
Prov Raka Wijaya
Saya terima nikah dan kawinnya Amira Dwi Saraswati binti Agus Wibisana dan memakai mas kawin logam mulia seberat 12 gram dengan uang tunai sebesar Rp 1.121.900,00 dibayar tunai.
Satu kalimat yang langsung keluar dengan lantangnya menggunakan satu kali tarikan nafas berhasil memebelah kesunyian didalam lingkup ruang tamu rumah Amira yang kini sah menjadi istri Raka Wijaya.
Ada rasa lega setelah mengucapkan kalimat yang sejak kemarin menjadi belenggu pikiranku sebelum tidur. Tanganku yang sedari tadi bergetar disertai keringat keringat kecil yang semakin mendukungku dalam nuansa gerogi.
Tapi beda halnya dengan wanita yang duduk disebelahku, dia diam menatap ayahnya dalam pandangan kosong lalu tiba tiba satu tetes butir air mengalir lancar di pipi mulusnya.
Awalnya aku hanya memperhatikannya, hingga saatnya sang penghulu mengarahkan Amira agar mencium tanganku sebagai bentuk penghormatan pertama terhadap suami.
Kalian tahu rasanya saat itu tiba?
Saat dimana kening Amira tersentuh ke punggung tanganku dengan hangatnya, hanya satu yang saat ini aku harapkan yaitu Allah SWT berkenan menjaga kita satu sama lain dari godaan maupun cobaan yang nantinya akan datang dalam rumah tangga kita.
Amira Dwi Saraswati
SAH!
Satu kata yang akan mengubah hidup gue kedepannya, hidup yang selalu gue inginkan tapi gue tidak mau meninggalkan kehidupan lama gue.
Gue pandangi papah gue yang tadi telah secara resmi menyerahkan tanggung jawabnya pada Raka didepan semua orang yang berada diruang tamu rumah gue. Gue belum bisa, bahkan ini terasa seperti mimpi jika gue harus berpisah dari papah gue. Mimpi indah yang belum gue inginkan saat ini.
"Mempelai wanita mohon menyalami pengantin pria dan mencium tangannya"
Perkataan pak penghulu berhasil menyadarkan gue dari pandangan kosong gue pada papah gue sejak tadi.
Gue lihat kearah Raka, dia sedang menatap gue mungkin dia juga masih belum percaya akan hal yang baru saja terjadi. Arah mata gue berpindah pada tangannya yang masih diam diatas lututnya, gue beranikan diri meraih tangannya dan menyalaminya tak lupa gue tempelkan kening gue ke punggung tangannya.
Tangan kirinya perlahan mengelus puncak kepala gue hampir sama seperti yang dilakukan papah kemarin, dan itu berhasil menambah pundi pundi butiran yang terjun bebas dari kelopak mata gue.
Selepasnya acara akad selesai, gue dan Raka disulap menjadi sepasang pengantin yang berpenampilan ala ala pengantin Jawa.
Gue terkejut dengan kebaya yang sedang terpasang pada sebuah patung yang diyakini akan gue kenakan.
Sebuah kebaya berdominan warna gold yang di bantu warna hijau, dilengkapi dengan swarovski crystal buttons sebagai kancing kebaya tersebut belum lagi jenis swarovski pearl berwarna gold yang semakin mempercantik kebaya tersebut disetiap bagian pinggir jahitan.
"Nyi Loro Kidul!" suara membentang di kamar gue yang sedang dirias.
Memang gue yakini setiap orang yang melihat gue pasti akan memanggil gue dengan sebutan tersebut bukan hanya karna bajunya yang berwarna senada dengan baju kebesaran Ratu Nyi Loro Kidul tapi make up bahkan rias kepala gue persis seperti gambaran dari kisah kisah kuno yang turun temurun.
Acara dimulai dari iring iringan pengantin pria yang membawa seserahan menuju pintu utama tenda depan rumah gue. Disambut oleh gue dan keluarga yang sudah menghadang di depan dengan membawa perlengkapan yang digunakan untuk acara pengantenan adat Jawa. Dan jangan lupakan pasukan studio gue yang memasang kamera dimana mana bagaikan hama, terlebih si ketua para setan siapa lagi kalau bukan Dimas. Dari awal gue keluar kamar setelah berganti kebaya di intilin mulu gue kaya induk ayam, dari depan samping belakang asal jangan bawah saja.
