
Tepat tiga hari sebelum acara akad antara gue dan Raka, gue benar benar dikurung didalam rumah tidak boleh keluar satu langkah pun dari pintu utama tanpa pengawasan emak gue yang dibantu adik terlaknat gue si petruk.
Gue yang sudah mengendap endap bagai maling ayam melewati setiap ruangan yang ada dilantai bawah dengan bola mata yang selalu mengawasi setiap pergerakan.
Ah! itu dia pintunya, ayo Mira sedikit lagi tinggal buka pintu terus lari lo bisa ketemu Raka batin gue masih mengendap endap.
Gue berjalan jinjit jinjit berusaha tidak mengeluarkan suara dan tangan kanan gue memegangi sepasang sandal selow. Saat gue sudah memegang knop pintu belakang rumah gue dan hendak memutarnya..
"Mau lari kemana kamu Amira Dwi Saraswati"
Gue langsung mematung, dan memejamkan mata karna merasa sudah ketahuan oleh sang nyonya rumah ini.
Amira: "Hehehe.. mamah.. ga lari kok mah ini cuma mau nutup pintu tadi sedikit terbuka takut nyamuk masuk" jawab gue cengengesan.
Mamah: "Nyamuk masuk?"
Mamah: "Jangan kebanyakan alasan! mamah tau kamu mau kabur kan?!"
Amira: "Adu.. du.du..duh mah! mah! Sakit mah" telinga kanan gue langsung dijewer tanpa ampun olehnya.
Mamah: "Makanya kamu jangan berusaha kabur mulu" jawabnya mulai melepaskan tarikannya pada telinga gue.
Amira: "Siapa yang mau kabur sih mah, Mira cuma mau ketemu Raka mah sebentaaaaaar aja" kata gue memohon belas kasihan emak gue.
Mamah: "Raka mulu deh, kamu ini lagi masa di pingit ga boleh ketemu calon suamimu sebelum hari H kata orang tua pamali, tau ga?!"
Amira: "Ya elah mah cuma sebentar juga"
Mamah: "Tetap ga boleh, kamu ini yah dibilangin susah banget. Jadi perempuan itu harus jual mahal sedikit dimana mana pria yang tidak sabar ingin ketemu calon istrinya ini malah kamu yang ngebet pengin ketemu Raka"
Amira: "PELIT ntar kuburannya sempit" kata gue memakai kembali sandal gue.
Mamah: "Masih bilang mamah pelit?! kamu belum puas liburan sama Raka kemarin di Jepang, Hah?! Jangan dikira mamah ga tau kamu ngebet pengin dihamilin sama Raka disana" gue mematung saat langkah pertama gue hendak meninggalkan emak gue yang masih nyerocos kaya bebek.
Dari mana emak gue tau tentang tragedi Jepang?
Raka? no no no no ga mungkin.
__ADS_1
Curut? Udah pasti!
Dasar Gigolo, awas aja lo ntar gue cincang juga lo.
Mamah: "Tahan dong Amira, kamu itu pihak wanita harus ada keanggunannya sedikit, nanti kalo kamu sudah sah menikah dengannya baru kamu borgol Raka sekalian biar tidak keluar rumah tidak tergoda dengan wanita lain"
Amira: "Ngomong apaan sih mah, gaje banget deh sampean" gue berjalan menuju tangga hendak masuk kamar tapi langkah gue terhenti dan balik melihat emak gue yang masih berdiri memperhatikan gue.
Amira: "O iya mah, mamah lihat ponsel aku ga, perasaan tadi lagi cas ko ga ada yh" kata gue bedanya pada emak gue.
"Hp lo? ini ada sama gue" kata seseorang dari lantai atas.
Amira: "Ko bisa sama lo? Sini balikin!" kata gue menodong pada Juna.
Arjuna: "Hp lo gue sita sampai lo SAH nikah sama kak Raka"
Amira: "Loh kok! itu ponsel gue Petruk siniin" kata gue mulai menaiki anak tangga.
Mamah: "Berhenti Amira! mamah yang suruh Juna ambil ponsel kamu, mamah dapat laporan dari mamihnya Raka katanya kamu setiap jam menit detik selalu berusaha menghubungi Raka"
Arjuna: "Iya ternyata betul nih mah, si Piton betina miscall kak Raka hari ini sudah 24 kali mah" Juna mulai mengotak atik ponsel gue.
Mamah: "Iya juga simpan ponselnya dulu sama kamu, dan kamu anak gadis nakal kamu harus bersiap siap nanti mamihnya Raka datang kesini mau ajak kamu pergi" kata emak mulai melangkah pergi dan Juna ikut kabur bersembunyi dikamarnya.
