
Amira: "Udah dong jangan ngambek lagi, tadi kan aku tidak sengaja melakukannya" kata gue terus berusaha membujuk Raka agar tidak marah lagi permasalahan gue yang mengecup bibirnya dihadapan semua orang.
Raka: "Udah lupakan saja toh semua orang sudah melihatnya" jawabnya cuek masih jalan menuju kamarnya karna setelah acara resepsi selesai gue langsung diusung oleh Raka dibawa pulang kerumahnya.
Amira: "Ko aku dijutekin gitu, kalo gitu mending aku pulang kerumah aku sendiri aja lah" dari perkataan gue barusan berhasil membuat Raka berhenti melangkah dan berbalik badan melihat kearah gue.
Raka: "Yang namanya istri sholehah akan mengikuti kemana langkah kaki suaminya pergi bukan mengambil keputusannya sendiri"
Setelah mengatakan perkataan itu Raka langsung memasuki kamarnya meninggalkan gue sendiri yang masih berdiri di ujung tangga.
Ya ampun baru menikah belum genap sehari sudah diberi cobaan ribut kaya gini, gimana nanti hari hari berikutnya.
Gue pun putuskan untuk mengikutinya memasuki kamar yang dulu sering gue kunjungi sewaktu Raka depresi perihal hubungannya dengan Viviana.
Tidak banyak yang berubah dari isi kamar ini, hanya ranjang dan lemari pakaian yang sekarang berukuran lebih besar lalu terdapat meja rias yang menggantikan meja belajarnya Raka dulu.
Gue yang meyakini Raka sedang berada didalam kamar mandi berusaha lebih mengenal lebih lagi lingkungan baru gue.
Amira: "Lo cinta banget sama gue ya Bangke" gumam gue memperhatikan berbagai figura foto terutama figura terbesar yang terpampang foto foto yang digabungkan menjadi satu dalam satu figura.
Foto yang berisi semua ekspresi gue, mulai dari gue yang cemberut, senyum terpaksa, senyum bahagia, menahan tawa, ketawa terpingkal pingkal sampai gue yang sedang menangis. Gue ingat jelas alasan mengapa gue menangis dalam foto ini yaitu karna gue jatuh tersandung dan menimpa tubuh Raka. Bukan sakit yang gue rasakan tapi malu karna gue jatuh menimpa adek juniornya yang membuat dia meringis kesakitan dan selalu menggoda gue.
Amira: "Raka didalam tidak sedang bertapa kaaan? apa dia tertidur didalam yah?" kata gue terus memperhatikan pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka atau menandakan tanda tanda kehidupan didalamnya.
Amira: "Raka? Raka... Kamu didalam lagi apa ko lama sih, aku sudah tidak tahan" pekik gue berusaha memanggil Raka didalam kamar mandi.
Weit.. weit.. sudah tidak tahan?
Ko kesannya jadi gue yang tidak sabaran ini.
Pintu itu lalu terbuka menampakkan Raka yang sudah menggunakan kaos dan celana pendeknya.
Yaaah ko sudah pakai baju, biasanya kan kalo di novel novel tetangga pihak cowo cuma pakai handuk lah ini... dasar author gue pelit.
Raka: "Mandi" katanya singkat lalu melewati gue begitu saja.
Ini gue ada salah apa sih sama suami gue, kenapa Raka jadi dingin begini batin gue memperhatikan Raka yang berjalan menuju ranjang.
__ADS_1
Amira: "Raka? boleh minta tolong" sebenarnya ada sedikit keraguan meminta tolong padanya, tapi apa daya masa iya minta tolong sama papih Adi.
Dia hanya menoleh pada gue dan menatap bingung.
Amira: "Eee... Anu ituu,, aku. Aku..
Raka: "Aku apaaaaa?"
Aduh gimana mau bilang yah, nanti dikira cari kesempatan lagi.
Amira: "Aku bukannya mau modus ya, hanya saja sepertinya Cik Nori sengaja membuat gaun ini sulit dibuka. Tanganku tidak sampai, bisakah kamu menolongku membuka gaun ini?" kata gue malu malu meong.
Sesaat dia hanya memperhatikan gue yang masih berdiri didepan kamar mandi, kemudian dia mulai bangkit dari duduknya dan berjalan kearah gue.
Prov Raka Wijaya
Para tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ballroom hotel yang sudah aku siapkan jauh jauh hari.
Ditemani istri baruku yang kecantikannya benar benar meluap dihari pernikahan kita.
"Hai Ka" sapa seseorang dari belangku.
