Wedding Maze

Wedding Maze
WM-43 |SARAN|


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...


Mobil mewah Winter berhenti didepan sebuah firma hukum milik teman lamanya. Ia membawa stopmap yang beberapa hari ini menghantui kewarasannya hingga nyaris membuatnya stress.


Mungkin ini akan menjadi keputusan terbaik. Karena jika dia tetap mempertahankan hubungannya dengan Snow, Amora tidak akan tinggal diam. Maka, dengan berat hati Winter melanjutkan gugatan cerainya ke pengadilan melalui Herald, pengacara sekaligus teman baiknya sejak duduk di bangku SMP hingga sekarang. Meskipun mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, mereka sering berkomunikasi lewat telepon.


Langkah kaki jenjangnya melewati bentangan pintu kaca geser yang terbuka otomatis. Didalam sana, terlihat kesibukan yang cukup riuh. Winter membawa langkah menuju meja resepsionis.


“Selamat pagi, bapak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya sang resepsionis bernada ramah.


“Saya sudah membuat janji dengan pak Herald. Apa dia berada di ruangannya?”


“Ah, tunggu sebentar. Akan saya konfirmasi ke sekretarisnya terlebih dahulu.” jawab resepsionis sembari mengangkat gagang telepon dan menekan angka 1 yang akan menyambungkan panggilan ke ruangan Herald.


Setelah berbicara singkat, resepsionis itu tersenyum ramah kepada Winter, lalu mempersilahkan untuk menuju lantai tiga, tempat Herald berada.


Sesampainya, Winter mengikuti punggung sekretaris Herald yang membawanya ke ruangan kerja pria pengacara itu, lantas meninggalkan mereka berdua yang kini duduk berhadapan didepan sofa elegan berwarna abu-abu.


“Lama tidak bertemu. Giliran bertemu, aku harus menunjukkan padamu sebuah kabar menyedihkan dariku.” kelakar Winter, menyandarkan punggung pada sandaran sofa.


Herald tertawa. “Lagi pula, mengapa kamu menggugat cerai istrimu? Usia pernikahan kalian belum sampai sebulan, tapi mengapa kamu ingin berpisah darinya?”


“Ada masalah rumit yang tidak bisa aku selesaikan selain berpisah dengannya.”


“Aku sudah pernah mengatakannya padamu. Bicarakan masalah kalian. Kalian butuh mediasi mandiri. Berbicara empat mata, mencari sebab musabab kalian tidak bisa sejalan. Coba sekali lagi jika kamu gagal pada percobaan pertama.”


“Dia menolak, dan aku juga sudah memutuskan untuk melanjutkan sidang.” jawab Winter, menyodorkan Stopmap biru diatas meja yang kemudian diambil Herald untuk diperiksa.


“Jadi, dia sudah menandatanganinya?”


“Ya. Dia melakukannya, tanpa berfikir panjang atau ingin memikirkan keinginan untuk memulai dari awal.”


Herald mengangguk. Ia paham dan tidak akan memaksa kliennya untuk terus menjalani mediasi jika keputusan final sudah ditentukan.


“Ini salahku, Herl. Aku yang memulai semua masalah rumit dalam rumah tanggaku sendiri hingga berujung mengenaskan seperti ini. Snow memang tidak pernah mengeluh tentang pernikahan kami. Dia juga sempat hamil sebelum aku melakukan hal yang seharusnya tidak pernah aku lakukan. Dia wanita baik, dan pasti akan menemukan pengganti yang lebih baik daripada aku setelah kita berpisah nanti.”


“Apa kamu yakin tidak ada masalah lain? Orang ketiga misalnya?”


Winter menggeleng. Ia tau, semua masalah berakar hanya dari diri nya. “Tidak. Snow wanita yang jarang bergaul dengan orang lain. Ia juga tidak memiliki banyak teman, hanya beberapa saja.”


“Lalu, Amora?”

__ADS_1


“Dia kekasihku sejak duduk di bangku kuliah, kami sempat mengakhiri hubungan ketika aku memutuskan untuk menikah. Lalu, akhir-akhir ini semuanya berubah semakin runyam. Dia tidak ingin berpisah dariku, dan mengancam akan melakukan apapun untuk menjauhkan Snow dariku. Ditambah lagi sakit hati Snow karena perlakuanku beberapa waktu lalu yang membuat dia keguguran.”


”Apa?”


Didepan Herald, Winter bisa mengungkapkan semua beban dalam hatinya. Mungkin inilah tugas seorang pengacara. Disamping mereka membantu menyelesaikan sebuah perkara, mereka juga bisa berubah menjadi wadah untuk mencurahkan isi hati yang sangat bisa dipercaya.


“Aku cemburu pada salah satu teman Snow yang dulu pernah menjadi tetangganya. Aku menarik dan menjatuhkan Snow ke lantai lantaran emosi, lalu Snow keguguran dan aku sangat menyesal sudah melakukan itu kepadanya. Herl, tolong bantu aku.”


Herald menegakkan punggung. Ia menghela nafas terlalu keras. Disinilah tugasnya menjadi seorang pengacara. “Jadi sekarang, apa keputusanmu? Apa kamu benar-benar akan mengakhiri hubungan kalian? Atau kamu memintaku untuk mengajukan percepatan mediasi agar kalian bisa mengintrospeksi diri masing-masing dan kembali bersama?”


