
Winter.
Ketika nama itu dipanggil, dan pemuda itu berjalan, seluruh atensi berpusat pada sosok tersebut. Sosok yang begitu misterius Dimata siapapun karena kepribadiannya yang tertutup.
Amora melirik pemuda yang berjalan melewati bangkunya. Pemuda itu begitu diam dan dingin, mematik rasa penasaran Amora yang tidak bisa dibendung. Akan tetapi, selalu memberikan senyuman tipis yang begitu manis ketika manik mereka tidak sengaja bersinggungan.
Sampai ketika, pada suatu hari Amora sedang berduka. Ia duduk di taman belakang kampus sambil memakan roti dengan perasaan hancur, Winter datang mengulurkan tangan. Winter bahkan mengatakan jika dia mau menjadi tempat bersandar bagi setiap keluh kesah Amora. Satu hal itulah yang membuat Amora semakin menyukai dan mengagumi sosok Winter.
Lambat laun, rasa kagum dan suka itu berubah menjadi cinta ketika keduanya sudah dekat. Winter selalu ada untuknya, selalu datang tepat waktu jika dia sedang membutuhkan, dan juga menjadikan dirinya prioritas utama yang tidak terbantahkan.
Hingga Winter menyatakan perasaannya ketika mereka berada di semester lima. Amora menerima dan mereka resmi berkencan sejak saat itu. Menjadi kekasih Winter sungguh suatu hal yang tidak ternilai harganya, karena Amora begitu mendambakan pria itu sejak lama.
Winter besar di dalam lingkup keluarga yang mendidiknya dengan attitude baik. Terbukti, Winter adalah sosok pemuda baik dan lurus. Dia tidak pernah melakukan hal buruk kepada Amora, bahkan ciuman pertama mereka saja, harus diakhiri dengan drama permintaan maaf dari Winter yang begitu memaksa.
Dan malam itu, malam kelulusan dari universitas, Amora mengajak Winter untuk datang kerumahnya. Tidak ada hal aneh yang terjadi diantara mereka. Sampai Amora lah yang pertama menggoda Winter, menarik Winter dalam jerat nafsunya, lalu membawa laki-laki itu mengikuti permainannya. Amora tau ini salah. Tapi dia tidak ingin kehilangan Winter dan ingin Winter menjadi miliknya selamanya.
Untuk pertama kalinya, mereka melakukan hal yang seharusnya tidak pernah mereka berdua lakukan. Amora yang kehilangan kegadisannya, tidak pernah menyalahkan Winter karena memang itulah keinginannya. Mengikat Winter untuk dirinya sendiri.
Mereka bersama selama bertahun-tahun dan berjalan sesuai yang diinginkan Amora. Winter benar-benar tunduk dan menjadi miliknya. Sampai suatu ketika, Winter mengajaknya untuk mengakhiri hubungan. Dan yang lebih tidak bisa diterima Amora, laki-laki yang menjadi dunianya itu hendak menikah.
Amora yang tersulut lantas meninggalkan Winter tanpa keputusan dan sebuah jawaban pasti. Sampai undangan pernikahan yang begitu cantik berukir nama Winter dan mempelai wanita berada di atas meja kerjanya. Dia tidak ada harapan lagi untuk sebuah hubungan dan harus mengambil keputusan.
__ADS_1
Hari itu, Winter datang dan meminta maaf. Tapi Amora enggan karena merasa sakit hati. Ini salahnya. Jika saja ia tegas dan tidak menggantung Winter hari itu, mungkin Winter masih menjadi miliknya.
Dan puncaknya, Amora merasa frustasi hingga dirinya harus merasakan sekali lagi rasa sakitnya kehilangan, datang ke pesta pernikahan Winter sebagai tamu undangan dan untuk pertama kalinya melihat wanita yang bersanding disisi Winter. Cantik. Cantik sekali, bahkan lebih cantik dari dirinya. Amora tersenyum getir menyadari hal tersebut. Ternyata gadis yang bersanding disisi Winter itu lebih sempurna dalam hal apapun dibanding dirinya yang tidak berada di strata yang sama dengan Winter.
