Wedding Maze

Wedding Maze
WM-34|DAY MINUS TWELVE-19|


__ADS_3

Langkah kakinya begitu antusias ketika menapak dikota kelahiran. Winter bahkan berada dalam fase paling membahagiakan dalam hidupnya. Selama tiga puluh tiga tahun ia hidup didunia, tidak pernah ia merasa sebahagia saat ini.


Ia ingin segera sampai dirumah. Menerima sambutan Snow dan...calon bayinya. Ya, dua hal yang entah sejak kapan menjadikan dirinya begitu antusias dan tidak ingin meninggalkan rumah.


Bandara cukup lengang hari ini. Winter berlari tidak sabaran menuju tempat ia harus mengambil kopernya dari bagasi. Sepatu mahalnya mengetuk lantai cemas, seolah ia akan tertinggal bus terakhir yang akan membawanya pulang. Winter rasa waktu bergerak melamban, karena koper miliknya tak kunjung muncul.


Dan sebuah senyuman mengembang sempurna ketika ia mendapati koper Viber berwarna gelap miliknya keluar dan berputar diatas rail besi .


Amora? Dengan alasan masih ingin mengecek pekerjaan, dan membeli beberapa oleh-oleh, dia memilih jadwal penerbangan yang berbeda dengan Winter. Itulah alasannya mengapa Winter kembali seorang diri hari ini.


Lampu jalan juga sudah mulai menyala, matahari sudah turun dan akan kembali bersembunyi dibalik cakrawala. Jalanan cukup padat, mengingat kehidupan kota yang memang begitu sibuk.


Jari telunjuk Winter mengetuk kemudi mobil. Lantas ia mengingat sesuatu. Ia harus menghubungi Snow lagi, mungkin pagi tadi dia sibuk atau apalah, yang membuat Snow tidak bisa menerima panggilan telepon darinya. Tapi, setidaknya, dia bisa balas menelepon saat senggang. Bukankah begitu?


Winter menyalakan fitur bluetooth pada ponsel dan earphone miliknya, lantas menghubungi Snow. Tidak butuh waktu lama untuk panggilan terhubung. Tidak ada bunyi beep sebagai nada sambung, hanya senyap. Semua itu membuat pikiran buruk berkelebat dalam benak Winter. Apa terjadi sesuatu dengan Snow? Mengapa ponselnya tidak aktif?


Satu pukulan telak ia arahkan para kemudi mobil. Jemari mencengkeram erat, rahang mengerat, dan gigi bergemelutuk. Emosi bercampur khawatir menggelegak naik ke ubun-ubun. Ini memang tidak benar, Snow bahkan tidak pernah melewatkan panggilan teleponnya meskipun mereka sedang tidak saling sapa.

__ADS_1


Hingga kini mobil mewahnya sudah terparkir di depan garasi rumah. Tanpa banyak berfikir, Winter turun dari mobil dan berlari untuk segera mengetahui keadaan Snow.


Kedua kaki Winter seperti terpaku di tempat kala melihat rumah masih dalam keadaan gelap, pintu terkatup rapat, dan sunyi. Telapak tangan Winter meraih intercom, mengetik kombinasi nomor passcode dan, pintu terbuka.


Rumah itu kosong, tidak ada tanda-tanda Snow berada didalam atau dimana pun, sebab semua lampu masih padam. Kecuali dapur.


Biasanya, Winter akan mendapati punggung sempit Snow yang berkutat dibalik kitchen island untuk membuatkannya makan malam, atau duduk didepan ruang keluarga untuk melihat acara Reality show kesukaannya. Tapi untuk hari ini tidak. Snow tidak ada dirumah, dan Winter semakin dibakar amarah. Ia bergegas merogoh saku celana bahan yang ia kenakan, lantas mencoba menghubungi Snow kembali. Masih sama, tidak ada sahutan.


Kemudian ia berfikir untuk menghubungi Ibunya, dan sang ibu memberitahu jika ia sudah pulang dua hari yang lalu karena urusan pekerjaan, dan Fallen menggantikannya disana.


“Eumm, ada apa?”


“Snow sedang bersamamu?”


Ada jeda selama dua detik sebelum Fallen memberikan jawaban yang mengejutkan Winter. “Tidak. Snow bilang kamu akan pulang, jadi aku meminta izin pulang kerumah ibu.”


Winter diam. Dia seperti di dorong dari tebing dan mendarat tepat pada tumpukan batu yang membuat sekujur tubuhnya remuk.

__ADS_1


Jika tidak berada dirumah, tidak bersama mamanya dan juga Fallen, lalu dimana Snow sekarang? Ponselnya juga tidak bisa dihubungi, terkesan sedang menghilang, atau bersembunyi, atau memang sengaja meninggalkan Winter yang masih menerka tentang kesalahan apa yang ia perbuat selama tiga hari meninggalkan rumah.


Winter tidak punya nomor teman-teman Snow, dan ia menyesal akan hal itu. Dia juga tidak mungkin menghubungi orang tua Snow, atau mereka akan tau bagaimana kacaunya rumah tangga mereka.


Kacau...


Winter baru menyadarinya. Rumah tangga mereka kacau. Dia yang tidak menaruh rasa pada Snow, tega menyakiti perasaan gadis tersebut dengan menjalin hubungan lagi bersama Amora.


“Snow. Kamu dimana?” gumamnya sembari menjumput surai depan dan merematnya kuat. Ia menggigit bibir bawahnya karena tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan.


Kakinya kembali berputar. Ia berjalan keluar rumah dan kembali memacu mobilnya, mencari keberadaan Snow yang entah berada dimana. Ia akan mencari wanita itu sampai ketemu, bahkan ia akan menghubungi polisi jika tidak menemukannya malam ini.


Otaknya kalut. Seluruh pikirannya berpusat dan berputar pada Snow. Ia tidak pernah merasa setakut dan aecemas seperti ini sebelumnya. Snow adalah orang pertama yang berhasil membuatnya bingung dan ceroboh. Ya, ceroboh, karena baru saja, ia hampir menimbulkan insiden kecelakaan saat menerobos lampu rambu yang sedang menyala merah.


“SIAL!!!” umpatnya keras, sekali lagi memukul kemudi cukup keras. Ia memutari kota demi mencari keberadaan Snow yang mungkin melarikan diri membawa bayinya. Ya, bayi itu miliknya seorang jika Snow berniat ingin menghianati kepercayaannya. “Berani membawa lari anakku, kamu akan menerima akibatnya, Snow White.” []


...To be continued....

__ADS_1


__ADS_2