Raka: "Oh hai Ngga, lo kapan datang? sendirian?" kataku menyapa temanku si Curut.
Angga: "Iya... soalnya wanita yang gue taksir digondol pria lain" jawabnya dengan senyuman yang nampak aneh dimataku.
Raka: "Sabar ya bro, mungkin bukan jodoh lo" kataku berusaha menasihatinya.
Angga dari dulu tidak pernah sekalipun menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Setelah mendengar wanita yang ditaksirnya memilih pria lain jelas aku sebagai sahabatnya ikut merasakan kesedihannya.
Angga: "Kalo aja gue memanfaatkan keadaan waktu itu, bahkan memperkeruhnya mungkin sekarang dia sudah menjadi milikku"
Angga: "Tapi bodohnya sifat menjadi sahabat gue lebih kental dibanding sebagai pengrebut wanita milik sahabat sendiri" terangnya lagi.
Angga: "Lo tau Ka? hampir dalam hidup gue cuma gue rasakan kebahagian yang luar biasa dalam waktu 2 minggu bersamanya"
Angga: "Dia yang tiba tiba datang menghampiri gue yang sudah merindukannya lama menjadi obat penenang tersendiri buat gue. Saat itu gue benar benar bersyukur karna dia ribut dengan tunangannya"
__ADS_1
Angga: "Dia datang dengan membawa begitu banyak kepedihan dan keberadaan gue kala itu adalah menjadi penawarnya agar senyumnya kembali lagi. Tapi sangat disayangkan lagi lagi dia hanya bisa bergantung pada tunangannya yang sudah mencium mantan istrinya di hadapannya" kata itu berhasil membuatku yang sedari tadi hanya menjadi pendengar berasa menjadi tersangka.
Tunggu, apa yang di maksud Angga...
Angga: "Mira! Amira Dwi Saraswati dialah wanita yang gue taksir hampir 7 tahun sebelum lo kenal dia"
Angga: "Lo tau, gue siap menerjang apapun hanya demi membuatnya tersenyum dan tertawa"
Raka: "Sadar! dia istri gue sekarang" kalimat itu menjadi pembuka setelah sekian lama diam.
Angga: "Sekarang tapi belum tentu besok, lusa atau tahun depan" jawabnya dengan pandangan merendah kearah gue.
Raka: "Lo tau sekarang lagi di acara apa Angga Cipto Koesumo! acara resepsi pernikahan gue sama Mira"
Raka: "Gue kira lo sohib yang baik buat gue dan Amira, tapi nyatanya...
Angga: "Nyatanya gue memang sohib yang baik buat Lo kan... karna dengan berbaik hati melepaskan wanita yang gue taksir sejak lama"
Angga: "Lo kira selama Mira kabur di Jepang siapa yang menutupi keberadaannya selain kekuasaan gue, tapi sayangnya gue memang bodoh malah memberitahu lo tentang keberadaannya"
Raka: "Lo jangan macam macam ya Ngga, Mira sekarang...
Angga: "Apa? istri lo? kenyataanya memang dia sekarang istri lo tapi jangan salahkan gue jika sewaktu waktu gue siap mengambilnya apabila lo membuatnya sedih atau tidak membuatnya bahagia, gue tidak akan berbaik hati lagi memberikannya untuk lo"
Angga: "Untuk saat ini gue percaya lo bisa membahagiakannya, dan gue sarankan lo jangan sampai membuat sebuah peluang buat gue untuk mengambil Mira dari sisi lo. Karna jika kesempatan itu tiba lo menyesal seperti apapun tidak akan ada gunanya disaat Mira sudah berada di genggaman gue"
Kalimat terakhir yang diucapkan Angga terus bergeming layaknya seperti lafal doa yang harus aku ingat setiap saat.
Setelah sekian lama aku menjalain hubungan persahabatan dengan Angga sebelum mengenal Mira, tidak disangka Angga sudah mengenal dan menaruh hati padanya.
Awalnya aku salut akan hubungan persahabatan mereka yang begitu mendominan. Saling lempar perhatian satu sama lain dan saling mempercayai itulah mengapa Angga menjadi orang terdekat dengan Mira.
Tapi siapa yang menyangka ternyata salah satu dari mereka menyimpan perasaan yang berbeda.
Perasaan yang sepertinya belum tersampaikan yang hanya disimpan rapat rapat oleh Angga selama ini.
Karna jelas aku tahu jika Mira mengetahui Angga menyukainya, Mira pasti akan menjaga jarak darinya bahkan mungkin menjauhinya.
__ADS_1