu. Kamu dengar Kurcaci?!" gue menjawab dengan anggukan super cepat agar dia percaya.


Setelah memeriksa kaki gue, Raka langsung pamit entah pergi kemana. Dia meninggalkan gue bersama dengan tamu tamu yang bahkan gue ga kenal sama sekali.


Gue hanya memperhatikannya yang berjalan membelah kerumunan para tamu dan berjalan menuju atas pelaminan tempat kita duduk.


Gue sipitkan mata gue melihat Raka membawa paper bag hitam dari belakang kursinya dan kemudian berjalan kembali kearah tempat gue duduk.


Amira: "Itu apa?" Tanya gue karna penasaran, tapi Raka tidak mau menjawab dia lebih memilih duduk berlutut kembali dihadapan gue dan melepas hels yang gue kenakan.


Amira: "Loh!" gue terkejut dengan isi paper bag yang dikeluarkan Raka.


Raka: "Pakai sandal jepit aja, biar kaki kamu tidak semakin sakit" terangnya.


Amira: "Kamu udah nyiapin sandal jepit sedari tadi buat aku?" tanya gue sedikit terharu.


Raka: "Karna aku tau istri cantikku ini tidak akan betah memakai hels lama lama, jadi aku sebagai suami harus siap siaga sebelum sang istri meminta"


Aduhaaaaai... kamera mana kamera?


Adek kaga kuat bang kalo diginiin terus mah.


Amira: "Rakaaa?" panggil gue pelan.


Raka: "Iyaaah?" jawabnya yang diiringi mendongak melihat kearah gue.


Gue gerakkan tangan gue melambai memeberi isyarat agar dia mendekat kearah gue.


Raka: "Kenapa?"


CUP


Gue kecup bibirnya, masa bodo dengan berpasang pasang mata yang melihat ke arah kami. Intinya gue udah kaga kuat nahan malam pertama kita ya meski bukan malam pertama gue.

__ADS_1


__ADS_2