
...Happy Reading All......
...Jangan lupa tekan gambar jempol, tambahkan pada list favorit, komentar, hadiah, dan juga Vote nya ya readers baik hati sekalian......
...Terima kasih....
...•...
...Sunny Ep.07 |When we met again|...
Butuh setengah jam menuju cafe Tempatnya membuat janji. Sunny bahkan memoles wajah dengan make-up tipis. Dia rasa, sedikit dandan tidak masalah. Ia membuka ponsel, membaca-baca lagi isinya.
Ben?
Ya. Ini aku
Oh, wajah Sunny tiba-tiba merona. Ia tersenyum tanpa sebab ketika tau Ben menghubunginya. Pasti pria itu sedang pulang kampung dan menyempatkan diri menghubunginya untuk bertukar kabar.
Oh, tunggu. Tapi, dari mana Ben tau nomor teleponnya? Sedangkan mereka saja tidak pernah bicara sejak hari ujian waktu itu.
Semalam,
Sunny yang sibuk mendesign gambar sebuah gedung bertingkat tiga, menyempatkan diri untuk membuka ponsel. Mengecek beberapa pesan masuk yang ada di kotak pesannya. Biasanya, ia acuh dengan nomor iseng yang mengajaknya berkenalan, atau sekedar basa-basi minum di cafe. Akan tetapi, satu pesan menarik perhatiannya. Nomor yang mudah sekali di ingat, dan jarinya menekan pesan dari nomor tersebut tanpa ia sadari.
Hai. Apa kamu tidak berniat menyapaku? Aku sudah tiba di sini, dan aku melihatmu.
Lalu pesan selanjutnya,
Kamu terlihat buru-buru. Kita bisa bertemu lain waktu. Ini nomorku, simpan dan hubungi aku jika kamu memiliki waktu luang untuk kita bertemu.
Ben.
Ben?
Manik mata Sunny seketika terbuka lebar. Ben? Ben yang itu? Sungguh?
Pertanyaan itu berderet rapi seperti gerbong kereta api di setiap sel otaknya.
Seperti ABG yang sedang dimabuk asmara, Sunny senyum-senyum sendiri sembari menggigit kepalan tangannya.
__ADS_1
“Ben sudah pulang?”
Sunny ingat betul ketika terakhir kali mereka bertemu di laboratorium ketika mengikuti ujian nasional. Dan kini, yang semakin menambah rentetan pertanyaan dalam otak Sunny adalah, bagaimana rupa pemuda itu saat ini? Sudah sepuluh tahun, dan ini adalah pertama kali Ben kembali menyapanya.
Kaki Sunny menendang udara dibawah meja, ia sangat bahagia malam ini. Tidak peduli pekerjaan yang sedang diburu deadline sekalipun, ia tidak peduli.
Ben?
Setelah hampir lima belas menit,
Iya. Ini aku.
Sunny melompat bahagia tak terkira diatas ranjang besarnya. Ia bahkan rela terbanting ketika kakinya tanpa sengaja mendarat di atas guling dan tergelincir.
Oh God. Ini bukanlah Sunny yang biasanya.
Bagaimana kabarmu, Ben?
Baik. Kamu?
Aku juga baik. Kamu sudah pulang?
Ya. Sunny memang buru-buru tadi. Ia ingin bertemu Tania dan segera men-clear kan sebuah proyek besar yang hampir lepas dari tangannya. Tapi semua sudah teratasi, proyek itu tetap berada dalam genggaman perusahaan yang di pegang Sunny.
Sejenak, Sunny meletakkan ponsel diatas dada, memeluknya dengan telapak tangan. Ia berfikir bagaimana memulai keinginannya untuk bertemu ya?
Tiba-tiba,
Aku free hari Minggu ini. Mau ketemu?
Tidak ada balasan sekitar tiga puluh menit lamanya, membuat Sunny hampir menghapus pesannya karena takut Ben merasa terganggu dengan permintaannya yang tiba-tiba.
Sunny semakin gelisah ketika pesan itu belum dibalas hampir satu jam lamanya setelah dua centang itu berubah menjadi warna biru. Ben sudah membacanya, tapi dia tidak membalas.
“Aku salah ya? Mengapa dia tidak membalasnya?”
Disaat harapannya ingin ia pupuskan kembali, ponselnya bergetar. Dengan gerakan cepat, Sunny mengetuk layar ponselnya dua kali. Jantungnya berdebar ketika melihat nama Ben muncul di layar ponsel.
Okey. Tentukan tempatnya.
__ADS_1
Sunny yang masih berdebar, hanya mengingat satu tempat. Lantas ia mengetik balasan.
Cafe YOLO.
Dan disinilah dia berada saat ini. Cafe YOLO yang sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Bahkan Sunny pernah mendengar cerita dari sang mama, jika mamanya dulu juga sering datang kesini bersama papanya, atau bertemu teman.
Sunny datang sepuluh menit lebih awal dari jam janjinya bersama Ben. Ia tidak ingin Ben menunggunya, dan dia juga sudah tidak sabar untuk segera melihat seperti apa seorang Ben saat ini.
Bel di pintu cafe kembali bergemerincing, Sunny menoleh dan mendapati presensi yang sedang ia tunggu. Sunny bahkan mengetahui dengan cepat meski sudah lama tidak melihat pria itu. Namun, yang membuat ekspresi Sunny tiba-tiba tercenung dalam diam adalah, Ben terlihat lebih tampan, tidak memakai kaca mata, tubuhnya juga lebih berotot. Memang, sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk melihat perubahan itu. Dan Sunny semakin terpesona.
Disana, dia melihatnya. Ben yang sangat ia rindukan. Ben yang begitu ia harapkan bisa lagi melihatnya seperti saat ini. Dan Ben yang....
selalu memenuhi benaknya. []
...To be continued....
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa baca cerita Vi's yang lain, yang pastinya tidak kalah seru, menguras emosi dan air mata.
Baca-baca saja dulu, mana tau suka.
—White (Fiksi Modern) ; ini paling Fresh.
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
Atas perhatian dan dukungan readers sekalian, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You.💕...
__ADS_1