
...Double up.👏...
...Ramaikannya kawan-kawan.....
...Happy Reading All......
...Jangan lupa tekan gambar jempol, tambahkan pada list favorit, komentar, hadiah, dan juga Vote nya ya readers baik hati sekalian......
...Terima kasih....
...•...
...Sunny Ep.06 |Call me Back soon|...
Suasana padat di bandara begitu riuh akan suara dengung para manusia yang sedang bercakap-cakap. Mereka berbicara dengan kawan, saudara, atau bahkan kekasih yang ada disisi mereka. Akan tetapi bukan itu yang menjadi sebab mereka semua berbisik. Melainkan keberadaan sosok tinggi tegap proposional, kulit putih bersih, mata melengkung bak bulan sabit, dan rambut yang tertata rapi khas seorang pengusaha sukses atau paling tidak pegawai perusahaan ternama yang berpenghasilan diatas rata-rata. Ya, sosok itu yang menjadi pusat perhatian mereka dan juga bahan pembicaraan mereka.
Sudah sepuluh tahun lamanya, dan hari ini adalah kedua kalinya dia menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Ben, sedikit pangling dengan keadaan kota kelahirannya ini, tapi dia juga tidak menutup rasa bangganya kepada pemerintah yang sudah mengatur kota sedemikian hingga, dan kini terlihat lebih asri dan sempurna.
Ben menghirup udara yang sangat-sangat ia rindukan. Setelah ngotot minta dipindahkan ke kantor induk di tanah kelahiran, Ben akhirnya mendapatkan Hilal akan keinginannya tersebut setelah menunggu kurang lebih tiga tahun lamanya. Butuh perjuangan, dan juga pengorbanan untuk mencapai dan berada di titik ini.
Ben bekerja di sebuah perusahaan IT yang mendunia. Dia menjabat sebagai staff software engineering dan memiliki pengalaman yang luas dan mumpuni di bidang tersebut, sehingga perusahaan enggan melepas orang seperti Ben untuk meninggalkan perusahaan mereka.
Senyuman Ben mengembang sempurna kala melihat dia orang renta yang membawa kertas bertulis 'Welcome Home, Son' di tangan salah seorang nya. Siapa lagi kalau bukan ibu. Ibu adalah rumah utama, ayah adalah rumah kedua, dan 'rumah' adalah hal kesekian yang menjadi tujuannya pulang.
Ben berjalan lebih cepat. Ia tidak sabar untuk merengkuh tubuh ringkih itu kedalam dekapannya. Maniknya berkabut, dan bibirnya bergetar kala semua yang ia rasakan saat ini bukanlah sebuah mimpi. Ini nyata. Ia membungkuk untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan sang ibu, lantas mendaratkan dagu pada pundak sempit wanita yang begitu berharga dalam hidupnya itu.
“Jangan menangis, Ben atau ayah akan memukul pantatmu.” gumam Ben dalam hati, ketika menahan mati-matian airmata rindu yang ingin tumpah. Tapi apa, satu pukulan telak mendarat di bokongnya.
“Aww. Ayah, Ben tidak menangis. Mengapa ayah memukul pantat Ben?” kesalahannya dengan nada sedih yang dibuat-buat.
“Kalau ingin menangis, ya menangis saja. Kenapa ditahan?”
Ben tertawa ketika setelah mendengar itu, ayahnya merentangkan tangan, lantas Ben mendaratkan tubuh kekarnya pada rangkulan sang ayah.
__ADS_1
“Kamu semakin tampan, nak.”
“Ya. Karena dia anakku.” sahut sang ibu tidak mau kalah. Semua Gen yang ada pada diri Ben adalah Gen bawaan dari sang ibu. Dan Wah, semua akan runyam jika dua orang ini terus beradu argumen tentang klaim kepemilikan dirinya yang sekarang bertransformasi menjadi pria tampan idaman semua gadis.
“Sudah. Ben kan anak ibu dan ayah. Ben tidak akan hadir kedunia jika ibu dan ayah tidak saling mencintai. Jadi, Ben milik kalian berdua. Tidak perlu berebut, Okey?” jelas Ben memberi jalan tengah.
Okey, selain berubah semakin tampan, dia juga berubah menjadi sok bijaksana. Maafkan Ben yang sekarang.
“Ayo kita makan di restoran itu.” tutur Ben sambil menunjuk sebuah restoran terkenal berbintang lima yang dulu selalu ingin ia kunjungi. Dan sekarang, semua akan ia lakukan untuk menyenangkan dan menebus semua lelah kedua orang tua yang sudah bekerja keras membesarkan dan membiayai hidupnya selama ini. “Lets go~” lanjutnya sembari menggandeng kedua lengan orang tuanya, menarik mereka berdua menuju restoran terkenal itu tanpa harus memikirkan berapa jumlah uang yang akan ia habiskan untuk semua hal yang membahagiakan sang ibu dan ayah.
