Wedding Maze

Wedding Maze
WM-45|BERTEMU SEKALI LAGI|


__ADS_3

...Selamat membaca......


...•...


Pertemuannya dengan Amora hari ini tidak berarti apa-apa bagi Snow, dibandingkan dengan pertemuan selanjutnya yang sudah menunggu dirumah.


Ya, selama perjalanan pulang, Winter mengirim pesan jika dia sudah berada dirumah orang tua Snow. Sebenarnya hati Snow ingin berjingkrak bahagia, tapi kenyataan kembali menamparnya dengan sangat keras hingga dia nyaris berteriak frustasi didalam taxi yang sedang membawanya pulang kerumah.


Sesampainya, disana, diteras rumah orang tuanya, Winter sedang duduk berhadapan dengan sang papa, bermain catur dengan wajah serius pada fitur mereka masing-masing. Dan itu adalah pemandangan dan hal pertama yang membuat hati Snow berubah hangat.


Seandainya sejak dulu seperti ini, bukankah akan sangat menyenangkan?


Winter yang mengenakan pakaian santai menarik perhatian Snow. Apa pria itu sengaja datang setelah pulang dari kantor?


“Ah, Snow datang.” pekik sang papa, mengejutkan Snow yang secara tidak sengaja melamun, dan menarik perhatian Winter untuk menoleh serta mempertemukan pandangan mereka.


“Ingat, kamu harus bersikap seperti seharusnya, Snow. Jalankan peranmu dengan baik!” ucap Snow pada diri sendiri. Ia ingat tengah membuat drama serius bersama Winter didepan kedua orangtuanya. Untuk itu, ia berjalan riang menuju Winter, mengusak surai hitam Winter yang tidak diberi gel Pomade hari ini.


Kenapa tidak memakai Pomade? Apa dia tidak kekantor hari ini?


Snow terus berbicara dalam hati, menerka fitur Winter dihadapannya yang terlihat sedang memainkan perannya juga. “Jadi kamu sudah kembali dari luar kota? Mengapa tidak menghubungiku jika sudah pulang?” ucap Snow, memberi isyarat agar Winter menjawab dialog dramanya dengan baik dan benar.


“A-ah, iya. Aku ingin memberi kejutan untukmu.”


Scott tersenyum melihat mereka. Setidaknya, mereka bahagia meskipun menjalani pernikahan tanpa cinta. Itulah hal yang tergambar dalam benak Scott untuk kedua presensi dihadapannya.


“Lagi pula, dari mana saja kamu, Snow?” tanya Scott sambil menjalankan anak catur berbentuk kuda membentuk huruf L dan menangkap sang ratu.


“Oh?” pekik Winter karena terkejut ratu nya sudah terambil oleh Scott, ia salah langkah, dan Scott tertawa puas karena melihat ekspresi genius Winter yang berubah lugu.


“Kamu akan kalah, jika tidak konsentrasi, nak Winter.”


Entah mengapa, mendengar Scott memanggil dan menyebutnya seperti itu, Winter merasa begitu disayangi. Selama ini, dia terlalu sibuk dan mengabaikan kedua orang tuanya sendiri hingga Winter tidak pernah mendengar ayahnya sendiri memanggil seperti itu.


“Ah, papa mengalahkan aku.” rengeknya ketika mendapati semua benteng kekuatan miliknya tak tersisa.


“Beristirahatlah. Kita bermain catur lagi, lain waktu.”


Winter dan Snow menatap Scott lurus tanpa arti. Masih bisakah? Masih ada waktu kah?


Tapi, diantara gejolak yang bermunculan, Winter tersenyum hangat dan lembut kepada ayah Snow. “Tentu, aku akan mengalahkan papa. Jadi papa harus bersiap-siap menerima kekalahan dari Winter yang come back dengan strategi lebih matang.” kelakar Winter yang sukses membuat tawa pria tua itu meledak. Lantas memberikan usapan pada salah satu lengan sebelum pria itu pergi meninggalkan dirinya dan Snow dalam diam.

__ADS_1


Winter menunduk, tersenyum getir karena sudah membuat janji kosong didepan seorang pria baik seperti Scott.


“Aku tidak akan bisa menepati janji itu.” gumam Winter pilu dalam senyuman getir yang tersemat dibirai bibirnya. “Sampaikan permintaan maaf ku pada beliau karena aku tidak bisa datang, nanti setelah kita berpisah.”


Snow menatap penuh sesal. Selama ini, ia hanya ingin melihat Winter bahagia, tapi kini wajah itu terlihat suram dan kehilangan pancaran aura yang dulu selalu membuat Snow kagum pada sosok Winter.


“Ah, by the way, kamu dari mana Snow? Bertemu seseorang?” tanya Winter, mencoba menetralisir sebuah rasa tidak nyaman ketika Snow datang seorang diri. Gambaran Snow menemui seorang laki-laki membuat hati Winter tidak tenang.


“Aku bertemu seseorang.”


Winter mengangguk. Hari sudah gelap, dan Scott juga meminta Winter untuk bermalam disini untuk menghemat tenaga dan waktu. Lagi pula, besok adalah hari libur. Scott pikir tidak ada salahnya jika menantunya itu bermalam disini yang pastinya sedang merindukan Snow setelah kembali dari perjalanan jauh. Itu yang tergambar dalam benak Scott karena kebohongan yang dilakukan Snow, tentang kepergian Winter keluar kota tempo hari.


“Siapa?” tanya Winter ingin tau.


