
Dan benar saja, setelah kepulangan dari butik gue langsung dicekoki dengan obat penafsu makan. Gue dipaksa menaikan berat badan gue kembali dalam waktu kurang dua hari untuk menyamakan bobot gue dulu sebelum pergi ke Jepang.
Bahkan si Curut Angga yang ga tau apa apa harus kena semprot sama mamah dan mamihnya Raka karna dikira tidak memberikan makanan yang layak untuk gue sewaktu disana.
Gue stres bukan main karna benar benar tertekan yang mewajibkan gue makan sehari empat sampai lima kali dalam jumlah porsi bagaikan kuli.
Berbagai cara telah gue lakukan untuk keluar dari rumah, gue serasa menjadi tahanan di lapak Nusakambangan yang dikelilingi laut.
Seperti saat ini, lagi lagi gue ketahuan akan percobaan kabur gue.
"Kamu lagi apa Amira? Gegantungan kata tarzan"
Gue yang sedang mencoba kabur lewat jendela kamar dan menggunakan tali seperti di Tv Tv yang biasa ditonton emak gue ternyata tetap tidak bisa lolos dari cengkraman siluman KOBRA.
Amira: "Eh...mamah" kata gue cengengesan karna karna ketahuan dengan posisi masih menggantung berpegangan pada tali.
Mamah: "TURUN!" titah sang ratu mulai keluar.
Amira: "Ga mah ga! Mira naik lagi aja" bantahku dan berusaha menaiki kembali tali yang sedang aku genggam.
Mamah: "Turun Amira!" gue tidak bergeming dan terus berusaha naik meski sulit.
Wah kayanya program menaikan berat badan berhasil buktinya gue berasa gembrotan dikit susah banget naiknya batin gue terus berusaha.
Kenapa gue ingin melarikan diri?
Karna hari ini bertepatan dengan acara siraman yaitu ritual sebelum akad yang akan berlangsung besok. Gue yang terlahir dari keluarga Jawa tulen masih memegang teguh setiap adat yang ada. Sebenarnya gue ga ada masalah mengikuti adat hanya saja melihat setiap urutan daftar kegiatan hari ini membuat gue meyakini pasti akan sangat melelahkan belum lagi nanti terdapat acara sungkeman udah pasti mewek ini.
Gue yang saat ini sudah siap dengan kain tradisional yang melilit tubuhku dengan rambut yang dihiasi bunga melati dikawal eksklusif oleh adik dan abang gue supaya tidak kabur lagi.
Acara berlangsung dengan dihadiri cukup banyak pasang mata manusia, mulai dari keluarga, kerabat jauh, beberapa tetangga dan keluarga dari istri mas Ahkam.
Amira: "Mbak.. mbak.. mbak Kanya" gue berusaha memanggil kakak ipar gue dengan berbisik.
Kanya: "Kenapa Ra? kamu butuh sesuatu?" tanyanya yang sudah menghampiri gue.
Amira: "Iya mbak, tolong gantikan posisi Mira yah hari ini. Mira ngantuk pengin tidur" gue berusaha merengek pada ipar gue yang memiliki hati selembut kapas.
PLAKKK
__ADS_1
Amira: "Woi tolol! Sakit, siapa yang berani nampol kepala gue" gue terpekik saat kepala gue ditampol dibagian belakang.
Mamah: "Kamu yang tolol! mamah yang nampol kenapa?!"
Amira: "Eh ada kanjeng ratu nyi Loro Wetan" jawab gue cengengesan seperti biasa.
PLETAK
Amira: "Sakit BEGO!" gue elus jidat gu yang baru mendapat sentilan maut dari adik terlaknat gue.
Arjuna: "Lo yang bego! mana ada nyi Loro Wetan, adanya nyi Loro Kidul"
Amira: "Ya tuuuuuuh" jawab gue memonyongkan bibir kearah emak gue.
Papah: "Ya ampun kalian bisa tenang tidak sih, sehari ini dan besok saja jangan membuat papah pusing dengan pertikaian kalian berdua"
Arjuna: "Tidak bisa pah, kan setelah hari besok si Ami Randa alias piton betina udah di angkut sama kak Raka. Jadi kapan lagi Juna bisa nyiksa jelmaan piton betina ini"
Di angkut lo kira gue sampah?
Gue tidak menjawab lagi karna acara sudah dimulai dari Pasang Blaketepe lalu Pasang Padi yang sudah memiliki makna tersendiri yang memang didasari dari leluhur terdahulu.
Kemudian pengiriman air Perwito Adi ke calon pengantin pria yaitu Raka yang gue yakini dia juga sekarang lagi mau dimandiin juga sama kaya gue.
Dan datanglah acara yang gue benci yaitu Pengabekten atau lebih dikenal Sungkeman.
Gue lihat mamah papah yang tengah duduk bersebelahan sedang menantikan anak tercantiknya untuk datang menghampirinya.
Di bantu dengan panduan sang pembawa acara gue duduk berlutut dihadapan papah gue meletakan kedua tangan gue dilututnya dan menundukan kepala secara spontan.
Gue masih diam belum mengucapkan satu kata pun padanya, gue masih bingung dan ambigu apa yang harus gue ucapkan terlebih dulu antara berterima kasih atau meminta maaf terlebih dulu.
Hingga gue merasakan sentuhan lembut pada puncak kepala gue, dan langsung saja air mata tanpa permisi mengalir dengan lancarnya.