Amira: "Mah tunggu mah! Mira harus mengabari Raka" kata gue dengan menuruni anak tangga lagi.
Mamah: "Mau apa lagi sih Amira? mamah sudah bilang ga ya GA!"
Amira: "Harus mah! kan kalo nikah harus lapor ke KUA dulu untuk pendaftaran atau jangan jangan Mira disuruh nikah Sirih dulu yah?" dari pertanyaan gue emak gue malah tersenyum miring yang terlihat sangat menakutkan.
Mamah: "Kamu jangan repot repot, mamah dan mamihnya Raka sudah menyelesaikannya" masih dengan senyuman mengerikannya.
Amira: "Menyelesaikannya? maksud mamah?" Gue masih bingung bukannya harus gue dan Raka yang mengurusnya.
Mamah: "Mamah dan mamihnya Raka beralasan kamu kabur dari rumah karna tak kunjung mendapatkan restu, dan bilang bahwa kamu akan nekat kawin lari" jelasnya
Amira: "Kawin lari?" Gue masih tercengang dengan alasan yang baru dilontarkan oleh emak gue.
__ADS_1
Mamah: "Dan untungnya mamah kenal pengurus itu, terlebih dia adalah saudara sepupunya papihnya Raka om Adi. Jadi tidak perlu banyak alasan lagi"
Amira: "Tapi mah Mi..
Mamah: "Cukup Amira! sekarang kamu naik dan bersiap siap sebentar lagi Mamihnya Raka datang. Dan ingat jangan coba coba menghubungi Raka" kata mamah mengancam gue menggunakan jari telunjuk kanannya.
Tidak lama setelah gue naik menuju kamar untuk bersiap siap, gue sedikit mendengar suara gaduh dibawah. Gue putuskan untuk melihatnya setelah rapi menggunakan dress berlengan panjang dengan panjang rok sebatas betis dengan ikat pinggang kecil sedikit menghiasi.
"Masya Allah calon pengantinnya semakin cantik saja" puji tante Hana yang melihat gue menuruni anak tangga satu persatu.
Gue kira ada se Rt atau kampung dari mana membuat rumah gue rame, tapi nyatanya hanya terdapat dua ibu ibu yang sedang merumpi perihal acara akan yang akan berlangsung 3 hari lagi dirumah gue.
Setelah sampai dianak tangga terakhir gue berjalan mendekati tante Hana dan menyalaminya.
Cari perhatian sedikit sama mamah mertua batin gue.
Amira: "Tante mau ajak Mira kemana?" tanya gue.
Tante Hana: "Kata mamah kamu, kamu sekarang kurusan makanya tante mau ajak kamu coba gaun yang waktu itu kita fiting bersama, takutnya kebesaran kan ga lucu nanti saat acara resepsi" jelas tante Hana tentang tujuan kita.
Gue jadi inget dikala gue belum pergi ke Jepang gue sempat pergi dengan tante Hana kesebuah butik, awalnya gue kira itu cuma untuk mengukur baju biasa tapi ternyata untuk membuat sebuah gaun.
Diperjalan menuju butik itu, gue hanya diam duduk dibelakang dengan tante Hana di kursi penumpang yang dikendarai oleh supir pribadi keluarga Raka.
Tante Hana: "Amira sudah kangen banget yah sama Raka?" kata itu berhasil memecahkan kesunyian diantara kami berdua.
Amira: "Ah! ee.. tidak. ko tidak" jawab gue dengan menggelengkan kepala.
Tante Hana: "Yang beneeer? jangan malu malu Amira kaya sama siapa saja, tante ini sebentar lagi jadi mamihnya kamu juga"
Gue hanya cengengesan tidak berani menjawab meski gue tau tante Hana ini bukan tipikal mamah mertua sadis tapi tetap saja rasanya enggan.
Tante Hana: "Kamu beneran ga kangen Raka? tapi ko tante lihat di ponselnya Raka selalu ada panggilan dari Kurcaciku, itu kamu kaaan?" katanya lagi.
Jadi selama ini ponselnya Raka ada sama tante Hana, pantas saja batin gue menelan kenyataan yang menyedihkan.
Tante Hana: "Sangat disayangkan sekali bujangnya Mamih, dia merindu setengah mati sama calon istrinya tapi yang dirindukan tidak merindukannya" lanjut tante menggeleng kelas nampak terlihat sedih.
__ADS_1
Amira: "Mira kangen Raka kok tante, iya! Mira kangen sama Raka" gue yang menjawabnya dengan sungguh sungguh malah dihadiahi gelak tawa tante Hana yang cetar membahana dalam mobil yang kita naiki.
Tante: "Tante berharap kalian bahagia selamanya yah, tante percaya cuma Amira yang bisa membuat Raka bahagia seperti sekarang"