Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Kangkung not Ayam


__ADS_3

Dan disini aku sekarang yang sedang duduk berseberangan dengan emak karna papah duduk membatasi kita berdua.


Om Adi: "Baiklah pak Agus dan ibu Ani langsung saja pada intinya, saya sekeluarga saya datang kemari dengan tujuan ingin melamar putri bapak yang bernama Amira Dwi Saraswati untuk menjalin sebuah ikatan dengan putra tunggal saya Raka Wijaya dan berharap nantinya akan menjalin hubungan yang lebih suci lagi yaitu pernikahan"


Om Adi: "Apa pak Agus bersedia menerima lamaran ini dan mulai menjalin hubungan baik dengan keluarga kami" lanjut om Adi menjelaskan maksud kedatangannya malam ini kerumah gue.


Papah: "Kalau saya terserah pada anaknya saja pak Adi, karena bagaimanapun mereka yang akan menjalaninya. Saya sebagai orang tua tugasnya hanya melihat dan membimbing jika mereka mulai salah arah"katak papah bikin aku kesemsem bangga punya bokap kaya papah.


Uuuuh sayang deh sama papah, ga kaya jelmaan KOBRA yang dari tadi matanya udah ijo, perasaan yang dilamar gue tapi napa muka emak gue yang sumringah kegirangan batin gue.


Papah: "Bagimana sayang?" tanya papah mulai menatapku.


Aku hanya tersenyum dan melihat kearah Raka yang wajahnya dipenuhi rasa tegang. Gue semakin tersenyum bahagia melihat ekspresinya yang menggemaskan itu.


Amira: "Iya pah, Mira mau menerima lamarannya" jawab gue tak lepas memandangi Raka yang raut wajahnya berubah menjadi senang dan tersenyum kearah gue.


Iih gemes deh, sinih BANGKE kurcaci kasih kecup kecup manja di bibir batin gue dengan sedikit menghayal.


Gue tatap mata hitamnya lekat dan Raka pun menatap mata gue penuh dengan kebahagian hingga....


"Eit kalian masih belum sah jangan berzina" kata tante Hana menutup kedua mata Raka dengan kedua telapak tante Hana, gue terkekeh melihatnya.


Raka: "Berzina? Kita ga berzina mih" kata Raka berusaha membuka kedua tangan tante Hana dari matanya.


Tante Hana: "Lah tadi apa? main tatap tatap mata, inget Raka semua berawal dari mata"


Mendengar perkataan tante gue jadi ga enak, apa pantas gue jadi tunangan Raka? Gue sama aja kaya Viviana menutupi kebenaran dan gue udah bohongi Raka.


Iya tante semua berawal dari mata, andai gue dulu tidak melihatnya dan tidak menatapnya mungkin gue bisa menjadi wanita yang pantas untuk Raka sekarang. Tapi pada kenyataannya semua sudah hilang batin gue.


Gue pandangi dengan seksama sebuah cincin yang terpasang manis dijari manis kiri gue yang mungil berhiaskan sebuah berlian yang tertancap di tengahnya.


Gue tersenyum dan berfikir apa mungkin gue akan benar benar menikah nantinya dengan Raka?

__ADS_1


Gue harus jujur pada Raka.


Tapi kapan?


Sekarang bukan waktu yang tepat, tapi gue harus jujur sebelum Raka tau dari kak Ilham.


Gue ga mau Raka tau dari mulut orang lain, tapi bagaimana jika Raka kecewa dan meninggalkan gue?


Gue pandangi priaku yang sedang mendengarkan obrolan kedua orang tua kami. Gue menunduk, sungguh gue ga ingin Raka meninggalkan gue. Apa gue terlalu egois? Tapi jika aku diam saja Raka nantinya juga pasti akan tau setelah kita menikah dan itu bisa membuat Raka kecewa dan semakin membenci gue.


Tiba tiba saja tangan kekar yang begitu hangat menggenggam tangan kiri gue. Gue pandangi tangan itu, tangan yang begitu gue kenal lalu mata gue beralih menatapnya yang duduk disebelah kanan gue.


Raka: "Terima kasih" kata itu terucap dengan sebuah makna yang begitu dalam. Bisa gue rasakan dari tatapan mata dan senyumannya yang tak henti hentinya pudar dari raut wajahnya.


