Wedding Maze

Wedding Maze
WM-37|KESALAHAN FATAL YANG DIBUAT WINTER UNTUK SNOW|


__ADS_3

...Happy Reading......


...•...


Sebagian besar dalam diri Snow menolak untuk kembali menapak pada lantai rumah yang menjadi tempatnya bernaung beberapa pekan terakhir. Snow bahkan berharap waktu bisa diputar kembali, atau ia bisa berjalan mundur dan kembali pada masa dimana pertemuan itu terjadi. Jika bisa, Snow ingin menggeleng, menolak ketika ayahnya mengatakan ingin memperkenalkan dirinya dengan putra teman lamanya.


Namun semua sudah terlambat. Terlanjur terjadi dan waktu tetap bergerak maju. Mau tidak mau, Snow harus menerima kenyataan dan menjalani semua keputusan yang ia ambil.


Snow merogoh saku Sling bag nya. Oh ayolah, mengapa dia lupa membawa kunci, sedangkan passcode pintu beberapa waktu lalu sudah di ganti oleh Winter. Dan sialnya, dia tidak mengingat kombinasi delapan angka itu ketika Winter memberitahunya.


Snow sekali lagi merogoh Sling bag dan mencari ponsel, berniat menghubungi Winter untuk meminta tolong dibukakan pintu. Namun belum sempat men-dial nomor Winter, pintu lebih dulu terbuka dan sosok Winter berdiri dengan wajah yang lebih angker dari rumah hantu di Disneyland.


“A-aku lupa tidak membawa kunci—”


“Masuk!!” titah Winter, seenaknya memotong kalimat Snow tanpa ingin mendengar lebih jauh.


Memang, siapa yang tidak tersulut emosinya. Ketika melihat pasangan hidup kita bersama orang lain dan terlihat lebih bahagia. Oh, tunggu. Pasangan hidup? Lucu sekali bukan?


Winter memang tidak berniat menganggap Snow pasangan hidupnya, ia lebih memilih Amora dalam daftar masa depannya. Tapi lihatlah sekarang, setelah melihat Snow bersama seorang pria, Winter ingin mengklaim Snow sebagai orang yang akan menjadi tujuan hidupnya selama ini.


Tanpa banyak bicara, Snow mengekor punggung Winter dan menutup kembali pintu rumah.


Di ruang tamu, Winter menghentikan langkah, memutar tubuh untuk mendapati Snow, lalu menyerangkan kedua telapak tangannya di pinggang. Ia berniat meminta penjelasan kepada Snow perihal pria yang mengantarnya pulang, tapi Snow lebih dulu mengatakan sesuatu yang membuat kesadaran Winter seolah melayang dengan sendirinya. Snow membuatnya tidak lagi bisa berkata-kata ketika satu kalimat tidak terlalu panjang meluncur dari bibir Snow.


“Aku ingin berpisah.”


Apa?


Mengapa tiba-tiba? Padahal selama ini, Snow tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ingin berpisah darinya.


Tapi kenapa harus sekarang? Saat dirinya mulai membangun sebuah bingkai indah yang ingin ia pergunakan untuk gambaran masa depannya bersama wanita yang ia nikahi tanpa rasa cinta itu.


Winter tersenyum getir. Lengannya yang semula bersarang di pinggang, kini menggantung diudara. Ia tidak menyangka sama sekali jika Snow akan mengatakan hal itu sekarang, ketika dirinya berharap menjadi seorang ayah.


“Apa karena laki-laki itu?” Snow tak kalah tercengangnya dengan Winter yang beberapa saat lalu seperti orang linglung.


Laki-laki itu? Apa Winter melihat Kris?

__ADS_1


Snow membatin. Ia yakin Winter tidak melihatnya bersama Kris, tadi. Tapi mengapa mendadak dia berkata seperti itu?


“Apa maksudmu?”


Kekehan tak percaya mengudara. Winter tidak percaya melihat sikap bodoh dan pura-pura Snow itu ia lihat setelah Snow memintanya untuk berpisah.


“Apa kamu bertransformasi menjadi wanita bodoh setelah pergi bersama laki-laki lain selain suamimu?”


