Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Perkara 3


__ADS_3

Prov Raka Wijaya


Aku tutup pintu kamarku dengan sangat keras hingga menimbulkan sedikit getaran pada dinding kamar. Aku robohkan meja belajarku yang berisi buku buku dan beberapa foto. Aku pun membanting semua yang berada diatas meja.


"AMIRAAAA!!!"


"BRENGSEK LO! Dasar IBLIS!!!"


Tok. Tok. Tok


"Raka! Raka! kamu kenapa nak? buka pintunya sayang" kata Mamihku dari luar kamar.


Raka: "Pergi mih! PERGIII!" Bentakku dengan menarik selimut yang berada diatas kasurku.


Mamih: "Iya tapi kamu kenapa?" tanya Mamih masih berada diluar pintu.


Aku tidak menjawab, ku pandangi sebuah figura foto yang cukup besar terletak di dinding kamar ku. Sebuah foto yang selalu menyapa di pagi hari dan menghilangkan penatku di petang hari usai dari kantor.


Sosok wanita cantik yang sedang tertawa dengan memperlihatkan lesung pipinya dengan kedua mata melihat kearah ku.


Tes.


Satu butir air melesat tanpa permisi membasahi pipiku.


"Kenapa Ra? Kenapa lo setega itu sama gue?"


"Gue masih kurang apa lagi Amira? Kurang APA?!" rancauku didepan foto itu seolah sedang mengobrol dengan tetesan air mata yang terus mengalir pelan.


"Gue harus berbuat apa lagi? Dan harus seperti apa agar lo mau jadi istri gue Ra?"


"Lo jahat Ra, lo emang wanita IBLIS"


Seketika itu pula aku menangis untuk kedua kalinya karna masalah cewe yang pertama Viviana dan yang kedua Amira.


"Lo menerbangkan gue setinggi langit dengan memutuskan untuk bertunangan dengan gue tapi dengan mudahnya lo banting gue kepermukaan tanah dengan lo bilang kalo pertunangan kita dibatalkan"


"Dimana letak hati nurani lo Amira?!!"


Kring... Kring

__ADS_1


Aku abaikan bunyi ponselku yang berdering karna sebuah panggilan.


Aku terus duduk dilantai menghadap foto Amira yang berada di dinding.


Kring... Kring


Ponselku berdering untuk kedua kalinya.


Apa itu Amira? Apa dia telah menyesal karna telah mengatakan itu padaku tadi siang dan sekarang dia ingin meminta maaf batinku.


Aku pun berdiri kemudian berjalan kearah kasurku, karna ponselku tergeletak disana.


Ternyata bukan yang aku harapkan. Saat mengetahui nama dilayar ponselku bukan nama Kurcaciku. Aku melempar ponselku keranjang.


Aku pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahku yang sudah lesu dan mataku yang sedikit bengkak karna menangis.


Ya seperti inilah aku setelah puas melampiaskan semua amarahku, kadang aku menangis jika rasa sakitnya tidak bisa tertahan lagi oleh akal sehatku dan itu akan sedikit mengurangi bebanku.


Walau rasa sakitnya masih sama tapi setidaknya aku tidak memendamnya. Aku lebih suka melampiaskan amarahku pada benda benda mati disekitarku.


Sekeluarnya dari kamar mandi, ponselku masih setia berdering tak henti hentinya dan itu dari orang yang sama.


"Dia tidak akan pernah berhenti sebelum gue mengangkatnya, dasar Curut" gerutuku pada penelpon yang bukan lain adalah Angga.


"Hall...


Raka: "Lo ada urusan apa gangguin gue Curut?! Gue sibuk! Ga ada waktu ngeladenin lo" aku langsung menyambar sebelum dia mengucap satu kata. Aku hendak mematikan ponsel sepihak tapi pertanyaannya menghentikan niatanku.


Angga: "Sibuk nangisin wanita IBLIS?"


Raka: "Berisik lo!" Jawabku ketus sedikit tidak terima wanita ku disebut wanita IBLIS, padahal mungkin kenyataannya seperti itu.


Angga: "Mau curhat ga?" tawarnya tanpa rasa malu.


Raka: "Ga terima kasih atas tawarannya, gue ga tertarik" jawab gue.


Angga: "Ooooh ya udah gue matiin ya? beneran nih ga mau?" tanyanya sekali lagi.


