Wedding Maze

Wedding Maze
WM-22 |DAY MINUS EIGHT—23|


__ADS_3

Snow hampir tersedak saat melihat Winter tiba-tiba berada diruang yang sama dengannya, berdiri tegap sembari memasukkan kedua telapak tangannya kedalam saku celana.


“Kakak mengejutkan aku.” protes Snow sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit. Ia bahkan terbatuk kecil sekarang.


Tidak menanggapi, Winter berjalan mendekat ke arah meja makan kecil disisi kitchen island yang luas tempat Snow menikmati satu cup mie instant yang masih mengepul. Dengan gerakan cepat Winter mengambil alih mie tersebut dari tangan Snow.


“Hei—”


“Aku lapar. Belum makan malam.” tukas Winter sambil melahap mie milik Snow tanpa ragu.


Lalu dengan berat hati Snow berdiri dan mengambil satu cup mie instant dari pantry dan menuang sisa air yang masih panas ke dalam cup, kemudian membawanya ketempat Winter berada.


“Salah sendiri. Siapa suruh pergi begitu saja dan tidak menjawab pertanyaanku.” cerca Snow menarik Winter untuk melihat wajah kesal dan bibir cemberut gadis itu.


Lucunya...


Winter tersenyum dalam hati setelah membatin bahwa wajah Snow sangat lucu dan menggemaskan jika sedang kesal begitu.


Tidak bertahan lama, Snow menatap tajam pada Winter. Sontak saja, mie yang hampir Winter telan membuat tenggorokannya tersedak. Ia batuk terpingkal karena panas dan pedas yang berubah menjadi petaka di tenggorokannya. Bahkan mata Winter memerah dan berair


“Astaga. Kakak kenapa?” tanya Snow yang dengan cepat menuang air digelas dan memberikan kepada Winter. “Ya Tuhan, aku tidak akan meminta mie itu lagi kok. makannya pelan-pelan saja.”


Winter geram. Dengan tenggorokan yang masih panas dan perih, serta terbatuk kecil, ia menunjuk wajah Snow.


“Ini gara-gara kamu.”


Snow menarik sedikit mundur wajahnya agar jari telunjuk Winter tidak mengenai hidungnya.


“Oh, Okey. Maaf.”


Winter kecewa karena Snow hanya pasrah. Padahal, ia ingin sekali beradu argumen hinga berakhir di atas ranjang seperti kemarin malam.


Manik Winter mengikuti pergerakan Snow yang mulai membuka aluminium foil, lalu mengaduk mie yang baru saja jadi.


“Besok sore, aku ada janji dengan seseorang.”


“Siapa!” tanya Winter posesif.


“Teman.”


“Laki-laki?” tebak Winter yang mendapat anggukan benar dari Snow.


“Tidak boleh.”


Snow berhenti mengunyah. Ia menatap Winter dengan mata membola sempurna.


“Kenapa? Aku sudah terlanjur membuat janji.”


“Salah sendiri. Mengapa tidak bertanya dulu kepadaku.”


Oh astaga, sejak kapan Winter peduli padanya? Snow tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Aku serius kak. Aku harus bertemu dengan dia untuk urusan penting.”


“Siapa namanya?”


Snow sedikit memicing. Apa Winter akan tau jika ia menyebut nama Willy? Maksudnya, apa Winter tau tentang masa lalunya bersama Willy. Tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang Winter. Laki-laki itu punya banyak koneksi, dan kemungkinan besar dia sudah mencari informasi sebelumnya, mengenai dirinya dan Willy.

__ADS_1


“W-Willy.” jawab Snow takut-takut.


“Aku ikut.”


***


Jarum jam sudah hampir menyentuh angka dua dini hari. Tapi Winter belum juga bisa memejamkan mata untuk terlelap. Bayangan pria bernama Willy masih membuat pikiran Winter melayang-layang di udara. Ia bahkan mengimajinasikan jika Willy adalah pemuda yang jauh lebih tampan dari dirinya dan seusia Snow. Membayangkannya saja membuat hati Winter serasa dibakar masal karena tertangkap mencuri seekor anak domba yang cantik. Anak domba? Snow?