Snow mengepal. Ia sama sekali tidak body h seperti yang dituduhkan oleh Winter. Ia bahkan masih bisa menjaga diri, terlebih melakukan hal-hal yang tidak mungkin bisa termaafkan.


“Apa aku terlihat seperti itu dimatamu? Dia hanya temanku, kami pernah mengenal satu sama lain karena kami dulu tinggal bersebelahan.”


“Omong kosong!!” hardiknya sembari membuang muka, menyerang satu sisi pertahanan diri Snow hingga perasaan wanita itu runtuh tak bersisa.


Lucu sekali ya? Snow bahkan tertawa seperti orang kehilangan akal saat mendengar kalimat Winter.


“Lalu—” Snow menjeda, menahan sebongkah sesak yang dijejalkan paksa kedalam ulu hatinya. Kemudian, dengan satu tarikan nafas, Snow melanjutkan kalimat tersebut. “—bagaimana dengan seorang laki-laki beristri yang menghabiskan waktunya bersama wanita lain ketika istrinya dirumah sedang mengkhawatirkan, juga merindukannya setengah mati?”


Winter benar-benar tertohok. Matanya menatap lurus tanpa mau melepasnya sedikitpun dari sosok Snow yang kini terlihat bergetar karena menahan tangis.


“Jadi kamu mengira aku bersenang-senang dengan wanita lain disana? Snow, aku bekerja. Mencari uang untuk—”


Apa maksudnya? Winter bingung memahami arti dan maksud ucapan Snow.


“Tuan Winter yang terhormat. Kita menikah memang tidak didasari sebuah perasaan cinta seperti pasangan lainnya. Tapi, tidakkah anda bisa menjaga privasi anda ketika melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain? Saya bahkan jijik mendengar suara anda.”


Winter berjalan mendekat dengan amarah yang bersungut-sungut. Emosinya tersulut sempurna, dan kemarahannya sudah tidak bisa terbendung lagi. Ia meraih kasar lengan kurus Snow, menariknya paksa untuk mendekat meskipun wanita itu mencoba menolak dengan cara meronta kuat agar cengkeraman itu terlepas.


“Demi Tuhan. Apa yang sedang kamu katakan, huh?!” kini, ibu jari dan jari telunjuk Winter menangkup pipi Snow dan menekannya kuat hingga bibir Snow maju kedepan.


Winter bahkan siap untuk bersumpah jika dia tidak melakukan apapun bersama Amora.


Butuh waktu satu tahun untuk menghadirkan perasaannya bagi Amora. Tapi untuk Snow, Winter yakin hanya ia lakukan dalam hitungan hari. Gadis itu terlalu mudah membuatnya luluh, dan sekarang, dengan mudahnya pula wanita itu menghancurkan diri dan juga perasaan yang mulai tumbuh darinya. Sebuah benih kebencian muncul tanpa ia duga sama sekali ketika Snow meminta perpisahan. Entah, itu bentuk sebuah ketakutan, atau memang sebuah kebencian utuh akan perasaannya yang seolah terhianati oleh sosok Snow.


“Apa kamu melakukan ini semua karena laki-laki itu, huh?”


Winter memangkas jarak wajah keduanya. Hingga bibir itu mendarat dibibir Snow, yang kemudian ditolak mentah oleh wanitanya.

__ADS_1


Snow semakin meninggikan benteng pertahanannya agar tidak kembali dihancurkan oleh buaian yang ditawarkan Winter. Ia meronta, memaksa ciuman itu terlepas, kemudian menjauh dari presensi Winter yang menatapnya semakin tajam.


“Fine, jika memang itu keinginanmu.” teriak Winter akhirnya. Kemudian dia menurunkan nada suara dan mengatakan kalimat selanjutnya dengan nada rendah dan dingin, sama seperti Winter yang dikenal Snow saat pertama kali bertemu dulu. “Tapi ingat satu hal ini. Jika memang didalam rahimmu sedang tumbuh janin dari benihku, kamu wajib memberikannya untukku jika dia sudah lahir nanti. Tanpa syarat, dan tentu saja, tanpa penolakan.” tegasnya, kemudian berjalan hendak meninggalkan Snow. Namun langkahnya terhenti kala bel rumah berbunyi sebanyak dua kali.


