Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Mimpi


__ADS_3

Amira Dwi Saraswati


"Loh! lo nangis Nyet? Kenapa lo terharu ya punya temen kaya gue yang baiknya kaya malaikat Ridwan penjaga syurga?" kata seseorang yang berada dibelakang gue mengejutkan gue yang sedang menangisi memori tentang perihnya melihat Raka kala itu mencium Viviana


Amira: "Lo ga pantes mirip malaikat Ridwan" kata gue sambil menyeka air mata gue agar tidak terlihat olehnya. Meski gue yakin Angga ini pasti tau alasan gue menangis, ga ada yang bisa gue sembunyikan dari dia.


Angga: "Lah terus tampang tampan yang menawan rupawan ini pantesnya mirip malaikat siapa?" tanyanya dengan merapikan rambutnya kebelakang.


Amira: "Malaikat Izrail!" jawab gue singkat.


Angga: "Astaghfirullah, kejam lo Nyet!


Amira: "BODO!"


Angga: "Ya Allah.. Masa hambamu ini yang tampan jumawan dikatai mirip malaikat pencabut nyawa, sungguh kejam teman hamba yang satu ini Ya Allah, niatan baik ingin menghibur hatinya yang sedang patah hati malah dibalas dengan kecuekannya" katanya dengan memohon mohon menghadap atas.


Gue hanya diam mendengarkan aduannya pada Allah yang entah berada dimana yang pasti gue yakin dan percaya kalau Allah itu memang ada.


Gue membenarkan perkataan Curut tentang gue yang sedang putus cinta. Sudah 10 hari gue di Jepang tapi namanya serta wajahnya masih terukir sangat jelas dihati dan pikiran gue. 10 hari gue di Jepang dengan menumpang segala pada Angga, tapi yang gue lihat dia sama sekali tidak keberatan dengan keberadaan gue yang selalu merepotkannya.


Angga: "Woi jangan ngelamun" katanya dengan menepuk bahu gue yang sedang berdiri di balkon mansion keluarga Angga.


Amira: "Siapa yang melamun, gue cuma lagi mikirin tempat destinasi mana lagi yang bakal gue kunjungi" sangkal gue padahal jelas jelas tadi gue melamun.


Angga: "Jangan banyak rancangan deh dompet gue jebol dipalak mulu sama lo"


Amira: "Ya elah Curut sama temen sendiri juga jangan perhitungan gitu ga baik" kata gue sedikit memberi nasehat.


Angga: "Ga perhitungan gimana? Lo minta ini itu mulu bangkrut lah gue. Tapi mending lah kalo mau kasih sun sun manja dikit di pipi" katanya dengan menyodorkan pipi kearah gue.


PLAAAK


Angga: "Aduh gue ko malah ditampol sih Nyet"


Amira: "Laaah tadi minta di sun manja ya itu udah"


Angga: "Dasar IBLIS, kejam!" katanya dengan mengelus elus pipinya.


Amira: "Udah ah gue mau tidur, bisa gila dekat dekat sama lo" gue berjalan meninggalkan dia yang masih berdiri.


Angga: "Ikuuuuuut" dia berlari pelan kerah gue.


Amira: "Sinih!" kata gue yang sudah menepuk nepuk sandal jepit yang berada di tangan gue.


Angga: "Hehe.. ga jadi ga jadi gue disini aja" dia langsung berjalan mundur setelah melihat sandal yang siap kapan saja menampol mukanya.


Gue merasa lelah hari ini, meski gue ini seorang pengangguran di negara orang dan lebih parahnya gue hidup numpang sama teman.


Gue berbaring di ranjang yang sudah menemani tidur gue selama gue menetap di Jepang.


"Semoga besok gue bisa melupakan Raka, mungkin sekarang dia sudah bahagia bersama Viviana jadi gue harus mulai terbiasa hidup sendiri agar nanti saat gue balik ke Jakarta rasa sakitnya tidak terlalu saat gue melihat Raka bersama wanita pilihannya" gue menutup mata gue perlahan dengan diiringi air yang terus mengalir dari mata gue.


"Kurcaci?" seseorang memanggil gue.


Gue buka mata gue dan menguceknya melihat kesuatu arah yang terdapat seseorang sedang berdiri diambang pintu.


"Raka"


"Iya ini aku" katanya mulai mendekat kearahku yang sedang duduk di kasur.


Gue kucek kucek kembali mataku merasa tidak percaya.

__ADS_1


Ini pasti mimpi, iya ini mimpi Mira batin gue masih tidak percaya.


