Wanita Yang Tak "SEMPURNA"

Wanita Yang Tak "SEMPURNA"
BAHAGIA


__ADS_3

Amira Dwi Saraswati


Selesainya gue dengan ritual ala mandi pengantin mau malam pertamaan, gue semprot minyak wangi disetiap tubuh gue sekalian pake lotion biar licin waktu di grepe grepe sama suami tercinta.


Gue tarik nafas dalam dalam tidak lupa pastinya untuk membuangnya, menyiapkan diri dengan pikiran yang sedari tadi sudah berkelana tentang begitu perkaranya Raka nanti.


Pelan pelan gue buka pintu kamar mandi, gue sedikit mengintip melihat kondisi diluar sana.


Dan betapa terkejutnya gue mendapati Raka yang sedang berbaring di ranjang dengan mata tertutup dan nafas yang teratur.


Amira: "Loh! yaaah yang mau di service malah udah berjalan kealam mimpi" gumam gue melihat Raka yang sudah tidur dengan salah satu tangan menjadi bantalan kepalanya.


Aku tutup kembali pintu kamar mandi, dan memakai piyama tidurku. Dalam hati gue terus merutuki author dengan sumpah serapah gue karna tidak berbaik hati kaya dinovel novel yang lain dimana pengantin wanitanya langsung disambut hangat oleh suaminya untuk main kuda kudaan.


Gue terus mendengus kesal disetiap langkah gue menuju ranjang hendak ikut berbaring disebelah Raka.


Amira: "Iiiih, malam pengantin macam apa ini tidak ada asik asiknya sama sekali" kataku terus bergumam dan kakiku menendang nendang kasur saat sudah berbaring disebelah Raka.


Amira: "Huh! tidak ada bedanya menjadi pengantin baru sama menjadi wanita gadis. Tidur sama suami atau sendiri sama saja malah enak tidur sendiri luas ga perlu berbagi ranjang begini"


Amira: "Ih! sebel sebel sebel" gue terus ngomel sendiri sambil menggigiti selimut tebal yang sedang gue pakai.


Amira: "Awas aja ya kalo besok malam Raka minta jatah, ga bakal gue kasih. Bodo amat!" gue langsung memiringkan tubuh gue membelakangi Raka yang mungkin sudah sampai negri China.


Ini kenapa jadi gue yang ngebet pengin dikawinin yah? dimana mana kan lakinya yang ga sabaran ini kenapa malah gue yang jadi pihak cewe batin gue mulai terheran heran.


"Tidur jangan mempunggungi suami, dosa"


Loh! Raka belum tidur?


Gue balik badan melihat kearahnya, tapi matanya masih terpejam, Oh paling dia ngigo kali.


Wajah gue mendekat kearahnya wajahnya memperhatikan setiap inci kesempurnaan wajah tampannya.


Mengusap lembut pipinya, lalu gue hendak mencium bibir tebalnya yang menggoda.


Raka: "Kamu udah kepingin banget ya Ra?"


Amira: "Eh! kamu belum tidur?" tanya gue salah tingkah.


Raka: "Bagaimana aku bisa tidur jika istriku ini bergumam terus sambil menendang nendang kasur" katanya masih memejamkan matanya.


Amira: "Jadi kamu dengar tadi aku..


Raka: "Ya! suami mu ini mendengar semuanya tanpa terkecuali" jawabnya lalu membuka matanya melihat kearah gue.


Aduh malunya gue tadi udah ngedumel sendiri tentang suami eh malah ketahuan sama orangnya.


Amira: "Jadi bagaimana?" tanya gue penuh maksud terselubung.


Raka: "Bagaimana apanya?" Raka malah baling bertanya padaku.


Amira: Dasar suami ga peka! udah deh aku mau tidur" gue menimpalinya karna bete.


Raka: "Ya sudah ayo"

__ADS_1


Amira: "Hah?! serius?" tanya gue bangkit lagi dari tidur dengan bunga bunga.


Raka: "Ya iya lah masa iya bohongan, memangnya ada tidur bohongan? ayo tidur"


Dasar! memang kaga peka ini suami gue, terlalu berharap lo Mira sama suami kaku macam Raka begini batin gue jengkel.


Gue langsung aja membanting kepala gue ke bantal dengan penuh kesal lalu memunggunginya lagi.


Raka: "Kamu marah?" tanyanya polos memegang bahuku.


Amira: "Au ahh, mau tidur!" jawab gue cuek.


Gue yang sudah terlanjur kesel bin mangkel memutuskan memunggunginya, terserah deh mau dibilang istri durhaka juga. Lagian Raka kenapa ga minta jatah malam pertamanya sih kan gue udah berharap dari tadi siang waktu gue belai belai dadanya.


CUP


Sebuah ciuman mendarat di pipi kanan gue, lalu dengan eratnya sebuah tangan memeluk perut gue yang tersembunyi dibalik selimut tebal.


Raka: "Maaf" satu kata yang terdengar dari bisikan yang membuat gue merinding dan langsung ingin menerkam Raka saat ini juga.


Amira: "Huh! Mana yang dulu waktu pacaran bilang ga akan membiarkan aku tidur? dasar bulsit!"


Raka: "Memangnya kamu ga cape apa seharian ini, kamu bahkan lebih letih dari aku kan?"


Amira: "Namanya juga kewajiban mau cape, letih ataupun lunglai sekalian kalo suami minta ya harus dikasih. Wajib di layani kalo ga dosa kan?" gue mencari alasan yang patut padahal sebenernya gue yang udah ngebet kepengin di ini itu dan anu.


Raka: "Masya Allah... istri sholehah banget sih ini istriku, gimana nanti kalo aku tambah cinta?" katanya dengan membalikkan tubuh gue menghadapnya.