Raka: "Nggaa?" panggil gue dengan suara pelan.

__ADS_1


Angga: "Hmmm, apaan?! udah tau deh gue, lo lagi butuh sandaran kan? udah ngomong buru"


Raka: "Gue masih kurang apa yah ko Amira ga mau sama gue?" tanyaku yang mulai membaringkan badanku di ranjang tanpa seprei itu.


Angga: "Lo kurang PEKA!" jawabnya dengan menekan kalimat terakhir.


Raka: "Gue kurang peka apalagi curut? Gue selalu ngertiin dia, ngertiin kerjaannya dan ngertiin apa maunya"


Angga: "Auu dah, ribet ngomong sama orang purbalangka"


Raka: "Maksud lo apaan? Gue udah selalu ngertiin dia, tapi kenapa dia ga pernah ngertiin gue? kenapa dia ga tau apa yang gue inginkan? kenapa dia egois sama gue? Apa salah kalo gue serius sama dia? Apa salah gue pengin jalanin hubungan yang lebih dari sekedar pacaran?"


Angga: "Lo belum mengerti tentang Amira sepenuhnya Raka, lo belum ngerti" jawabnya yang membuatku bingung.


Raka: "Maksud lo apaan? Gue tahu diantara gue, Aldo dan lo yang paling dekat sama Amira cuma lo. Lo tau sesuatu? tolong kasih tau gue" Aku meminta penjelasan pada Curut kenapa Amira sampai hati selalu menolak lamaranku.


Angga: "Gue ga ada hak" jawabnya singkat membuat emosiku yang tadinya mereda menjadi naik kembali.


Raka: "Hahaha...mungkin sampai kapanpun Amira memang hanya akan menjadi wanita IBLIS yang tidak memiliki hati" kataku yang mulai frustasi.


Angga: "Jaga ucapanmu RAKA!" bentaknya dari seberang sana.


Raka: "APA?!!! memang kenyataannya! wanita mana yang tega menolak lamaran cowo yang dia cintai sebanyak 6 kali? hanya Amira Angga, hanya DIA!"


Raka: "Gue melamarnya berkali kali dengan cara yang berbeda beda tapi apa jawabannya? dia selalu menolakku dengan jawaban yang selalu berbeda" lanjutku mengeluarkan semua rasa kecewaku.


Angga: "Apa lo ga berfikir kenapa dia selalu memiliki jawaban yang berbeda beda?"


Raka: "Ya karna dia ga berkomitmen! dia bilang sendiri kalau dia belum siap berkomitmen" jawab gue dengan sedikit membentaknya.


Angga: "Apa sifat bego lo yang dulu ditinggal mantan istri lo belum hilang?" tanyanya yang semakin membuatku naik darah.


Raka: "Apa maksud lo BRENGSEK!" Jawabku dengan nada marah.


Angga: "Jika dia belum siap berkomitmen kenapa dia tidak meninggalkanmu dan mencari pria lain. Sangat mudah bagi Amira mendapatkan pria yang jauh lebih sempurna darimu diluar sana terlebih yang masih menyandang perjaka" dari perkataan Curut yang sedikit menyindirku aku berfikir ada benarnya juga.


Raka: "Lalu kenapa dia membatalkan pertunangan kita tepat setelah bertemu dengan pria yang mencium pipinya. Itu pasti karna mereka memiliki hubungan" jawabku masih mencari kepastian.


Angga: "Apa otak lo terlalu dangkal?"

__ADS_1


Raka: "Apa maksud lo hah?!"


Angga: "Begini... ada seseorang yang jatuh tersandung batu dan membuat lututnya terluka mengeluarkan darah. Mungkin orang itu akan berfikir bahwa batu itu adalah puncak masalahnya tapi pada kenyataanya batu itu bukanlah sumber masalahnya. Mungkin dia berjalan yang tidak seimbang atau mungkin ada masalah pada kakinya atau lebih tepatnya dia memakai sandal yang tiba tiba putus dan membuat kakinya oleng sehingga tersandung batu yang ada di depannya. Jadi kalo menurut gue coba lo fikir ulang apa yang menyebabkan Amira mengambil keputusan itu, bisa jadi penyebabnya bukan itu tapi sebelum kedatangannya pria itu" jelasnya panjang lebar kali tinggi yang membuat gue berfikir kembali.


__ADS_2