...***...
“Tania, proyek itu sangat langkah, mengapa kamu melepasnya begitu saja?” kesal seorang gadis sambil berdiri dan membereskan tablet dan beberapa lembar kertas bergambar denah bangunan dan gambar 3D yang beberapa hari ini menyibukkan dirinya. Ia baru saja mendarat dari pesawat demi tugasnya di tempat yang jauh, tapi mendengar kabar tidak menyenangkan ketika sampai, siapa yang tidak tersulut?
“Iya. Tapi aku sudah memiliki rencana untuk menjadi tender mereka.” lanjutnya masih dengan nada bersungut-sungut. Ia mengapit ponsel di perpotongan telinga dengan bahu, lantas memasukkan beberapa berkas dan juga tablet mahal ke dalam tas. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu orang yang sedang melakukan panggilan telepon dengannya, lantas memarahinya habis-habisan karena sudah bertindak gegabah. “Aku akan kesana. Jangan lari dariku, okey?!”
Sunny berdiri tegak diatas sepatu heels setinggi lima centi yang membalut kaki jenjang dan indahnya. Ia menyempatkan diri membenahi posisi blazer dan rambut panjangnya yang sempat tertiup angin saat seseorang membuka pintu tadi.
“Aku akan menghabisi mu jika perusahaan itu benar-benar lepas, Tania. Bagaimana dia bisa melepas klien sepenting itu.” gumam Sunny tidak terima ketika Tania tidak bisa memberi kepastian kepada sebuah perusahaan IT mendunia yang sedang mencari jasa pembangunan gedung, padahal mereka berkesempatan besar tanpa harus merayu pihak manajemen dengan mengajukan proposal dan segala ***** bengek yang biasanya sangat rumit dan belum tentu kepastiannya.
Sunny tergesa-gesa. Dia bahkan hampir jatuh terkilir karena memutar tungkai terlalu keras dan tubuhnya menjadi tidak seimbang. “Untung saja kakiku baik-baik saja. Jika tidak, aku bersumpah menikah asuransi, dan memaksa Tania membayar semua biaya perawaranku dan kerugian perusahaan selama aku sakit.” Lantas kaki itu kembali berjalan terburu-buru seolah tidak ada lagi waktu.
Saat hendak mencapai pintu keluar, ia tanpa sengaja menabrak seorang wanita tua hingga wanita itu jatuh terduduk karena dirinya. Sunny merengkuh dan meminta maaf tanpa menunggu jeda waktu. Ia merasa bersalah lantas membantu wanita itu berdiri kembali.
Wajah yang pernah Sunny lihat, tapi dia tidak mengingat kapan tepatnya bertemu wajah wanita tua ini. Semua seperti fatamorgana, tapi Sunny masih tidak bisa menebak wajah tersebut.
“Maafkan saya sekali lagi, bibi. Saya terburu-buru dan tidak sengaja menabrak anda.”
“Tidak apa-apa, nak. Pergilah, lanjutkan pekerjaanmu.”
Sunny merasa sungkan, dia ingin mengantar bibi itu kembali ke mejanya, tapi selalu ditolak. Hingga pada akhirnya, Sunny meninggalkan wanita itu yang sudah kembali berjalan, mengambil langkah meninggalkan dirinya. Sunny bergegas sebelum semua benar-benar terlambat. Ia masuk kedalam mobil, menyalakan mesin dan bersiap untuk meluncur ke perusahaan tempatnya bekerja. Namun kaki yang hendak menginjak pedal gas mobil itu harus kembali tertahan ketika ponsel yang ia letakkan pada dashboard mobil bergetar. Ada beberapa pesan singkat yang membanjiri kotak pesannya. Beberapa diantaranya dari nomor yang tidak ia kenali, Sunny kembali acuh dan menginjak pedal gas meninggalkan restoran berbintang lima yang ia datangi karena perutnya yang kelaparan setelah menempuh perjalanan bisnis yang cukup jauh.
Ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan lagi, dan Sunny tetap acuh. Fokus pada bentangan aspal yang siang ini terlihat begitu padat.
__ADS_1
Pesan pertama.
Hai. Apa kamu tidak berniat menyapaku? Aku sudah tiba di sini, dan aku melihatmu.
Pesan kedua.
Kamu terlihat buru-buru. Kita bisa bertemu lain waktu. Ini nomorku, simpan dan hubungi aku jika kamu memiliki waktu luang untuk kita bertemu.
Ben. []
...To be Continued....
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa baca cerita Vi's yang lain, yang pastinya tidak kalah seru, menguras emosi dan air mata.
Baca-baca saja dulu, mana tau suka.
—White (Fiksi Modern) ; ini paling Fresh.
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
Atas perhatian dan dukungan readers sekalian, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
__ADS_1
...See You.đź’•...