Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
Ayam?


__ADS_3




"Viviana... mulai saat ini lo gue TALAK"


kalimat itu terdengar jelas diindra pendengaran gue yang kadang budeg ini. Ya selain dijuluki IBLIS, piton betina gue juga biasa dipanggil bolot dan masih banyak lagi sebutan sebutan yang bahkan diluar nalar manusia.





Sungguh hari itu menjadi hal yang gue harap ga akan pernah diingat Raka lagi dalam hidupnya. Ya walaupun dia sudah Sah menikah tapi itu hanya dalam agama belum negara, karna mereka belum sempat tanda tangan dan penghulu pun diberi tahu bahwa pernikahan ini dibatalkan.



Ya bisa dibilang juga gue ini pacaran sama duda rasa perjaka. Dan semenjak pacaran sama gue, dia berubah jadi cowo yang lebih posesif ya walau tanpa romantis. Tapi tetap pengertian dan peka terhadap keadaan gue terutama kerjaan gue. Hanya satu permasalahannya, yaitu saat dia selalu nuntut ngajak jalan.



"Heii!" Sebuah tangan kekar menyentuh bahu gue, sontak itu membuat gue terkejut dari lamunan gue tentang kejadian 4th silam. Raka, ya dia Raka pacar gue yang tamvan tentunya



Amira: "Eh iyaa?" Gue bisa merasa kalau gue ini lagi ngomong pake ekspresi polos ala bocah SD



Raka: "Mikirin apaan?"


__ADS_1


Amira: "Gak, ini ayamnya ngajak jalan"



What? Gue barusan ngomong apaan!



Raka: "Haah?!" ekspresi terkejut nampak jelas disana.



Amira: "Eh maksudnya ayamnya minta dimakan" sembari gue menunjuk ayam goreng yang ada di piring gue.



Papih: "Benarkah? Apa ayamnya bisa bicara?" Om Adi mengamati ayam gorengnya dari berbagai sisi.




Mamih: "Hai ayam, apa kamu sudah siap Mamih makan? Atau mau ngajak jalan calon mantu mamih dulu?" ledek tante Hana dengan lirikan menggodanya terhadap gue.





Gue menoleh pria yang duduk disamping gue, dia memang tidak bicara tapi gue bisa melihat dia menahan tawanya dengan sedikit menutup wajah sebelah kirinya.



Gue kira itu sudah berhenti disitu, di meja makan nyatanya tidak. Saat gue diantar pulang Raka, sepanjang jalan gue hanya bisa mendengar gelak tawa dari Raka yang lama lama bikin mood gue berpindah ke mode bete kesel bin mangkel.

__ADS_1



Amira: "Stop Raka! ga lucu!" Gue bentak dia mengeluarkan segala emosi gue yang tertahan sedari tadi.



Raka: "Oh iya kurcaci maaf maaf"



Gue hembuskan nafas kasar berharap bisa menghilangkan segala nasib buruk atau hal hal yang bakal mempermalukan gue lagi nantinya.



"Ppffftt..." Ok, gue bener bener mulai terpancing.



Amira: "Raka!!!"



Raka: "Sayang? Apa ayam itu lebih tampan dari priamu ini? Apa aku masih kurang baik dari ayam itu? Apa ayam itu begitu mencintaimu? Apa kamu lebih memilih ayam itu? Apa kam...



Amira: "Stop Raka stop!!!"


Ingin rasanya gue menyewa pintu ajaibnya doraemon, atau belajar kamui ala Hatake Kakashi di anime Naruto yang sering gue tonton di sore hari buat menghilang dari pria yang menjabat menjadi kekasih gue ini.



Gue itu mikirin Raka tapi ngapa ni mulut malah ngucap ayam? Tuh ayam ga tau diri banget muncul gitu aja namanya dimulut manis gue. Haduh nih mulut juga ngapa harus ngucapnya ayam, terkutuklah mulut gue ini.


__ADS_1



__ADS_2