
Gue melihat bidadari dari pantulan cermin dihadapan gue, dia tersenyum lebar memakai gaun berwarna putih sepanjang lutut dengan punggung yang sedikit terekspos.
Dia bergaya bak model sedang berpose mengibas ngibaskan rambutnya ke kanan dan ke kiri. Merapikan make up tipisnya agar terlihat lebih sempurna. Bidadari pake make up? Jangan konyol dengan pertanyaan macam itu, ya karna bidadarinya itu gue.
Mamah: "Ira!! buru pangerannya udah nungguin" panggil emak dari luar pintu kamar gue.
Buru buru gue pake hels putih 10cm dan mengambil tas jinjing berwarna biru dusty lalu dengan cepat berjalan keluar kamar.
Amira: "Mah jangan panggil Ira, aku ga suka!"
Mamah: "Oke oke gadis cantikku" katanya sembari mencium kening gue.
Di kehidupan gue ada 2 orang yang sangat benci kalo gue menggunakan kata "aku" dalam bentuk gue, ya dia mamah gue yang melahirkan gue dan memberikan kehidupan masa depan dan juga laki laki yang gue harap bakal jadi masa depan gue nantinya.
Gue menuruni tangga dengan perlahan, terlihat seorang pria duduk menggunakan jas hitam, kemeja putih serta dasi berwarna biru dusty sama persis dengan tas yang sedang gue genggam. Bagaimana tidak, gue harus berdebat dengannya berjam jam hanya untuk menyamakan dasi dan tas ge.
Dia menatap gue dalam duduknya, gue mulai mendekatinya menampakkan senyum menggoda agar dia tidak pernah ada niatan untuk berpaling dari gue ke cewe lain. Gue mendekatkan wajah gue kewajahnya, dia menatap mata gue dalam dalam.
__ADS_1
"Kenapa? terpesona ya? baru nyadar punya cewe kaya bidadari surga?" kata gue dipenuhi godaan disetiap katanya.
Dia lebih mendekatkan wajahnya, gue tersenyum lebar dan mulai memejamkan mata. Nafasnya mulai terasa dikulit wajah gue yang mulus bagai sirkuit balap.
"Kamu telat 4 menit kurcaci" bisiknya Di telinga gue dengan lembut.
Raka mendorong perlahan kedua bahu gue kebelakang membuat jarak antara kita. Dia bangun dan berjalan menuju pintu keluar.
Gue mematung, tak bergerak sedikit pun.
Raka: "Sampai kapan mau diam disitu? Bisa bisa kita terlambat ke acara resepsinya Aldo sama Intan" Jelasnya.
Gue mendelikan mata gue kearahnya dan berjalan cepat kearahnya dan gue melewatinya tanpa menoleh sedikit pun.
Didalam mobil hitam berlogo merek Jepang, kita pasangan kekasih hanya diam tanpa ada pembicaraan romantis sama sekali. Apa gue lupa bilang kalo pria disamping gue ini anak kuno?
Raka konsentrasi dengan jalan sedangkan gue melihat banyak mobil dan motor berlalu lalang melalui kaca mobil dengan masih menyimpan rasa kecewa dan malu yang luar biasa. Gue berfikir dan menatap Raka yang masih fokus mengemudi.
'Apa priaku ini ga doyan cewe yah? Perasaan setahun pacaran mentok cuma dipeluk, pegang tangan, cium kening sama pipi ga lebih dan ga ada kemajuan' batin gue.
Raka: "Kalo mau ngomong, ngomong aja jangan natap aku gitu serasa kaya mau dimakan" Katanya masih fokus pada jalan.
__ADS_1
Amira: "..."
ta ada jawaban dari gue dia pun bertanya.
Raka: "Kamu mau apa kurcaciku tersayang?" katanya sembari tangan kirinya yang kekar menggenggam tangan kanan gue.
Amira: "CIUM!!!" Kata gue penuh dengan penekanan.
Raka: "Haha.. mau cium? sini sini aku cium" Dia mencium punggung tangan gue lama dan penuh dengan kelembutan.
Amira: "Disini!" Gue menarik tangan gue dan menunjuk bibir gue dengan telunjuk kanan gue.
Raka diam tidak menjawab, gue masih menatapnya berharap dia berbicara sesuatu. Raka meminggirkan mobilnya di tepi jalan dan mulai menatap balik mata gue, tangan kekarnya yang gue jamin ini cowo rutin nge gym memegang lembut kedua tangan gue.
Raka: "Aku pasti akan melakukannya tapi tidak sekarang sayang, nanti di malam pertama kita aku akan melakukan semuanya dan tidak akan membiarkannya tertidur" Senyum manisnya nampak jelas di wajahnya.
Dia memelukku, hangat itu yang gue rasakan saat ini.
"Aku akan ikut menjaga kehormatanmu"
itu yang terdengar dari kedua telingaku.
Gue diam tertunduk dan membenamkan wajahku ditengkuknya.
__ADS_1