
Dan benar saja dengan apa yang dikatakan Raka kemarin, gue yang sedang tidur atau lebih tepatnya pura pura tidur karna semalaman gue ga bisa tidur perihal Raka yang membahas pernikahan kita yang tinggal lima hari lagi, tapi sekarang sudah tinggal empat hari lagi sedang digoyang goyang badannya agar cepat bangun.
"Nyet bangun" kata Angga berusaha trus membangunkan gue.
"Woi udah pagi ini jam 7, penerbangan lo jam 10:15" dia terus berusaha dengan menggoyang goyangkan lengan gue.
"Kalo ga bangun juga gue cipok luh" katanya mengancam gue.
"Silahkan aja kalo lo udah siap dimutilasi sama cowo yang bakal jadi laki gue dalam waktu 4 hari kedepan" sahut gue masih memejamkan mata.
"Lah iyaa yak.. eh lo udah bangun?" dia mulai tersadar gue lagi kibulin dia.
"Udah buruan bangun Nyet" dia menarik tangan gue tapi gue tidak bergeming.
"BANGUN MONYEEEET" pekiknya di telinga gue tapi tetap tidak ditanggapi sama gue.
"Ngga biar gue aja" suara Raka yang tiba tiba muncul menghiasi gendang telinga gue yang tadi error sedikit karna pekikkan Curut.
Tidak ada kalimat lagi yang keluar dari mulut kedua pria yang sedang berusaha membangunkan gue. Gue intip dengan sedikit membuka mata sebelah kiri gue dan..
Amira: "E..e..Eeeh Raka mau apa kamu, turunin ga!" kata gue yang sedang digendong oleh Raka.
Raka: "Ga!" jawabnya super singkat padat jelas.
Amira: "Turunin!" kata gue meronta ronta dalam gendongannya.
Raka: "Diem Kircaci! Kalo jatuh gimana?!" bentaknya karna sekarang kita sedang menuruni anak tangga mansion keluarga Angga.
Amira: "Yaaa... kalo jatuh kita ga jadi nikah" jawab gue iseng.
Dan karna jawaban gue pula Raka langsung memberhentikan langkahnya saat sudah dianak tangga terakhir dan menatap gue penuh dengan amrah.
Raka: "Ya kalo cuma ga jadi nikah, kalo mati gimana?! kamu bener bener ga pengin nikah sama aku yah?" Raka melangkah kakinya lagi.
Amira: "Paling ga biarin aku ganti baju, masa aku ke bandara masih pake piyama gini malu dong" oceh gue saat diturunkan oleh Raka dan hendak masuk kesalah satu mobil Curut.
Raka: "Ga! udah buruan masuk" tolaknya dengan nada datar.
Amira: "Please yaaah ga lama ko" rengek gue agar Raka mau menuruti permintaan gue.
__ADS_1
Raka: "Kalo aku bilang ga ya GA! kamu sedang mengulur waktu kan agar kita terlambat penerbangan, mending kamu duduk anteng masalah baju nanti ganti di WC bandara" katanya dan duduk disebelah gue di kursi penumpang sedangkan Curut duduk didepan berdampingan dengan supirnya.
Amira: "Tapiii..
Raka: "Kurcaci CUKUP!!!" gue langsung diam seribu bahasa mendengar bentakan Raka didepan Angga dan supirnya, gue melihat raut wajah Raka merah padam.
Mobil yang kita kendarai terus melaju melewati mobil lain yang sejalur dengan kecepatan yang bisa dibilang diatas rata rata.
Gue merogoh celana gue, dan tidak mendapati ponsel gue.
Amira: "Raka! Raka! ponsel aku ga ada, ayo balik kayanya ketinggalan dikamar deh" kata gue panik.
Amira: "Sātānbakkusā, watashi no geitaidenwa wa ushironi" kata gue pada supir Angga.
Raka: "Chõshi o totonoete" kata Raka menginstruksikan supir itu untuk terus jalan.
Amira: "Raka!" sentak gue.
Raka: "Aku bisa membelikanmu yang baru, terserah mau mu seperti apa Kurcaci. Tapi kali ini tolong menurut dan tenanglah jangan banyak bertingkah"
Sesampainya di Bandar Internasional Tokyo, gue Raka dan Angga menuruni mobil. Dengan tidak pedenya gue memakai piyama dengan sandal jepit sellow kesukaan gue.
Raka berusaha menuruni koper dari bagasi mobil yang dibantu pak Supir.
"Ga kaya gue yang sudah terlanjur bejad rusak begini, gue bahkan ga yakin akan ada yang mau menerima kekurangan gue dengan tulus bukan karna embel embel harta yang gue miliki sekarang" lanjutnya.