Amira: "Iya bagus dong kalo tambah cinta, kamu harus banyak banyak bersyukur punya istri kaya aku Raka" kata gue menyombongkan diri.


Raka: "Iya aku bersyukur ko, sangat bersyukur memiliki istri sepertimu" katanya lalu membawa gue dalam dekapannya.


Raka: "Untuk apa?" tanyanya mengelus kepala gue lembut.


Amira: "Untuk tidak kesempurnaaanku menjadi istrimu" kataku sedih dalam pelukannya.


Raka menarik dagu gue agar melihat wajahnya, menatap matanya yang penuh dengan pandangan lembut membuat gue terbuai.


Raka: "Kita jatuh cinta bukan karna menemukan orang yang sempurna melainkan karna melihat kesempurnaan pada orang yang tak sempurna"


Amira: "Tapi tetap saja, pada intinya aku tidak sempurna dan aku tidak bisa menjadikanmu yang pertama" gue terus merasa bersalah padanya karna kekurangan gue.


Raka: "Lupakan.. jangan pernah dibahas lagi"


Entah mengapa hari ini bukan hanya Raka yang sensitif, tapi gue juga. Mendengar penuturan Raka yang seolah tidak terjadi apa apa membuat gue semakin merasa bersalah padanya.


Amira: "Maaf.. hiks.. Maafin aku, aku bener bener minta maaf hiks.. hiks.." tangisku memeluknya erat.


Raka: "Hei hei hei.. kenapa kamu menangis sayang? sudah ya sudah" dia berusaha menenangkan gue dengan menyeka air mata gue.


Raka: "Pertama kali meminta maaf adalah yang berani, pertama kali memaafkan adalah yang kuat dan yang pertama kali melupakan adalah yang paling bahagia. Dan sekarang aku sudah paling bahagia karna telah melupakannya, jadi kita jangan bahas ini lagi ya agar aku juga terus bahagia karna telah melupakannya"


Amira: "Benarkah?"


Raka: "Tentu saja istriku tersayang"

__ADS_1


Raka: "Oh! hampir saja aku terlupa" dia melepas pelukannya lalu bangkit dari ranjang menuju lemari pakaiannya.


Amira: "Lupa apa? Kamu cari apa Bangke?" tanyaku terus melihat Raka yang sedang mencari sesuatu.


Raka: "Ayolah sayang berhenti panggil aku dengan sebutan itu, bagaimana jika nanti kamu terbiasa memanggilku seperti itu sampai kita punya anak? aku tidak mau yah anak kita nanti memanggilku dengan sebutan Bangke bukan papah atau ayah"


Anak?


Jadi Raka sudah berencana ingin cepat punya anak?


Ok gue siap melakukannya kapanpun suami gue minta, mau berapa ronde aja gue jabanin daah.


Amira: "Apa itu yang kamu sembunyikan dibalik telapak tangan kamu? coba aku mau lihat"


Raka: "Sabar dong.. siniin dulu tangan kanan kamu"


Amira: "Mau diapain?" tanya gue kepo.


Raka: "Udah nurut aja kenapa sih"


Gue pun menurut apa katanya, ya kalo diapa apain juga ga masalah kan yaaah? kan udah sah.


Raka: "Ini adalah cincin pernikahan kita, jangan sampai dilepas atau hilang yah. Aku tidak akan mentolerir untuk maslah cincin ini" dia menyelipkan cincin dijari manis tangan kanan gue.


Amira: "Loh ini!" gue terkejut melihat cincin yang tidak seperti cincin pada umumnya.


Raka: "Aku memesannya langsung waktu aku ke Jogja, itu sangat spesial jadi jangan sampai kamu merusaknya apalagi menghilangkannya atau aku akan benar benar marah padamu Mira"


Amira: "Kamu tau aku menyukai hal hal semacam ini?" tanyaku heran padanya.


Raka: "Aku ini sekarang suami mu, dan kita sudah pacaran lebih dari dua tahun jelas aku mengenalmu dengan segala keanehanmu"


Amira: "Jadi aku ini dimatamu aneh?"


Raka: "Ya! kamu aneh bin ajaib tapi aku cinta"


Ya ampun Raka ko jadi jago bikin gue melayang kaya layang layang sih kalo gue khilaf gimana batin gue.


Raka: "Aku sangat mencintaimu sekarang, dan aku akan selalu berusaha agar tetap mencintaimu sampai maut memisahkan kita dan aku berharap Syurga menjadi tempat pertemuan kita kembali"


Masya Allah


Bukan hanya mendapat suami tampan menawan, gue juga dikaruniai seorang suami yang Insya Allah akan menuntun gue menuju jalan-Nya yang sesungguhnya.


Gue pandangi cincin yang bertengger dijari manis gue dengan seksama, memperhatikan setiap detail yang terukir dengan indahnya.


Seuntai ukiran menggunakan tulisan Jawa kuno atau yang sering dikenal dengan Aksara Jawa menjadi hal yang mendominan meski tanpa adanya permata yang menghiasi.


Mungkin harganya bahkan tidak seberapa dengan cincin pertunangan atau gaun pengantin yang gue kenakan tadi di acara. Tapi dilihat dari makna ukiran itu membuat gue bangga sekaligus terharu secara bersamaan.


Sebuah cincin emas putih yang sederhana menjadi bukti paten bahwa gue sekarang telah menjadi istri sah dari Raka Wijaya.


Sebuah cincin yang mengukir sebuah nama yang begitu membuat gue jungkir balik karna kegirangan.


Sebuah cincin yang memiliki 3 kata dalam tulisan Jawa kuno yang memiliki arti...

__ADS_1


AMIRA DWI WIJAYA


END..


__ADS_2