
...Selamat membaca......
...Jangan lupa tekan gambar jempol, tambahkan pada list favorit, komentar, hadiah, dan juga Vote nya ya readers baik hati kuh......
...Terima kasih....
...•...
...Sunny Ep.02 |DRAMATICALLY|...
“Akhirnya aku mengenalnya hari ini, mom.” celetuk Sunny yang meletakkan kepalanya diatas pangkuan Snow.
“Siapa?”
“Ben. Benodick, si peringkat satu sekolah.”
Snow tersenyum jumawa mendengar cerita sang putri yang terlihat bersemangat memperkenalkan teman barunya.
“Tapi, kasihan Mom. Dia tidak memiliki teman. Bahkan teman-teman secara terang-terangan menjauhinya.”
“Kenapa?”
“Ben murid beasiswa, dia berasal dari keluarga kurang mampu.”
Snow menggeleng tak habis pikir, lalu dia mengusap kepala Sunny lembut penuh kasih.
“Kalau begitu, jadilah temannya. Jangan pernah membedakan strata. Kita memiliki kedudukan sama dimata Tuhan. Kamu masih ingat pesan Mommy yang ini kan?”
Tentu saja Sunny mengingatnya. Dia tidak akan melupakan pesan Mommy nya yang begitu bermakna itu.
“Sampai kamu sudah besar, menikah dan jadi orang tua, jangan pernah melupakan pesan Mommy, terapkan juga pada anakmu nanti.”
Sunny menggeliat tidak nyaman. Ia mengubah posisi kesamping karena malu mendengar ucapan Mommy nya yang tiba-tiba menyebut-nyebut anak sebagai pembahasan.
__ADS_1
Dalam benak Sunny, diam-diam dia membayangkan seseorang. Membayangkan sosok yang menarik perhatian dan juga hatinya meskipun pertama kali melihat. Sunny merasa sesuatu sedang menyerang hatinya. Menyerang perasaannya dan mengubahnya menjadi sebuah rasa penasaran. Penasaran bagaimana jika mereka dekat.
Namun semua angan itu sirna berbaur dengan udara ketika Snow bertanya. “Apa dia tampan?”
Wajah Sunny seketika merona. Kedua pipinya bersemu seperti tomat matang yang siap dimakan, dan hal tersebut membuat Snow gemas ingin mencium dan mencubit gemas pipi putri cantiknya itu.
“Eummm, dia tinggi, kulitnya putih, matanya sipit, hidungnya mancung, dan dia memakai kaca mata minus yang sepertinya cukup tebal, Mom.”
Snow lagi-lagi tertawa. Ia dapat menebak, Sunny sedang jatuh cinta. Anak gadisnya itu tidak pernah mendeskripsikan bentuk fisik seseorang, apalagi seorang laki-laki.
Wajar bagi Snow, karena ia juga pernah muda dan jatuh cinta diusianya yang sama dengan usia Sunny. “Benarkah? Lalu, jika dia memiliki ciri-ciri seperti yang kamu sebutkan, mengapa teman-teman menjauhinya ya? Mommy rasa, dia pemuda yang tampan.”
Sunny mengangguk setuju, dan Snow berhasil menjebak putrinya sendiri untuk mengakui perasaannya. Waaah, beri applause yang meriah untuk Snow~
“Mommy jadi ingin kenal Ben juga.”
***
“Mencari siapa? Tessar?” tanya Dwynn, teman dekat Sunny sejak menginjakkan kaki di sekolah ini. Dwynn adalah orang pertama yang akan tau tentang Sunny di sekolah jika menyangkut sesuatu tentang gadis tersebut.
“Tidak. Untuk apa aku mencarinya?”
“Yaaah, barang kali saja kamu berubah pikiran dan menerima perasaan playboy itu.” jawab Dwynn sembari mengembuskan nafas cukup besar ditengah-tengah proses meditasi berlangsung.
Sunny mulai menciut. Dia tidak akan berharap banyak, atau memiliki kesempatan lagi sekarang. Dia dan Ben berbeda. Tapi, apakah berteman bisa dibatasi oleh itu? Sunny rasa tidak.
Dua jam berlalu, kini para siswa berhambur keluar dari aula yang di pisahkan oleh tembok di setiap tempat dengan keyakinan berbeda. Sunny berjalan hendak kembali ke kelas dengan wajah tertunduk lesu. Namun sebuah tepukan di pundaknya begitu mengejutkan. Ditambah lagi ketika Sunny menoleh dan mendapati Ben berdiri dibelakang punggungnya sembari menaikkan kaca mata sedikit canggung, atau gugup? Entahlah, yang terlihat Dimata Sunny, Ben sepertinya sedang tidak nyaman. Tapi, terlalu indah untuk dilewatkan. Sunny suka gerakan Ben saat menaikkan bingkai kaca mata pada hidung Bangir itu.
Aroma ini lagi. Sunny sangat menyukainya. Dia ingin sekali bertanya tentang parfum apa yang dipakai pemuda itu. Bagaimana bisa harumnya selembut ini? Aroma khas yang Sunny catat dalam otaknya. Seperti harum bayi yang begitu lembut, lalu, sedikit bercampur aroma floral musk yang tidak menusuk hidung—
“Sunny, ayo berpikir logis. Jangan membayangkan hal yang tidak-tidak.” rutuk Sunny pada diri sendiri ketika mendapati dirinya tengah mendeskripsikan bagaimana dan apa yang dipakai laki-laki didepannya untuk mengharumkan tubuh.