"Raka benar benar tulus mencintai lo, bahkan dia sangat frustasi saat saat lo ga berada di sisinya"
"Gue berharap lo juga mau menerima dia dengan apa yang berada pada dirinya, gue yakin ko Raka pasti memiliki sisi buruknya juga jadi gue berharap lo juga mau menerima dia dengan tulus seperti dia menerima lo dengan tulus" katanya panjang lebar.
Amira: "Tapi gue masih Ragu Ngga, gue takut nantinya Raka bakal menyesal nikah sama gue" tutur gue setelah sekian lama bungkam.
Angga: "Berarti tugas lo adalah membuat dia tidak menyesal karna menikahi lo" sahutnya.
Raka: "Ayo Ra kita harus buru buru chack in"
Setelah mengantar kami sampai pengecekan koper dia pun bergegas pamit meninggalkan kami berdua. Segala ucapan terima kasih selalu dilontarkan Raka padanya, sedangkan gue? Gue hanya tersenyum padanya seakan kami ini sudah memiliki telepati sendiri yang tidak bisa diketahui orang lain.
Kemana pun gue pergi selalu diintilin sama Raka, untuk hari ini Raka benar benar sangat possessive tidak membiarkan gue pergi sendiri.
__ADS_1
Seperti saat ini gue yang hendak mengganti pakaian pun harus diantaranya sampai depan toliet wanita, dia terus menjaga gue diluar sana.
"Bener bener yah sih Raka, takut banget gue kabur apa gimana?" kata gue ngedumel sendiri didepan cermin besar yang berada di toilet Bandara itu.
Seketika gue teringat apa kata Curut sebelum kepergiannya.
"Jangan sampai lo lepasin Raka dari genggaman lo, karna diluar sana belum tentu ada cowo yang mau menerima kekurangan lo yang sebaik Raka"
Itulah pesan terakhir Angga anak tetangga ketimpuk mangga suka makan bala bala kalo tidur manga.
"Udah?" Raka langsung menyapa gue yang baru saja keluar dari toilet.
Gue hanya mantuk mantuk dan menerima uluran tangannya agar menggandengnya.
Amira: "Raka?" panggil gue disela sela waktu menunggu jam penerbangan yang masih 48 menit lagi.
Raka: "Hmmm" sahutnya yang sedang berkutat pada ponselnya.
Amira: "Rakaaa? panggil gue lagi karna ga terima dicuekin.
Raka: "Apa?" jawabnya lembut tapi tetap fokus pada ponselnya. Dan seketika itu gue merasakan di duakan olehnya padahal jelas jelas itu ponsel buat apa juga cemburu.
Woi yang bikin cemburu bukan ponselnya tapi orang yang membuat Raka mencampakkan kekasihnya yang cantik jelita disebelahnya ini loh.
Amira: "Belum nikah aja kamu udah cuek sama aku dan memilih sibuk sama ponsel apa kabar kalo udah dinikahi?" sindir gue yang membuat Raka menatap gue dan tertawa terpingkal pingkal.
Amira: "Ga lucu Raka" gue main manyun manyun aja di hadapannya seolah pertanda ingin dibujuk.
Dia menyimpan ponselnya dalam jaket denim miliknya dan memelukku bahu gue agar kepala gue bersandar padanya.
Raka: "Iya maaf yah Kurcaciku, tadi aku mengabari Mamih papih kalo kita akan segera pulang. Aku juga sedang memantau proses persiapan pernikahan kita yang tinggal empat hari lagi" jelasnya membuat gue terkagum kagum padanya.
Amira: "Raka, aku pengin ijab kabulnya diadakan dirumahku jangan di hotel ataupun ditempat lain" kata gue menyuarakan pendapat gue.
Raka: "Loh kenapa?" tanyanya terheran heran.
Amira: "Pokoknya aku cuma mau ijab kabul dirumah aku dan hanya didatangi oleh kedua keluarga besar dan beberapa saksi lain saja, agar lebih khidmat ga usah terlalu menggembor gemborkan aku tidak suka" terang gue agar dia bisa mengerti.
Raka: "Tapi tante Ani bi...
__ADS_1
Amira: "Aku maunya dirumahku, kan yang nikah aku bukan mamah aku. Tapi kalau kamu mau nikahnya sama mamah aku ya silahkan" kata gue berusaha melepaskan pelukannya pada bahu gue.
Raka: "Ok nanti aku bilang ke Mamih kalau calon mantunya pengin diadakan di rumahnya, udah ya jangan ngambek lagi"