
...Happy Reading All......
...Jangan lupa tekan gambar jempol, tambahkan pada list favorit, komentar, hadiah, dan juga Vote nya ya readers baik hati sekalian......
...Terima kasih....
...•...
...Sunny Ep.04 |Cloudy|...
Pagi ini sedikit mendung. Hujan juga sempat turun deras ketika matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Sunny sampai harus diantar Winter untuk sampai disekolah karena tidak mau putri kesayangan dan semata wayangnya itu tertinggal karena hari ini begitu penting untuk sang putri.
Ujian nasional hari pertama. Sunny begitu bersemangat sejak turun dari mobil Range Rover hitam milik sang ayah. Langkahnya terayun ceria menuju laboratorium komputer yang akan menjadi tempatnya menjalani ujian matematika hari ini.
Sesampainya, sudah ada lebih dari dua puluh murid yang datang dan duduk sesuai nomor induk ujian. Sunny mencari, dan tidak butuh waktu lama untuk menemukan tempat duduknya. Setelah itu, dia menelisik sudut per sudut ruangan. Ada beberapa murid dari kelas regular yang pernah ia lihat. Dalam benak, Sunny diam-diam berdo'a agar Ben juga berada didalam kelas ini. Hanya itu keinginannya sebelum mereka berpisah dengan jalan hidup dan cita-cita masing-masing.
Tidak ada. Ben tidak ada dikelas ini. Atau dia hanya belum sampai?
Sunny terus meyakinkan diri jika Ben akan berada satu kelas dengannya. Dan seolah Tuhan mengabulkan do'a nya. Disana, tepat di pintu masuk laboratorium, maniknya dan manik Ben bertemu. Lantas pemuda itu menunduk dan berjalan masuk mencari tempat duduknya. Sunny lega, bahkan tersenyum dalam hati ketika Tuhan benar-benar menjawab do'a tulusnya.
Sedetik kemudian, Sunny seolah dibuat terkejut oleh aroma lembut yang masih sangat ia ingat. Aroma milik seseorang yang membuatnya berharap lebih. Aroma yang membuat jantungnya berdebar kala merangsek masuk kedalam indera penghidu. Ben, dia adalah pemiliknya.
Tepat disamping kanan Sunny, adalah kursi milik Benodick. Pemuda itu duduk kaku dan menatap lurus pada layar komputer yang menyala terang menyinari fitur wajahnya yang menurut Sunny, rupawan, berbeda dari yang lain. Karena memang, dari semua komunitas manusia yang tinggal di negara ini, Ben memiliki bentuk mata berbeda yang menurut Sunny unik, dan terlihat sangat menggemaskan jika sang pemilik sedang tertawa. Mata sipit bak bulan sabit itu akan menghilang membentuk garis lurus yang mengesankan. Sunny menyukai hal berbeda yang dimiliki oleh seorang Ben. Ya, Sunny sangat menyukainya.
“Hai. Lama tidak bertemu, Ben.” sapa Sunny mencoba menjalin keakraban sekali lagi pada Ben. Namun reaksi berbeda kini ditunjukkan oleh Ben pada Sunny. Pemuda itu tersenyum hingga kelopak matanya membentuk garis lurus seperti yang disukai Sunny, lantas menjawab.
“Hai, Sun. Kamu ikut kelas hari ini?”
Sunny mengangguk antusias. Pembicaraan seperti ini sangat langkah, jadi Sunny tidak mau menyia-nyiakan apalagi bersikap sok acuh. Dia harus merespon seantusias mungkin.
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik.”
“Setelah jam ujian selesai, mau aku traktir di kantin sebelah?”
Oh No. Mengapa Sunny ingin sekali berteriak dan melompat girang atas ajakan itu. Wajah Sunny pasti sudah merona sekarang, dan Ben pasti melihatnya. Ah, memalukan.
“Boleh.”
“Okey. See You. Good luck.” lanjut Ben sambil mengangkat kepalan tangan memberi semangat untuk Sunny.
