
Selama perjalanan pulang dengan mobil Winter, suasana masih menegang. Winter masih terlihat menahan emosinya yang belum mereda. Caranya mengemudi mobil menjadi jawaban untuk Snow atas terkaan itu. Sedikit ugal-ugalan.
“Mengapa kakak sampai rela mengotori tangan kakak untuk memukulnya? Aku sudah tidak pernah peduli dengan semua permintaan maaf dari Wi—”
“Kalau kamu tidak peduli, lalu mengapa kamu mau diajak bertemu? Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku, bukan menyalahkan apalagi menyudutkan aku seperti ini.”
Snow tau ia salah ucap, dan tentu saja Winter yang keras kepala tidak akan mau mengalah ketika beradu argumen. Snow tau ritme pembicara mereka akan tetap sama seperti itu.
“Terima kasih. Dan, maaf.”
Winter menoleh sekilas, ada sedikit rasa bersalah sudah berbicara seperti itu kepada Snow yang tentu saja adalah pihak yang paling terluka.
Meskipun begitu, egoisme yang dimiliki oleh Winter tetap tidak mau menyerah. Lantas ia kembali berbicara, intonasinya sedikit turun.
“Sebenarnya apa yang pernah ia lakukan padamu.” seloroh Winter, menarik seluruh atensi Snow.
Bak di gempur deburan ombak besar, hati Snow terasa sakit berkali-kali lipat dari biasanya, ketika pertanyaan itu meluncur dari bibir Winter. Pasalnya, Winter itu orang yang tidak pernah mau tau urusan dan hidup orang lain. Tapi kali ini, mengapa dia seolah-olah berubah menjadi orang yang begitu peduli. Apa dia hanya ingin tau , kemudian menertawakan dirinya? Membayangkannya saja, Snow tidak mungkin akan terus berlama-lama bertahan di sekitar Winter. Terlalu menyakitkan.
Dada Snow kembang-kempis, nafasnya memburu bak turun dari puncak gunung tertinggi didunia.
“A-aku tidak bisa menceritakan ini pada kakak. Maaf.”
Winter menoleh sekilas, ia menatap iba pada Snow yang terlihat tertekan.
Bagi Snow, jika waktu bisa diputar kembali, ia ingin sekali menghapus semua yang terjadi hari itu. Atau paling tidak, dia tidak ingin bertemu dan mengenal Willy. Kenangan buruk bersama Willy begitu pekat dan menakutkan. Snow tidak ingin lagi membicarakan tentang semua kenangan itu, apalagi kepada Winter.
Sadar lawan bicaranya tidak berada dalam zona nyaman, Winter mencoba mengerti. Lantas ia mencoba untuk tidak lagi mengusik ingatan buruk yang ingin dikubur sedalam mungkin oleh Snow.
“Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin menceritakan hal itu kepadaku. Lupakan saja apa yang ingin kamu lupakan.”
Jessy pernah memberi sebuah masukan untuknya agar tidak membawa dirinya sendiri untuk terus terjebak dan larut kedalam masa lalu. Tapi apa? Snow bahkan tidak bisa melupakan sedikit saja ingatan buruk itu, sebab hatinya masih menyimpan sedikit ruang untuk Willy.
—
Snow tertidur pulas lima belas menit sebelum mobil yang dikemudikan Winter sampai di pelataran rumah. Ia menarik tuas rem tangan, setelah mematikan mesin mobil, kemudian memandangi wajah Snow yang sedang mengarungi alam mimpi.
Sekelebat ingatan tentang bagaimana ekspresi Snow ketika bertemu laki-laki bernama Willy tadi, Winter kembali dirundung rasa iba terlalu berlebihan kepada gadis yang beberapa hari ini mengusik hari-hari nya.
“Aku tidak tau sebesar apa beban yang kau derita. Tapi aku juga tidak ingin diriku sendiri harus menanggung rasa yang sama denganmu. Aku tidak menyukaimu, tapi aku ingin terus bersamamu.” suara Winter begitu lirih, bahkan nyaris terdengar seperti sebuah bisikan.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, keinginan untuk menyentuh Surai lembut Snow menuntun lengannya untuk terjulur ke arah gadis yang sedang terlelap itu. Ia akan bebas membelai rambut itu jika melakukannya dengan pelan dan hati-hati agar Snow tidak terbangun.
“Kamu tau, aku ingin sekali kamu keluar dari rumahku.” lanjut Winter, masih egois dan menyangkal perasaan yang memenuhi dada dan menerbangkan kupu-kupu didalam perutnya. “Tapi aku juga tidak bisa membiarkan kamu pergi.”
Bimbang, mungkin itulah gambaran perasaan Winter saat ini. Disaat ego kuatnya ingin mendominasi, tapi rasa aneh juga mengingatkan Winter untuk tidak bersikap demikian.
