
...Happy Reading......
...•...
Kenyataan menjatuhkan angan Winter yang semula sempat melambung tinggi menembus langit ketujuh. Ia berharap, perceraian itu gagal hanya dengan menghubungi dan meminta Herald untuk membatalkan proses berkas itu dipengadilan. Namun nyatanya, tidak semudah itu. Berkas sudah sampai di pengadilan karena desakannya kepada Herald beberapa waktu lalu, dan dia harus mengikuti prosedurnya.
Hari ini, adalah sidang pertama mereka. Baik Snow maupun Winter, hadir mengikuti semua prosedur yang tercatat dalam hukum. Ruangan itu begitu sepi, hanya ada beberapa orang yang memang bertugas mengurus perceraian mereka. Hakim, mediator, dan juga pengacara Winter.
Snow dan Winter tidak saling sapa. Mereka seolah tidak mengenal satu sama lain, hanya duduk bersebelahan tanpa berniat mengatakan apapun sampai hakim datang dan duduk di kursi agungnya.
Microphone sudah dalam keadaan on, dengan volume paling rendah hakim menyapa seluruh isi ruangan. Berlanjut dengan upaya perdamaian yang di tawarkan oleh hakim, sebelum melakukan proses pemeriksaan perkara dilanjutkan. Keduanya hanya diam, tidak mau mengatakan apapun hingga hakim harus menyimpulkan jika perkara yang mereka hadapi memang sulit diambil dengan jalan perdamaian.
Proses berjalan begitu saja, tidak ada kata damai yang dicapai, maka hakim memutuskan untuk melakukan mediasi, memberi waktu mereka selama 40 hari bersama seorang hakim mediator untuk mendapatkan jalan keluar dari perkara mereka.
Singkat cerita,
Snow tidak datang. Ketidak hadiran Snow di pertemuan mediasi pertama juga kedua, mematik emosi Winter yang memang menginginkan mereka tetap bersama. Mediasi terancam gagal, dan perceraian semakin nyata didepan mata.
“Kenapa tidak datang?” tanya Winter mengintimidasi. Ia bahkan dengan mudah membawa Snow keluar dari rumah orang tuanya karena mereka tidak tau apapun tentang hubungan Snow dan Winter yang rumit bagai benang kusut dan belum menemukan ujung.
“Karena aku memang tidak ingin datang.” jawab Snow enteng. Dia tidak terlihat sedang berusaha untuk mempertahankan semuanya. Ucapan Snow akan diwujudkan menjadi nyata.
“Kenapa? Beri penjelasan secara spesifik kepadaku, Snow. Kamu membuatku bingung!”
Snow mengalihkan pandangan ke arah luar kaca mobil dengan wiper yang masih bergerak kekiri dan kanan. Salju masih turun diluar sana. Puncak musim dingin masih berada dititik suhu -7⁰, namun semuanya harus tetap berjalan sesuai hukum alam. Bumi tetap berputar pada porosnya, begitu pula kehidupan Snow dan Winter, mereka harus menghadapi semua putaran roda kehidupan yang terus berjalan. Merasai saat senang ketika berada diatas, dan sedih ketika berada pada poros bawah. Ya, pada dasarnya, itulah sebuah kenyataan.
Snow hanya diam, tidak ada yang perlu ia katakan sebagai penjelasan akan keputusannya yang sudah jelas.
“Kamu tau dampak dari ketidak hadiran mu itu?”
“Tentu.” sahut Snow tanpa berfikir panjang. Ia tau betul jika hari ini, palu akan diketuk, mereka akan resmi berpisah dan tidak lagi terikat hubungan apapun, selain menjadi mantan.
__ADS_1
Winter membanting tubuhnya pada sandaran kursi mobil. Ia menyugar surainya kebelakang, lantas merematnya dengan rahang mengeras akibat frustasi. Sungguh, ia tidak menduga jika Snow akan seteguh itu.
“Ya Tuhan...” keluhnya pelan. Winter merutuki kebodohannya sendiri. Mengapa sampai terjadi seperti ini. Pernikahan yang memang semula tidak ia harapkan, lalu perlahan menjadi prioritas utama baginya, kini harus hancur berkeping karena kesalahannya sendiri. Winter juga tidak tau sejak kapan ia menjadi selemah ini. Mencintai Amora tidak membuatnya menjadi pria bermental lembek seperti ini, tapi Snow? Mengapa dia menjadikan seorang Winter menjadi pria lemah dan bodoh?
“Ini. Tolong terima.” Snow menyodorkan sebuah box berukuran sedang berwarna coklat tua. Semula, Winter enggan menerima dan mencoba mengabaikan apa yang diberikan Snow padanya. Tapi, ia juga penasaran dengan isi kotak yang terlihat begitu ringan tersebut, lantas mengulurkan tangan demi menerima box dari tangan Snow. “15 Januari, hari ulang tahun kakak, bukan?”
Ternyata, ini sebuah kado ulang tahun? Mengapa Winter ingin menangis ketika mengetahui Snow begitu tau tentang dirinya.