***
Aroma sedap yang terhirup, riuh dalam ruangan yang terdengar ceria, suara-suara bisik yang terdengar begitu jelas, tak mengurungkan niat Sunny datang ke tempat ini. Kantin kedua, biasanya didominasi oleh murid dari kalangan regular, atau mereka yang suka dengan suasana ramai dan sedikit tidak tertib.
Kriuk di perut Sunny mendadak memancing Sunny untuk berjalan menuju meja pesan. Ia memesan semangkuk sup seafood yang sepertinya lezat. Lalu, dia juga memesannya satu untuk Ben. Sunny juga mengambil dua botol air putih dari dalam lemari pendingin untuk ia bawa ke meja yang tadi sempat ia tempati dan meletakkan tas sebagai penanda disana.
__ADS_1
Sunny tidak berhenti mengamati sekitar, karena jujur, suasana seperti ini terasa sangat asing. Sunny juga tidak terlalu suka kebisingan dan suara keras menyebut umpatan. Ruangan kantin ini benar-benar berbeda dengan kantin utama.
Selepas merutuki ketidak sukaannya pada tempat ini, Sunny mencari-cari keberadaan Ben, karena pemuda yang mengajaknya kesini belum juga datang padahal Ben tadi keluar laboratorium komputer lebih dulu daripada dirinya. Namun semuanya terbayar lunas ketika ia melihat presensi Ben yang berjalan memasuki ruangan. Ia bisa melihat Ben yang mencari-cari keberadaan dirinya, hingga Sunny spontan mengangkat lengannya dan Ben tersenyum karena sudah menemukannya.
“Sorry telat, Sun. Sudah pesan makanan? Menunya hari ini Seafood, kamu tidak ada alergi Seafood?” cerocos Ben sambil meletakkan tas punggung pada sandaran kursi. Ia lantas memutar pandangan pada papan menu yang tertulis untuk hari ini.
“Sudah. Aku juga sudah memesannya untukmu.”
Asal kalian tau, sekarang kalian menjadi pusat perhatian ditempat ini.
“Oh. Sepertinya aku sangat terlambat.” ucap Ben riang.
Dimata Sunny, Ben terlihat begitu berbeda hari ini. Pemuda itu terlihat begitu bahagia. Sejak bertemu tadi pagi, hingga sekarang, Ben masih terlihat begitu aktif tersenyum. Dan hal itu membuat hati Sunny bak bunga merekah dimusim semi.
Dua mangkuk sup seafood beserta nasi datang. Ben membungkuk sebagai ucapan terima kasih.
Setelah kepergian bibi yang mengantar makanan ke meja mereka, Sunny tersenyum, tanpa lelah. Kemudian mulai meraih gagang sendok dan mulai melahap makanan dengan percakapan yang sudah ia susun tanpa sadar ketika menunggu kedatangan Ben, tadi.
“Kamu terlihat bahagia. Ada sesuatu yang menyenangkan ya?” tanya Sunny, lalu memasukkan sesendok nasi, disusul sesendok kuah sup dan potongan wortel ke dalam mulut.
“Ah, ya. Bagaimana ujian mu tadi? Lancar?” tanya Ben, out of topic.
Sunny tersenyum jumawa. Ia betah memamerkan deretan giginya yang putih ketika bersama Ben. Senyuman manis itu tak henti-hentinya membingkai wajah ayu nan rupawannya.
“Iya. Lancar.”
“Lalu, apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan Ben? Mengapa tiba-tiba mengajak dan mentraktirku disini.”
Sunny memang tidak bisa berbohong jika rasa ingin tahunya kali ini begitu membuncah. Ada beberapa harapan didalam benaknya, antara lain, Ben yang akan berkata sesuatu yang penting. Tentang kabar, atau... perasaannya mungkin? Tapi, untuk opsi kedua, Sunny tidak berharap banyak tentang perasaan yang merujuk tentang sebuah rasa berbeda yang timbul dalam hati, tapi lebih ke perasaan bahagia yang terlihat jelas pada gestur Ben.
“Ah, iya. Aku hampir lupa mau mengatakan sesuatu kepadamu.” ucap Ben, lalu meraih botol minuman karena ia hampir tersedak oleh makanannya sendiri. Sedangkan Sunny, menunggu dengan sabar sampai Ben selesai menenggak minuman yang tadi ia berikan.
