Wedding Maze

Wedding Maze
WM-33|SEBUAH KEPUTUSAN YANG INGIN SNOW AMBIL SEPIHAK|


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Winter tersenyum senang ketika matahari menyapa fitur wajahnya. Snow mungkin akan senang tinggal ditempat dengan udara dingin dan suasana tenang seperti tempat yang ia tinggali untuk beberapa hari ini.


Ya, Winter tau Snow sangat suka menggambar dan sering menerima job dari keahliannya itu. Untuk itulah dia ingin memberikan sesuatu yang sedikit menyenangkan untuk Snow jika kembali nanti. Dia ingin memberitahu Snow jika dia akan membeli satu rumah disini, khusus untuk Snow, atas nama Snow.


Tubuh kekarnya menggeliat dan bangkit. Dia harus bertemu klien dan membicarakan pekerjaan penting pagi ini.


“Hotel Ritz Carlton jam sepuluh pagi.” gumamnya ketika membaca sticky note yang menempel di payungan lampu yang ada diatas nakas. Amora yang menulis dan menempelkannya disana semalam.


Ya, semalam, setelah Amora mencoba menggodanya, Winter memesan kamar lain untuk kekasihnya itu. Winter mulai menjaga jarak dan berusaha menerima kehadiran Snow meskipun masih terasa asing dan sulit.


Winter menjatuhkan tumitnya di lantai, bersiap membersihkan diri dan menuju hotel untuk membicarakan proyek besar yang akan dilakukan di daerah sini. Membangun sebuah gedung perusahaan milik pemerintah dengan anggaran besar, Winter menjadi tendernya.


Namun, belum genap langkahnya mencapai pintu kamar mandi, bel berbunyi. Ia menebak jika pegawai penginapan mungkin mengirim sarapan, namun apa yang dilihatnya berbeda dengan yang ia bayangkan. Amora berdiri disana, dengan setelan kerja dan makeup yang serasi dan membuat penampilannya begitu dominan dan kuat.


“Masih pagi, Ra. Aku baru bangun.” ucap Winter sambil berbalik dan meninggalkan pintu, memberi akses bagi Amora untuk masuk kedalam ruangannya.


“Eumm, Okey. Kamu bisa mandi dan bersiap-siap dulu. Aku akan memesan taksi dan menunggumu disini.”


Winter mengangguk setuju. Ide yang tidak terlalu buruk.


“Mau sarapan diluar?” tawar Amora, menarik kembali atensi Winter.


“Sarapan di sini saja. Aku malas makan di luar.”


Kali ini Amora yang mengangguk paham. Tapi, sejak kapan Winter menolak makan diluar? Pertanyaan itu berputar di kepala Amora. Akan tetapi, dia tidak bisa memaksa Winter untuk meng-iyakan keinginannya. Dia tidak ingin Winter semakin jauh darinya.

__ADS_1


Dan ya, Amora sadar dan tau posisinya. Namun dia sama sekali tidak akan tinggal diam dan akan selalu memperjuangkan cintanya kepada Winter. Dia akan membawa Winter kembali untuk dirinya.


Setelah Selesai dengan urusan kamar mandi dan pakaian, Winter menuju ruang depan dimana Amora sedang menunggunya dengan tenang.


Setelan berwarna abu-abu yang terlihat begitu elegan, menjadi pilihan Winter hari ini. Ia tersenyum seperti biasa ketika bertemu dengan Amora, kemudian duduk didepan meja makan kecil yang diperuntukkan dua sampai empat orang.


“Menu sarapannya lumayan hari ini, tidak seperti kemarin.” ucap Amora basa-basi. Dia tau makanan yang dibenci Winter, dan dia juga hanya ingin memastikan jika Winter sedang tidak mengabaikannya.


Namun semuanya tidak seperti yang Amora harapkan. Setelah menyelesaikan sarapan, Winter yang belum mengenakan jas kerjanya, justru terlihat sibuk dengan ponsel seperti sedang menghubungi seseorang. Wajahnya juga terlihat kesal.


