
...Holla readers baik hati sekalian. Ada kelanjutan Cerita Sunny nih...Anak gadis Snow dan Winter yang sudah tumbuh besar Vi's buatkan Short storynya. Tidak banyak Part sih, tapi semoga menghibur....
...Jangan lupa untuk memberikan apresiasi kepada penulis ya......
...Caranya gampang. Cukup berikan Like, komentar, hadiah, dan juga berikan Vote jika berkenan.đź¤...
...Selamat membaca Si matahari musim panasnya Winter dan Snow,...
...Semoga suka......
...•...
...Sunny Part 01....
Sunny. Wajahnya cantik bak mentari pagi yang bersinar menyiram permukaan bumi. Nama yang disematkan sang ayah, nyatanya menjadi do'a yang dikabulkan Tuhan untuk gadis remaja yang kini tumbuh semakin cantik. Kulitnya yang putih bersih seperti milik Snow, hidung mancung dan bibir peach yang juga diturunkan oleh sang ibu, rambut hitam legam dan tubuh semampai yang diwariskan sang ayah, membuat Sunny benar-benar memiliki fisik yang sempurna.
Kedua kaki jenjang berbalut convers hitam itu melewati koridor sekolah. Ada ratusan murid yang memiliki kedudukan sama seperti Sunny. Kaya, dan sempurna. Namun Sunny seolah memiliki tempat tersendiri dihati para guru dan juga setiap mata yang memandang. Gadis itu memiliki aura serta pesona positif dan ceria yang begitu dominan, hingga nyaris membuat siapa saja yang memandangnya berdecak kagum.
Disamping kecantikan yang terpancar nyata, Sunny juga memiliki kecerdasan dan sikap tegas, serta hoby yang membuat kaum Adam berteriak lantang mengungkapkan perasaannya. Membaca, menyanyi, dan bermain piano.
__ADS_1
Namun tidak dengan Benodick Forster Hides. Pemuda itu adalah pemuda yang berhasil masuk seleksi sekolah Ternama elite ini dengan full bea siswa. Ben berasal dari keluarga kurang mampu, dan memiliki cita-cita membuat bangga kedua orangtuanya di bidang akademik.
Tidak ada yang mau dekat atau berteman dengannya, namun tidak masalah bagi Ben, karena itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada prestasinya.
Ben selalu berada di peringkat teratas, dan Sunny berada satu peringkat di bawah Ben. Sebenarnya, Ben penasaran dengan sosok Sunny, sebab gadis itu tidak pernah terlihat, karena berada dikelas khusus. Dia hanya mendengar desas-desus wajah Dewi Sunny dari teman-teman sekelas yang sering membicarakan gadis ramah dan baik hati itu.
Ya, Sunny memang ramah dan baik hati. Snow mengajarkan putrinya itu untuk tetap rendah hati kepada siapapun. Tidak peduli nama, marga, atau strata sekalipun. Sunny harus menghargai hidup dan perjuangan orang lain.
“Eh, Sunny ada kelas bahasa sama kita hari ini.”
Ben yang mendengar itu, menaikkan kaca mata yang bertengger diatas hidung mancungnya, menunggu kelanjutan gadis-gadis biang gosip kelas melanjutkan kalimat mereka.
“Aku iri sama dia. Mengapa Tuhan menciptakan manusia seperti Sunny. Membuat kita insecure saja.”
Sampai pada jam setelah makan siang di istirahat yang kedua, kelas bahasa dimulai. Ada beberapa anak dari kelas khusus ikut dikelas reguler karena jadwal pengajar yang bertumpuk.
Suasana berubah sunyi ketika Sunny memasuki kelas. Aroma coklat manis yang menguar dari tubuh semampai dibalik seragam berwarna merah bata dan blazer senada, mampu menarik seluruh pasang mata untuk memperhatikan.
Sunny merasa asing diruangan regular ini. Semua orang melihatnya seperti seorang alien yang tiba-tiba hadir di atas permukaan bumi. Ya, Sunny merasa dirinya seperti alien karena diperhatikan sampai sebegitunya.
__ADS_1
Maniknya menelisik, ia bahkan bergerak canggung dengan menaikkan dua tali tas punggung yang bergelayut di pundaknya.
Tidak ada tempat duduk kosong. Ada dua, sih. Tapi satunya sedang ia hindari lantaran calon teman duduknya adalah Tessar, pemuda yang tidak gentar mengejar Sunny hingga membuatnya jengah. Dan satu lagi, seorang murid yang tidak ia ketahui namanya.
Tanpa sengaja manik mereka bertemu, dan membuat Ben seketika salah tingkah saat Sunny melempar senyuman manis yang memperlihatkan dua lesung Pipit di kedua sisi wajahnya. Ben bergerak tidak nyaman sembari menaikkan bingkai kaca matanya lebih tinggi, dan ternyata tempat duduk kosong disampingnya itu yang menjadi tujuan Sunny saat ini.
Semua mata mengikuti langkah Sunny yang mendekat kearah Ben. Namun, suara berat yang sangat dikenal Sunny tiba-tiba memenuhi ruangan, mengatakan jika pemuda yang akan menjadi teman satu bangkunya itu adalah pembawa sial karena anak orang miskin.
Sunny tidak peduli. Dia melangkah mantap mendekat pada teman barunya di kelas regular. Setelah itu, ia tersenyum sekali lagi ketika Ben mendongak untuk menyapa Sunny. Gadis itu berkata lembut ketika meminta persetujuan Ben untuk duduk disana. “Boleh...aku duduk disini?”
Tidak bersuara, Ben hanya mengangguk dan menggeser buku-buku yang memenuhi mejanya, lalu mempersilahkan Sunny duduk disana. “Terima kasih, ya.” lanjut Sunny ramah, masih menyunggingkan senyuman yang bisa menggetarkan hati seorang Ben yang tidak pernah terjamah. Sunny mengeluarkan sebuah binder, dan buku pelajaran bahasa. Lantas ia kembali memutar arah pandang kepada teman barunya, mengulurkan tangan, dan menghirup aroma lembut yang ia sukai, yang berasal dari pemuda yang duduk disebelahnya.
“Namaku Sunny.”
Ben menoleh, memperhatikan jari-jari lentik dan putih milik Sunny, lalu menjabat tangan itu dengan perasaan gugup.
“Benodick.”
Sunny tersenyum semakin lebar setelah mengetahui nama teman satu bangkunya.
__ADS_1
“Senang berkenalan denganmu, Ben.[]
...To be continued....