Amira: "Aku sangat bahagia Bangke" kata gue dengan menggenggam tangan kanannya.


Raka: "Aku jauh lebih bahagia darimu Kurcaci" Raka tersenyum dan hendak mencium kedua tangan gue, tapi..


"Hei hei hei! Raka kontrol itu tangan mu, Amira masih anak gadis orang belum jadi hak mu sepenuhnya. Lagian ini dimeja makan masa iya kamu ga bisa lihat situasi dan kondisi" kata tante Hana memelototi pria disamping gue.


"Assalamualaikum"


Bisa gue kenal suara ember pecah yang baru saja mengucapkan salam.


Papah: "Juna! sini nak, salim dulu dengan papah dan mamah nya mas Raka" perintah papah pada petruk, dan si petruk pun menyalami papih mamihnya Raka.


Mamah: "Juna sinih duduk disebelah mamah" kata mamah menunjuk kursi disebelah kanannya.


Dan karna itu pula, mata kita berdua bertempur dingin saling tatap tanpa berkedip hingga dia duduk gue masih tetap menatap matanya tajam.


Sampai gue ga sadar sudah ada sepiring nasi dihadapan gue.


Amira: "Loh mah, ini ko nasi nya banyak banget. Mamah ngambilin nasi buat anak gadis mamah apa kuli bangunan?" tanya gue terheran. Lah gila aja gue suruh makan nasi yang menggunung bagai gunung Krakatau yang telah meletus.

__ADS_1


Arjuna: "Iya mamah ini gimana, piton betina ini bukan kuli bangunan mah tapi..


Waah dari kata katanya bakal ada yang ga enak ini pasti gue yakin batin gue.


Arjuna: "Tapi kuli panggul" katanya diikuti gelak tawanya dan mendapat cubitan keras dari mamah dibagian perut yang bisa gue lihat.


Wah sialan ini bocah, awas saja ntar kalo keluarga Raka udah pulang gue siksa lo adik terlaknat batin gue dengan tanduk yang berasa sudah berada dikepala gue.


Setelah gue mengurangi nasi diatas piring gue, gue terdiam sesaat menatap para ayam yang berada diatas meja serasa berkata


"Ayo Mira ambil aku, aku akan mempermalukanmu lagi" kata ayam kecap.


"Jangan Mira biar aku saja, aku akan lebih mempermalukanmu dari yang kemarin" kata ayam sambal goreng.


"Hahaha... ambil aku maka kamu akan lebih malu lagi, bahkan aku berani jamin kamu akan malu sampai tidak akan pernah berani mempertunjukkan dirimu lagi didepan kedua orang tua tunanganmu"kata ayam goreng.


Gue pelototi ayam goreng itu, ga gue ga akan ambil lo ayam.


Tante Hana: "Amira? Kamu kenapa memelototi ayam itu? Apa ayamnya sedang berbicara padamu?" Gue tersentak mendengar perkataan tante Hana.


Amira: "Ga tante, Ga! mana mungkin ayamnya bicara sama Mira. Tante ini ada ada saja" kata gue sedikit canggung.


Huuhff tenang Mira tenang lo jangan sampai dipermalukan sama ayam ayam ini lagi.


Amira: "Ga mah! Mira ga makan ayam" tolak gue saat emak gue hendak menaruh ayam kecap diatas piring gue.


Papah: "Loh tumben, biasa kamu paling suka ayam sayang? Kenapa?" tanya papah gue.


Gue ingatkan yah bokap gue yang satu ini yang paling sayang sama gue, bukan artinya dia selalu menuruti apa kata mau gue tapi papah gue ini selalu bisa menyesuaikan diri disamping gue. Kadang dia bisa menjadi teman mendengarkan keluh kesah gue di sekolah waktu itu, kadang jadi layaknya seorang ibu memberikan petuah petuah yang harus dilakukan anak perempuan kadang bisa jadi Ayah yang garang kalo gue menunda nunda waktu sholat gue.


Amira: "Ga apa kok pah bosan saja, Mira makan tumis kangkung aja"


Dari jawaban gue, gue bisa merasakan beberapa pasang mata sedang memperhatikan gue.

__ADS_1


Tapi gue berusaha tenang dan tetap menatap piring gue, jangan sampai gue merusak malam ini.


__ADS_2