Wedding Maze

Wedding Maze
Short Story With Sunny Ep.05


__ADS_3

...Happy Reading All......


...Jangan lupa tekan gambar jempol, tambahkan pada list favorit, komentar, hadiah, dan juga Vote nya ya readers baik hati sekalian......


...Terima kasih....


...•...


...Sunny Ep.05 |Sunny Become A Sun|...


Sunny.


Sunny adalah matahari yang bersinar cerah dimusim panas. Mungkin itulah hal yang diartikan orang selama ini. Tapi menurut Benodick, Sunny adalah matahari hangat yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Matahari yang memiliki senyuman manis dan tulus. Matahari yang baik dan santun. Matahari yang selalu ceria. Dan matahari yang dia sukai diam-diam tanpa seorangpun tau jika dia mengingkari janjinya sendiri.


Ben berbalik, berharap sang Matahari berada disana secara tiba-tiba, melambaikan tangan, dan mengucap salam perpisahan untuknya.


Tapi semua itu hanya angan. Tidak ada siapapun selain kedua orangtuanya yang masih berdiri ditempat yang sama, melambaikan tangan, tersenyum, dan sesekali terlihat mengesat airmata.


Ben kembali mengingat ketika ia menyerahkan sebuah kotak kecil yang ia bungkus rapi kepada sang ibu. Ia bahkan berpesan untuk memberikannya kepada mataharinya. Sunny.


Waktunya sudah tiba. Sudah saatnya ia pergi untuk mengejar mimpi. Ben tersenyum melambaikan tangan kepada kedua orang terkasihnya untuk pergi menuju negeri orang. Ia akan menuntut ilmu disana, tidak akan kembali dalam waktu dekat. Ben akan sangat merindukan keduanya, dan tentu saja, mataharinya.


...***...


Hari ini, hari yang sangat tidak diinginkan oleh Sunny. Baju toga, dan juga...perpisahan. Karena ia tidak bisa melihat Ben disana. Pemuda itu sudah pergi sejak sebulan yang lalu, dan tentu saja sukses membuat Sunny malas datang ke sekolah meski hanya untuk mengisi daftar absensi kehadiran kelas.


Hari ini, Ben lagi-lagi mengukir prestasi dengan menulis namanya pada daftar tertinggi peringkat dan mengalahkan namanya, sama seperti sebelum-sebelumnya. Entah mengapa, itu semua membuat Sunny benci dan ingin sekali menangis. Sejak awal, dia tidak bisa mengambil peringkat itu dari Ben. Sejak awal, dia tidak bisa menjatuhkan nama itu dari tahtanya diatas sana, dan sejak awal, dia tidak bisa merengkuh pemuda itu, meski hanya menjadikannya seorang teman.


Sunny kecewa pada dirinya sendiri. Andai saja dia berusaha lebih keras, pasti dia bisa menggantikan nama Ben disana, agar MC tidak menyebut nama pemuda itu lantang-lantang dan membuatnya kembali teringat kapan terakhir kali ia berbicara dengan si pemilik nama.

__ADS_1


“Aku, membencimu, Ben.” gumamnya, membuat Dwynn yang duduk disebelahnya menoleh terkejut.


“Tiba-tiba? Mengapa? Padahal selama ini kamu tidak terusik dengan peringkat kalian?”


Sunny tersenyum masam, dan dia berdiri karena namanya disebut sesaat setelah MC itu menyebut nama Ben.


Langkah kaki Sunny terlihat malas ketika berjalan menuju podium. Winter dan Snow menatap bangga kepada putri cantik mereka yang selalu mengukir prestasi. Sedangkan diatas podium, dia harus bersalaman dengan ibunda Ben yang menggantikan pemuda itu menerima penghargaan dan juga ijazah kelulusan.


Ah, mengapa dada Sunny mendadak penuh. Ia ingin sekali berteriak dan mengucapkan kemarahannya pada Ben yang tidak ada dalam jangkauan penglihatannya. Hingga ia terkejut, dan lamunan kemarahan itu pergi seperti kereta bawah tanah yang melesat dengan kecepatan penuh, saat telapak tangannya disentuh oleh wanita dengan kulit wajah sedikit berkerut yang ia ketahui sebagai ibunda Ben.


“Selamat, nak.” katanya. Dia tersenyum hangat ke arah Sunny, lantas mengusap lembut telapak tangan si gadis. “Ada sesuatu yang ingin ibu berikan padamu setelah ini.”


Sunny tersenyum, namun tidak mengurangi ekspresi penasaran di wajahnya. “Dari Ben. Putra ibu menitipkan sesuatu untukmu.”


Mendadak rasa bahagia menyelimuti hati Sunny. Ia mengangguk antusias dan tidak sabar untuk turun dari atas podium untuk menerima hadiah itu.


...***...


Dengan gerakan sangat pelan, Sunny meraih pita ungu dan menarik simpulnya. Setelah simpul itu terlepas, jemari Sunny bergerak membuka kotak berwarna hitam di tangannya. Dan ketika isi didalamnya terlihat, Sunny tidak bisa membendung rasa bahagianya. Ia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak. Tidak percaya, tapi semuanya nyata didepan mata.


Sebuah globe yang didalamnya ada replika pepohonan hijau, beberapa bunga warna-warni yang bermekaran, dan juga Glitter berwarna emas yang akan berubah bak siraman cahaya matahari ketika di gerakkan. Sunny menggigit bibir bawahnya, tersenyum lebar karena ini adalah hadiah pertama yang ia sukai dari seseorang—selain hadiah dari papa dan mamanya.


Sunny meletakkan globe itu diatas meja, lantas meletakkan kepala diatas tumpukan telapak tangan diatas meja belajar sambil terus memperhatikan globe pemberian Ben. Dia memperhatikan bagaimana butiran kerlap-kerlip itu berbaur dan jatuh perlahan, begitu indah. Lalu, ia baru menyadari jika terdapat sebuah tulisan diantara tumpukan glitter. Sunny bangkit dan menggoyangkan globe itu sekali lagi, yang kini ia bisa melihat dengan jelas tulisan di dalam sana.


...Congrats Sun....


...Semangat menggapai cita-cita mu....


...Ben....

__ADS_1


Hanya itu, namun mampu membuat sebuah semangat didalam hati Sunny kembali berkobar. Semua euforia yang sempat menghilang, kini kembali muncul hanya karena Ben yang memberinya semangat.


“Ya. Aku akan mengejar cita-cita ku. Termasuk menunggumu kembali dan mengajakku berteman.” []


...To Be Continued....


...🌼🌼🌼...


Jangan lupa baca cerita Vi's yang lain, yang pastinya tidak kalah seru, menguras emosi dan air mata.


Baca-baca saja dulu, mana tau suka.


—White (Fiksi Modern) ; ini paling Fresh.


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


Atas perhatian dan dukungan readers sekalian, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


See You.

__ADS_1


__ADS_2