Pertama gue dan Raka melakukan bantal gantal atau lebih dikenal dengan sirih yang dilempar bersamaan kearah pasangan.
Kedua dilanjutkan dengan ngidak tagan/ nincak endog yang dilakukan Raka.
Ketiga sinduran yaitu saat gue dan Raka digiring oleh papah gue untuk naik keatas pelaminan yang sudah disiapkan.
__ADS_1
Keempat Bobot Timbang yaitu saat gue dan Raka dipangku bersamaan diatas pangkuan papah gue.
Kelima minum rujak degan, sebuah minuman yang berisi serutan kelapa.
Keenam Kacang kucur dimana Raka menuangkan beras atau biji bijian kepada gue menandakan bahwa dia siap dan akan menyanggupi menafkahi gue nantinya.
Ketujuh dulangan kegiatan dimana gue dan Raka harus saling menyuapi satu sama lain sebanyak tiga kali untuk menandakan bahwa kita akan saling membantu satu sama lainnya dalan membina rumah tangga.
Tapi yang lebih mengejutkan adalah dimana diselah selah kegiatan kami yang saling menyuapi dia malah meledek gue dengan bisikannya.
"Nyi Loro Kidul ku cantik" bisiknya sedikit mendekat kearah telinga gue.
Langsung saja gue lemparkan sebuah lirikan padanya.
Amira: "Ini pasti rancangan kamu kan?!"
Raka: "Sssttttt... kita belum 4 jam nikah kamu udah galak amat sih, iya itu rancangan aku bagaimana cantik kan?" jawabnya senyum menggoda.
Melihat penampilan Raka yang sekarang hanya terbelit kain tradisional sebatas perut, dilengkapi dengan pernak pernik hiasan baju adat ketambah keris dibelakang punggungnya membuat senyuman jahil gue muncul tiba tiba.
Raka: "Kamu kenapa senyum senyum begitu? perasaanku jadi tidak enak" katanya berusaha menjauh sedikit dari gue.
Amira: "Sexy" kata itu keluar seiringan dengan seringai jahat gue.
Raka: "Hah?! kamu jangan macam macam Mira"
Amira: "Suamiku begitu sexy, lihatlah dadamu sayang begitu menggugah gairahku. Aku ingin mencobanya" kata gue dengan nada super visual yang membuat Raka memelototkan matanya.
Gue elus dadanya perlahan, terus bergerak sampai kelehernya membuat Raka menjauhkan wajahnya kebelakang. Dia terus berusaha mundur padahal jelas jelas sudah mentok. Gue semakin mendekatinya dengan senyuman iblis yang menjadi ciri khas gue.
Raka: "Mira! banyak yang lihat mira, mundur.. mundur Amira mundur" dia berusaha menjauhkan tubuh gue darinya tapi dia juga mungkin masih merasa takut salah menyentuh tubuh gue.
Amira: "Rakaaa... aku ingin dirimu sekarang saya. aaaaaaaaaakhhh!" pekik gue setelah mengucapkan kalimat super visual pada Raka.
"Bagus ya Amira! kamu ga lihat banyak mata melihat kamu HAH?!" bisik emak sedikit menahan emosi sambil masih menarik telinga gue.
Amira: "Ya kenapa? suka suka Mira lah, Raka kan suaminya Mira" jawab gue cuek.
Emak mana yang tega tidak memberi petuah dimalam terakhir anak gadisnya yang besok akan diusung oleh keluarga suaminya? cuma emak gue! Ani Wibisana.
Mendengar jawaban gue emak gue langsung melepas tanyanya pada telinga gue, dan melangkah pergi.
Kedelapan acara yang paling ingin gue lewati atau dihilangkan dari daftar acara hari ini yaitu SUNGKEMAN.
Pertama gue dan Raka sungkeman ke papih mamihnya Raka.
Tidak banyak petuah yang om Adi eh maksud gue papih Adi berikan pada gue hanya beliau berkata agar gue harus selalu menjaga kepercayaan dan saling terbuka pada pasangan karna itu kunci hubungan yang berlangsung lama.
Kemudian Mamih Hana juga mengatakan bahwa hubungan yang harmonis adalah hubungan yang saling bergantung satu sama lain. Meski gue bisa melakukannya sendiri akan lebih baik kalo gue meminta bantuan pada Raka karna itu akan semakin mempererat hubungan kita katanya.