Setelahnya, Ben kembali menatap manik Sunny dengan rasa antusias tinggi yang belum surut. Ia bahkan sejak tadi ingin menyampaikan hal bahagia itu kepada Sunny.
“Bagaimana dengan pendaftaran ke universitas yang sedang kamu lakukan Sun?” tanya Ben, sukses membuat Sunny membeku di tempatnya bersama rasa khawatir yang tiba-tiba muncul ke permukaan.
Universitas, mengapa dia tidak memikirkannya sejak tadi?
“Ah, aku sedang mengikuti seleksi di universitas yang direkomendasikan sekolah padaku.”
Ya. Mengapa sejak awal Sunny tidak memikirkan hal ini? Ben pasti bahagia karena hal ini. Hal yang mungkin sudah dinanti dan di impi-impikan oleh sosok Ben.
Dan hari ini menjadi saksi bagaimana dunia Sunny seolah runtuh. Apa yang dia dengar, apa yang dia lihat, seolah buram dan tidak ingin ia terima. Cuaca mendung diluar seolah menggambarkan suasana hatinya. Ia tidak menyangka jika hari ini akan datang. Hari dimana dia dan Ben akan benar-benar berpisah tanpa terikat hubungan apapun, meski hanya sebatas teman.
“Aku lulus seleksi tanpa syarat karena surat rekomendasi dari sekolah, Sun.”
Sunny terpaku tanpa bergerak sedikitpun. Kepala sendok yang ia ceburkan kedalam sup, masih nyaman di dalam sana. Dunia dan waktu seolah berhenti berputar ketika mendengar itu dari Ben.
__ADS_1
“Aku akan berangkat ke sana setelah ujian berakhir.”
Sunny yang terpaku, terkejut karena tiba-tiba Ben sudah melambai-lambaikan telapak tangan didepan wajahnya.
“A-ah, se-selamat ya, Ben. Semoga kamu sukses disana.” ucapnya pura-pura bahagia sambil mengulurkan tangan. Namun itu tidak mampu menyembunyikan bentu kekecewaan diwajah Sunny yang memang sedang kacau.
“Terima kasih. Aku berharap, kamu juga sukses dan bisa mendapatkan universitas seperti yang kamu harapkan.” jawab Ben sembari menyambut telapak tangan Sunny dan menggenggamnya kuat. Telapak tangan dan kulit Sunny begitu lembut. Ini adalah pertama kalinya Ben menyentuh kulit seorang perempuan.
“Jadi,” jeda Sunny ragu, tapi dia harus bertanya meskipun sudah mengetahui jawabannya. “Kamu tidak akan hadir di wisuda pelepasan angkatan kita, nanti?”
Ben tersenyum getir. Ia dapat menangkap raut kecewa di wajah Sunny, dan entah mengapa hal itu turut menyakiti hatinya.
“Eumm. Aku tidak bisa ikut. Jadi, hari ini, aku akan mengatakan selamat padamu.”
Ucapan itu sukses membuat satu titik airmata jatuh dari ekor mata Sunny. Ben melihatnya dengan jelas.
“Waaah, aku sangat bahagia sampai menangis.” kelakar Sunny sambil mengusap airmatanya secara kasar. Lantas kembali memberanikan diri menatap manik mata coklat milik Ben. “Aku harap kamu betah disana.”
Ini akan menjadi hari terakhir mereka bertemu. Karena besok, atau besoknya lagi, dan bahkan seterusnya, mereka tidak akan bisa saling tatap seperti ini.
Ben menunduk. Tanpa menawarkan sebuah hubungan apapun, dia berkata. “Maaf.” []
...To be continued....
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa baca cerita Vi's yang lain, yang pastinya tidak kalah seru, menguras emosi dan air mata.
Baca-baca saja dulu, mana tau suka.
—White (Fiksi Modern) ; ini paling Fresh.
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
Atas perhatian dan dukungan readers sekalian, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
See You.
__ADS_1