Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Angga Koesumo


__ADS_3

Prov Angga Cipto Koesumo


"Hallo Ngga? Gue ga ganggu lo kan?" sapanya disebrang sana.


Angga: "Ada apaan Ka? jangan bilang lo hubungin gue karna Amira?" tebak gue pada orang lain disebrang sana yang tidak lain adalah Raka.


Raka: "Kalo bukan tentang Amira lalu tentang apa lagi Ngga"


Angga: "Kenapa sama Amira? dia selingkuh?" tanya gue padanya.


Raka: "Bukan Ngga, Mira ga mungkin selingkuh dari gue" jawabnya.


Angga: "Kenapa lo bisa seyakin itu? Bukannya terakhir lo bilang ke gue dia batalin pertunangannya sama lo karna cowo"


Raka: "Ternyata emang bener kata lo ga, dia putusin gue bukan karna cowo tapi karna ada hal lain. Dan sekarang gue pengin ketemu dia pengin dengerin penjelasannya" jelasnya mengungkapkan apa yang ingin diutarakan olehnya.


Angga: "Ya lo temui dia lah, apa susahnya ngapain pake acara laporan dulu ke gue emang gue ini inspektur upacara" kata gue sinis.


Disini gue berpura pura tidak tahu tentang keberadaan Amira, karna setelah tahu akar permasalahan kenapa Amira bisa sampai ke Jepang membuat gue memendam amarah pada pria yang pernah menyandang status tunangan Amira.


Raka: "Nah itu permasalahannya Ngga, gue ga tau sekarang Amira ada dimana. Dia menghilang begitu saja tanpa ngabarin ke gue"


Angga: "Ngapain dia kasih kabar ke lo, bukannya lo bilang sendiri lo akan pergi dan menghilang darinya? terus untuk apa dia kasih kabar ke lo?"


Raka: "Itu cuma gertakan Angga agar dia mau bicara sama gue perihal keputusannya untuk batalin pertunangan gue dengannya"


Angga: "Gertakan lo bilang? tapi pada kenyataanya lo emang bener pergi dan menghilang darinya kan kemarin? Lo ga tau betapa tersiksa dia"


Raka: "Gue hanya menghindar sementara Ngga, demi apapun gue ga berniat pergi darinya"


Angga: "Tapi niatan lo itu membuat dia salah paham Raka"


Raka: "Maksud lo? Lo tau se...


Angga: "Gue tau semuanya Ka, gue pasti tau semua tentang Amira"


Raka: "Berarti lo sekarang tau Mira ada dimana? please Ngga kasih tau gue, gue pengin ketemu dia"


Angga: "Entahlah gue ga yakin gue tahu pasti tentang keberadaannya, tapi yang pasti gue tau dia sedang berjuang untuk melupakan lo"


Raka: "Aku mohon Ngga kasih tau gue, gue ga mau kehilangan Mira. Lo tau sendiri kan Mira itu tujuan hidup gue sekarang?"

__ADS_1


Angga: "Tujuan hidup lo? Haha.. ga salah denger gue? Bukannya lo udah mendapat tujuan hidup lo yang lama?"


Raka: "Maksud lo apaan Ngga? Gue ga ngerti"


Angga: "Ga usah pura pura bego dan menutupi kenyataan deh Ka, gue ga nyanka punya temen kaya lo dan lebih sialnya lagi kenapa harus lo yang membuat Amira tergila gila"


Angga: "Lo tau alasan Mira pergi dari rumah bahkan kabur dari hidup lo dan lebih parahnya lagi dia ninggalin studio yang sudah menjadi belahan hidupnya?" tanya gue dan Raka hanya diam.


Angga: "Karna lo BRENGSEK!!!" gue berteriak padanya.


Setelah mendapat pesan darinya bahwa dia ingin meminta bantuan gue, gue dengan terburu buru ingin menjauh dari Amira yang tadinya kita berniat akan pergi ke Kyoto melihat daun pohon maple yang berguguran.


Raka: "Tapi Angga salah gue apa?"


Ingin rasanya gue mendaratkan pukulan super maut gue kearah wajahnya jika Raka sekarang berada tepat didepan gue.


Angga: "Salah lo adalah CLBK dengan mantan istri lo yang sudah ninggalin lo dengan cowo lain"


Raka: "Gue ga CLBK Ngga, SUMPAH!" katanya kekeh mencoba meyakinkan gue, tapi gue? Gue lebih percaya apa kata Amira.


Angga: "Lo ga CLBK? lalu kenapa ada acara main peluk pelukan segala ditempat umum, disebuah kafe super romantis"


Angga: "Gue masih di Osaka, tapi gue tau itu lebih tepatnya gue tau karna sepasang mata Amira melihatnya secara langsung seperti acara live di televisi"


Raka: "APA!!! Mira melihatnya?"


