Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Flashback Amira 4


__ADS_3

Try out demi try out telah aku lewati tanpa adanya keseriusan dalam belajar, aku hanya mengandalkan anak lain yang senantiasa membaca buku disampingku dengan suara yang sedikit lebih keras.


Dan apa kalian tahu, ternyata baik aku belajar atau tidak itu tidak merubah bahwa aku akan tetap mendapat ranking 1 paralel terus menerus hanya saja selisih nilai dengan teman lain cukup dekat tidak seperti biasanya.


Entah Tuhan terlalu baik padaku atau terlalu sayang padaku sehingga memberikan otak encer dengan IQ diatas rata rata. Aku pun terus melewati ujian demi ujian bersama kelas terkonyolku mulai dari Ujian Praktek, Ujian Negara sampai Ujian Sekolah dan aku pun akhirnya dinyatakan LULUS dengan perolehan nilai 35.95


Di hari kelulusanku, aku bertemu "dia" didepan sekolahku.


Ilham: "Selamat ya Ira"


Aku tidak menjawab bahkan tidak ingin menoleh kearahnya.


Ilham: "Ira aku ingin bicara denganmu"


Aku masih setia dingin padanya, bahkan lebih fokus pada teman temanku yang sedang bercengkrama tentang sekolah mana yang akan kita tuju selanjutnya sebagai tempat untuk kita belajar, belajar nakal lebih tepatnya.


Ilham: "Ira ada yang harus kita bicarakan berdua" dia mulai menarik bahuku agar aku menghadap kearahnya.


Amira: "Apaan sih!" bentakku dan menepis tangannya yang berada dibahuku.


Ilham: "Aku ingin menjelaskan kejadian itu Ira, aku ga mau putus sama kamu" dia memegang pergelangan tanganku.


Amira: "Ga usah pegang pegang yah! Kita udah putus dan ga ada yang perlu dijelaskan, semua udah jelas! SANGAT JELAS!!!"


Ilham: "Tapi kamu juga ga bisa gini dong Ira, kamu juga harus dengar alasanku terlebih dulu"


Amira: "OK! Silahkan bicara sebelum aku mulai muak denganmu" emosiku terpancing terlebih jika harus mengingat dimana aku melihat bagaimana memjijikanya dia dengan mataku sendiri.


Ilham: "Kita harus mengobrol berdua Ira" dia mulai memegang lengan ku.


Amira: "Kenapa ga disini?!" aku menepis tangannya yang terus terusan menyentuhku.

__ADS_1


Kara: "Udah lah Ra, lo selesaiin masalah lo dulu kita kita tungguin lo disini" kata Kara salah satu temanku.


Akhirnya aku pun berada di situasi hanya ada aku dan "dia".


Ilham: "Ira aku...


Amira: "5 menit atau ga sama sekali" aku berhadapan dengannya tapi dengan pandangan kearah lain.


Ilham: "Aku masih cinta kamu Ira, aku ga mau kita putus" dia mencoba membujukku dengan memegang pergelangan tanganku.


Amira: "Huh Cinta?.... BUSUK!" aku membalikkan badanku.


Ilham: "Aku mohon Ira, kita jangan putus ya?" dia memelukku dari belakang.


Amira: "Lepaskan aku brengsek!"


Aku meronta ronta tapi tidak bisa, ketika niatan aku ingin berteriak tapi dengan cepatnya mulutku dibungkam dengan tangannya.


Tangan kirinya membungkam mulutku dan tangan kanannya memeluk perutku. Dia menyeret tubuh mungilku kearah toilet pojok sekolahku, dia berbisik di telinga kiriku


Mendengar perkataannya aku semakin meronta dalam dekapannya. Aku tidak mau lagi terjebak olehnya, dengan susah payah aku melupakannya dan aku tidak mau lagi.


Dia mendorong tubuhku hingga terbentur dinding toilet, melepas paksa seragam sekolah yang aku kenakan hingga kancing bajuku terlepas semua. Aku hendak berteriak tapi perkataannya mengurungkan niatku.


"Silahkan berteriak, teriaklah sekencang mungkin maka semua orang akan mengetahui bahwa kamu sudah tidak perawan olehku dan alhasil kita pun akan dinikahkan"


Ya Tuhan sungguh aku tidak ingin melakukannya lagi. Ku pikirkan berbagai cara agar dia tidak melakukan serangannya lagi.


