
Setelah sampai di mansion keluarga Angga, Curut tidak banyak bertanya perihal kedatangan gue yang tiba tiba. Dia lebih banyak mengobrol dengan gue mengenai perusahaanya yang mulai melebarkan sayapnya di negri sakura Jepang.
Angga: "Gimana? Hebat kan gue sekarang?"
Amira: "Hmmm" gue hanya menanggapinya dengan berdehem asem karna gue tidak ingin menambah dia melambung tinggi karna mendapat pujian dari gue.
Amira: "Iya lo hebat! hebat banget Curut, saking hebatnya lo bisa nutupin pekerjaan utama lo dari keluarga lo sama pandangan dunia tentang lo dengan menyamar menjadi seorang pengusaha muda" kata gue dengan bertepuk tangan pelan dan menggeleng gelengkan kepala seperti tak percaya.
Angga: "Hehehe.. yang itu jangan bilang sapa sapa yak?" jawabnya dengan cengengesan.
Gue sunggingkan senyuman horor gue dan menodongkan tangan gue padanya.
Angga: "Apaan maksudnya ini?"
Amira: "Uang tutup mulut" kata gue dengan menarik turunkan kedua alis gue.
Angga: "Bener bener loh yah.. temen macam apa lo ini Monyet! Gue udah izinin lo nginep disini dengan percuma harusnya lo udah bersyukur. Ini bocah dikasih hati malah minta jantung" katanya dengan menabok tangan gue.
Amira: "Loh kan situ yang janji mau nolongin gue kapanpun gue butuh, kalo soal pekerjaan lo yang itu yaaa beda lagi lah"
Amira: "Udah mana sini sini, dari pada bocor lo mau gue sebarin biar kaga ada yang mau nikah sama lo Curut?!" lanjut gue menodong lagi dengan sedikit mengancamnya agar mau berbagi duit dikit.
Angga: "Ya kalo ga ada yang mau nikah sama gue gara gara lo yaaaa... lo harus nikah sama gue, gampang kan?" katanya dengan mengedipkan sebelah matanya.
Sumpah disini gue pengin banget nampol muka Curut satu ini yang sedang duduk disamping gue.
Amira: "Nenek lo salto! OGAH!!!!"
PROV Raka Wijaya
"Gue ga tau mas Raka, SUMPAH! gue bener bener super bener ga tau mbak Mira pergi kemana" kata Dimas setelah gue mendaratkan pukulan di pipinya karna sedari tadi aku bertanya perihal keberadaan wanitaku dia menjawabnya dengan bertele tele membuat emosiku naik pitam.
Raka: "Kapan terakhir Mira hubungin lo, ga mungkinkan lo main ambil alih kendali studio sementara jika bukan disuruh olehnya"
Dimas: "Eeeee.. soal ituu..
Raka: "Lo pengin gue hajar lagi?" tanganku dengan mengepalkan tangan di hadapannya.
Dimas: "Eh ga mas ga! terakhir mba Mira hubungin gue 2 hari yang lalu mas, tapi gue beneran ga tau mbak Mira pergi kemana. Dia juga ga bilang kapan tepatnya dia bakal balik lagi ke studio"
Karna tidak mendapatkan jawaban yang aku harapkan, jalan satu satunya yaitu datang langsung kerumah Amira.
Dan benar adanya dia memang benar benar tidak ada di rumah.
Raka: "Kira kira Mira pergi kemana ya om" tanyaku pada om Agus papanya Amira.
Om Agus: "Om tidak tau sama sekali Raka, Amira tidak memberitahukan keberadaannya sekarang bahkan saat berpamitanpun tidak memeberitahu tujuan kepergiannya"
__ADS_1
Raka: "Begitu ya om, Raka udah hubungin Amira dari kemarin tapi nomornya selalu tidak aktif" jelasku dengan wajah murung.
Om Agus: "Kalian lagi ada masalah?"
Raka: "Hanya masalah kecil ko om, aku khawatir tentang Mira. Apa dia sekarang baik baik aja disana, bagaimana kalo dia...
Om Agus: "Amira baik baik saja ko Raka kamu tenang yah" kata papanya Amira menenangkan hatiku yang sudah gusar sejak kemarin Mamih bilang Amira datang kerumah karna mencariku.
Raka: "Dari mana om tau? Apa Mira menghubungi om?"
Om Agus: "Iya. Amira mengirim email pada om bahwa dia sudah sampai tempat tujuannya"
Raka: "Apa Mira tetap tidak memberitahu tempatnya dia sekarang berada?" tanyaku gelisah.
Om Agus: "Tidak, om sudah berkali kali bertanya tapi dia hanya menjawab bahwa dia membutuhkan ketenangan" jelas om Agus diakhir perbincangan kami berdua hingga akhirnya aku memutuskan untuk berpamitan padanya.