Mumpung ini mimpi lebih baik gue memanfaatkannya batin gue menyeringai melihat Raka.


Amira: "Kemarilah sayang aku sangat merindukanmu" kata gue menarik tangan Raka agar jatuh diranjang disebelah gue.


Raka: "Kurcaci i. ini...


Amira: "Ssstttth.. diamlah aku sangat mengantuk"


Aku tertidur kembali dengan memeluk tubuh Raka yang baunya masih sama seperti biasanya.


"Miraaa.. bangun sayang udah pagi, kita belum sholat subuh" seseorang membangunkan tidur nyenyak gue yang sedang bermimpi mengenai Raka yang menjadi suami gue.


Dengan malasnya gue membuka kedua mata gue dan mendapati Raka yang seranjang dengan gue.


Jadi mimpi ini belum berakhir? Oh senangnya hati ini Tuhan. Kau begitu baik padaku batin gue.


Amira: "Kamu jahat Raka, aku masih ngantuuuuk" kata gue sengaja bermanja manja padanya dengan mendusel dusel pada dada bidangnya.


Mumpung masih dalam mimpi harus dimanfaatkan dengan baik.


Raka: "Iya tapi harus sholat subuh dulu, nanti bisa dilanjut tidurnya" katanya hendak bangun dari ranjang.


Dengan cepat gue mencekal tangannya agar tidur kembali, gue peluk dia erat erat agar tetap stay di ranjang sama gue.


Amira: "Rakaaaa.. jangan tinggalin aku" gue merengek bak bocah kecil mau ditinggal induknya. Sebenarnya gue ga suka bermanja manja gini tapi mumpung didalam mimpi ngga ngapa kan kali kali gitu.


Raka: "Aku ga akan tinggalin kamu sayang, tapi kita harus sholat dulu" katanya membelai rambut gue.


Amira: "Kamu jahat! aku kan ga bisa jalan gimana mau sholat"


Raka: "HAH?!! kamu ga bisa jalan kenapa?" dia melepaskan pelukan gue dan menatap gue dalam khawatirnya.


Raka: "Ah?! ngelakuin apa? aku ga ngelakuin apa apa ko" elaknya tanpa rasa dosa.


Amira: "Tuh kaaan.. mulai deh, mau diulangi lagi?" tanya gue mesam mesem mengingat kejadian malam dalam mimpiku.


Raka: "Ulangi? ulangi ap..


Belum sempat Raka selesai berbicara gue langsung menyumpal mulutnya dengan bibir gue.


Amira: "Ini niiih yang semalam bikin aku kewalahan sampai aku ga bisa jalan" kata gue dengan memegangi adek kecilnya yang masih terbungkus oleh celana dan sedikit meremasnya karna merasa gemas.


Raka: "Ah.. a. a.Amira jangan" Raka menyingkirkan tangan gue yang sedang memegangi adek kecilnya.


Amira: "Kenapa? adek kecilnya kamu kan juga punya aku, masa cuma punya aku yang jadi milik kamu. Ga adil" kata gue dan gue bangun berusaha menindihi badan kekarnya.


Amira: "Ayo ulangi yang semalam aku mau ko, tapi gantian yah aku yang diatas. Dibawah cape kamu berat" kata gue hendak mencium bibirnya.


Mayan daah ga apa dalam mimpi juga yang penting bisa ngerasain dikit batin gue cekikikan sendiri.


"Woi mesum! lagi ngapain lo?" suara seseorang yang gue kenal memberhentikan gue yang sedang menciumi suami dalam mimpi gue.


Amira: "Aduuh kenapa sih dalam mimpi juga harus ada dia kenapa ga gue sama Raka aja" kata gue ngedumel sendiri.


Gue berusaha tetap melanjutkan kegiatan gue pada suami gue yang sedang berbaring dibawah gue dengan mata terbelalak dan ekspresi yang sangat bingung.


Amira: "Relaks sayang... jangan hiraukan siluman burung perkutut" kata gue membelai bibir Raka.


Ya ampuuuuun.. mimpinya kerasa nyata banget ih suka deh gue.

__ADS_1


Angga: "Bener bener ini bocah ya!" Curut menarik tangan gue paksa membuat gue bangun dari tubuh suami gue dan berdiri di hadapannya.


Angga: "Lo mau...


Amira: "Sssstttth, please Curut jangan ganggu gue sama suami gue. Cukup didunia nyata aja lo berkeliaran di hidup gue jangan dimimpi gue" kata gue dan hendak menidurkan kembali suami gue yang sedang duduk memperhatikan pertikaian gue dengan Angga.