Lalu, pada hari-hari selanjutnya setelah pesta pernikahan itu digelar, Winter masih sering meminta maaf tanpa menyerah. Dan pada akhirnya, Amora kembali Egois. Dia mengajukan syarat untuk menerima permintaan maaf dari mantan kekasihnya itu. Amora ingin, Winter kembali menjadi kekasihnya. Ya, kekasih. Meskipun ia tau jelas laki-laki yang sangat dicintainya itu sudah resmi menjadi milik orang lain.
Sempat terlihat raut terkejut dan tidak terbaca di wajah Winter, namun pada satu titik, Winter tetap berada dibawah kendalinya dan Winter mengiyakan. Mereka kembali bersama di usia pernikahan Winter ke lima hari.
Miris bukan?
Amora berani bertaruh jika kali ini Winter akan kembali kepadanya. Akan berpisah dengan gadis bernama Snow dan memilih dirinya.
Well. Amora memilih egois agar Winter menjadi miliknya lagi. Hingga hari dimana mereka bertemu malam ini. Semua serasa asing. Winter seperti menjadi orang asing bagi Amora yang berharap jauh akan hubungan mereka setelah ini.
Amora mengaduk teh matcha non sugar nya dengan pandangan kosong. Ia masih mencerna mengapa dan apa sebab Winter berubah seperti sekarang.
Hari ini dia melihat sendiri bagaimana Winter membuat jarak dengannya. Mengatakan gadgetnya tertinggal sebagai alasan. Apa yang sebenarnya sedang tidak ia ketahui saat ini? Apa Winter sudah mulai membuat rahasia padanya? Apa Winter sudah mempunyai perasaan untuk wanita yang menyandang status sebagai istrinya?
Semua pertanyaan itu memenuhi otak Amora dan membuat kepalanya semakin pusing.
“Hah...” Amora menghela nafas, lantas mengepalkan tangan pada tepian kitchen island dengan mata terkatup, kemudian memijat pelipisnya yang berat. “Apa sih yang sedang aku pikirkan? Winter hanya lupa membawa gadget dan harus segera pulang. Gadget itu hidupnya, sumber penghasilannya.” gumam Amora mencoba menenangkan diri, juga takut teramat sangat jika semua pikiran buruk yang terbesit di dalam otaknya itu menjadi kenyataan.
__ADS_1
Selama ini, Amora tidak pernah berfikiran licik, karena Winter mutlak menjadi miliknya. Namun, untuk malam ini, ribuan cara sedang berkelebat di benaknya, memaksanya memilih satu diantara cara licik yang tumpah ruah. Amora tidak lagi bisa duduk santai karena Winter sudah berubah. Ia harus memiliki setidaknya satu amunisi yang bisa membuat Winter tidak bisa kemanapun, bahkan memiliki niat kecil berpaling darinya.
“Aku harus menjebak Winter, atau paling tidak menarik Snow kedalam permainan agar ia lelah dan menyerah, bahkan tidak lagi percaya kepada Winter.”
Telapaknya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Amora benar-benar takut jika Winter lepas lagi dari genggaman dan berpaling pada wanita lain selain dirinya.
Seringai timbul dibibir kala sebuah ide lain muncul dalam kepala Amora.
“Aku rasa, Winter akan melepas gadis itu.”
Dan dengan wajah angkuh dia kembali membawa tubuhnya berdiri tegap dengan dengki yang merangkul erat perasaan Amora saat ini.
“Kamu milikku. Dan selamanya, akan menjadi milikku.”[]
...🍃...
...Drama banget. Tapi ini salah satu pemicu konfliknya nanti, di bab-bab yang akan datang. Jadi Stay tuned di Wedding Maze ya....
...Jangan lupa follow, kemudian beri apresiasi dan hati yang banyak untuk karya ini....
...Thanks....
__ADS_1
...Vi's....