Angga: "Yup! jadi mending lo juga move on karna Amira juga sedang proses melupakan lo"


Raka: "Ga Ngga dia cuma salah paham tentang gue peluk Viviana! gue cuma berusaha untuk memenangkannya karna suaminya terus terusan menyiksa dia. Gue mohon lo kasih tau dia, gue sama Viviana ga ada hubungan sama sekali"


Angga: "Ok gue anggap pelukan kalian adalah sebuah kesalah pahaman, tapi apa lo ingat sesuatu sebelum kalian berpelukan?"


Raka: "Maksud lo?"


Angga: "Gue kemarin bilang kan ke lo sebuah puncak masalah belum tentu apa yang berada diakhir tapi bisa jadi hal sebelumnya yang membuat kecurigaan diakhir"


Raka diam sesaat mungkin dia sedang berusaha mengingat ingat kejadian waktu itu.


Angga: "Lo mencium kening Viviana Raka, Lo masih ga ingat? Lo masih mau bilang itu salah paham juga?"


Raka: "Jadi Mira melihatnya?"

__ADS_1


Angga: "Ya! didepan matanya secara langsung, orang yang dicintainya mencium wanita lain didepan umum, menurut Lo gimana perasaan Mira saat itu?"


Raka: "Tapi Ngga! pipinya juga dic..


Angga: "Bedakan yang namanya DICIUM dan MENCIUM ya Raka!"


Raka: "Tapi Ngga.


Tutt.. Tutt.. Tutt


Gue memutuskan telepon secara sepihak. Gue bahkan badan gue di kasur super big gue yang berada dikamar gue.


"Lo terlalu bodoh Raka, Lo menyianyiakan perasaan Mira yang begitu besar terhadap lo"


Gue memang tidak bertanya sama sekali pada Amira tentang kedatangannya ke Jepang yang begitu mengejutkanku karna tidak memberi kabar terlebih dulu. Tapi gue sangat paham betul dengan sifat Amira yang kadang susah didekati.


Gue tahu semua itu saat gue mendengar secara langsung keluh resah Amira waktu malam hari.


Dia menangis menjadi jadi dikala dia mengingat hal yang membuatnya sakit. Bahkan gue sering mendengar dia mengigau dalam tidurnya memanggil nama Raka agar tidak meninggalkannya sendiri.


Gue benar benar sedih melihatnya, tapi saat dia berhadapan langsung dengan gue dia tidak pernah sekalipun menampakkan ekspresi sedihnya.


Yang ada gue selalu dibully olehnya dipalak bahkan kadang menjadi samsak tendangannya.


Awalnya gue berniat ingin memeberitahukan pada Raka soal keberadaan Amira di mansion gue. Gue berfikir mungki itu lebih baik walaupun gue segarnya sudah naik pitam jika harus bertemu dengannya.


Tapi akhirnya gue paham, bahwa yang dibutuhkan wanita Monyet itu saat ini adalah ketenangan dan teman jadi gue putuskan untuk merahasiakannya terlebih dahulu sampai Amira benar benar tenang.


Kedekatan kita berdua yang tidak biasa awalnya sering dianggap sebagai sepasang kekasih.


Tapi pada kenyataannya gue dan Amira adalah sohib yang ga akan pernah terpisahkan. Gue tahu semua tentang Amira, termasuk tentang kekurangan Amira yang masih gue rahasiakan. Begitupun Amira yang tahu rahasia besar gue tentang pekerjaan gue sebagai GIGOLO. Meski Amira tau sejak dulu dulu tapi dia tetap menjadi teman baik buat gue, dia ga pernah sekalipun nyalahin gue dengan apa yang gue perbuat.


Awalnya dia berharap gue sembuh sampai gue dibawa ke psikiater olehnya untuk berobat. Tapi hasilnya nihil gue tetap candu seks dan gonta ganti cewe sesuka gue.


Sampai akhirnya gue frustasi karna terlalu menahan nafsu gue yang berlebih dan mengakibatkan gue memperkosa adik kelas gue yang sedang berusaha menggoda gue.


Amira tidak membenci gue atau menjauhi gue dia malah semakin respect sama gue dan menuntun gue pelan pelan.


Tapi akhirnya gue memutuskan untuk menjadi gigolo dan dia hanya mendukung gue meski sebelum itu gue harus mendapat ceramah dari Amira selama berjam jam tentang resiko yang gue ambil. Bukan hanya resiko dunia tapi juga resiko saat bertemu Sang Maha Kuasa.


Meski tadi dia menodong gue dengan memalak meminta uang tutup mulut. Gue yakin tanpa diberi pun dia akan menjaga rahasia gue rapat rapat

__ADS_1


__ADS_2