Angga: "Wah ini bocah mesti disiram kayanya, Bangun woi BANGUN!!!" dia berteriak dengan bertepuk tangan disebelah telinga gue berusaha membangunkan gue.


Amira: "Ngga please deh Ngga, jangan ganggu gue kali iniiiiii aja. Gue mau fokus bikin debay sama suami gue meski dalam mimpi. kan lo bisa cepet cepet jadi om. Ok?" kata gue menunjukan isyarat ok dengan tangan kiri gue dengan gue yang sekarang sedang duduk di pangkuan Raka menghadap kearahnya.


Dari perkataan gue barusan bisa gue lihat wajah Angga yang terkejut apa lagi wajah suami dalam mimpi gue yang makin membelalakan kedua bola matanya seolah tak percaya.


Amira: "adu..du. duuuh, sakit Curut ngapain kuping gue dijewer" gue pegangi telinga gue yang masih dijewer olehnya.


Angga: "Sakit kan?! Kalo sakit berarti mimpi atau bukan?" pertanyaan angga seketika membuat gue menoleh pada Raka yang sedang gue duduki pahanya.


Sontak aku bangun dari pangkuannya dan berdiri tepat dihadapan Angga.


Amira: "Jadi ini bukan mimpi?" tanya gue polos pada Curut.


Angga: "Menurut lo?"


PLAKKK


Angga: "IBLIS! Sakit bego" keluh Curut karna baru saja mendapatkan menampar dari gue untuk membuktikan ini benar mimpi atau bukan.


Amira: "Sakit yah? jadi beneran ini bukan mimpi? terus yang semalam..


Gue yakin semalam gue mimpi ena ena sama Raka, tapi kenapa sekarang bukan mimpi lagi?


Aduh pusing deh kepala gue.


Raka: "Semalam apa kurcaci? kamu mimpiin aku tentang apa?" seketika badan gue membatu mengingat hal apa saja yang tadi gue lakukan kepada Raka. Gue mencari celah untuk kabur karna merasa malu.


Amira: "Eeeee... gu. gue mau ke kamar mandi, ya kamar mandi mau ambil air wudhu mau sholat subuh" gue langsung ngimprit lari bagai dikejar anjing karna merasa malu.


Didalam kamar mandi gue merutuki kebodohan gue sendiri yang sudah main grepe grepe ke tubuh Raka.


"Oh astaga! apa yang tadi gue lakukan ke Raka? Gue tadi mencium bibirnya bahkan gue megang itunya. Ya ampuuun malunya gueee"


Prov Raka Wijaya


~Flashback on~


"Udah buruan ketempat gue, gue punya obat buat kegilaan lo terhadap wanita IBLIS itu" kata pria yang dua minggu kemarin mati matian mencercaku dengan kalimat kalimat pedasnya.


Raka: "Kalo lo mau gue ga kelimpungan kaya orang gila mencari Amira kesana kesini mending lo kasih tau keberadaan Amira sekarang, cuma itu obat gue" jelas gue berharap kali ini gue mendapat informasi tentang keberadaan Amira yang sudah dua minggu lebih menghilang tidak ada kabar.


Mamih dan papih selalu menanyakan keberadaan Amira, tapi gue diam ga tau harus bilang apa. Mamih terus terusan kekeh ingin menjadikan Mira sebagai menantunya bahkan sampai sekarang Mamih masih membahas tentang resepsi.


Angga: "Ko Amira mulu sih, Lo ga mau nyoba rasa baru? Gue punya temen cewe yang bakal bikin lo lupa sama Amira saat lo pertama bertemu dengannya" katanya mencoba memeberikan penawaran terhadap gue.


Raka: "Gue ga butuh cewe lain, gue cuma butuh Amira Dwi Saraswati titik. Kalo lo hubungin gue cuma mau bahas cewe lain sorry Ngga gue ga minat"


Angga: "Udah cepet pesen tiket ke Jepang kalo lo ga ke Jepang juga, gue ga akan pernah kasih info tentang keberadaan Amira sekarang ke lo"


~ Flashback of~


Raka: "Thanks ya Ngga, obat lo bener bener manjur"


Angga: "Ga cuma manjur, menang banyak kan lo. Beda sama gue, gue malah di tampar kenceng banget lagi gue rasa Amira punya tenaga dalam kayanya"

__ADS_1


Sungguh kejutan yang tak terduga aku bisa bertemu kembali dengan wanitaku, bahkan dengan diawali tidur seranjang dengannya.


Semoga ini awal yang bagus untuk hubungan kita selanjutnya.


__ADS_2