__ADS_1
Kemudian berpindah pada sepasang suami istri yang menjabat sebagai papah mamah gue.
Gue duduk menunduk memposisikan diri dihadapan papah gue, kali ini gue memberanikan diri meluapkan semua yang berada dibenak gue.
Amira: "Terima kasih pah... selama ini papah sudah menjaga dan melindungi Mira dengan kasih sayang dan perhatian yang melimpah. Mira tidak akan melupakan itu Mira sayang papah melebihi apapun yang berada didunia ini" kataku mencium kedua tangannya.
Papah: "Jangan lupakan mamahmu Amira, dia yang telah melahirkanmu. Apa kamu lupa itu?" Gue hanya diam mendengar penuturan papah.
Papah: "Kamu tau... dia adalah wanita hebat yang telah memberikan papah putri sepertimu meski harus melewati masa sulit kala itu. Kasih sayangnya padamu melebi apa yang kamu kira, bahkan tidak sebanding dengan apa yang papah berikan padamu"
Papah: "Mamahmu sering melewati batas seorang istri hanya demi menjadi seorang ibu yang sempurna untuk ketiga anaknya"
Papah: "Terutama kamu Amira" lanjutnya yang membuat gue mendongak melihat kearahnya.
Papah: "Sebenarnya yang mengotot ingin kamu kuliah kedokteran adalah papah, tapi mamahmu membantanya dan berdebat dengan papah. Menjauhi bahkan bersikap bungkam pada papah jika papah masih kekeh dengan keputusan ingin menguliahkanmu secara paksa" terangnya membuat gue bungkam.
Papah: "Bahkan saat mamahmu tau sikap nakalmu sudah mulai merajalela dengan membolos sekolah tidak pernah menurut apa kata guru dia hanya diam dan menyimpannya sendiri sampai papah tau dari guru kesiswaanmu yang melapor karna tidak ada perubahan sikap setelah melapor pada mamahmu"
Papah: "Mamahmu itu sama sepertimu sayang, dia tidak akan menampakkan aslinya dan akan melihatkan sikap buruknya. Coba kamu samakan dengan dirimu banyak kemiripan yang diturunkan mamahmu terhadapmu" kalimat terakhir dari papah berhasil menjatuhkan perasan gue kedasar penyesalan yang terdalam.
Gue tengok kesebalah kiri gue, Raka masih sungkem pada emak gue. Entah apa yang dikatakannya pada Raka sampai Raka begitu membungkuk dan memeluk lututnya erat.
Gue terus memandangi mereka yang mulai mengakhirinya.
Raka?
Menangis?
Karna ucapan mamah?
Bahkan tadi saat sungkem pada kedua orang tuanya dia nampak sedih biasa tidak sampai mengeluarkan air matanya dan ini...
Dia menangis dan langsung memeluk erat emak gue?
Papah: "Mendekatlah padanya, disaat seperti manfaatkan sebaik mungkin jangan membuat hatinya sakit sepeti tadi" papah memerintahkan pada gue untuk sungkem pada emak gue tapi tunggu...
Seperti tadi?
Tadi?
Maksudnya kapan?
Gue berjalan kearahnya dan duduk memposisikan diri di hadapannya masih dengan pemikiran gue yang mengingat apa hari ini gue telah menyakiti perasan emak gue.
"Maaf" satu kata yang langsung gue lontarkan padanya.
Amira: "Maaf bila tadi Mira telah menyakiti hati mamah saat sedang bersenda gurau dengan Raka" jelas gue setelah mengingat kejadian tadi.
Amira: "Maaf mah.. hiks.. Mira minta maaf atas semua perilaku buruk Mira sama mamah" kata gue mulai mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Amira: "Kenapa mah? hiks.. hiks.. kenapa mamah selama ini berusaha tampil buruk dihadapan Mira?"
Mamah: "Karna jika mamah berusaha tampil baik maka kamu tidak akan pernah lagi berusaha membuat onar dan membuat mamah perhatian padamu. Mamah tidak suka Amira yang pendiam dan hanya duduk sendiri bertemani setumpuk buku, mamah lebih suka Amira yang nakal tapi masih tau aturan dan batasan"