“Sial!!!” umpatnya keras karena tidak berhasil menemukan jalan keluar dari jeratan perasaan yang rumit.


Ia turun dari ranjang empuknya dan berniat menuju dapur untuk mengisi gelas minuman yang sudah tandas.


Ketika ia membuka pintu, Winter sempat menatap lekat pintu kamar Snow terkatup rapat. Ia menggeleng beberapa kali dan lanjut berjalan menuju dapur. Namun apa yang ia lihat, Snow berada disana. Dia seperti sedang berbicara dengan seseorang ditelepon. Tak lantas mendekat, Winter ingin sedikit mendengarkan percakapan mereka.


“Eung, aku tidak mendapat izin darinya.”


...


“Iya, Je. Aku akan tetap pergi menemui Willy, setelah kak Winter berangkat bekerja saja. Jadi saat dia sudah kembali dari kantor, aku sudah berada dirumah.”


...


“Iya, tolong katakan pada Willy, jika aku hanya memiliki waktu pagi hari.”


...


“Eumm. Okey. Kabari aku setelah mendapat balasan dari Willy. Bye.”


Winter dapat melihat Snow sedang memijat kepalanya. Mungkin wanita itu sedang pusing mencari cara untuk melarikan diri besok. Dan tentu saja Winter tidak akan bisa tinggal diam. Dengan cara apapun, ia akan menggagalkan pertemuan tersebut, bahkan jika Snow tetap pergi, dia akan ikut bersamanya.


Melihat Snow turun dari tempat yang ia duduki, tanpa mau susah payah bersembunyi, dia muncul di hadapan Snow.


“Sejak kamu bilang akan tetap pergi menemui laki-laki itu tanpa izin dariku, setelah aku berangkat ke kantor.”


Ya Tuhan. Snow bahkan tidak memikirkan tentang hal ini. Seharusnya dia melakukan panggilan telepon dikamarnya saja, tadi.


“Jadi, kamu akan tetap pergi menemuinya? Meskipun aku tidak memberi izin?” tanya Winter mengintimidasi, kemudian melipat kedua lengan kekar itu didepan dada.


Snow yang masih sedikit 'syok', hanya bisa tertunduk ragu, kemudian mengangguk pasrah, toh ia sudah tertangkap basah oleh Winter. Tidak ada lagi alasan untuknya mengelak atau mencari-cari jawaban yang pastinya akan berujung pertengkaran. Snow sudah lelah bertengkar dengan Winter.


“Lucu sekali. Seorang istri hendak menemui pria lain secara sembunyi-sembunyi.” gumam Winter penuh nada sarkasme untuk Snow. Ia terkekeh hingga bahu dalam balutan kaos putih polos itu bergerak naik-turun. “Lalu,” Winter sengaja menjeda, tersenyum licik disudut bibir sembari kembali menengadahkan wajah demi mematri tatapan pada wajah Snow. “Apa ini bisa disebut perselingkuhan?”


Seketika mata Snow membola. Ia sama sekali tidak ada niat untuk berselingkuh dari Winter. Apalagi dengan Willy yang notabenenya pernah membuat luka dan traumah dalam hidupnya. Big no.


“Tolong jaga ucapanmu, kak. Aku tidak sedang dan tidak akan berselingkuh seperti yang kakak tuduhkan.”


“Lalu apa?” cerca Winter. Tak gentar sampai Snow memberikan alasan yang masuk akal kepadanya.


Snow mengeratkan kepalan tangan, rahangnya mengeras karena ia benci situasi seperti ini. Situasi rumit yang diciptakan Winter untuk menjebaknya menjadi pihak bersalah. Ya, Winter gemar melakukan itu sejak mereka hidup bersama.


“Aku tidak akan memberitahu alasan ku bertemu dengan dia kepada kakak.”


“Kenapa? Apa kamu takut perselingkuhan kalian terbongkar?”


Cukup. Snow muak jika harus terus berputar-putar pada topik yang sama. Ia memilih untuk beranjak pergi dan tidak lagi menghiraukan Winter yang menatap sinis padanya.