Winter tau perasaan yang timbul mungkin hanya karena ia iba kepada Snow. Nanti, jika semuanya sudah berlalu, Winter yakin jika perasaan itu akan pergi dengan sendirinya.
Ditengah lamunan menyebalkan tentang perasaan aneh untuk Snow, ponsel Winter bergetar. Panggilan dari Amora. Ada sedikit rasa bersalah ketika Winter mengalihkan perhatian dari layar ponsel, ke presensi Snow. Ia seperti mengkhianati sebuah kepercayaan. Ya, dia merasakannya.erasa menjadi orang paling jahat yang menyia-nyiakan gadis sebaik Snow.
“Eum.” jawabnya singkat ketika panggilan itu tersambung.
“Kamu kemana? Mengapa tidak memberitahu aku jika tidak datang ke kantor?” cerocos Amora tak mau berkompromi. Baru kali ini Winter mangkir kerja dengan alasan yang tidak jelas, yang tentu saja mengundang beribu-ribu tanya dalam diri Amora.
Winter melepas seatbelt, kemudian keluar dari mobil untuk berbicara dengan Amora. Dia juga tidak ingin mengganggu tidur Snow yang pulas.
“Aku ada urusan penting dengan seorang. Bagaimana pekerjaan di kantor?”
Selama beberapa detik, Amora diam saja.
“Mora?”
“Syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir—”
Suara Winter terhenti begitu saja saat mendengar pintu mobilnya dibanting keras. Snow hanya menunduk sembari menaikkan tali Sling bag nya tanpa berniat menengok Winter meskipun sebentar.
“Ah, Mo, sudah dulu ya. Aku harus kembali.”
Tanpa menunggu persetujuan dari Amora, Winter mengakhiri panggilan dan berlari kecil menyusul langkah Snow. Kemudian menarik lengan seputih salju milik Snow untuk berbicara.
“Kuncinya ada padaku.”
Snow hanya diam dan mengangguk. Ia sama sekali tidak paham akan konsep dunia berputar. Winter yang tiba-tiba baik, masa lalu yang terus memburu, ingatan buruk yang membuat terpuruk, semua berteriak unjuk diri dalam benak Snow. Rasa cemas yang sempat hilang itu seolah ingin merenggut kembali ketenangan dan kewarasan Snow. Semua bergeming, riuh dan tidak ada yang mau sedikitpun undur diri.
Tepat ketika pintu rumah terbuka, Snow baru mengingat jika intercom tidak harus menggunakan kunci. Ada password yang hanya perlu ia tekan agar bilah itu terbuka.
“Mengapa Kak Winter membohongi aku.”
Berbohong?
__ADS_1
Seketika, langkah Winter terhenti. Ia tidak bisa berbohong jika kali ini terkejut akan pertanyaan Snow yang tiba-tiba itu.
“Berbohong dalam hal apa?” tanya Winter, ingin membenarkan tebakan dalam kepalanya.
Snow tidak menjawab, melainkan berlalu meninggalkan Winter yang masih terpaku didepan pintu yang terbuka. Ia sama sekali tidak paham arah pembicaraan Snow, yang tentu saja semakin membuatnya tidak tenang.
Ia kembali berlari mengejar Snow, lalu menarik kasar pergelangan tangan gadis itu tanpa izin.
Terkejut, Snow meringkuk ketakutan sembari menutup kedua telinganya. Winter yang melihat itu semakin tidak mengerti. Dahinya mengerut, lantas mensejajarkan diri dan turut berjongkok didepan Snow.
“Kamu kenapa?”
Snow menggelengkan kepala disela tangis. Ia benar-benar ketakutan, dan itu sangat sangat membuat Winter khawatir.
“Snow, kamu baik-baik saja kan?”
“Tolong tinggalkan aku.” pintanya, sendu.
Winter berniat mengusap puncak kepala Snow, namun gadis itu menampik keras hingga Winter jatuh terduduk bersama ekspresi paniknya.
“Jangan sentuh aku.”
Traumah itu kembali. Snow ketakutan.
“Jangan sentuh aku, aku mohon.”
“Snow. Ini aku, Winter.”
Snow menghentikan tangis, ia menatap Winter lekat, lalu memeluknya erat.
“Maafkan aku, maafkan aku.”
Hanya itu yang Winter dengar berkali-kali. Snow hanya meminta maaf ditengah rasa takutnya. Lalu, tanpa rasa ragu, Winter membalas pelukan Snow cukup erat. Erat sekali sampai wajah gadis itu terbenam di antara ceruk lehernya.
“Jangan takut. Aku akan melindungimu.” []
...🍃🍃🍃...
...See You Soon....
__ADS_1
...Vi's...