
Tiga hari telah berlalu dan gue masih belum juga contact an dengan Raka. Sepanjang hari, setiap jam menit dan detik gue selalu membawa ponsel gue kemanapun gue pergi termasuk kedalam toilet. Alih alih Raka menghubungi gue, tapi nyatanya dia tidak kunjung menghubungi gue. Padahal biasanya jika kita bertengkar karna sebuah masalah entah itu salah gue ataupun salah dia, tetap saja dia menghubungi gue dulu dan langsung meminta maaf.
Mungkin kesalahan kali ini yang telah gue perbuat benar benar fatal, mungkin Raka udah benci sama gue sampai tidak mau lagi menghubungi gue.
"Cowo mana Mira yang bakal tetap diam jika perasaannya terus terusan dipermainkan?"
"Jangan salahkan dia meninggalkanmu karna ketidak sempurnaanmu" lanjut gue berbicara pada diri gue sendiri.
Sesekali gue pandangi layar ponsel gue, tidak ada satupun pemberitahuan pesan whatsapp dari siapa pun yang ada hanya pemberitahuan cuaca hari ini yang menyatakan cerah tapi tidak secercah hati gue.
Gue terus terusan duduk di meja kerja gue yang berada di studio. Gue tiduran dengan posisi duduk, tangan gue menjadi tumpuan kepala gue diatas meja.
"Maafin gue Bangke, gue emang udah jahat sama lo" kata itu keluar sebelum gue memejamkan mata gue. Terlintas bayangan bayangan wajah Raka yang dulu selalu menghiasi hari hari gue.
Ting!
Gue buka mata gue lebar lebar mendengar nada pesan whatsapp masuk ke ponsel gue.
Raka! itu pasti dari Raka batin gue meyakini bahwa pesan itu dari seseorang yang saat ini sedang gue rindukan.
"Ko gue mencret yah?"
Satu kalimat yang tertulis di ponsel gue membuat gue terkejut keheranan.
Hah? Raka mencret?
Ga! Ga mungkin ini pesan dari Raka. Gue tau, cuma ada satu orang yang kurang kerjaan yang bakal kirimin gue pesan beginian. Dan benar saja saat gue baca nama yang tertera disana Gigolo.
Gue hembuskan nafas gue kasar, gue taruh kembali ponsel gue diatas meja tanpa berniat membalas pesan darinya.
Ting!
"Ko warnanya ijo yah?"
Gue mulai geram, bocah satu ini ga tau yah gue lagi ga mood buat bercanda. Akhirnya gue putuskan untuk membalas pesannya karna dia ga akan berhenti sampai puas, bisa bisa sepanjang hari ini gue terus di teror olehnya.
Amira: "Lo mending cari orang lain buat lo ajak gila gilaan gue lagi ga niat" send.
Ting!
"Gue maunya lo monyet!" jawabnya, dasar Curut! ya Gigolo itu adalah si Curut Angga.
Amira: "Gue sibuk Curut" sand.
Angga: "Sibuk mikirin Raka? atau sibuk merangkai kata?"
Apa maksud pesannya ini, apa Angga tau tentang rahasia gue? batin gue sebelum membalas pesannya.
Amira: "Maksud lo apaan? Lo tau tentang rahasia gue?" send.
Angga: "Apa sih yang gue ga tau tentang lo😊"
Serius Angga tau? dari mana dia tahu? batin gue mulai kelimpungan sendiri.
Angga: "Lo itu kalo tidur suka ngigo sendiri alias ngelindur, kalo ke toilet maunya closet jongkok ga mau closet duduk. Kalaupun adanya closet duduk lo akan tetap jongkok iya kan?"
Membaca pesannya membuat gue bergidik ngeri sendiri.
Amira: "Lo ko bisa tau?! Waaah lo suka ngintip gue buang hajat yah🤬?" send.
Angga: "Dari pada ngintip lo buang hajat mending sekalian ngintip lo mandi bisa lihat semuanya😬"
Dasar mesum!
Amira: "Dasar curut otak mesum" send.
Angga: "Peace✌"
Gue diam sesaat tidak membalas pesannya.
Apa gue minta saran sama Curut satu ini aja yah? Kadang dia bisa jadi pendengar setia dan tidak lupa memberikan petuah yang bagus diakhir batinku.
Amira: "Angga, menurut lo lebih baik jujur tapi ditinggalkan atau bohong tapi disayang?" send.
__ADS_1
Angga: "Sebelum lo tanya ke gue mending lo tanya ke diri lo sendiri dulu"
Amira: "Gue udah milih, tapi gue ragu" send.
Angga: "Jadi gini ya Amira.. percuma lo bahagia dan mendapatkan kasih sayang tapi pada dasarnya itu semua adalah kebohongan. Tapi beda halnya dengan lo berkata jujur, meski lo merasakan sakit saat menyampaikannya tapi untuk berikutnya lo akan plong alis lega"
pesannya menjelaskan apa yang gue bingungkan selama ini.
