Wedding Maze

Wedding Maze
WM-9 |DAY MINUS THREE-28|


__ADS_3

Snow menarik selimut dan meraih ponselnya, mengetik pesan singkat untuk ia kirim kepada Winter. Tak dapat Snow pungkiri jika hatinya berdenyut sakit saat ini.


^^^Airnya sudah siap. Kakak bisa mandi sekarang, dan biarkan saja dapurnya berantakan. Besok aku akan membersihkan semuanya.^^^


^^^Aku tidur.^^^


Pemberian singkat yang tentu saja menurut Snow tidak lagi membutuhkan penjelasan atau tanya jawab apapun. Akan tetapi, bukan Winter namanya jika membiarkan gadis bernama Snow itu tidur nyenyak begitu saja setelah dia dengan suka rela mencuci semua perlengkapan masak yang mungkin besok pagi sudah ia kirim ke museum. Teflon yang gosong, panci yang berkerak, hingga spatula yang juga sedikit lengket. Belum lagi barang-barang kecil lain seperti sendok, mangkuk plastik, dan kawan-kawan nya yang berserakan diatas meja didekat kompor. Winter tak menyukai hal tersebut. Winter suka dan mencintai kebersihan didalam rumahnya, atau di manapun ia berada.


Pintu kamar dibuka hingga menimbulkan derit lembut. Winter berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang—tentu saja lengan kemejanya masih digulung sebatas siku, memperhatikan Snow yang bergelung dengan selimut.


“Aku pikir kau akan bertanggungjawab setelah merusak peralatan dan dapurku?!” tanya Winter, mengintimidasi.


Apa pria itu tidak membaca pesanku? Aku bilang, aku tidur.


Snow tak bergeming. Dia masih diam dibalik selimut, mengambil ancang-ancang memejam jika saja nanti Winter tiba-tiba menarik selimutnya karena dia tidak mengindahkan pertanyaan yang dilontarkan Winter untuknya.


Dan benar saja, Snow bahkan menahan nafas saat mendengar ketukan sepatu Winter yang mungkin belum diganti dengan sandal rumah itu berjalan mendekat.


“Kau pura-pura tidur agar aku tidak menghukummu? Begitu?!”


Snow tak bergerak, memejam se-netral mungkin, agar Winter tidak curiga.


“Kau pikir aku percaya?” suara Winter kembali terdengar, kali ini lebih tinggi satu oktaf dari yang sebelumnya. “Bangun!”


Winter menarik paksa selimut Snow, bahkan terjadi adegan tarik menarik karena Snow tidak mau mendapatkan hukuman dari Winter. Mendengar kata hukuman saja sudah membuat Snow bergidik ngeri.


“Sh*t!! Benar-benar gadis keras kepala!” Winter mengumpat karena sebal. Dia ingin memberi sedikit pelajaran agar Snow tidak lagi mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.


Namun nahas, saat Winter menarik selimut tersebut untuk kedua kalinya, Snow malah melepaskan begitu saja hingga pria itu jatuh kebelakang dengan posisi duduk dilantai.


Snow terbelalak karena terkejut, dia bahkan reflek melompat turun dari ranjang dan hendak membantu Winter berdiri.


“Jangan sentuh aku!” ucap Winter bersungut-sungut sembari menampik dua lengan Snow yang terulur ke arahnya. Mungkin Winter malu, atau memang dia sedang emosi saat ini. Yang jelas Snow dapat melihat wajah pria itu merah padam.

__ADS_1


“Maafkan aku, kak. Aku tidak bermaksud membuat kakak terjatuh. Aku hanya ingin bangkit karena kakak—”


“Apa kau tidak bisa diam?!” tanya Winter dengan suara dalam dan berat penuh intimidasi. Jarak wajah mereka juga cukup dekat, membuat Snow sontak menahan nafas saat menatap wajah Winter sedekat itu. Dan tidak lupa, aroma nafas Winter yang segar meskipun malam hari, ini adalah pertama kalinya Snow berdekatan dengan Winter seperti ini.


Entah ini sebuah keberuntungan, atau malah kebuntungan untuk Snow.


“Aku benar-benar minta maaf, kak.” pinta Snow, kekeh dan gencar mengejar maaf dari Winter karena merasa bersalah. Mengekor dibalik punggung Winter yang kini berjalan menuju kamar mandi.