"Kamu kemana Kurcaci? aku merindukan mu"
Pikiranku berkeliaran membayangkan semua tingkah aneh wanitaku dulu, begitu penuh intrik saat menghadapi malam minggunya.
"Aku ga bisa tanpa mu, rasanya begitu hampa Kurcaci" ku bentar benturkan kepala belakangku pada jok mobil yang sedang kududuki.
Ku keluarkan ponselku di saku celana ku, disaat seperti ini hanya ada satu nama yang dapat membantu ketenangan hatiku.
Amira Dwi Saraswati
Angga: "Mau kemana Monyet! udah sore"
Amira: "Kyoto! yuk temen gue" kata gue makin antusias.
Angga: "Pala Lo peang! jauh itu Monyet sejam perjalanan naik mobil. Gue ogah ya nyupir lama lama gitu" tolaknya membuat gue kecewa.
Amira: "Ya udah gue yang nyupir deh ya! ya ya ya ya?" Gue masih berusaha membujuknya agar mau menemani gue.
Angga: "Lo yang nyupir? Gue makin OGAH! bisa bisa pulang gue tinggal nama, lagian mau ngapain sih ke Kyoto?" Lo punya temen disana?"
Gue hanya menggeleng, jelas lah gue cuma kenal Angga di negaranya Naruto dan kawan kawan ninjanya.
Angga: "Lah teruuus?"
Amira: "Gue pengin lihat bunga sakura" kata gue dengan ekspresi super senang.
GUBRAAAK
Amira: "Lo napa Ngga? Lo pingsan?"
Angga: "Kaga gue cuma lagi merutuki nasib gue punya temen sebego lo Monyet" katanya sambil memegangi kepalanya.
__ADS_1
Amira: "Lah napa?" tanya gue masih bingung.
Angga: "Lah napa GUMDULMU! lo ga lihat kalender sekarang bulan apa?!"
Amira: "Tauu.. Sekarang bulan Oktober terus apa masalahnya?" tanya gue polos.
Angga: "Masalahnya otak lo somplak Monyeeet! Mana ada bunga sakura dibulan Oktober, sekarang itu musim gugur bukan musim semi" jelasnya menjintak kepala gue.
Amira: "Owalah dalaah... lah iya yak, ko gue bisa lupa" kata gue menepuk jidat sendiri.
Gue diam sesaat dan kembali tersenyum mengingat perkataan Curut satu ini tadi.
Amira: "Ya udah ayok kita tetep ke Kyoto, kan di Kyoto kalo musim gugur ada daun merah merah yang pada jatuh itu loh Ngga"
Angga: "Ya Allah cobaan macam apa ini Tuhan, ku minta agar Engkau mengirimkan bidadari pada hampa tapi mengapa Kau mengirimkan IBLIS penjaga neraka ini yang berwujud monyet" katanya dengan menengadahkan kedua tanyanya dengan wajah yang menghadap keatas.
Amira: "Jangan kebanyakan drama deh, ini Jepang bukan Korea Curut!" kata gue menarik paksa kearah bajunya.
Angga: "Iya iya Monyet! lepas dulu tangamu ntar dikira pembantu rumah gue, gue lagi di intimidasi sama teman cewe sendiri kan malu gue"
Ting!
Saat aku hendak melepasnya tiba tiba ponsel Angga berbunyi, membuat dia berhenti melangkah dan merogoh ponselnya di celana yang dikenakannya.
Sesaat dia diam dan melihat kearahku kemudian dia menyimpan kembali ponselnya.
Angga: "Gue kayanya ga bisa temenin lo ke Kyoto deh Nyet"
Amira: "Lah kenapa? tadi lo kan setuju neminin gue pergi, kalo cuma di sini gue boring Ngga"
Angga: "Ya udah lo boleh pergi bawa mobil gue, terserah lo mau tabrakin juga ga masalah" katanya mengibas ngibaskan tangannya seolah mengusir gue dari hadapannya.
Amira: "Ya udah gue minta duit" kata gue dengan menodongkan tangan padanya.
Angga: "Laaah situ ngapa minta duit ke gue lagi, gue bukan laki lo, tunangan lo dan bukan pacar lo"
Amira: "BODO! minta duit pokoknya kan lo ga jadi nemenin gue pergi" kata gue masih ngotot nodong ke arahnya.
Angga: "Ko lo jadi matre gini sih Nyet? Studio bangkrut apa gimana?" tanyanya merogoh saku celana belakangnya.
Amira: "Bukannya matre Curut, ini namanya memanfaatkan peluang" kata gue cekikikan setelah mendapat uang darinya.
Angga: "Loh! lo ngapain naik lagi?" tanyanya melihat gue naik tangga hendak menuju kamar.
Amira: "Gue ga jadi pergi deh, Males enakan dirumah lo makanannya banyak"
Angga: "Dasar Monyet sialan, balikin duit gue woi" teriaknya saat gue melarikan diri keatas.
__ADS_1