Angga: "Dan inget satu hal Mira, serapat rapatnya orang menyimpan kebohongan pasti akan ketahuan juga" pesannya lagi yang membuat gue semakin yakin dengan keputusan gue sekarang.
Karna berhasil mendapat petuah dari Curut, gue bulatkan tekad untuk memberi tahu Raka alasan yang sebenarnya gue menolak lamarannya terus menerus.
"Gue harus ketemu Raka sekarang juga, gue harus ngomong" kata gue dengan mengemas tas gue hendak pergi kerumah Raka karna ini sudah sore, pasti dia sudah pulang dari kantornya.
Setibanya di rumahnya, gue dikecewakan dengan Raka yang tidak berada dirumah.
Amira: "Raka kemana memangnya tante?" tanya gue pada tante Hana.
Tante Hana: "Loh kamu ga tau? dasar anak itu memang main pergi pergi ga kasih tau calon mantu Mamih dulu" kata tante Hana dengan mengepalkan tangan kanannya.
Tante Hana: "Raka pergi ke Jogja Amira sejak kemarin" jelasnya memberi tahu keberadaan Raka sekarang.
Jogja?
Ada urusan apa Raka ke Jogja? Apa tentang perusahaan?
Amira: "Kira kira kapan pulang yah tante?"
Tante Hana: "Besok Raka sudah pulang ko, kamu kangen yah sama dia?" godanya.
Amira: "Oh begitu ya tante, ya sudah Mira pamit pulang yah tante" pamit gue hendak meninggalkan rumah Raka.
Tante Hana: "Loh loh loh.. Amira ikut Mamih yah?" katanya menahan tangan gue.
Amira: "Kemana tante?" tanya gue.
Tante Hana: "Ikut saja"
Hari berikutnya gue pun berusaha menemui Raka kembali, gue mendapat info dari tante Hana bahwa Raka hari ini pergi ke kantor jadi gue langsung tancap gas pol menuju perusahaannya.
Rani: "Maaf mbak Amira, pak Raka sedang keluar sepertinya beliau makan siang diluar" kata mbak mbak resepsionis di perusahaanya Raka.
Amira: "Ya sudah saya tunggu mbak" kata gue dan berjalan menuju sofa yang sudah tersedia dilobi.
Hampir 2 jam gue menunggu kedatangan Raka, gue selalu pandangi pintu kaca itu yang sedari tadi hanya di lewati oleh para karyawan yang bekerja disini. Jam tangan gue sudah menunjukan pukul 13:40 WIB dan jam kerja kantor sudah mulai normal.
"Kenapa Raka belum balik kantor juga?"
"Apa dia ada meeting diluar?" gumam gue yang masih duduk sendiri.
Ting!
Sebuah pesan Whatsapp masuk ke ponsel gue.
Gue buka aplikasi Whatsapp, nomor yang tidak dikenal.
Siapa?
"Datanglah ke cafe Unggul aku memiliki kejutan untukmu, jika kamu tidak datang takutnya kamu akan menyesal"
"Maksudnya apaan? Ah paling juga cuma orang iseng kurang kerjaan" gue pun hanya membacanya tanpa ada niatan untuk membalas ataupun meladeninya.
Ting!
Sebuah pesan dari nomor yang sama mengirimkan sebuah foto yang terdapat 2 insan manusia sedang berharap hadapan disebuah cafe yang terlihat begitu romantis.
"Raka?" ya salah satu orang itu adalah Raka cowo gue, dan di hadapannya adalah seorang wanita yang ga akan pernah gue lupakan.
"Viviana?"
Melihat foto itu gue langsung on the way menuju cafe yang sudah diberi petunjuk oleh orang yang gue ga kenal itu siapa. Gue ga mau salah paham tentang Raka hanya karna sebuah foto oleh karna itu gue memutuskan untuk melihatnya sendiri.
Dan benar saja dia adalah Raka dan Viviana, cewe yang dulu menjadi pujaannya Raka sampai Raka hampir bunuh diri.
__ADS_1
"Sedang apa mereka berduaan ditempat romantis seperti ini? Ga mungkin Raka balikkan sama Viviana kan? Diakan udah menikah dari kabar yang gue denger" kata gue yang masih diluar cafe karna bisa melihat mereka yang duduk di dekat kaca.
Saat gue baru saja masuk dan hendak mendekati mereka. Langkah gue terhenti, nafas gue memudar dan entah mengapa dada gue merasa sangat sesak, sesak sekali hingga akhirnya gue ga tahan lagi untuk membendung cairan bening yang berada di mata gue. Gue meneteskan air mata disitu, tapi gue belum mau beranjak pergi gue ingin tahu yang lebih lanjut, gue masih takut kalo gue hanya akan salah paham terhadap Raka kalo gue melihatnya dengan setengah setengah.
Gue terus mengamati mereka dari jarak yang cukup lumayan dekat, tapi diantara mereka tidak ada sebuah perbincangan sama sekali dan itu membuat gue semakin bingung. Dan seketika jawaban yang gue cari sudah jelas terpampang didepan mata gue.