Decakan keras terdengar memenuhi sudut bangunan. Winter memasukkan kembali ponsel kedalam saku, lantas memijat pelipisnya yang berkerut karena marah. Entah untuk alasan apa, Snow tidak menjawab panggilan teleponnya pagi ini. Dia hanya ingin mengetahui kondisi Snow, dan juga bertanya tentang kondisi kandungannya.


“Sial!!” umpatnya. Melempar tangannya ke udara, lantas berjalan cepat dan menyahut jas kerjanya dengan gerakan kasar. Ia tidak peduli dengan tanggapan Amora tentang sikapnya ini. Winter benar-benar terkungkung emosi karena Snow tidak mengindahkan panggilan yang ia lakukan.


“Taxi nya sudah datang?” tanyanya, mencoba mengalihkan topik karena tau Amora akan menjejalkan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak ingin ia jawab. “Kalau sudah, ayo kita segera ke hotel, menyelesaikan pekerjaan kita dan kembali pulang.”


Pernyataan yang dibuat oleh Winter, justru mematik berbagai speskulasi di kepala Amora. Apa ini tentang Snow?


Ah, dia ingat. Pasti Snow tidak menjawab panggilan Winter karena voice message yang ia kirim sehari yang lalu. Ya, dia mengirim pesan suara itu agar Snow tau dan sadar jika Winter adalah milik Amora.


“Bukankah masih ada sehari untuk kita habiskan berdua. Kita bisa belanja dan mengunjungi tempat-tempat indah sambil makan ice cream disini.” bujuk Amora, berharap Winter akan berubah pikiran dan memilih tinggal disini lebih lama dengannya.


“Ada hal penting yang aku lupakan dirumah. Jadi aku rasa tidak bisa berada di sini terlalu lama. Mora, apa jadwalku hari ini, selain membicarakan rencana pembangunan gedung dengan pihak Genuine.”


Amora tercengang. Dia hanya bisa menatap lurus atas sikap Winter yang berbeda, dan terlihat sedang menjauhinya.

__ADS_1


“Meninjau lokasi, dan membicarakan bahan baku bangunan dengan kepala kontraktor.” jawab Amora tanpa memutus pandangan dari sosok Winter yang saat ini sama sekali tidak menatap kearahnya.


Kali ini, Winter terlihat kembali merogoh ponsel yang tadi ia masukkan ke dalam saku karena emosi. “Itu saja?”


“Iya.”


“Baiklah. Ayo kita bergegas. Aku harus segera pulang setelah pekerjaan ini selesai.”


...***...


Snow menatap lekat kearah ponselnya yang sedang bergetar. Getaran kuat yang cukup membuatnya terbangun cukup pagi, hari ini. Ah, tidak. Sebenarnya dia tidak tidur semalaman.


Nama Winter membuatnya kembali merasakan hatinya bak ditumbuk menggunakan sebongkah kayu besar hingga hancur berkeping. Bagaimana tidak? Kemarin sore, setelah mendapat pesan suara yang dikirim entah oleh siapa, Snow menjadi seperti kehilangan sebagian besar rasa percaya yang terus ia coba pupuk agar tumbuh. Namun semuanya sekarang sudah tumbang, hilang bersama kebohongan lain yang menyadarkan Snow, jika dia memang tidak pantas hidup disisi Winter.


Snow meringkuk dibalik selimut. Mual kembali menyergah, mendominasi dan memaksa Snow untuk bangkit lalu berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang memang tidak terisi sejak semalam. Nafsu makannya hilang begitu saja.


Benci.


“Ya. Aku sangat membencimu, Winter.”


Satu kata itu yang terus berusaha menguasai pikiran Snow. Hingga tangisnya pecah. Tubuhnya merosot ke lantai dingin kamar mandi ketika sebuah pikiran terbesit dalam kepalanya.


Berpisah. Haruskah? []


...To be continued....

__ADS_1


__ADS_2