Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Flashback Amira 5


__ADS_3

Amira: "Udah buruan bukain, cepet! gue mulai geregetan sama satpam satu ini.


Tukiman: "Ga akan!" jawabnya.


Waaah nantang ini orang, gue pun mengambil handphone yang berada di saku rok abu abu gue.


Tukiman: "Eh eh sekolah ga boleh bawa handphone, ga tau peraturan yah kamu"


Amira: "Gue ga bawa handphone kok" jawab gue padahal jelas jelas itu handphone ada ditangan kiri gue.


Tukiman: "Lah itu apa dianganmu Sarkoni?!"


Amira: "Gue ga bawa pak, handphonenya aja yang ngintilin gue mulu" kata gue dengan menunjuk handphone ditangan gue yang ga tau apa apa.


Tukiman: "Emangnya handphone kamu suka ngintilin? ko bisa? punya saya ko ga?" dia mulai terheran heran.


Aha!!! muncullah lampu taman di atas kepala gue


Amira: "Bukan cuma punya gue ko, emang punya situ ga suka ngintilin apa?"


Pak Tukiman menggeleng cepat dengan rasa yang masih terheran heran dengan gue yang masih berada di luar pagar.


Amira: "Wah handphone lo kaga betah kali sama lo pak"


Tukiman: "Emang handphone bisa ngerasain yah?"


KOVLOK!!! ini pak Tukiman otaknya nemu dimana sih batin gue.


Tukiman: "Tapi bentar deh! ko saya kaya udah pernah ngalamin adegan ini yah"


Amira: "Hah?!"


Gawat!


Amira: "Udah pak bukain ini dulu nanti gue kasih tau deh biar handphonenya ngintilin pak Tukiman mulu" gue mulai membujuknya yang nampak sedang berfikir sebelum dia tersadar.


Tukiman: "Ooooh saya baru inget! handphonenya di taruh saku mulu kan biar tu handphone ngintilin kita mulu. Trik kamu udah ga mempan Sarkoni, aku ga bakal bisa kamu kibulin lagi" gagal daah rencana gue.


Amira: "Udah deh pak bukain, capek ini" rengek gue.

__ADS_1


Tukiman: "Ga ada buka bukaan. Kalo mau panjat tuh pagar" perintahnya.


Amira: "Tapi kan Mira pake rok pak" nada gue dihalus haluskan.


Tukiman: "Sobek!!!" dia hendak melangkah pergi.


Amira: "Gue boleh pinjem gunting kecil yang tergantung di leher itu ga?" gue menunjuk gunting yang berada di leher pak Tukiman.


Gue pun merobek rok abu abu gue hingga pertengahan paha disisi kanan dan kiri. Setelah itu gue panjat itu pagar yang tingginya kira kira 4-5 meter.


"E...e..e..e..e..eh itu apa apaan panjat panjat pagar!" suara pak Cahyo dari dalam ruangan yang nampak dari kaca jendela.


Ruang lingkup kelas depan yang tadinya tenang sontak semua melihat kearah luar jendela dan menjadikan gue yang sudah di pucuk atas pagar dengan rok yang sobek menjadi tontonan.


Akhirnya pak Cahyo pun mendekat kearah gue yang diatas pagar dan pak Tukiman yang baru menyadari gue benar benar panjat pagar.


Cahyo: "Kenapa panjat panjat pagar?!!" bentak pak Cahyo pada gue yang masih diatas pagar.


Cahyo: "Ayo cepat turun turun!" perintahnya kembali.


Gue pun turun menuruni setiap inci besi pagar itu.


Amira: "Nama saya Amira pak, saya disuruh pak Tukiman panjat pagar" kata gue tanpa dosa.


Tukiman: "Haaaaah?!" reflek pak Tukiman melongo.


Cahyo: "Benar itu Tukiman?!" bentak pak Cahyo pada pak Tukiman.


Tukiman: "Tidak pak tidak! anak ini terlambat maka dari itu saya tidak bukain gerbang" jelasnya.


Cahyo: "Lalu apa apaan ini Amira?!! kenapa rok mu disobek begini, apa kamu lupa peraturan disini?"


Amira: "Saya disuruh pak Tukiman pak" jawab gue santai serasa dipantai.


Tukiman: "Weeeeeh" pak Tukiman makin melongo kaya sapi bego sambil menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya.


Tukiman: "Ngarang dia pak ngarang" bantahnya.


Amira: "Saya ada buktinya ko pak, saya ga ngarang seperti yang pak Tukiman tuduh"

__ADS_1


rekaman suara


*"**Ga ada buka bukaan. Kalo mau panjat tuh pagar"


"Tapi kan Mira pake rok pak"


"Sobek!!!"*


Tukiman: "Bukan pak! saya ga bermaksud bilang begitu, dia sendiri yang berinisiatif merobek roknya" elaknya.


Amira: "Kalo saya yang berinisiatif kenapa gunting kecil ini ada pada saya? Lihatlah bukankah ini gunting bapak?" gue menunjukan gunting yang bakal jadi malapetaka bagi pak Tukiman, lagian berani cari gara gara sama Mira.


Cahyo: "Lah iya Tukiman, lihat ini name tag milikmu"


Tukiman: "Tadi dia pinjam pak"


Gue makin kasian deh sama ini satpam, udah pernah dapet teguran, surat peringatan bahkan gaji yang dipotong cuma gara gara selalu bukain gerbang buat gue. Tapi apalah daya pak saya memang begini adanya.


Cahyo: "Iya kamu pinjamkan karna untuk merobek roknya kan! Apa masih kurang saya memotong gajimu Tukiman? Apa perlu saya pecat kamu?!" kemarahan pak Cahyo meluap menjadi tontonan anak anak kelas 12.


Gue lihat ekspresi pak Tukiman yang sudah pasrah, kasian juga liatnya akhirnya gue putuskan untuk membantunya.


Amira: "Jangan pak, kasihan pak Tukiman. Nanti gimana nasib anak istrinya? mencari pekerjaan sebagai satpam susah pak. Lagian ini salah saya juga yang terlambat" pinta gue pada pak Cahyo.


Cahyo: "Baiklah saya beri kamu kesempatan sekali lagi, jika kamu masih seperti ini maka saya tidak ada pilihan lain pak Tukiman"


Tukiman: "Baik pak, terima kasih atas toleransinya"


Padahal mah padahal gue yang baik ini jelas ada niat terselubung, ya pastinya biar makin gampang keluar masuk gerbang. Lah coba kalo diganti satpam lebih lebih kalo otaknya ga sebodoh satpam didepan gue ini.


Cahyo: "Amira kamu masuk ke ruang saya, kamu akan dapat bimbingan secara langsung dari saya dan guru kesiswaan" katanya kemudian berlalu meninggalkan gue dan pak Tukiman.


Amira: "Baik pak saya akan segera kesana" jawab gue.


Sebelum membuntuti pak Cahyo, gue beri pak Tukiman salam dua jari dengan menjulurkan lidah.


Tukiman: "Dasar Sarkoni! buru buru lulus deh kamu tersiksa saya kalau masih ada kamu"


Amira: "Masih ada setahun lagi pak... SEMANGAT!!!" kata gue dengan mengepalkan tangan kanan seolah memberi semangat pada pak Tukiman yang harus sabar menghadapi gue satu tahun lagi.

__ADS_1


__ADS_2