Winter diam sesaat, memikirkan ucapan Herald yang tentu saja ada benarnya. Tapi semuanya seperti lautan luas yang tidak memiliki ujung. Winter tidak tau arah, dan dia takut tersesat dan terbawa arus yang akan menggiringnya pada pusaran dan tenggelam disana. Kemudian, Winter kembali menatap Herald cukup lama, hingga kalimat yang ia tahan agar tidak melewati kerongkongan, melecut begitu saja. “Proses perceraian kami.”


...***...


Snow sibuk menggambar hari ini. Suasana hatinya cukup baik, dan dia juga mulai menerima kembali pesanan gambar komisi dari klien. Kondisi kesehatannya juga jauh lebih baik meskipun nyeri pada perutnya masih sering datang dan cukup mengganggu ketika Snow sedang melakukan pekerjaannya.


Setelah mencoba berdamai dengan dirinya sendiri selama berhari-hari, akhirnya dia bisa menerima kenyataan pahit kehidupan pernikahannya dengan Winter. Ia rasa mereka memang tidak berjodoh, untuk itulah Tuhan memisahkan mereka kembali. Dan Snow berharap Winter akan bahagia dengan pilihannya nanti.


Jessy Calling...


Snow tersenyum. Ia meletakkan stylus pen diatas iPad nya. Menggeser tombol yang melompat-lompat itu penuh semangat, lalu menyapa Jessy dengan suara ceria, mengobrol lama sampai telinganya terasa panas. Hingga satu obrolan yang entah mengapa muncul begitu saja setelah tanpa sengaja Snow bercerita tentang rencana perceraiannya dengan Winter.


“Lakukan mediasi.”


“Mediasi?”


Jessy pernah bekerja selama hampir dua tahun disebuah firma hukum sebelum diterima ditempat kerjanya yang sekarang.


“Apa itu mediasi?”


“Setauku, jika aku tidak salah ingat, mediasi itu sebuah proses penyelesaian sengketa melalui perundingan atau mufakat para pihak. Ada mediator yang akan membantu kalian, namun dia tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.” terang Jessy panjang lebar. Ia sedikit banyak tau tentang hal ini. “Bukan hanya sengketa sih, perceraian juga bisa dikatakan hampir memiliki makna serupa, dan perlu dilakukan mediasi.”


“Lalu, apa tujuannya?” tanya Snow lugu. Ia memang tidak tau sama sekali tentang hal seperti ini.


“Menyelesaikan dan mencari jalan keluar sebuah masalah dengan cara berunding. Mediasi biasanya berlangsung selama 40 hari, dan bisa diperpanjang dengan 14 hari berikutnya, jika diperlukan.”


Snow mengangguk paham.


“Proses mediasi berlangsung paling lama 40 hari sejak mediator dipilih oleh para pihak atau ditunjuk oleh ketua majelis hakim saat sidang pertama dilakukan. Atas dasar kesepakatan para pihak, jangka waktu mediasi dapat diperpanjang paling lama 14 hari sejak berakhir masa 40 hari.”


Sebenarnya, Snow tidak begitu paham. Tapi dia mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan Jessy kepadanya dengan panjang lebar.


“Tapi, mediator juga berkewajiban menyatakan mediasi itu telah gagal jika salah satu pihak dari kalian berdua, atau kuasa hukum yang kalian percaya telah dua kali berturut-turut tidak menghadiri pertemuan mediasi sesuai jadwal pertemuan mediasi yang telah disepakati, atau dua kali berturut-turut tidak menghadiri pertemuan mediasi tanpa alasan setelah dipanggil secara patut. Mediasi akan dinyatakan gagal, dan hakim akan mengambil keputusan untuk hubungan kalian berdua, saat itu.”


Snow tampak berpikir. Haruskah? Apa dia bisa kembali menarik permintaannya untuk berpisah dari Winter?


“Hah, ternyata untuk urusan bercerai pun, tidak semudah yang aku bayangkan.”

__ADS_1


Jessy diam tidak menanggapi. Ia tau sahabatnya itu sedang bimbang.


“Coba saja. Siapa tau kalian bisa tetap mempertahankan pernikahan kalian, lalu bisa memperbaiki semuanya dan kalian semakin langgeng.”


“Begitu ya? Akan aku pertimbangkan dan berbicara dengan kak Winter.”


Tentu saja hanya alasan. Snow tidak mungkin melakukan hal itu, dia sudah memiliki keputusan bulat untuk berpisah dengan Winter.


“Terima kasih untuk nasehatmu ya, Je.”


“Okey.”


Setelah itu, panggilan berakhir. Dan Snow kembali di rundung bimbang. “Mediasi, haruskah aku melakukannya?” tanya Snow pada diri sendiri. “Tapi, apa kak Winter mau melakukannya?”


Namun, ditengah semua kegelisahan yang ia rasakan, Snow menerima satu pesan di ponselnya. Sebuah pesan yang membuat jantungnya berdebar kacau dan ingin segera bertemu dengan pengirimnya.


Bisa kita bertemu? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.


Aku menunggumu di cafe YOLO, pukul lima sore.[]


...To be continued....


..._______________________...


Teman-teman pembaca Wedding Maze. Mohon koreksinya jika dalam bab ini ada salah prosedur tentang hal yang berhubungan dengan perceraian ya.


Bab ini tidak bermaksud menyinggung siapapun, tapi mohon koreksinya jika memang ada kesalahan pada isi cerita di bab ini.


Terima kasih.


Mampir juga di cerita Vi's yang lain. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


See You.

__ADS_1


__ADS_2