“Aku menemukan di bawah meja. Sepertinya kemarin kamu tidak sengaja menjatuhkannya.” ucap Ben sambil menyodorkan sebuah note kecil yang biasa Snow pergunakan untuk mencatat sesuatu yang menurutnya penting dan perlu diingat.
__ADS_1
Snow merotasikan tatapan manik indahnya dari wajah menuju pada sesuatu yang dibawa Ben. Kemudian dia mengulas senyum termanis dengan jantung berdebar kencang yang ia tahan dan sembunyikan dengan baik. “Ah, maaf merepotkan mu, Ben. Dan terima kasih sudah bersedia mengembalikan buku catatan ku.” jawab Sunny lembut berbalut senyum dan sedikit rona pudar di wajahnya. Ben benar-benar membuat seorang Sunny merasakan bagaimana rasanya berdebar.
“Kalau begitu, aku kembali ke kelas.” lanjut Ben hendak beranjak. Tubuh kurus dan tinggi itu hendak berlalu, tapi Sunny secara spontan menahan lengan Ben yang saat itu tidak mengenakan almamater, hingga kulit mereka saling menyapa.
Ben seperti tersengat aliran listrik berdaya 150KV ketika permukaan kulit putih yang ditumbuhi bulu halus miliknya tersentuh oleh telapak tangan lembut milik Sunny. Tanpa ia duga, ia berdebar dan membuat matanya yang minus itu semakin buram, ditambah lagi efek kunang-kunang terbang memenuhi penglihatan, dan itu sangat mengganggu, hingga satu gerakan kecil menarik diri ia lakukan tanpa sengaja.
“Ah, maaf.” cicit Sunny sambil menjauhkan telapak tangannya dari lengan Ben, lantas kembali menarik dua sudut bibirnya membentuk senyuman. “Aku akan mentraktirmu makan siang di kantin, jam istirahat kedua. Okey.”
Tidak langsung menjawab, Ben terlihat berfikir sejenak, lantas mengangguk sambil menggaruk rambut hitam legamnya yang hari ini terlihat masih sama rapinya seperti hari-hari biasa. Snow dan Ben menjadi pusat perhatian. Bak drama di dunia nyata, puluhan pasang mata saat ini sedang memperhatikan keduanya, tak terkecuali Tessar yang sedang kebakaran jenggot. Tessar mengepalkan kesepuluh jarinya dengan rahang mengeras. Ia merasa dirinya lebih pantas untuk Sunny ketimbang si cupu itu. Dan apa tadi? Mengapa Sunny seperti sedang mendekati si cupu sial*an itu? Tessar tidak habis pikir. Dia harus melakukan sesuatu sebelum benar-benar kehilangan Sunny.
***
Jam istirahat kedua sedang berlangsung. Ben yang memiliki janji di kantin, bersiap hendak kesana. Namun dia harus menerima ketika tubuhnya di seret paksa oleh geng Gu, pimpinan Tessar.
Ben di bawa ke taman terbengkalai di belakang sekolah yang sepi dan sering dijadikan tempat untuk melakukan hal-hal tidak baik, seperti yang dialami Ben hari ini. Sebuah perundungan.
“Wah, wah...si cupu ini mulai bergaya rupanya.” tekan Tessar sambil berjalan memutari Ben yang sama tinggi dengannya. “Aku dengar, dia menerima tawaran makan siang dari Sunny lho, gengs.”
Lalu kenapa? Ben hanya bisa membatin tanpa bisa mengatakan didepan wajah Tessar. Bukan tidak berani, dia hanya tidak ingin mencari masalah dan beasiswanya dicabut. Itu semua akan membuat orang tuanya kecewa dan sedih. Ben tidak menginginkan hal itu.
“Sebenarnya, apa maumu membawaku kesini?” tanya Ben sambil menaikkan bingkai kaca mata—seperti biasanya.
Siapa yang tidak kenal Tessar? Bandit sekolah itu begitu ditakuti seisi sekolah. Tapi Ben, jangan harap. Dia tidak peduli Tessar memiliki rombongan pemuja kekayaan untuk penindasan, atau apapun itu. Ben tidak akan takut sama sekali dengan laki-laki tipikal anak mama seperti itu.
“Masih bertanya,” ketus Tessar menghentikan langkah dibelakang punggung Ben. Kemudian dengan sengaja menendang keras punggung lawannya hingga Ben nyaris tersungkur. “Jangan pernah mendekati Sunny. Dia milikku.”
Oh, come on dude. Ben tidak suka hal seperti ini. Bagaimana bisa Tessar mengartikannya demikian, sedangkan Ben hanya ingin berteman dengan Sunny? Meskipun ya, Ben mengakui sempat berdebar, tapi dia hanya ingin membatasi perasaannya sendiri sampai di batas merah pertemanan saja, tidak lebih.
“Aku tidak ingin merebut dia darimu, dari siapapun. Aku hanya ingin berteman dengan—”
“Termasuk itu!” sahut Tessar sedikit berteriak sembari menatap tajam pada sosok Ben yang sepertinya tak kenal takut. “Jangan pernah berharap menjadi teman atau apapun kepada Sunny. Dia milikku, dan tidak ada yang boleh mendekati, apalagi mencoba membangun sebuah hubungan dengannya. Termasuk berteman seperti yang hendak kamu lakukan saat ini, sial*an!!”[]
...To be continued....
__ADS_1