"Baiklah sepertinya sudah jelas, tidak perlu dilanjutkan lagi Mira nantinya hanya akan membuat lo semakin merasakan sesak didada lo" kata gue pada diri gue sendiri dan beranjak meninggalkan cafe itu.
Tapi belum sepenuhnya gue meninggalkan cafe itu, gue lihat kembali kearah meraka alih alih tadi gue salah lihat. Tapi pada kenyataanya itu masih sama, Raka dengan eratnya memeluk Viviana didepan umum tanpa adanya rasa malu. Mungkin memang benar kata kak Ilham kala itu waktu berdebat dengan gue dirumah.
"Kamu itu hanya pelampiasan perasaanya saja Ira, dia tidak betul betul mencintai kamu...
Sepulangnya gue kerumah, gue langsung menuju kamar gue membereskan baju baju gue kedalam koper yang tidak terlalu besar.
Gue ambil ponsel gue, gue cari satu nama di contact ponsel gue "Dim dim".
"Ya hallo mbak Mira? Kenapa?" jawab seseorang dari seberang sana.
Amira: "Dimas gue nitip studio untuk beberapa hari yah, gue mau pergi" kata gue menjelaskan pada Dimas.
Dimas: "Pergi? pergi kemana mbak?" tanyanya yang mulai kepo.
Amira: "Ga usah kebanyakan tanya"
Dimas: "Berapa lama mbak?"
Amira: "Waktunya belum tau sampai kapan, tapi intinya gue nitip yah? dan inget kalo ada yang nanya tentang gue lo jawab aja ga tau" jelas gue.
Gue ga tau bakal sampai kapan pelarian ini, tapi yang jelas untuk saat ini gue bener bener butuh ketenangan tanpa adanya Raka atau orang orang yang berhubungan dengannya.
"Gue harus pergi!"
"Gue belum siap lihat Raka dengan cewe lain" kata gue sembari mengangkat koper hendak keluar kamar.
"Tapi tunggu gue juga harus ganti baju, masa iya gue pergi pake baju kaya berandalan gini" umpat gue pada diri gue sendiri.
Setelah berpamitan pada papah mamah akhirnya gue pun pergi dari rumah tanpa memberi tau tujuan kepergian gue dan juga alasan kepergian gue.
Awalnya emak melarang keras, bertubi tubi gue harus mendengarkan pertanyaanya yang ga ada satupun yang gue jawab. Gue hanya diam dan terus meminta agar mereka mengizinkan gue untuk pergi beberapa waktu.
Akhirnya karna kemurahan hari papah, gue sekarang sudah berada di Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Kebodohan gue yang kabur tanpa membawa persiapan sebelumnya membuat gue plonga plongo sendiri di Bandara karna jam terbang gue yang masih 6 jam lagi.
"Miraaaaa Mira! Lo kalo bego jangan dipelihara napa?" kata gue dengan menonyol kepala gue sendiri.
Setelah melewati waktu tujuh setengah jam akhirnya gue sampai di tujuan gue. Tempat pertama kali yang terlintas diotak gue saat gue berniat melupakan perasaan gue ke Raka.
Gue ambil ponsel gue yang baru gue beli karna ponsel yang lama sengaja gue tinggal di rumah, gue cari nama seseorang yang menjadi alasan gue datang ketempat ini.
"Kon'nichiwa, daredetsuka? Mõshiwakearimasenga, Sãbisu no chūmon wa uketsukete imasen" (Hallo ini siapa yah? Maaf saya sedang tidak menerima pemesanan service) sapanya membuat mata gue terbelalak. Disini gue sedikit bisa berbahasa Jepang.
Amira: "Iki kulo Mira kancane panjenengane sampean Curut" ( Ini aku Mira temennya kamu Curut) jawab gue dengan menggunakan bahasa jawa.
Curut? kalian pasti tau lah siapa dia.
Angga: "Laah Mira tooh, ono opo?!"
Amira: "Gue mau nagih janji lo Curut" sahut gue yang tengah duduk di salah satu kursi bandara.
Angga: "Janji apaan?" tanyanya masih bingung.
Amira: "Janji yang katanya lo siap bantuin gue kapan pun gue butuh" jelas gue mengingatkannya.
Angga: "Ooh yang itu, lo mau minta bantuan apaan?"
Amira: "Jemput gue sekarang"
Angga: "Otak lo geser lagi yah? Gue ini lagi di Osaka Jepang Monyet bukan di Jakarta!" katanya sedikit berteriak.
Amira: "Gue juga tau Curut yang super bego!" jawab gue ga kalah berteriak. Dan karna itu pula para pengunjung lain semua melihat kearah gue yang berteriak sendiri kaya orang gila.
Angga: "Lah teruuus? situ udah tau ngapa minta di jemput?"
__ADS_1
Amira: "Ya karna gue sekarang lagi di Jepang!"