Aku pun menendang miliknya dengan lutut kananku dan berhasil membuatnya meringkuk kesakitan. Aku berusaha membuka pintu toilet yang berada dibelakangnya, tapi tiba tiba tangan kiriku dicengkeram olehnya. Aku semakin menangis sesegukan, merasakan ketakutan yang luar biasa.


Ya Tuhan sungguh aku tidak ingin melakukannya lagi. Aku terus berdoa dan memikirkan cara agar bisa terlepas dari pria brengsek yang tengah menarik narik tangan kiriku.

__ADS_1


Mungkin Allah SWT mendengarkan doa ku, tiba tiba saja tangan kananku mengambil gayung yang berada di pinggir bak toilet kemudian dengan segenap kekuatan yang masih ku miliki ku pukul kepalanya hingga mengakibatkan darah itu keluar.


Aku tidak bisa berfikir jernih lagi, yang ada dalam pikiranku sekarang hanyalah pergi dari cengkramannya.


Aku berlari meninggalkannya yang masih berada di toilet itu. Ku pakai jaket yang biasa ku bawa dalam tas ku untuk menutupi seragamku yang kacau agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi mereka yang melihatku termasuk teman temanku.


Sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi ingin sendirian, aku selalu ingin dikelilingi orang orang yang aku sayangi dan yang menyayangiku.


Karna papah yang dipindah tugaskan ke Rumah Sakit Negri yang ada di Jakarta dan mamah yang mendapat rekomendasi mengajar di Universitas Indonesia maka jadilah kami sekeluarga pindah ke Jakarta.


Dan ini pun ku jadikan sebagai kesempatan untukku melupakan masa lalu dan memulai semuanya dengan panggilan Mira.


Alih alih karna sering melihatku malas belajar dan lebih fokus pada handphone apalagi dengan bahasaku yang mulai mengikuti logat anak gaol Jakarta akhirnya aku dimasukkan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis Islamic. Mewajibkan aku berhijab karna papah juga takut aku melalaikan perintah-Nya dan melupakan kewajibanku terhadap-Nya, padahal tak pernah sekalipun aku melewatkan 5 waktuku untuk-Nya kecuali ketika menstruasi dan aku pun rutin melantunkan ayat demi ayat suci Al-Qur'an.


Meskipun aku telah berzina tapi bukankah Allah SWT akan mengampuni bagi mereka hamba-Nya yang telah bersungguh sungguh memohon ampun dan tidak akan pernah mengulanginya lagi.


Tapi eh tapi... bukannya makin lurus jalanku malah beralih jadi serba tikungan, tanjakan dan turunan. Tanpa sepengetahuan papa ku ternyata itu sekolah pelarian anak anak nakal.


Tapi senakal nakalnya aku, aku tidak pernah yang namanya mencoba obat obatan terlarang, mabuk ataupun merokok.


Nakalku hanya sekedar ingin diperhatikan, karna aku yang mulai lelah mencari perhatian melalui keteladananku akhirnya aku ingin mencoba dengan cara nakalku dan itu berhasil membuatku terkenal satu sekolah saat aku kelas 11 akuntansi 3.


Amira: "Pak Tukimaaan tolong bukain gerbangnyaaaa!" gue berteriak pada satpam penjaga gerbang sekolah gue, biasanya dia nurut nurut aja nah ini baru pertama kali dia ga dengerin gue yang dari tadi panggil panggil namanya.


Tukiman: "Ga ada Mira! kamu udah kebiasaan yah terlambat mulu, kemarin ngaku ngaku pemilik sekolah ini punya bapak kamu, trus ganti bapak kamu dokter jantung yang katanya bisa kapan aja nyopot jantung saya. Sekarang omonganmu ga akan mempan lagi udah cukup gaji saya dipotong mulu gara gara bukain gerbang buat kamu sekarang ga ada lagi bukain gerbang" katanya dengan membelakangi gue.


Amira: "Gue bilangin pak Cahyo ntar lo" ancam gue


Tukiman: "Emang pak Cahyo siapanya kamu?" dia mulai terlihat khawatir.


Amira: "Ya dia kepala sekolah gue lah masa iya pacar gue!"

__ADS_1


Tukiman: "Dasar WEDUS!!!"


Udah kangen sama tingkah konyolnya Amira Dwi Saraswati yah,, stay yah kencangkan otot otot perut kalian karna otak jahil author sudah mulai berjalan.


__ADS_2