Papah: "Amira putri papah.... kamu harus tetap menjadi wanita sholehah bagi suamimu nanti. Selama ini kamu berhasil membuat papah bangga karna memilikimu dan selanjutnya papah juga berharap kamu bisa membuat Raka bangga karna memiliki istri seperimu"
Tangis gue semakin pecah seakan belum siap jauh dari papah yang selalu mendukung dan selalu berusaha ada untuk gue.
Papah: "Seorang istri itu bagaikan sebuah pakaian sang suami, kelakuan dan martabatmu nantinya akan menjadi pemicu orang berpandangan tentang suamimu"
__ADS_1
Amira: "Hiks.. Mira ga mau hiks.. hiks.. nikah pah.. hiks.. Mira maunya hiks.. hiks.. sama papah aja"
Sempat tidak ada jawaban sampai akhirnya papah kembali berucap
Papah: "Nak.. setiap anak perempuan pasti akan meninggalkan rumahnya dan mengikuti arahan suaminya, seberat apapun yang kamu rasakan masih berat kita sebagai orang tua melepasmu" bisa gue dengan suara papah yang berubah serak karna tangisan.
Langsung gue peluk papah gue dengan erat seakan tidak boleh pergi jauh.
Amira: "Pah.. hiks.. hiks.. boleh hiks.. Mira memilih jadi hiks.. hiks.. anak papah saja hiks.. Tidak usah hiks.. hiks. menikaaaah, Mira ga hiks.. mau pah. Mira ga mauuuu" karna tangis gue yang semakin menjadi jadi seperti anak burung ditinggal di sarang yang penuh tangis pilu, papah menatap wajah gue dan berusaha terus menyakinkan gue tentang pernikahan yang akan berlangsung besok.
Papah: "Sayaaang... dengar kan perkataan papah baik baik yah, tugas seorang ayah kepada putrinya adalah selalu melindunginya dan menjaganya sebaik baiknya tanpa ada kekurangan sampai akhirnya tiba seorang ayah harus mengantarkan putrinya pada seorang pria yang dapat dipercaya meneruskan tanggung jawabnya untuk menjaga dan melindungi putrinya"
Papah: "Dan papah yakin setelah melihat Raka, bahwa dia bisa bahkan mampu menjaga dan melindungimu. Selain itu Raka mampu memberikanmu kebahagian yang lain yang papah tidak bisa berikan"
Gue menatap matanya dalam kesedihan yang masih melingkup dalam diri gue. Tatapan matanya terus berusaha meyakinkan gue, dan kecupannya pada keningku menjadi penenang hati gue yang sedang kacau balau.
Setelah selesai dengan papah gue memposisikan diri sama seperti tadi kepada emak gue.
Gue duduk tertunduk dihadapannya, meski kita sering mengibarkan bendera perang tapi di momen seperti ini tidak mungkin juga kan. Saat gue mulai menjatuhkan butiran air mata kembali mengingat perkataan papah dulu bahwa hampir saja emak meninggal setelah melahirkan gue karna mengalami pendarahan hebat tanpa henti bahkan mamah hampir kehilangan kesadarannya. Hati terdalam gue tersentuh ingin rasanya mengelurkan semua permintaan maaf karna sifat kenakalan gue yang sering membuatnya pusing.
Sebenarnya sikap pembangkang gue selama ini terhadapnya hanya berupa ingin diperhatikan olehnya, ingin mendapat teguran, omelan serta perhatian lebih darinya.
Saat gue baru saja hendak berucap segala bentuk kesalahan gue padanya dalam hal meminta maaf, perkataannya berhasil melumpuhkan otak gue.
Mamah: "Jangan lama lama Amira, mamah kebelet ini"
Bayangkan saja, kondisi yang tadinya penuh haru tangis yang pecah hancur berantakan berkeping keping karna kalimat yang keluar dari mulut emak gue. Gue baru sadar sekarang, ternyata sifat gue dan Juna diwarisi dari mamah yang memiliki kadar humoris tinggi.
Gue yang masih mati kebo atas perkataan emak gue yang gue yakini didunia ini yang berbicara seperti itu sewaktu sungkeman hanya emak gue seorang.
Acara dilanjutkan dengan Siraman yang dilakukan oleh 9 orang, yang katanya dilandasi dari jumlah wali jawa yaitu Wali Songo. Mulai dari siram pertama yang dilakukan oleh papah dilanjut oleh mamah dan 7 sisanya dilakukan oleh saudara perempuan mamah dan papah.
Kemudian papah menuangkan air kendil untuk gue mengambil wudhu, kemudian mamah membanting kendil itu ke lantai sesudah menyiramkan sedikit air ke tubuh gue.
Niat ingsun ora mecah kendi, nangin mecah pamore anakku
Itulah lafal yang diucapkan emak sesaat setelah memecahkan kendi itu. Dilanjut dengan Potong Rikmo atau potong rambut yang nantinya potongan rambut gue dan potongan rambut Raka akan dijadikan satu.
Acara terus berlangsung sampai Pelepasan ayam yang menandakan bahwa kedua orang tua telah ikhlas melepas sang putri untuk dipinang oleh seorang pria.
__ADS_1
Apa gue benar benar akan menikah dengan Raka?
Meski Raka telah terima dengan kekurangan gue tapi apa gue bisa menjadi istri yang pantas untuknya?