Akan tetapi, belum genap langkahnya menapak sebanyak empat kali, lengan Snow dicekal paksa oleh Winter, membuat pergerakan Snow terhenti saat itu juga. Tenaga Winter lebih besar dan dia hanya bisa kembali berjalan mundur sebanyak dua kali dan bersisihan dengan Winter.

__ADS_1


“Kita belum selesai bicara. Jangan membuat aku marah hanya karena hal sepele yang tidak seharusnya aku dengar dan lihat.”


Snow meronta, ia menarik paksa lengan kurusnya yang berada dalam kekangan telapak besar Winter. Bahkan ia mencoba mengibas kuat agar terlepas.


“Katakan, alasanmu menemui laki-laki itu.” tanya Winter dengan suara dalam yang begitu menghujam. Snow bergidik ngeri ketika manik mereka bersinggungan.


“Aku pikir, kakak tidak akan peduli tentang hal ini.” sindir Snow tidak mau kalah. Ia benar-benar lelah selalu mengalah dan dijadikan sasaran kemarahan Winter.


“Katakan.” pinta Winter tegas.


Pupil mata Snow bergetar. Ia ingin sekali menumpahkan airmata, namun mati-matian ia tahan. Dia tidak ingin menangis didepan Winter. Dia tidak ingin Winter selalu menang dengan keegoisannya. Snow hanya ingin privasinya dihargai, termasuk oleh Winter. Jadi, dia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Winter dengan sebuah kejujuran.


“Dia ingin meminta maaf atas kejadian masa lalu yang menimpaku. Sudah. Sekarang lepaskan aku.”


Bukannya melepas, Winter malah menarik Snow hingga jatuh kedalam pelukannya. Mencium bibir ranum itu begitu intens dengan satu telapak ia susupkan dibalik rambut halus Snow yang tergerai, menekan tengkuk leher gadis itu agar ciuman mereka tidak berakhir dalam durasi singkat.


Snow sempat menolak dan mengatupkan bilah bibir serapat mungkin. Akan tetapi, bukan Winter namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.


Dengan sengaja ia menggigit bibir Snow, hingga suara lenguhan dan bibir yang mengatup itu terbuka untuk memberi akses bagi Winter, lalu memagutnya lembut. Ciuman yang menyiksa Snow itu berubah menjadi buaian. Snow menikmatinya dan meraih pinggang Winter untuk ia genggam erat.


Semua terjadi beberapa saat hingga keduanya merasa harus berhenti. Bibir mereka memerah, kening mereka bersatu, nafas mereka terengah, dan dari jarak sedekat ini, Winter dapat melihat wajah cantik Snow yang bahkan selama ini tidak pernah ia pedulikan. Perlahan, telapak Winter mengusap pipi Snow yang sudah memerah.


“Jangan pergi. Jangan temui dia.”


Snow menggeleng samar.


“Aku harus menemui dia.”


Winter tercekat. Ia sontak menjauhkan dirinya dari Snow dengan wajah penuh emosi.


“Okey. Pergi saja. Kalau bisa jangan kembali.”


Snow bergeming. Ia tidak ingin memperkeruh suasana.


“Pergi saja sekalian dari si—”


“Aku akan kembali untukmu.”


Suara Snow menghentikan amarah Winter yang menggebu.


“Aku akan tetap pulang sebelum hari itu datang.”


Keadaan berbalik menyerang kepada Winter. Ia terbelalak ketika Snow mengingatkannya lagi tentang perjanjian tiga puluh hari mereka.


“Aku akan pergi selamanya di hari itu, jika kak Winter tidak juga memiliki perasaan untukku.”


Seluruh tubuh Winter lemas, namun ia berusaha untuk tetap terlihat tegar.


“Aku janji, tidak akan mengganggu kakak dan menampakkan diri didepan kakak lagi, jika kakak memang tidak mengharapkan aku, dan juga, tidak mencintaiku.”[]


...🍃...


...Jangan lupa follow dan tinggalkan jejak kalian di sini ya......


...Tekan gambar hati juga agar tidak ketinggalan update bab selanjutnya....


...See You,...

__ADS_1


...Vi's...


__ADS_2