Sejak menginjakkan kaki dan menghuni rumah ini, Winter tidak pernah mendapat tamu selarut ini. Maka, dengan langkah yang masih diselimuti kabut emosi, dia berjalan untuk membuka pintu. Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan ia dapati ketika pintu sudah terbuka, seseorang yang muncul dibalik bentangan pintu itu adalah sosok sama yang menyulut emosinya untuk Snow.


Laki-laki ini. Laki-laki yang sudah berani mengantar Snow-nya pulang tanpa izinnya, dan laki-laki yang sama sekali tidak pernah ia kenali, muncul dengan sebuah kunci di telapak tangannya.


“Aku hanya ingin mengembalikan kunci ini kepada Snow.” tutur Kristenn datar, namun terpancar ekspresi tidak suka diwajahnya ketika mendapati Winter yang membukakan pintu.


Bukankah Snow bilang tidak membawanya? Lalu mengapa ada di tangan laki-laki ini? Apa Snow sudah berani membohonginya?


Rentetan pertanyaan itu bermunculan, yang membuat gejolak emosinya semakin melambung. Disusul Snow yang tiba-tiba muncul dengan senyuman lembut dan manis yang biasa disuguhkan wanita itu kepadanya, berhasil membakar sekujur tubuh Winter dalam sebuah rasa cemburu.


“Ah, ternyata ada padamu? Aku kira lupa membawanya. Terima kasih—”


Belum selesai kalimat itu terucap, Snow di kejutkan dengan pukulan Winter yang melayang tanpa diduga ke wajah Kris. Laki-laki itu jatuh terjerembab diatas lantai dengan sudut bibir berdarah, dan Snow berlari kearah laki-laki itu ketimbang menghentikan dirinya.


“Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu memukul Kris?” tanya Snow dengan suara memekik karena kejut. Ia mengusap wajah Kris yang kini terlihat memerah. “Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu, Winter. Kamu sudah melakukan kesalahan yang seharusnya tidak kamu lakukan!”


Mendengar namanya disebut tanpa embel-embel apapun, mematik rasa benci lainnya didalam benak Winter bercokol. Ia kearah Snow, lantas meraih kasar lengan Snow, menariknya untuk ikut masuk kedalam rumah tanpa mempedulikan Snow yang menampik ajakannya itu.


Winter membanting pintu hingga terkatup rapat, lantas melempar Snow seperti sebuah benda yang tidak berharga hingga jatuh tersungkur dilantai. Snow memicing karena merasakan sakit diarea perut bawahnya akibat jatuh terlalu keras. Ia meremas kaos yang ia kenakan dengan keringat yang muncul secara tiba-tiba memenuhi keningnya. Rasa sakit itu begitu mendominasi hingga Snow tak mampu menahan erangannya, lantas meringkuk menahan nyeri diatas lantai dingin rumah Winter.


Melihat itu, Winter ketakutan dan meraih Snow yang sedang mengerang dan mengaduh sakit ke dalam pelukannya. Winter ketakutan, dan ia tidak bisa menyembunyikan itu pada ekspresi wajahnya.


“Snow. Kamu baik-baik saja?”


“Sakit...” gumam Snow sambil tetap meremas pakaiannya.


Dan kepanikan semakin memenuhi benak Winter kala ia melihat cairan merah pekat merembes dari sela paha Snow. Tubuhnya bergetar dalam rasa takut ketika menyaksikan bagaimana Snow semakin melemah.


Ia memapah dan berniat membawa Snow ke rumah sakit terdekat. Ia berharap laki-laki yang bernama Kris itu masih didepan dan bersedia memberikan bantuan padanya demi Snow dan calon bayi nya.


Winter tidak mau kehilangan bayinya.


Ya. Dia tidak ingin bayi itu menghilang hanya karena kebodohannya sebab emosi tak terkendali.

__ADS_1


Winter ingin semua baik-baik saja, sampai nanti bayi itu berada dalam gendongannya. Dia tidak ingin kehilangan bayinya, dan tentu saja, dia juga tidak ingin kehilangan Snow. []


...To Be Continued....


__ADS_2