“Apa aku harus menjawab pertanyaan itu dengan jujur?”


Winter sadar jika terlalu memaksa. “Ah, baiklah lupakan. Aku ingin beristirahat dan memberitahu sesuatu kepadamu.” ucapnya, lantas melewati Snow begitu saja dan masuk kedalam rumah, yang bisa Snow tebak, Winter akan tidur satu kamar dengannya.


Snow mengikuti langkah Winter memasuki rumah. Lalu masuk kedalam kamar pribadinya yang memang pernah didatangi Winter beberapa hari lalu. Snow mengunci pintu, lantas melirik sosok Winter yang mulai duduk ditepian ranjangnya.


“Kita sedang tidak baik-baik saja, tolong ingat itu dan jaga batasan denganku. Aku tidak ingin kita—”


Belum sempat bernafas lega dan bahagia setelah mendengar Amora mengatakan jika Winter mencintainya, kini Snow seperti tersambar petir di siang bolong. Perkataan Winter membuatnya kembali tersadar penuh jika ada batas tak kasat mata yang memisahkan mereka, lalu memaksa mereka mengambil posisi dan porsi masing-masing.


Snow mengangguk. “Ya. Terima kasih.”


Winter kini berdiri, ia menuju tas yang tadi ia bawa. Manik Snow tak mau lepas dari presensi Winter, hingga ia menangkap sesuatu yang dibawa Winter. Sebuah kotak hitam beludru yang pernah ia lihat, kotak hitam yang dibawa Winter ketika mereka berdiri di altar pernikahan. Winter lantas menyodorkan benda itu kepadanya.


“Ini.” tutur Winter tanpa mau menatap mata Snow. “Ada cincinku didalam sana.”


Hati Snow berdenyut nyeri. Ia meraih kotak itu dengan dari tangan Winter, pupil matanya sudah bergetar menahan tangis.


“Kamu bebas, sekarang.”


Snow turut menundukkan kepalanya, membiarkan bulir air mata jatuh beruntun bersama sebuah tawa kecil yang terdengar begitu getir.


“Aku tidak lagi memiliki hak atas dirimu. Dan semuanya terserah padamu, jika kamu merasa tidak nyaman, kamu bisa menjual atau membuang kotak itu beserta isinya. Karena aku juga tidak mau menyimpannya.”


Kedua bahu Snow bergetar karena tangis. Air matanya tumpah. Tidak mau menyimpan kenangan mereka? Ah, bodoh sekali Snow yang sempat berharap Winter akan kembali dalam hidupnya.


Dimana Winter yang 'katanya' mencintainya?

__ADS_1


“Mari berteman. Aku harap kamu bahagia setelah ini.”


Tak kuasa, Snow mendekat dan memeluk pinggang Winter. Menangis di dada bidang yang sangat ia rindukan, dan ia harap ini akan menjadi sebuah kenangan menyenangkan di akhir kisah mereka.


Winter yang sempat membeku, kini dengan gerakan ragu-ragu membalas pelukan Snow, wanita yang sangat ia cintai saat ini. Ia mengusap punggung wanita itu dan meletakkan dagunya pada puncak kepala Snow. “Jangan menangis. Kamu berhak bahagia tanpa diriku, Snow.” ucap Winter lembut, lalu beralih mengusap Surai lembut beraroma strawberry milik Snow yang ia sukai dan rindukan. “Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan, dan bukan aku orang yang bisa memberikan itu kepadamu.”


Suara Winter terhenti kala Snow tiba-tiba melepas pelukan, kemudian berjinjit dan menyarangkan satu ciuman pada bibirnya. Winter menatap sekilas wajah Snow yang basah oleh air mata, lalu memberanikan diri menangkup salah satu pipi Snow dengan telapak tangannya, lantas ia turut memejam dengan airmata yang juga tanpa ia sadari telah jatuh. Membalas ciuman Snow dengan lembut dan penuh kasih. Jauh berbeda dengan ciuman yang selama ini ia berikan. Kali ini, Winter benar-benar sadar jika kebahagiaannya ada pada Snow, dan semua angan akan sebuah kebahagiaan akan segera menghilang bersama pertemuan mereka di meja hijau pada waktu berikutnya.


Winter meraup bibir Snow seolah tidak ada hari esok. Ia ingin mengungkapkan perasaan yang ia pendam melalui ciuman itu. Namun ia semakin terperanjat ketika Snow menariknya mundur hingga keduanya jatuh diatas ranjang


Winter tau ini salah. Dan akan semakin runyam jika sebuah kehidupan hadir dalam diri Snow.


Namun keegoisan kedua insan itu seolah menepis semuanya, hingga mereka kembali melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Mungkin, mereka tidak sadar, jika apa yang mereka lakukan malam ini, akan membawa mereka kembali terjerembab kedalam lubang yang sama.


Tanpa sadar, mereka mungkin akan menciptakan kehidupan baru yang tentu saja menjadi sebuah pertimbangan bagi mereka berdua nantinya. Kehidupan baru berwujud malaikat kecil yang akan membuat hari-hari mereka kembali berwarna.


Lalu, apa keputusan yang akan mereka ambil setelahnya? []


...To Be Continued....


...🌼🌼🌼...


...Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa memberi apresiasi kepada penulis dengan cara memberikan Like, komentar, hadiah, serta Vote agar penulis tetap semangat untuk berkarya, ya......


Mampir juga di cerita Vi's yang lain. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


See You.

__ADS_1


__ADS_2