“Stop!! Sssst...! Kamu sangat berisik. Diam dan kembalilah tidur, aku akan memikirkan hukuman yang setimpal untuk perbuatanmy kepadaku hari ini!” ancam Winter yang membuat Snow beringsut seketika.


Hukuman? Snow tak pernah menduga akan mendapatkan hukuman hanya karena mencoba membuat makan malam. Oh, dia lupa. Dia juga membuat tulang ekor Winter hampir patah. Itu fatal, dan dia memang pantas mendapatkan hukuman, besok.


Lamunan tentang hukuman itu berakhir saat Winter mengatupkan pintu cukup keras. Snow yang terkejut pun terjingkat hingga aliran darahnya berubah dingin.


Ah, bodoh. Kak Winter jauh lebih mengerikan dari yang kuduga.


Snow mengacak rambutnya yang sudah berantakan. Dia berjalan gontai menuju ranjang. Kedua lengannya menggantung lemas disisi tubuh karena masih tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan ia terima besok.



Winter menatap pantulan wajahnya pada cermin kamar mandi. Rambut dan wajah yang masih basah itu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Apalagi punggungnya yang kini terasa sakit, ngilu.


Mengapa sakitnya muncul sekarang? Padahal aku jatuh tidak terlalu keras dan posisinya juga tidak membahayakan?!


Winter kembali menatap bayangannya setelah sesaat meraba punggung nyerinya yang berbalut handuk.


Dia benar-benar harus membayar semua yang sudah ia lakukan padaku hari ini.


Winter hanya bergumam didalam hati sambil memikirkan kecerobohannya sendiri. Sudah menerka gadis itu belum tidur, lalu mengapa dia tidak berfikir jika gadis itu akan melepaskan selimut saat ia menarik tadi?


Sial. Pak Hendri akan berfikiran yang macam-macam besok.


Tau kan maksud Winter?

__ADS_1


Membuang nafas kasar, Winter berjalan keluar kamar mandi sembari menahan tulang punggungnya yang terasa seperti bergeser dari tempat semula. Wajahnya berubah semakin mengerikan saat mendapati Snow masih belum tidur dan duduk ditepian ranjang untuk menunggunya.


Winter menegakkan punggung, menahan mati-matian rasa sakit dan ngilu pada tulang ekornya, lalu berjalan menuju walk in closet untuk mengambil piyama tidur. Tak peduli meski hanya dengan lilitan handuk dipinggangnya.


“Kakak tidak apa-apa? Aku khawatir?!”


Winter tetap mengunci bibirnya. Tak menggubris Snow yang masih getol mengejarnya.


Sesampainya didalam ruangan beraroma harum Citrus tersebut, Winter meraih satu stel piyama abu-abu dan bersiap memakainya.


“Aku—”


Snow yang hampir mengutarakan permintaan maafnya yang kesekian harus terpotong karena Winter menatapnya tajam. Bersiap mengusir penampakan Snow yang sedari tadi mengganggu penglihatannya.


“Kau masih akan menungguku disini?Aku mau mengganti pakaianku.”


Snow mengangguk canggung. Dia bahkan sudah mengambil kuda-kuda untuk berlari tunggang langgang dari dalam ruangan tersebut. Dia baru sadar jika Winter hanya berbalut handuk—sangking panik dan takutnya.


“Atau kau mau disini? Melihatku bertelanjang saat berganti pakai—”


“Tidak.” sahut Snow cepat dan berbalik. “Aku keluar.”


Tanpa disadari, satu senyuman tulus terbit dibibir Winter. Entah mengapa malam yang membuat kebersamaan mereka semakin berkurang hari ini terasa berbeda—sedikit menyenangkan, meskipun Winter harus merasakan sakit pada tulang ekornya.


Begitu Winter sudah mengganti pakaiannya, tiba-tiba terbesit ide jail yang cukup brilian dari otaknya. Berjalan mendekati Snow, Winter berkata. “Kalau kau ingin aku memaafkanmu, pijat punggungku!”[]




Jangan lupa dukung karya ini dengan like dan love. Karena dukungan kalian adalah semangat yang tak terhingga untuk seorang pembuat/penulis cerita.


Vi's.

__ADS_1


__ADS_2