“Mungkin, hadiah itu tidak akan menjadi hal yang membahagiakan untuk kakak. Tapi setidaknya kakak tau, aku pernah mencintai kakak dan pernah berharap kita tetap bersama sampai ajal memisahkan kita.” ucap Snow mengungkapkan sebuah harapan yang pernah ada dalam benaknya. “Tapi sayang, semuanya harus berakhir seperti ini. Dan kak Winter lebih memilih orang lain ketika aku percaya dan ingin menjadi satu-satunya bagi kakak.”
Winter tertunduk, masih memegang box itu dengan tatapan lurus yang dipenuhi rasa penasaran.
“Maaf, dan selamat ulang tahun yang ke 34 tahun, Winter Bruddy.”
Winter ingin memeluk, mengecup, bahkan menjadikan Snow wanita satu-satunya yang berada disisinya. Namun kenyataan menampar kepalanya begitu keras, sangat keras hingga pening dan ingin pingsan.
“Ketika hakim memberi keputusannya nanti, jangan pernah menengok lagi kebelakang.”
“Lihatlah kedepan, dan kejar apa yang kak Winter inginkan.”
Setelah mendengar sepenggal petuah bijak dari Snow, Winter membuka box coklat tersebut. Ia tersentak, jantungnya seolah dipaksa berhenti berfungsi untuk beberapa saat. Sorot lurus dan datar itu berubah sendu, bergetar, dan mulai berkabut air mata. Sebuah benda berwarna putih dengan warna biru sedikit lebar pada ujung atas, panjangnya sekitar lima belas sentimeter. Akan tetapi, yang membuat Winter ingin menangis adalah apa yang tertulis pada layar dua dimensi alat tersebut.
Pregnant.
Alat test kehamilan digital itu memberitahu pada Winter, jika Snow sedang mengandung.
Tanpa bisa berkata-kata, Winter menyambar tubuh kecil Snow. Memeluknya erat tanpa meminta persetujuan sang empu. Namun Snow tidak ingin menolak pelukan tersebut dan membalasnya. Keduanya larut dalam tangis. Tangis yang tidak mereka ketahui maksud jelasnya.
“Kenapa semua jadi seperti ini?” rintih Winter penuh penyesalan dan tangis tak terbendung dalam dekapan Snow. Jika Winter tau menjadi seorang ayah akan semenyenangkan ini, dia tidak akan menciptakan sebuah Wedding Maze yang akan menghancurkan hubungan mereka berdua.
“Ya. Mengapa seperti ini?” sahut Snow tanpa bisa menyembunyikan penyesalan disetiap kalimat yang terucap. Snow tidak menyangka, jika apa yang dilakukannya bersama Winter satu bulan yang lalu, benar-benar menghadirkan malaikat kecil dalam diri Snow. Ia bahagia, akan tetapi juga bersedih karena dia bersikeras ingin berpisah dari Winter.
__ADS_1
Dan lihatlah mereka sekarang. Mereka adalah pasangan bodoh yang patut ditertawakan karena ulah, serta keras kepala dan ego yang mereka pertahankan.
Winter menarik diri, memegang kedua bahu Snow, lantas menatap wajah memerah dan basah oleh air mata milik wanita itu. Lalu jari telunjuknya bergerak mengusap kedua pipi Snow lembut, mencoba menyuguhkan sebuah senyuman menenangkan ketika Snow membalas tatapannya.
Snow tertunduk. Ia bahkan tidak tau harus berbuat apa. Bagaimana jika kedua orang tuanya yang tidak tau sama sekali tentang perceraiannya dengan Winter, mendengar jika dirinya sedang hamil tepat disaat palu perpisahan diketuk? Lalu, bagaimana nasib anaknya nanti jika memang Winter mundur dan sekali lagi tidak mau menerima kehadiran calon anak mereka?
Semua ketakutan Snow seperti terhempas jauh keatas awan kala mendengar suara Winter yang berkata. “Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.”
Snow kembali menangis. Tergugu dengan bahu bergetar hebat. Apa itu artinya Winter akan menerima kehadiran janin didalam kandungannya?
“Mari kita memulai semuanya, setelah kita mengakhiri hubungan mengerikan dari labirin pernikahan ini.”
Snow tercenung. Ia memberikan seluruh atensinya kepada Winter.
“Ayo kita membangun kehidupan baru yang penuh dengan cinta.”
Telapak tangan Snow mengesat air matanya kasar, lantas mengangguk setuju dengan ucapan tulus Winter.
“Aku mencintaimu, Snow White.”[]
...—END—...
...___________...
Akhirnya cerita ini menemukan hilal. Bagi yang baru membaca cerita ini, terima kasih atas dukungan kalian.🙏
Masih ada bab Epilog dan jika memungkinkan, akan othor buatkan extra part yang akan menceritakan kehidupan mereka setelah semuanya berlalu. Jadi, tetap pantau Wedding Maze ya...☺️
Jangan lupa beri dukungan dengan cara Like, komentar, beri hadiah dan juga Vote jika berkenan. Serta tambahkan Wedding Maze kedalam list favorit agar bisa dibaca-baca ulang sebagai peneman suntuk dan penat dari hiruk-pikuk kehidupan nyata.🤭
Vi's akan Up cerita baru, juga setelah ini. Judulnya White. Genre cerita Dark romansa-action-angst, yang tentunya tidak kalah seru dan menguras emosi. Jadi, jangan lupa mampir ya...
__ADS_1
Terima kasih.